[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 53



Meira mengambil tangan Gilang yang terinfus untuk digenggam. “Kak Gilang…,” serunya lirih.


“Apa aku jahat kalau gak mau Kakak sadar sekarang?” tanyanya, mata Meira perlahan memanas menatap wajah Gilang yang benar-benar damai dengan alat bantu pernafasan.


“Aku pengen banget Kakak sadar, tapi aku juga gak mau kehilangan Kak Alka.” Meira beralih menempelkan punggung tangan Gilang ke pipinya.


Menghela nafas sesak, Meira mengusap pipinya yang sempat basah teraliri airmata. “Aku tadi nanya sama Kak Alka. Apa aku sama dia masih bisa bareng pas Kakak udah sadar? Kak Alka malah gak jawab dan nganter aku pulang, Kak. Jahat banget, kan?” adu Meira.


Wajah cewek berambut kuncir itu menekuk. “Jangan bahas yang sedih, deh, Kak. Sekarang Mei mau curhat sama Kakak.”


"Kenapa sih kak Alka itu orangnya dingin banget? Kenapa dia susah buat jatuh cinta sama Mei? Padahalkan Mei ini cantik, imut, manis dan seksi. Masa ditolak terus, sih?"


Suara pintu terbuka, memotong segala celotehan Meira. Cewek itu berbalik lantas membelalak melihat siapa yang baru saja datang.


Alka. Cowok dengan kaos putih dan boomber hitam bertuliskan THELION di dada kiri itu melangkah mendekat pada brankar setelah matanya sempat menatap Meira, sekilas.


“Kakak ngapain ke sini?” tanya Meira. Dia sedikit mendongak untuk melihat Alka yang jangkung.


“Jengukin temen gue, lah. Apalagi?” sahut Alka. Dia menggerakkan kepala seperti menyuruh Meira untuk berpindah ke sofa. Namun, bukannya pindah, Meira malah menaikkan alis tidak paham.


“Kenapa gerak-gerakin kepala gitu?” wajah polos yang bertanya itu membuat Alka gemas sekaligus kesal hingga sebuah decakan terdengar darinya.


“Sana ke sofa. Ada yang mau gue omongin sama Gilang.”


“Mei gak boleh tau?”


Gelengan kepala dari Alka membuat Meira mendengus samar lalu berpindah ke sofa. Membiarkan Alka menyelesaikan urusannya dengan Gilang.


Tapi, bukan Meira namanya jika tingkat keingintahuannya rendah. Diam-diam cewek itu menajamkan pendengarannya seraya berpura-pura memainkan ponsel.


Padahal, dia hanya menggeser-geser menu.


“Gue tau lo mau nguping.”


Meira tersentak untuk beberapa detik sebelum berlagak biasa-biasa saja. “Dih, geer. Siapa juga yang mau nguping!” sergahnya.


Alka memilih tidak membalas lalu berdiri menghampiri Meira. “Lo masih mau di sini?” tanyanya.


Meira yang sibuk bermain ponsel mendongak lalu menatap Gilang sekilas dan kembali menatap Alka lagi dengan alis terangkat.


“Udah selesai ngomongnya?” tanya Meira heran. Sebab, baru saja beberapa menit yang lalu Alka menyuruhnya berpindah dan sekarang cowok itu telah selesai.


Alka mengangguk.


“Gitu aja?”


Alka kembali mengangguk. “Masih mau di sini, gak?” tanya Alka lagi.


Meira lantas menggelang lalu berdiri seraya memperbaiki tali slingbag-nya di bahu. “Jalan, yuk, Kak!” ajaknya yang tanpa basa-basi langsung Alka tolak dengan gelengan kepala.


“Udah malem,” sahut Alka.


Meira mendesis sebal lalu mendekat pada Gilang. Mencium pipi cowok itu lalu mengikuti Alka yang mulai keluar dari ruangan.


####


Mata Meira tidak pernah lepas pada cewek berambut curly di gerbang sekolah yang tampak sedang menunggu jemputan.


Bella. Sahabatnya yang satu itu rupanya masih marah dengannya. Bella selalu menghindarinya, bahkan untuk bertatap saja cewek itu selalu buang muka. Meira menghela nafas kecil, jika saja kemarahan Bella hanya berdampak padanya, maka Meira tidak akan segelisah ini.


Masalahnya, Dita juga ikut-ikutan kena imbasnya. Bella tidak ingin berbicara pada Dita, bahkan, Bella telah berganti tempat duduk dengan orang yang duduk pada barisan tengah.


“Lo kenapa, sih, Bel? Kita, kan, udah minta maaf. Mei juga gak suka, kok, sama Kak Bima. Mereka cuma sebatas murid dan guru privat,” pungkas Dita yang mulai gemas dengan tingkah Bella.


Meira yang duduk di belakang Dita hanya menatap sendu pada Bella yang tampak menyibukkan diri dengan pura-pura mencatat materi.


“Bella lagi marah?” tanya Bianca yang duduk di samping Meira.


Meira mengangguk tanpa menatap Bianca. Dita hanya melirik sekilas. Percayalah, ada sesuatu dalam diri Dita yang membuatnya tidak suka pada Bianca sejak awal cewek blasteran itu datang.


“Bel … Maafin aku, aku bener-bener gak punya hubungan apa-apa sama Kak Bima. Kamu tau, kan, aku sukanya sama Kak Alka doang?” Meira ikut menambahkan.


Bella tetap pada posisinya, berbeda dengan Bianca. Cewek berambut coklat yang tadinya bermain ponsel itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya.


Meira suka pada Alka? Bianca tersenyum tipis, kenapa bisa dia lupa dengan kenyataan itu?


