![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Meira berlari sekuat tenaga saat lima cowok berpakaian layaknya preman tengah mengejarnya. Paperbag hasil belanjaannya dia dekap seerat mungkin agar tidak terjatuh. Kaki ber-snikers putih itu terus saja berlari di kesunyian malam yang temaram.
"Gak usah lari, woy! Lo gak bakal nyesel main sama kita!"
Teriakan cowok itu semakin membuat Meira ketakutan. Sesaat, dia merasa de javu, kejadian ini sama saat dia pertama kali bertemu dengan Alka. Oh God! Bisakah Meira berharap agar Alka datang dan menolongnya? Lagi?
Meira menatap ponsel pada tangan kanannya, chat darinya hanya di baca oleh Alka dan itu sontak membuat air mata Meira jatuh.
Setidak peduli itukah Alka dengannya?
Langkah kaki Meira mulai memberat, nafasnya memburu tak teratur. Dia menyeka air matanya asal lalu menambah kecepatan larinya hingga terdengar suara peraduan tenaga di belakang sana.
Meira berhenti. Mengatur nafasnya yang tersenggal lalu membalikkan badan. Di sana, cowok dengan hoodie putih tengah melawan lima cowok berpenampilan preman itu.
"Kak Bima?" gumam Meira. Dia menghela nafas lega lalu bersembunyi di balik pohon yang tak jauh dari orang-orang tersebut.
Sedikit demi sedikit Meira mengintip dari balik pohon itu, menatap takut pada Bima yang beberapa kali mendapat hantaman kelima cowok preman tersebut.
Meira menggigit kuku di jari kanannya. Tangan kirinya memeluk tiga paperbag dengan erat. Air matanya pun kian luruh. Hingga akhirnya sebuah motor sport yang sangat Meira kenali berhenti tak jauh dari tempat perkelahian.
Alka.
Dia melepas helm fullface-nya lalu di hantamkan ke kepala bagian belakang cowok berambut pirang yang menyerang Bima. Dia kemudian melempar helm-nya pada cowok dengan rambut jabrik lantas menendang pipi cowok tersebut.
Alka lalu beralih pada dua cowok yang memukul Bima. Dia melayangkan tendangan pada punggung salah satu cowok itu dan melayangkan tinju pada satunya lagi.
Cukup lama pertarungan itu terjadi, hingga kelima cowok tersebut pergi setelah salah satu dari mereka mengacungkan jari tengah pada Alka.
Alka berdecih lalu merapikan pakaiannya, dan mengambil helm-nya yang tergeletak di aspal. Dia kemudian mengulurkan tangan membantu Bima hingga bangkit.
"Thanks," ucap Bima, membersihkan hoodie-nya dari debu.
Alka mengangguk sebelum mata hitam miliknya jatuh pada cewek yang tertunduk berjalan ke arah mereka dengan menenteng tiga paperbag berbeda warna.
Alka menghela nafas lalu menghampiri cewek tersebut.
"Lo bisa gak, gak buat orang susah?" tanyanya, sarkas. Dia menatap datar pada Meira yang kini mendongak menatapnya dengan mata sembab.
"Ma-maaf, Kak. Me---"
"Gak usah minta maaf kalau masih di ulangin," sela Alka.
"A-aku---"
"Lain kali kalau mau pergi jangan sendiri. Apalagi malam-malam gini. Lo sadar gak kalau kejadian tadi bisa bahayain lo, hah?" suara Alka perlahan menjadi dingin. Bumbu-bumbu amarah telah terdengar di sana bercampur dengan rasa khawatir yang berusaha Alka sangkal.
Meira kembali menunduk. Tak berani menatap mata Alka yang begitu tajam seolah dapat melubangi tubuhnya.
"Buktiin! Bukan cuma ngangguk-ngangguk doang!"
