[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 47



“Karna Alka dan Samuel adalah saudara. Dan mereka penyebab Kakak kamu koma sampai sekarang, Meira! Harusnya yang terbaring di rumah sakit itu Alka, bukan Gilang!”


Cewek dengan kaos kebesaran setengah paha yang duduk di kursi belajar itu menyeka airmatanya. Memegang erat-erat pulpen yang hendak dia gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah.


Perkataan Arya beberapa menit yang lalu kembali terngiang di telinganya. Saat itu, Meira baru saja pulang sekolah dan mendapati Arya yang duduk di sofa ruang tengah dengan tatapan marah.


“Jadi ini yang kamu dapatkan dengan terus dekat sama Alka?” Arya berdiri di hadapan Meira yang tertunduk. Hanin ikut di samping Arya, mewanti-wanti agar suaminya itu tidak lepas kendali pada anaknya.


“Maaf, Pa.” Meira cukup tahu apa kesalahannya. Terlebih saat di sekolah dia juga di sidang oleh Pak Handoko karena sudah dua hari sering membolos sekolah.


“Papa kecewa sama kamu, Meira. Papa kira kamu bisa tepatin janji kamu waktu di Bandung dulu. Tapi apa sekarang?” Arya mengusap wajahnya lalu menghela nafas berat. “Papa udah bilang, kan, sama kamu. Jangan dekat-dekat dengan Alka lagi! Tapi kamu tutup telinga, kamu gak mau dengarin Papa dan lebih memilih anak badung itu.”


Hanin mengelus bahu Arya untuk menenangkan suaminya lalu memeluk Meira yang mulai menitikkan airmata.


“Udah, Pa. Mama yakin, kok, Meira pasti punya alasan.”


Arya memijit pelipisnya lalu mendesis. Dia tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran istrinya saat ini.


“Pokoknya Papa gak mau tau. Mulai detik ini, jangan dekat-dekat dengan Alka lagi, atau Papa yang akan bertindak!” ujar Arya dengan tegas. Dia menatap Meira sekilas lalu berbalik menuju ruang kerjanya.


Tapi, saat suara Meira terdengar, pria itu menghentikan langkahnya.


“Papa kenapa, sih, benci banget sama Kak Alka? Bahkan sejak pertemuan pertama aja Papa udah keliatan banget gak sukanya.”


Arya berbalik dan mendapati Hanin yang mengelus kepala Meira.


“Udah, sayang. Kamu ke kamar aja. Gak usah dengerin Papa kamu. Dia cuma kelelahan dari Singapore.”


Meira menggeleng. “Enggak, Ma. Mei gak akan pergi sebelum Papa jawab pertanyaan Meira.”


Hanin hanya bisa pasrah lalu mengangguk menatap Arya.


“Kamu mau tau kenapa Papa gak suka sama Alka?” tanya Arya.


Meira menyeka air matanya lalu mengangguk.


“Karna Alka dan Samuel adalah saudara. Dan mereka penyebab Kakak kamu koma sampai sekarang, Meira! Harusnya yang terbaring di rumah sakit itu Alka, bukan Gilang!”


Suara ketokan pintu yang baru saja terdengar membuat Meira dengan cepat menyeka airmatanya lalu membuka pintu. Hanin datang dengan piring yang berisi roti sandwich. Wanita itu tersenyum lalu menutup pintu dan mengikuti Meira yang berjalan menuju kasur.


“Makan, yah. Kamu belum makan dari pulang sekolah, kan?” Hanin menyimpan sandwich itu ke pangkuan Meira.


Meira hanya mengangguk dan memakan sandwich itu sedikit demi sedikit. Meira melirik sekilas saat tangan Hanin mengelus rambutnya dengan lembut.


Meira menyimpan sandwich yang masih tersisa sedikit ke atas nakas lalu memeluk Hanin. Airmatanya kembali jatuh ke atas kasur.


“Mei gak tau harus bersikap seperti apa, Ma. Mei cinta sama Kak Alka. Dan Mei juga percaya kalau bukan dia yang menjadi penyebab komanya Kak Gilang.” Hanin mengelus rambut Meira sesekali mengecupnya.


“Terus, apa yang buat kamu sedih gini? Kamu takut Papa pisahin kamu dengan Alka?”


Meira menggeleng. “Bukan itu yang buat Mei sedih, Ma. Melainkan kenyataan bahwa Kak Alka adalah saudara Sam.”


####


Bima menatap heran pada Meira yang terus saja melamun dengan tangan menopang dagu. Tatapan cewek berbando kecil berwarna putih dengan hiasan bunga itu menatap kosong pada buku-buku paket yang terbuka di atas meja perpustakaan.


“Kenapa, Mei?”


Meira tersentak. Dan itu semakin menguatkan dugaan Bima bahwa cewek itu benar-benar tengah melamun.


“Ke-kenapa, Kak?” Meira tergugu, dia dengan cepat menarik acak buku paket yang ada di hadapnnya lalu membolak-baliknya. “Kita sampai di mana tadi, Kak?” tanyanya.


Bima menghela nafas samar lalu menarik buku paket yang Meira bolak-balikkan secara asal. “Lo ada masalah apa, Mei, sampai punya kelebihan bisa baca buku terbalik?” Bima tersenyum geli dengan memperlihatkan buku terbalik yang tadi Meira bolak-balikkan lembarannya.


Meira menghela nafas lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan lantas ditumpuhkan ke atas meja. Bima yang tadinya duduk di depan Meira kini berpindah ke samping cewek itu setelah menaruh buku tadi kembali.


“Selain guru privat, gue juga bisa, kok, dijadiin teman curhat.” Bima mengangkat bahu. “Yah, kalau lo gak keberatan aja,” sambungnya.


Meira menegakkan tubuhnya lalu kembali menghela nafas. Dia menoleh pada Bima yang menunggunya bercerita. “Pinjam bahu Kakak aja boleh, gak? Mei bener-bener cape hari ini.”


Bima sempat terdiam sebelum mengangguk. “Boleh,” ucapnya.


Meira tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu Bima. Meira bukannya kegatalan, dia hanya benar-benar butuh sandaran saat ini. Saat di mana Alka sudah membaik padanya, masalah baru perlahan muncul ke permukaan untuk memberi mereka jarak, lagi.


Tepat saat Meira bersandar di bahu Bima, seseorang yang hendak masuk ke perpustakaan, langsung pergi setelah melihat mereka.


.


.


.


BIASAKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PART SELANJUTNYA!!!!