[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 20



Pria paruh baya—dengan setelan formal yang melekat pada dirinya—duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang sibuk menari-nari di atas keyboard laptop berlogo apel gigit itu.


Wajahnya tampak tenang dan berwibawa.


Tak lama kemudian terdengar ketukan dari pintu ruangannya.


"Masuk!" perintahnya dari dalam.


Cklek!


Pintu terbuka. Menampilkan pria dengan umur matang dan juga bersetelan resmi. Juna—sekretarisnya sendiri—membungkuk hormat padanya.


"Ada apa, Jun?" tanyanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop tersebut.


"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Pak," jawab Juna, sopan.


"Suruh dia masuk."


Juna mengangguk lalu membalik badan. Memanggil seseorang yang 'katanya' ingin bertemu dengan Bapak Hadi Mahardika.


"Saya permisi, Pak," pamit Juna, setelah orang yang ingin bertemu dengan Hadi sudah masuk ke ruangan.


Hadi mengangguk sekilas.


"Ada apa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Hadi pada orang tersebut, namun masih dengan pandangan ke layar laptopnya yang menyalah entah menampilkan apa.


"Papa sibuk?"


Suara itu seketika menghentikan jari Hadi yang sibuk menari diatas Keyboard. Di dongakkan wajahnya pada orang yang baru saja berbicara. Senyum mereka terbit di bibir ranumnya.


Di depannya, kini Alka berdiri dengan seragam putih abu-abu yang melekat pada tubuh cowok itu. Serta tas ransel hitam tipis di punggung.


"Alka?" Hadi berdiri dari kursi kebesarannya lalu memeluk Alka khas seorang anak dan ayah.


"Apa kabar, hm? Sehat? Mama kamu bagaimana?" tanya Hadi, bertubi-tubi.


Alka tersenyum tipis. "Alka baik. Mama juga," jawab Alka.


Hadi tersenyum senang. "Syukurlah. Kamu duduk dulu di sofa itu." Hadi berniat menuntun Alka ke sebuah sofa yang ada di ruangannya. Namun, Alka menolak.


"Gak usah, Pa. Alka cuma mau kasih sesuatu ke Papa." Alka tampak mengambil sesuatu dari dalam ransel hitam tipisnya.


Amplop tebal berwarna coklat susu. Itulah yang dilihat Hadi saat ini.


Alka menyodorkan amplop itu dan disambut kerutan alis oleh Hadi.


"Ini apa?" tanya Hadi, bingung.


"Ini uang pembayaran buat utang-utang Pak Rahmat." Alka menjawab dengan tenang.


Kerutan alis Hadi semakin tampak. "Kamu tau Pak Rahmat?"


Alka mengangguk dua kali. "Dia ayahnya teman Alka."


"Dan kamu mau bayar utang dia?" Hadi bertanya heran.


Sekali lagi, Alka mengangguk. Berjalan menuju meja kebesaran Papanya lalu meletakkan amplop itu di sebelah laptop. Sejenak Alka berhenti, matanya menangkap foto dua bocah laki-laki yang duduk di kursi taman sambil merangkul dan eskrim di masing-masing tangannya, tak lupa senyum merekah dibibir keduanya. Foto itu terbingkai indah di atas meja itu.


Dalam hati Alka berdecih sinis. Dulu ia menyukai moment itu, namun sekarang, setiap moment yang pernah ia lewati dengan saudaranya tersebut, Alka benci.


"Alka simpan di sini." Alka berbalik menuju pintu. Dan Hadi masih bingung dengan anaknya itu.


Saat Alka hendak membuka pintu. Orang dari luar lebih dulu membukanya, dan tampaklah Samuel dengan seragam putih abu-abu yang sama dengan Alka, hanya saja dengan lambang sekolah yang berbeda. Tangan cowok itu sudah tidak tergips lagi.


"Ngapain lo di sini?" tanya Samuel, datar. Cowok itu melengos masuk ke ruangan Hadi lalu duduk di sofa.


Alka menatap Samuel datar. Dan beranjak pergi. Namun,


"Hadiah balapan lo gak cukup buat nebus utang si Tolol itu?" Samuel menyilangkan kakinya lalu membuka ponsel.


Hadi sendiri hanya duduk bertumpuh pada mejanya. Menyaksikan dengan raut wajah bingung pada kedua putranya yang melemparkan tatapan dan perkataan yang tidak bersahabat.


Alka berhenti. Berbalik menatap Samuel dengan tenang.


"Perlu banget lo tau?" balas Alka.


Samuel menganggkat bahunya acuh. "Kali aja gitu. Hadiahnya gak cukup karna lo korupsi buat perawatan nyokap lo yang bentar lagi mati."


"SAMUEL!!" bukan. Bukan Alka yang berteriak. Melainkan Hadi, tatapan pria paruh baya itu nyalang kepada Samuel.


Samuel memutar bola matanya malas. Alka sendiri tampak masih tenang, menatap Samuel dengan tatapan dingin tak terdefinisikan.


"Papa mau ceramahin Sam lagi?"


