[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 56



Alkavero. M :


Gak turun ke gazebo?


Meira :


Buat apa?


Alkavero. M :


Barbeku. Rayain kembalinya Gilang malam ini.


Meira :


Oh, iya lupa. Mei otw ke bawah.


Alkavero. M :


Ok.


Tanpa membalas lagi dia turun dari kasur menuju pintu kamar untuk sampai ke bawah. Di ruang tengah dia bertemu dengan Hanin yang tampak sibuk menyiapkan minuman bersama dua pelayan di rumahnya.


“Ini buat teman-teman Kak Gilang, Ma?” tanyanya seraya mendekat.


“Iya, bantuin Mama sama Bibi bawa keluar, yuk. Di luar banyak banget teman Kakak kamu.”


Meira mengangguk lalu mengambil nampan berisi juice yang jumlahnya ada sepuluh. “Papa mana, Ma?”


“Masih di kantor. Katanya setengah jam lagi pulang.” Hanin mengambil juice yang lain di nampan besar yang bisa menanggung lima belas gelas.


Kedua pelayan yang menemani mereka juga mengambil beberapa juice di nampan lain lalu di bawah keluar. Meira tidak tahu ada berapa banyak teman Gilang hingga juice masih tersisa banyak di ruang tengah yang telah disiapkan Hanin.


“Minum dulu, yuk, sambil bakar-bakar dagingnya!” seruan Hanin disambut antusias oleh anak cowok yang entah berapa ratus jumlahnya. Yang jelas, pekarangan rumah Meira saat ini sudah seperti pesta besar-besaran. Semuanya cowok dan itupun dengan memakai jaket kebanggaan The Lion.


“Saya mau yang dibawa Neng geulis aja, deh.” Cowok dengan kupluk hitam yang tadi membakar sosis bersama Alka mendekat lalu mengambil satu juice. Sebelum kembali ke pembakaran, dia sempat mengedipkan mata pada Meira.


Meira tersenyum kikuk. Atensi Meira teralih saat nampannya diambil oleh seseorang lalu dibawa ke gazebo yang dipenuhi anak cowok bermain catur.


“Thanks, bos!” Alka mengangguki seruan temannya kemudian berbalik menghampiri Meira yang menatapnya dengan tersenyum.


"Lo ikut gue ke sana." Alka menunjuk satu gazebo yang masih kosong. Meira mengikutinya. "Gak baik tau berdua doang. Belum pacaran aja udah berani mojok."


Alka menatap Meira sejenak kemudian pergi meninggalkan cewek itu. Meira yang tidak mengerti penyebab Alka pergi hanya bisa mengerutkan dahi. Hingga, ia melihat Alka yang kembali menghampirinya dengan setusuk sosis. Meira mengerjap ketika satu tusuk sosis disodorkan ke hadapannya. Meira mendongak menatap si pelaku.


“Sekarang kita pacaran.”


“Hah?” Meira membeo tidak percaya. Dia menatap sosis yang masih tersodor di depannya dengan Alka secara bergantian. Meira terkekeh tidak percaya.


Pengungkapan cinta yang dia idam-idamkan dengan setangkai bunga dan balon-balon berbentuk hati ternyata harus dia buang jauh-jauh.


Karena nyatanya Alka lebih suka memberinya setusuk sosis dari pada setangkai bunga, sebatang coklat atau paling tidak boneka.


Meira mengambil sosis itu lalu menatapnya. Jujur, dia kesal. Tapi kekesalannya dia buang jauh-jauh, mungkin Alka tidak ingin melakukan hal lebay untuknya.


“Orang biasanya ngajak pacaran itu ngasih bunga, coklat, atau boneka. Lah, ini apa ngasih sosis!” Meira dengan dongkol memakan sosis yang diberikan Alka padanya.


Alka terkekeh lalu kembali duduk di samping Meira. “Biar antimainstream. Lagian kelamaan kalo harus nunggu ada bunga atau coklat." kekehnya.


Meira memberenggut kesal. “Yah, tapi gak gini juga kali!”


“Jadi gak mau? Yaudah gak ja---“


“Iya, iya, mau, kok! Nyebelin!”


Alka kembali terkekeh lalu mengacak rambut Meira. Mungkin saat ini mengacak rambut Meira sudah menjadi kegiatan favorit Alka. Dia suka aroma yang menguar dari rambut cewek itu saat dia mengacak rambutnya.


“Oi! Mau pacaran aja atau mau ikut makan lo berdua?!” teriakan Gilang dari gazebo sebelah mengalihkan atensi mereka.


Alka berdiri. “Yuk!” dia kemudian mengambil tangan Meira tanpa persetujuan cewek itu.


“Sam mau batalin pertunangan sana Bianca.”


“Apa?!” Megan berjengit tidak terima dengan memandang tidak percaya pada Samuel yang mengatakan kalimat tadi dengan nada tenangnya.


