[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 32



PRANK!


BRAK!


GADEBUK!


PRANK!


Meira, Bima, Bagus serta Devan yang ada di dalam kamar minimalis berwarna hitam dan abu-abu itu hanya bisa meringis ngeri tatkala melihat kamar tersebut sudah tak berbentuk.


Azka. Cowok berambut coklat dengan ciri khas tatto kalajengking di punggung tangan kiri itu terus saja menghancurkan barang-barang kamarnya setelah sadar.


Darah sudah mengucur dari punggung tangan kanannya membasahi lantai akibat meninju cermin. Sprei, bantal serta bedcover sudah tidak di tempatnya lagi. Lampu tidur, buku-buku, serta beberapa hiasan kamar sudah berserakan kemana-mana.


"Sialan! Berengsek!"


"Pembunuh!"


Akkhhh!


PRANK!


Sekali lagi Azka membanting sebuah speaker besar hingga hancur ke lantai. Dada cowok itu naik turun pertanda dia benar-benar emosi. Wajahnya yang memar akibat perkelahian dengan beberapa preman tadi kini merah padam.


Meira. Cewek itu sudah menitikkan airmata kala melihat Azka berteriak dan mengumpat. Walau jiwa itu bukan Alka, namun hati Meira tetap terluka melihatnya. Bagimana pun juga, Azka dan Alka adalah dua jiwa dalam satu raga. Keduanya punya hubungan yang erat.


Bagus dan Devan hanya menatap iba pada Azka. Tak berani ikut campur karena masih sayang dengan nyawa. Bagus masih ingat betul saat Azka mencekiknya dan mengjahar Devan habis-habisan. Saat itu juga Bagus sudah tidak ingin terlibat dengan Azka yang nyatanya jauh lebih menyeramkan dari sosok Alka.


Bima? Cowok itu hanya diam menatap Azka dengan segudang tanda tanya dalam otaknya. Melihat fisik berbeda dari Alka. Emosi berbeda dari Alka yang biasa tenang kini menjadi brutal. Serta nama Alka yang berubah jadi Azka.


Meira menyeka air matanya lalu mengambil nafas dalam-dalam. Dia sekilas memalingkan wajah saat serpihan kaca menggores pipi kiri Azka. Untuk kedua kalinya Meira mengambil nafas lalu berjalan mendekat.


Bagus yang menyadari itu tersentak diikuti Bima dan Devan.


"Cil," seru Bagus. Matanya menajam menatap Meira yang hanya mengulas senyum tipis dan mengangguk padanya.


"Mei, jangan gila. Lo bisa mati!" kali ini Devan yang memekik. Dia juga menatap Meira dengan tajam. Seolah dengan tatapan itu dapat menghentikan Meira yang bersifat nekat.


Meira berhenti sejenak. "Mei baik-baik aja, oke?" Meira tersenyum tipis pada Bagus dan Devan yang kini menggeleng tak percaya.


Meira kembali melangkah dengan hati-hati. Meneguk susah payah ludahnya saat mendengar Azka mengumpat beberapa kali dengan meninju apa saja yang bisa cowok itu jangkau.


"K-kak Azka...."


Azka berhenti. Dia yang tadi membelakangi Meira kini berbalik menatap dingin pada sosok yang berdiri lima meter dari tempatnya.


Meira berusaha menampilkan senyum terbaiknya walau jauh di dalam sana jantungnya ingin jatuh saat melihat mata tajam Azka yang benar-benar tajam.


"Te-tenang yah, Kak." Meira mengangkat tangan kanannya di udara berusaha menenangkan Azka. Meira semakin mendekat pada Azka tanpa menghilangkan senyumnya.


Namun, senyum itu perlahan hilang kala Azka menunjukkan seringai tajamnya. Cowok jangkung itu ikut mendekat pada Meira dengan seringai yang masih tersungging.


Meira berhenti melangkah, dia meneguk ludahnya susah payah. Di belakangnya, Bagus dan Devan sudah memasang siaga jika saja Azka akan menyerang Meira.


Azka semakin dekat hingga akhirnya di jarak satu meter cowok itu berhenti. Dia menatap Meira beberapa detik lalu mencekik leher cewek itu.


"AZKA!"


"ALKA!"


Teriakan Bima dan Bagus serta Devan menggema di kamar itu. Devan dengan cepat menghampiri Meira namun baru beberapa langkah, Meira mengangkat tangannya seolah menyuruh cowok itu berhenti.


Refleks Devan berhenti, dia menatap tajam punggung Meira. "Lo jangan gila, Mei! Dia bisa bunuh lo!"


Bagus mendekat lalu menarik Devan. "Kita liat apa yang bakal Meira lakuin," ucapnya membuat Devan melotot.


"Lo gila?! Ngelawan Azka sama aja lo gali kuburan lo sendiri!" pekik Devan.


Bagus berdecak. "Percaya sama, Mei."