Hadi menghela nafas berat. Melangkahkan kakinya untuk duduk bersama Samuel di sofa itu.


"Jaga bicara kamu Sam. Papa gak suka kamu bicara seperti itu. Dia itu ibu kamu jug---"


"Sam, gak punya ibu yang menjadi selingkuhan pria yang sudah beristri!"


Plak!


Itu bukan suara tamparan. Melainkan suara peraduan amplop coklat tebal dengan pipi Samuel. Pelakunya tak lain adalah Alka. Cowok itu berdiri tepat di samping Samuel dengan tatapan tajam miliknya.


Alka menarik kerah baju Samuel hingga cowok itu mendongak. "Lo boleh ngatain nyokap gue sekarat. Tapi jangan coba-coba buat ngatain nyokab gue selingkuhan dengan mulut kotor lo, itu! Lo gak tau apa-apa tentang Papa dan nyokab gue, jadi lo gak usah sok tahu!" Alka berdesis tajam tepat di wajah Samuel.


Perlu di catat, maupun di garis bawahi! Kalimat tadi adalah kalimat terpanjang yang pernah Alka lontarkan. Dan itu semua cuma karena satu wanita. Soraya, ibu kandungnya.


***


Haciw!


Haciw!


Tak henti-hentinya Meira menggosok hidungnya yang sudah memerah. Sejak tadi, cewek itu hanya berbaring di Uks dengan sekotak tissue dan keranjang sampah. Kertas putih itu telah memenuhi keranjang sampah tersebut.


"Kok, aku bisa flu, sih?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.


"Apa karna aku kesenangan, yah, seharian jalan sama Kak Alka kemarin?"


"Tapi masa iya, sih, itu bisa bikin flu."


Meira berdecak lalu mengeluarkan ingusnya pada dua lembar tissue yang baru saja ia ambil. Kertas putih itu kembali mendarat di tempat sampah.


Meira turun dari brankar lalu melangkah keluar Uks. Tepat saat ia keluar dari pintu, matanya menangkap Alka yang berjalan ke arahnya dengan tatapan fokus ke ponsel dan tangan kiri tenggelam di saku.


Meira tersenyum lebar. "Jodoh emang gak kemana, yah, hihi." Meira merapikan rambut dan seragamnya terlebih dahulu lalu menghampiri Alka.


Alka menoleh sekilas. "Eh, lo. Hay juga," balas Alka, menatap Meira sekilas lalu kembali dengan tatapan lurus ke ponsel.


Refleks tangan Meira yang mengamit lengan Alka terlepas. Memandang Alka yang terus berjalan dengan mulut menganga tak percaya.


"Demi apa? Kak Alka balas sapaan aku? Seriuuss?! Aku lagi gak mimpikan?!" batin Meira menjerit. Tangannya terangkat menampar pipinya sendiri.


"Aw!" pekikan itu terdengar saat merasakan panas di pipinya sendiri.


"Berarti ini bukan mimpi?!" Mata Meira berbinar. Dengan cepat ia mengejar Alka yang mulai berbelok menuju kantin belakang sekolah.


"Kak Alka! Tungguin!"


Alka berhenti. Menoleh kebelakang dan mendapati Meira yang mengejarnya.


"Lo kenapa?" tanya Alka, saat Meira sudah berdiri di sampingnya dengan nafas sedikit tersenggal.


Meira menggeleng sejenak. Menetralkan nafasnya lalu mulai menatap Alka dengan senyum dan binar mata ceria.


Alka mengerutkan alis menatap Meira.


"Lo kenapa, sih?" ulang Alka.


"Kak Alka tadi balas sapaan aku?" tanya Meira, mengabaikan pertanyaan Alka barusan.


Alka mengangguk sekilas lalu kembali melangkah.


"Kak Alka gak cuek lagi sama Meira?" Meira terus saja mengikuti langkah Alka. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar cowok itu.


"Emang gue pernah cuek sama, lo?" Alka memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Meira tampak berfikir. "Bukan pernah, sih. Tapi sering!" cewek itu menunjukkan deretan gigi rapinya di akhir kalimat.


"Kapan?" Kaki Alka mulai memasuki kantin yang tak pernah sepi itu. Meskipun berada di belakang sekolah, namun kantin ini jauh lebih ramai dibanding kantin sekolah sendiri.


"Tiap hari. Itu, pun untung kalau gak dibentak-bentak."


Alka duduk di kursi yang tak jauh dari Devan dan Bagus. Diikuti oleh Meira yang duduk di hadapannya.


"Hai Kak Bagus, Kak Devan!" Meira tersenyum lebar pada Bagus dan Devan yang di sapanya. "Kak Devan udah baikan tangannya?" lanjutnya pada Devan.


"Hay juga!" balas keduanya bersamaan. "Seperti yang lo lihat, udah baikan," sambung Devan.


"Kok, baru ke sini lagi, Cil?" ini Bagus yang bertanya.


Meira mencemot tempe goreng di hadapannya sedikit lalu menjawab. "Lagi kangen aja sama Capar," jawab Meira, masih sibuk dengan tempe gorengnya. Alka sendiri lebih memilih bermain game di ponselnya.