Keluarga Bianca yang hadir untuk memenuhi undangan dinner dari keluarga Mahardika juga tidak kalah terkejutnya. Cewek berambut coklat dengan dress putih yang tidak lain adalah Bianca, juga terkejut mendengarnya.


“Kamu jangan gila, Sam?! Pertunangan kamu dan Bianca sebentar lagi akan diresmikan dan kamu malah membatalkannya?” cerca Megan.


“Kamu lagi tidak punya masalah, kan, Sam?” wanita seumuran Megan dengan pakaian formalnya juga ikut menimpali. Hadi yang duduk di kursi ujung meja makan hanya menatap Samuel dengan wajah tenang.


Cowok dengan kemeja hitam itu menatap Megan lalu mama Bianca.


“Maaf Tante, tapi Sam benar-benar gak bisa lanjutin pertunangan ini.”


Megan mendesis tidak habis pikir. “Apa yang kamu pikirkan, Sam? Kamu tidak memikirkan bagaimana nasib kedua perusahaan jika kamu seenaknya membatalkan pertunangan ini?”


“Dan apa Mama juga gak mikir gimana perasaan aku saat dipaksa bertunangan hanya demi saham yang gak seberapa?” Samuel berdiri dari kursi meja makan yang dia duduki. “Aku juga punya pilihan untuk hidup aku, Ma. Dan pilihan aku bukan menjadi boneka Mama untuk merebut saham.”


“Samuel!”


Samuel menghela nafas pelan saat Megan membentaknya. Dia tahu, mamanya pasti kecewa akibat keputusan yang dia ambil secara sepihak. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga punya pilihan hidup. Samuel tidak ingin menghabisi sisa hidupnya dengan seruan mamanya untuk mendapatkan saham Mahardika Group yang tertanam di perusahaan keluarga Bianca.


Samuel menundukkan kepala di depan semua orang yang hadir. “Maaf atas keputusan saya. Saya harap kedua keluarga masih bisa berteman baik setelah ini.” Selesai mengatakan itu Samuel keluar meninggalkan ruangan.


Megan menatap punggung itu dengan wajah kesal lalu beralih menjatuhkan pandangan pada Hadi yang kini meminum air putihnya tanpa ekspresi lebih.


“Pa,” seru Megan.


Hadi menaruh gelasnya ke atas meja. “Samuel benar, dia punya pilihan hidup sendiri. Biarkan dia mencari tujuan hidupnya tanpa harus diatur berlebihan.”


Tahu apa yang dirasakan Megan? Kesal setengah mati!


Rasanya dia ingin mengeluarkan segala unek-uneknya saat ini jika saja dia lupa bahwa kedua orang tua Bianca masih stay di tempat.


“Mama gak usah khawatir. Papa tau Sam.” Hadi beralih menatap kedua orang tua Bianca yang saling pandang dengan wajah kecewa.


“Maafkan, saya dan anak saya, Pak, Bu. Tapi keputusan Samuel sudah benar-benar tidak bisa diganggu.” Hadi menampilkan wajah bersalahnya.


Pria bertuxedo hitam dengan kemeja putih itu mendesah kecewa lalu mengangguk. “Kalau begitu kami permisi.” Dia kemudian bangkit dengan istrinya sedangkan Bianca masih duduk.


Cewek itu masih sibuk berperang dengan otaknya mengenai hal yang menyebabkan Samuel membatalkan pertunangan mereka, sementara pertunangan itu akan diresmikan satu minggu lagi.


“Maafkan, Om dan keluarga, yah, Bi.” Hadi beralih pada Bianca yang tampak melamun.


Lamunan Bianca buyar saat suara Hadi terdengar. Bianca tersenyum simpul lalu berdiri dari kursinya.


“Maaf atas ketidaknyamanan yang dibuat Samuel di acara dinner ini.”


Bianca mengangguk dengan masih mempertahankan senyumannya.


“Bianca gak masalah, Om. Tapi Bianca juga berhak tau, kan, apa alasan, Sam?”


Hadi mengangguk lalu menatap sekilas pada Megan yang masih menampilkan raut kesal. “Kamu gak mau minta maaf sama Bianca?” tanyanya.


Menghela nafas berat, Megan bangkit lalu mendekat dan memeluk Bianca. Dia sudah menganggap Bianca sebagai anaknya sendiri, namun anak tampannya itu malah mengacaukan semuanya dengan keputusan yang tidak beralasan jelas.


“Maaf, yah, Bi.”


Bianca terkekeh. “Bianca mau dengar kata maaf dari Samuel secara langsung.” Dia kemudian melepaskan pelukannya. “Bianca pamit Tante, Om.” Setelah mendapat anggukan dari Hadi dan Megan, Bianca berlalu dari ruangan.


“Meira,” batinnya.


.


.


.