“Udahlah, Bel. Masa iya lo marah sama kita cuma karna cowok. Apalagi lo tau sendiri Kak Bima cuma gur---“


“Guru mana yang ngebiarin anak muridnya nyander di bahunya? Guru mana yang natap muridnya beda dari yang lain?” selah Bella. Cewek itu menghentikan kegiatannya. “Gak ada, Ta!” sambungnya lalu pergi keluar kelas setelah sempat menatap Meira sekilas.


Meira tersentak saat tangan Bima menyentuh pundaknya. Dia menatap sekilas pada Bima lalu menatap kembali pada gerbang lantas merosotkan bahu saat Bella sudah tidak ada di sana.


Meira menggeleng menanggapi Bima yang entah sejak kapan berdiri di dekatnya.


“Kakak belum pulang?” tanya Meira, sekadar basa-basi.


Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Ini udah mau pulang,” jawabnya.


Meira mengangguk singkat. “Terus Kakak kenapa di sini?”


Bima terkekeh lalu mengacak rambut Meira. “Lo berdiri di deket pintu kemudi mobil gue, Mei.” Cowok berseragam rapi itu tertawa kecil.


Melihat sekitar, Meira menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mungkin dia terlalu sibuk memikirkan Bella hingga tanpa sadar, dia malah berdiri di dekat mobil Bima.


“Ah, maaf, Kak. Mei gak tau, hehe….”


“Gak-papa,” ucap Bima. “Mau pulang bareng?” lanjutnya mengajak.


Sempat terdiam beberapa detik, akhirnya Meira menggeleng. Dia tidak mau masuk ke lubang yang sama lagi hingga Bella semakin marah padanya. “Makasih, Kak. Tapi hari ini Mei pulang dijemput, kok.”


“Kan, hari ini kita ada jadwal buat belajar. Kenapa gak sekalian aja?”


Meira semakin tidak enak. Hari sudah cukup sore dan Meira berbohong akan pulang dengan jemputan. Tapi dia juga tidak ingin pulang bersama Bima. Sebisa mungkin, dia akan menghindari Bima kecuali saat jam belajar mereka.


“Iya, sih, Kak. Tapi aku gak bi---“


“Gak-papa, Mei. Nanti gue kabarin pak Hendra kalau lo pulang bareng gue.” Tangan Bima bergerak untuk menggapai tangan Meira. Namun—belum saja niatnya untuk menggapai tangan itu terwujud—seseorang lebih dulu menyentak tangannya dengan kasar.


“Dia pulang bareng gue.”


Alka. Cowok dengan baju seragam yang tidak dimasukkan itu mengambil tangan Meira ke dalam genggamannya dengan sorotan datar pada Bima.


Bima berdecih samar lantas memalingkan wajah.


Meira? Dia sudah tidak tahu harus berekspresi apa lagi hingga dia hanya diam menatap Alka.


“Dia ada jadwal belajar bareng gue. Jadi dia pulang bareng gue!” sergah Bima tidak terima. Tangannya kembali terangkat mengambil tangan Meira yang satunya lagi.


Alka menyeringai kecil menatap tangan Bima yang menggenggam tangan Meira.


Tahu bagaimana perasaan Meira saat ini?


Rasanya dia ingin tenggelam saja saat semua mata yang ada di parkiran menatapnya dengan berbagai tatapan. Terutama pada gadis-gadis yang menjadi fans Alka dan Bima.


Atensi Meira pada tatapan-tatapan dan bisikan yang melayang teralih saat Alka melepas tangannya dari Meira.


“Mau pulang bareng gue atau dia?” tanya Alka pada Meira. Menggerakkan dagunya ke arah Bima ketika mengatakan 'dia'.


“H-hah?” Meira tergugu. Dia menatap Bima yang tampak menunggu jawabannya, tangan cowok itu masih setia menggenggam tangan Meira.


Meira kembali menatap Alka yang hanya menatap Meira dengan alis kanan yang terangkat.


Meira mengambil nafas lirih. “A-aku pulang bareng Kak Alka aja, Kak Bim,” jawabnya kemudian.


Alka kembali membuat seringai pada bibir ranumnya lalu memegang tangan Meira yang sempat dia lepas dan menghempaskan tangan Bima dengan kasar dari tangan Meira.


“Lo gak budek, kan?” Ujarnya, lalu menarik Meira menuju motornya yang terparkir di parkiran khusus The Lion. Meninggalkan Bima yang hanya bisa menatap punggung mereka dengan kekehan tidak percaya.


Cowok itu menendang sekilas ban mobilnya lalu membuka pintu kemudi. Memukul stir mobilnya dua kali lalu menghembuskan nafas kasar.


Lagi, lagi Alka. Cowok yang menurut Bima hanyalah sampah sekolah bersama antek-anteknya yang entah berjumlah berapa ratus di sekolah ini. Cowok yang sejak dulu selalu berhasil menyulut emosi Bima.


Jika kalian berpikir, ini untuk pertama kalinya Bima berurusan dengan Alka. Maka kalian salah. Dari kelas satu hingga sekarang, Bima dan Alka selalu menjadi pesaing, entah itu di bidang olahraga, ataupun akademik.


Alka memang seorang anak laki-laki yang selalu membuat onar bersama teman-temannya. Tapi hal itu tidak berpengaruh pada otaknya. Bima tahu bahwa otak Alka tidak bisa dikatakan bodoh.


Walaupun Alka bertempat di kelas XII IPS 4, kelas yang selalu membuat guru-guru berpikir dua kali untuk masuk, namun cowok itu tidak bisa dipandang remeh. Karena berita yang Bima dengar, Alka masuk kelas XII IPS 4 hanya karena ikut-ikutan dengan teman-temannya.


Jadi sudah jelas, bahwa Alka setara dengannya.


.


.


.