"Kalau lo masih aja bersikap seperti ini, gue gak tau harus gimana hadapin Gilang nanti." Alka menghembuskan nafas beratnya. Masalah keluarganya belum juga selesai namun Meira kembali menambahnya. Alka tidak ingin merasa bersalah dengan Gilang karena gagal menjaga Meira.
Meira perlahan mendongak. "Jadi Kakak khawatir cuma karna takut merasa bersalah sama Kak Gilang?" tanya Meira. Matanya kembali memanas.
Alis kanan Alka terangkat. "Emang lo kira apaan? Gue khawatir karna lo?" Alka kemudian terkekeh lalu memalingkan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Meira. "Gue kan udah bilang, gak usah berharap lebih sama gue. hilangin perasaan lo dari sekarang sebelum lo makin berharap!"
"Kalau gitu Kak Alka tenang aja. Mei nanti bakal kasi tau Kak Gilang kok, kalau Kak Alka ngejaga Mei dengan Baik." Meira kemudian beralih menatap Bima yang sejak tadi diam menyaksikan mereka. Meira lalu memegang pergelangan tangan Bima. "Kak Bima bisa antar aku pulang?" tanyanya.
Bima mengangguk. Mereka mulai melangkah meninggalkan Alka yang bergeming penuh arti menatap aspal.
####
Alka menghempaskan tubuhnya pada kasur king size berwarna abu-abu. Dia menghembuskan nafas berat berkali-kali lalu memejamkan mata.
"Kalau menurut lo mengadakan pertunangan dengan Bianca bisa buat gue hancur, lo salah. Karna sekarang, Bianca udah gak ada artinya buat gue."
Kalimat yang tadi Alka lontarkan pada Samuel sedikit mengganggunya. Jujur, Alka sendiri merasa tidak yakin dengan kalimatnya itu. Mengatakan bahwa Bianca sudah tidak berarti apa-apa baginya adalah sebuah kebohongan.
Bohong bahwa Bianca tidak ada artinya untuk Alka. Bohong jika Alka sudah tidak memiliki perasaan pada Bianca. Karena nyatanya, masih ada sebagian dalam dirinya yang menginginkan Bianca dan juga membenci Bianca. Jantungnya pun tidak bisa berbohong, bahwa detakan itu masih ada kala menatap mata biru laut Bianca.
Alka kembali menghela nafas lalu membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya yang suram.
"Kalau gitu Kak Alka tenang aja. Mei nanti bakal kasi tau Kak Gilang kok, kalau Kak Alka ngejaga Mei dengan Baik."
"Kak Bima bisa antar aku pulang?"
Lagi, Alka kembali dibuat bingung. Perkataan Meira yang terdengar menyedihkan itu juga cukup mengganggu Alka.
Mengganggu hati dan otaknya yang entah kenapa merasa bersalah pada cewek yang selalu menyusahkan di matanya. Raut wajah kecewa, senyum paksa, air mata, tak pernah luput dari pandangan Alka saat itu.
Alka berdecak keras lalu bangkit dan mengacak rambutnya frustasi.
"Bisa gila gue kayak gini!"
Dia mengambil ponsel hitamnya dalam saku celana lalu menelfon seseorang. Seseorang yang mungkin bisa membantunya jika menyangkut hal berbau perempuan.
"Halo, Ja?" sapanya.
"Halo, Al. What wrong sama you nelfon gue?" dia Ezra. Cowok yang tengah bermain ps dengan Adnan dan Tian di seberang sana.
Alka berdecak pelan. "Gue mau nanya sesuatu sama lo," ucapnya.
"Apaan? Susah banget ya sampe nanya gue?"
Alka berdehem pelan. "Boleh gue nanya?"
Terdengar kekehan dari seberang sana. "Ya, elah, Al. Kayak sama siapa aja lo. Ya, bisa lah. Apaan nih emang?"
Hening tiga detik sebelum Alka menjawab. "Cara minta maaf ke cewek gimana?"
"A-apa?"
🦁
🦁
🦁