"Sebenarnya Alka kenapa, sih?" Bagus dan Devan menoleh sekilas pada Bima lalu mengangkat bahu. Bima mendesis pelan mendapat respon seperti itu.


Kembali pada Meira dan Azka. Nafas Meira sudah tidak teratur sejak tangan kekar itu mencekik lehernya, namun dia kembali menampilkan senyum sebisa mungkin. Tatapan tajam Azka cukup membuat kakinya bergetar namun tak menggentarkan niatnya. Dia ingin mencoba melunakkan Azka. Itu tujuan Meira.


"Lo harus mati! Lo udah buat hidup gue menderita! Lo harus mati!" Azka berteriak tepat di wajah Meira dengan tangan yang semakin erat mencekik Meira.


Dengan susah payah, tangan kanan Meira terangkat mengelus lengan Azka dengan sapuan seringan kapas.


"S-sa-sadar, Kak. I-ini aku, Me-Meira," ucap Meira terbata. Mata itu masih saja tajam menatapnya hingga membuat mata Meira berkaca-kaca.


Azka hanya diam menatapnya dengan tatapan dan posisinya yang sama. Tak ada yang bisa menebak apa isi pikiran cowok itu.


Tangan Meira beralih mengelus rahang Azka lalu merambat ke pipi lebam cowok itu. Memberikan senyum terbaik dengan tangan yang masih setia mengelus setiap inci wajah Azka.


Bima, Devan dan Bagus dibuat terpaku akan hal itu. Melihat bagaimana keberanian Meira perlahan melunakkan jiwa brutal dalam diri Alka.


Azka. Cowok beriris hitam pekat itu menatap tajam pada Meira sebelum akhirnya tatapannya berubah menjadi sendu. Cekikannya di leher Meira perlahan mengendur dan akhirnya kepala berambut coklat itu jatuh di pundak kanan Meira dengan deru nafas teratur.


Meira mengulas senyum lega. Dia mengelus surai coklat Azka lalu memapah cowok itu ke kasur yang sudah tak berbentuk. Menidurkan Azka di sana lalu menghampiri tiga cowok yang masih tertegun.


"Kak Bagus, Kak Devan. Mei mau bicara," ucapnya. Membuat ketiga cowok itu kembali sadar.


Bagus dan Devan saling pandang lalu mengangguk.


***


Meira dengan setia mendengarkan penuturan Devan dan Bagus dengan tangan yang sibuk mengobati tangan Alka dan wajah lebam Alka. Bima sendiri  sudah pulang beberapa menit yang lalu.


"Jadi semua ini gara-gara Mama tirinya Kak Alka?" tanya Meira tanpa mengalihkan perhatiannya. Cewek itu mencelupkan handuk kecil ke wadah yang berisi air dan es kristal. Kemudian mengompres lebam Alka.


Bagus mengangguk walaupun Meira tidak melihatnya. "Benar. Semua berawal saat Alka kecil. Dia di culik sama suruhan Nyokab tirinya dan di sekab di gubuk kecil dalam hutan. Waktu itu Alka hampir aja di makan sama harimau kalau Gilang gak dateng nyelamatin Alka," terang Bagus. Cowok itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa seraya menatap langit-langit kamar Alka.


"Jadi Kak Gilang yang nyelamatin Kak Alka waktu itu?" tanya Meira. Dia beralih membersihkan darah di punggung tangan kanan Alka dengan kapas.


"Iya. Dia gunain busurnya buat habisin tuh, harimau. Dari situ Alka mulai kenal sama Gilang sampai skarang mereka deket banget." Ada nada sendu kala Bagus mengatakan itu. Sekilas kebersamaannya dengan Gilang terbayang.


Bagaimana supelnya cowok itu. Kejam seperti Alka namun memiliki sifat hangat seperti Devan yang membuat siapapun nyaman dengannya. Tegas dan tidak egois. Persis seperti Alka. Namun cowok itu sedikit emosional seperti Bagus jika ketenangannya terusik. Gilang benar-benar penyatuan dari mereka.


Devan? Cowok itu menidurkan dirinya di karpet berbulu milik Alka. Lengan kanannya di jadikan bantal dengan tatapan lurus menatap langit-langit kamar.


"Bukan cuma itu, Mei. Tapi ada satu lagi trauma paling berat buat Alka. Dan gue pikir, mungkin ini sebabnya kenapa Azka bisa muncul," tambah Devan.


Meira menoleh sekilas pada Devan lalu beralih membalut punggung tangan kanan Alka dengan kain kasa.


"Bisa Kak Devan ceritain?"


Hening beberapa detik sebelum suara helaan nafas Devan terdengar. Dia menatap Bagus sekilas dan mendapat anggukan cowok itu.


"Saat itu, saat satu tahun setelah Alka tau kalau dia bukan anak sah dari Om Hadi. Atau lebih tepatnya saat Alka kelas satu SMA. Dia balik ke rumahnya setelah berbulan-bulan pergi mengasingkan diri. Dia balik buat ambil beberapa barang penting yang dia perlukan. Tapi naasnya, Nyokab tirinya tiba-tiba datang dan ngebius Alka dari belakang."