"Capar? Di sini gak ada yang namanya Capar, Mei." Devan meneguk sodanya lalu mendekatkan kursinya ke Meira.


Meira terkekeh sejenak. "Capar itu calon pacar Kak Devan. Gimana, sih." Meira membersihkan mulutnya dengan tissue.


"Kak Bagus, ambilin air minum, dong."


Bagus melototkan matanya pada Meira. "Enak banget lo nyuruh-nyuruh, gue."


Meira mencengir. "Sekali aja Kak Bagus. Mulut aku minyakan, nih, abis makan tempe goreng."


Bagus memutar bola matanya malas. Beranjak mengambilkan air mineral kemasan botol dalam lemari pendingin lalu menyerahkan ke Meira. "Kalo mulutnya gak mau minyakan, yah, makan tempe masak aja. Hidup jangan dibuat susah Mei." Bagus kembali duduk.


Meira memutar tutup botol kemasan air mineral itu lalu meneguknya tiga kali. "Emang ada?" tanya Meira, membersihkan sisa air di tepi bibirnya.


"Apaan?" tanya Bagus.


"Tempe masak yang Kak Bagus bilang tadi."


Bagus langsung bangkit dari kursinya. "Van, gue cabut, yah. Mau ketemu Dita."


Devan ikut berdiri. "Gue juga mau main catur sama Ezra."


Bagus dan Devan pergi. Menyisakan Meira yang bertanya-tanya, kenapa ia ditinggalkan begitu saja?


Menghela nafas. Meira beralih pada Alka. Menatap cowok yang sibuk dengan ponsel miring itu dengan cemberut. Tangan cantiknya terangkat mengambil ponsel itu. Alka sontak berjinggat tidak terima.


"Apa, sih, lo!"


Meira menjauhkan ponsel Alka dari sang empu.


"Kakak jangan main game doang, dong. Temenin Mei ngobrol kek, apa, kek. Biar gak bosen, gitu."


Alka memutar matanya malas. "Lo mau ngobrol apaan?" tanya Alka, mulai jengah.


Meira tersenyum senang. "Cerita masa depan kita berdua aja, gimana?"


Alka mendengus. "Terserah, lo."


Meira dengan cepat menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan Alka. Mulai berceloteh tentang imajinasi dirinya dengan Alka di masa depan. Melupakan waktu yang terus berputar.


Alka juga merespon dengan baik celotehan Meira. Tidak seperti biasanya yang hanya akan memilih diam. Entah ada apa dengan cowok itu, Meira tidak peduli. Dengan sikap Alka yang seperti ini sudah membuat Meira bahagia. Tekadnya untuk mendapatkan Alka semakin gencar.


Tapi, ada satu hal yang tidak di perhatikan Meira. Tatto kalajengking itu ada di punggung tangan kiri Alka.


***


"Lo kapan sadar, Lang. Kita semua kangen sama lo." Devan menepuk pelan lengan Gilang yang masih tertidur dengan beberapa alat medis di tubuhnya.


Gilang Abraham. Sahabat Alka sejak dulu. Gilang yang selalu menjadi panutan Alka dan teman-temannya serta juga penyelamat Alka di masa lalu. Gilang mengalami koma saat Alka akan naik ke kelas XI, dan belum sadar sampai sekarang karena luka tembak yang hampir menembus jantungnya.


Bagus yang berdiri di samping Alka, ikut menunduk seperti Devan. Rasanya, kondisi Gilang yang koma dan belum melewati masa kritis adalah masa-masa terlemah dalam sejarah hidup Alka.


"Gue gak nyangka kalo kejadian itu bisa berakibat fatal pada Gilang." Bagus mulai berargumen. Matanya menyorot lurus pada Gilang yang terbujur lemah.


Kilasan peristiwa masa lalu sebelum detik-detik Gilang koma, berputar di ingatan Bagus. Rahangnya mulai mengeras, tangannya ikut terkepal.


"Andai aja waktu itu gue sama yang lain tepat waktu. Mungkin Gilang masih bareng kita. Bercanda, makan bareng, main bareng, bahkan tawuran bareng."


Alka menepuk pundak Bagus satu kali. "Ini bukan salah lo, Gus. Ini semua karna gue," ujar Alka. Ekspresinya datar namun dadanya sesak mengingat kejadian itu.


"Coba aja waktu itu gue gak minta bantuan kalian, pasti kalian bakal tepat waktu bantuin Gilang."


Bagus menggeleng pelan. "Lo terlalu banyak merasa bersalah Al. Bahkan hidup lo di penuhi rasa bersalah semua. Gue gak akan biarin lo terus-terusan seperti ini. Jadi biarin ini jadi salah gue." Bagus menunduk.


Alka menghela nafas. Mulai menundukkan wajahnya tepat di samping telinga Gilang.


"Gue dan yang lain, akan ngebalas semua ini ke mereka. Dengan balasan yang lebih parah. Itu janji The Lion buat lo, Man."