"Terus?" Meira menoleh dengan cepat. Matanya berkilat rasa penasaran.


Devan mengambil nafas sejenak. Rasanya sangat sulit mengingat dimana Alka benar-benar tersiksa.


"Alka pingsan, dan saat udah sadar dia malah ada di gudang. Gudang rumahnya sendiri. Dia bilang, waktu itu Nyokab tirinya ngikat dia dan siksa Alka habis-habisan."


"Om Hadi?"


"Om Hadi kebetulan ada bisnis di luar kota. Tapi menurut gue ini emang udah rencana wanita ular itu." Devan menggertakkan giginya. Menahan rasa kesal yang amat mendalam pada wanita berjabat ibu tiri Alka.


"Gak sampai di situ. Dia nyuruh anak buahnya buat bawa Alka ke suatu tempat. Alka juga gak tau tempat itu, tapi yang dia liat benar-benar nyiksa psikologis Alka. Di sana, sebuah rumah kecil tempat pembunuhan hewan bahkan manusia. Setiap hari Alka ngeliat orang bertudung hitam yang bunuh hewan. Tikus, ular, sapi, dan semua jenis hewan di bunuh menggenaskan tepat di depan mata Alka."


Devan menarik nafasnya. Dia sekilas menoleh pada Bagus yang menatap hampa ke atas. Meira yang sudah duduk di bawah sisi ranjang Alka seraya bersila mendengar ceritanya. Serta Alka yang masih terlelap dengan selimut tebal hingga pinggang.


"Bukan cuma hewan, pernah dua kali. Orang itu bunuh manusia secara sadis di hadapan Alka yang gak bisa apa-apa selain menyaksikan itu. Dia ngebunuh secara brutal, nusuk-nusuk dada korbannya, cabik-cabik tubuh korban. Dan saat itu, Alka berubah. Dia yang awalnya emang dingin berubah lebih dingin dan kejam. Dulu dia masih sering bercanda bareng kami. Tapi sekarang, bahkan buat ketawa aja susah. Kejadian itu benar-benar trauma yang paling nyiksa psikologis Alka."


"Untungnya, sifat tenangnya gak pernah bisa hilang. Mungkin itu yang buat Azka hadir. Bundanya Bagus bilang pribadi ganda itu muncul karna gak suka sama karakter si pemilik raga. Mungkin Azka gak suka sama sikap tenang Alka yang selalu terlihat biasa-biasa aja, padahal banyak masalah yang di tanggung."


Devan menghentikan ucapannya lalu menatap Meira yang terdiam memandang wajah Alka dengan sendu. Bisa Devan lihat mata cewek itu berkaca-kaca. Devan tersenyum tipis, sekarang dia benar-benar tahu kalau Meira memang tulus dengan Alka.


"Tapi aku pernah denger kalau Kak Alka mengasingkan diri di rumahnya itu selama tiga tahun, yah?" tanya Meira tanpa mengalihkan matanya dari wajah damai Alka.


"Itu emang bener. Sejak kejadian itu Alka gak mau lagi nginjakin kaki ke rumahnya. Awal Alka mengasingkan diri itu bukan setelah kejadian itu. Tapi saat setelah dia tau kalau dia cuma anak yang lahir karna cinta terlarang. Yah, bahasa kasarnya anak haram."


"Kak Alka taunya kapan kalau dia bukan anak sah Om Hadi?"


Devan bangun lalu bersandar pada sofa. Kaki kanannya terangkat menyanggah lengan kenannya. Sedangkan kaki kiri dibiarkan memanjang.


"Sejak kelas tiga SMP. Di situ dia mulai tau siapa dia dan pergi dari rumah. Tapi entah kenapa waktu itu dia balik ke rumahnya dan bilang pengen ngambil sesuatu."


Dahi Meira berkerut. "Jadi Kak Alka bukan tiga tahun dong, mengasingkan dirinya?" tanya Meira lagi, dia beralih menatap Devan.


Devan mengangkat bahu tak tahu. "Alka gak ngehitung hari terburuk itu. Dia nganggapnya gak pernah ke rumah itu lagi."


Meira mengangguk mengerti.


"Jadi gimana? Setelah lo dengar semuanya, dan tau gimana Alka dan Azka. Apa lo bakal nyerah dan ilangin perasaan lo ke Alka?" tanya Devan.


Bagus menegakkan badannya memandang Meira. Ikut penasaran dengan jawaban yang akan cewek itu lontarkan.


Meira terdiam beberapa detik sebelum cewek itu mengulas senyum tipis dan menatap wajah damai Alka.


"Gak ada alasan bagi Mei untuk nyerah. Mau Kak Azka ataupun Kak Alka, mereka sama aja. Mereka adalah dua jiwa dalam satu raga. Dan Meira sayang keduanya."


Bagus dan Devan melempar senyum penuh arti.


🦁


🦁


🦁