![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
XI IPA 2. Kelas yang awalnya hening karena pelajaran yang tengah berlangsung kini pecah seketika saat seorang cewek berambut coklat sepunggung masuk ke kelas mereka setelah memberi salam. Pak Ahmad—guru biologi yang mengajar dalam kelas itu—menoleh pada sang empu.
"Kamu murid baru itu?" tanya Pak Ahmad.
Cewek itu mengangguk dengan senyum canggung yang mampu membuat mata anak cowok XI IPA 2 melotot. Kecantikan cewek itu benar-benar alami dengan rambut coklat dan mata biru laut yang mereka yakini bukan lensa. Terbukti dari wajahnya yang terlihat seperti orang barat.
"Silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu."
Cewek itu melangkah masuk dan berdiri di depan papan tulis dengan kedua tangan menyatu di depan rok abu-abunya.
"Selamat pagi. Saya Bianca Kimberly, siswi pindahan dari Perancis."
Semua anak cowok sontak heboh dengan apa yang baru saja mereka dengar. Berbeda dengan anak cewek XI IPA 2, mereka menunjukkan respon berbeda-beda.
Ada yang menatap sinis, takjub, dan biasa saja.
Pak Ahmad mengangguk lalu mengedarkan pandangan ke seisi kelas. "Ada yang mau bertanya?" serunya.
Sontak anak cowok mengangkat tangan secara berlomba-lomba.
"Kenapa pindah?"
"Nomor whatsappnya berapa?"
"Jomblo gak?"
"Jadi pacar aku, yuk!"
"Entar pulang bareng, yah!"
Pak Ahmad memutar mata malas mendengar semua itu. Sedangkan Bianca sendiri hanya bisa tersenyum canggung.
"Kamu silahkan duduk di dekat Meira." Pak Ahmad menatap Meira yang kini sudah tersenyum lebar. "Meira, angkat tangan kamu!"
Meira dengan cepat mengangkat tangan kanannya ke udara. Murid baru itu mulai berjalan padanya setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Ahmad.
"Hay, aku Meira." Meira menyodorkan tangannya setelah Bianca duduk di sampingnya.
"Bianca," sahut Bianca tersenyum tipis dengan membalas uluran tangan Meira.
"Hay, gue Bella. Selamat bergabung di kelas kita." Bella memiringkan sedikit badannya menghadap kebelakang dengan tangan kanan terulur. Senyum juga mengembang di bibir cewek itu.
Bianca beralih membalas uluran tangan Bella. Tak lupa juga senyum tipisnya. "Bianca."
Bella mengangguk lalu kembali menghadap ke hadapan setelah melepas jabatan tangan mereka. Dia bergerak menyenggol lengan Dita yang sibuk mencatat.
"Ta," serunya.
"Apaan?" sahut Dita tanpa menatap Bella.
"Lo gak kenalan sama murid baru itu?" Bella berujar pelan agar Pak Ahmad yang sibuk menjelaskan tidak mendengar suaranya.
Dita mengangkat bahu acuh. "Gak penting. Entar juga kenal sendiri."
Kernyitan di dahi Bella menjadi akhir percakapan mereka.
***
"Halo semua... Kenalkan, saye Upin. Nih, adik saye Ipin." Devan menggeser kamera ponselnya ke Dimas yang langsung cengar-cengir di hadapan kamera.
Setelah itu Devan mengangkat tinggi-tinggi kamera ponselnya hingga semua anggota The Lion tertampil di Kamera.
Dia dan Dimas berseru berbarengan. "Ini kisah kita semuaaa!"
Mereka tertawa sejenak sebelum Tian mendekat ke kamera. "Halo, guys. Gue Mail. Nih, Mei-Mei. Cantik, kan?" cowok itu merangkul kepala Bagus agar terlihat di kamera.
Tak!
"Sekate-kate lo. Ganteng gini di samain sama Mei-Mei." Bagus menjitak pelan kepala Tian.
Bukannya meringis, Tian malah tertawa lalu memperagakan gaya khas Mei-Mei. "Saya suka, saya suka," serunya dengan tangan yang di tepuk seperti Mei-Mei.
Mereka kembali tertawa hingga akhirnya Ezra datang dengan wajah panik.
"Alka mana, Woy? Alka mana?" Cowok yang baru saja datang itu celingak-celingukan mencari Alka.
Devan beralih mematikan kameranya lalu menatap Ezra.
"Kenapa nyari Alka?" tanya Devan.
Ezra menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Urgent, weh. Urgent."
"Tenang dulu, Eja. Kayak abis di kejar Genderuwo aja," celetuk Adnan seraya melanjutkan permainan caturnya bersama Arnold.
"Apa sih, Nyet. Ini tuh, bener-bener gawat!" Ezra menatap mereka satu persatu. "Gus, Alka mana?" tanyanya beralih pada Bagus yang menyeruput kopi berkemasan botol.
"Belum dateng mungkin," jawabnya tanpa menatap Ezra.
Ezra berdecak keras.
"Lo kenapa sih, Ja?" Adnan menatap Ezra dengan penuh tanda tanya.
Ezra menghirup udara segar sejenak lalu ikut bergabung dengan mereka. Duduk di antara Dimas dan Devan yang sibuk mengedit video mereka tadi. Kedua cowok itu mendelik pada Ezra.
"Nih, yah. Gue punya hot news buat kalian. Bener-bener hot, se-hot istrinya Pak Bambang tugas kebersihan sekolah kita."
"Kayak lambe turah aja lo bawa-bawa gosip gak jelas." Ezra mendesis pada Arnold yang berceletuk namun masih sibuk bermain catur dengan Adnan.
"Lambe turah gigi lo goyang."
"Yah, terus lo kenapa sayang?" Malik mendekat pada Ezra lalu memberi senyum manisnya.
Senyum yang mematikan bagi Ezra hingga dia menunjukkan cengiran pada Malik.
"Jadi gini, tadi pas gue abis dari toilet. Gue denger kalo ada murid baru di skol---"
"BODO AMAT!" Ezra tersentak mendengar teriakan teman-temannya. Dia mendelik kesal lalu menepuk keras pundak Dimas yang kebetulan dekat dengannya.
"Dengerin gue dulu, nyet. Belum selesai ngomong gue." Ezra menatap mereka dengan tajam. Semuanya hanya cengengesan.
"Lanjut, lanjut," seru Bagus.
"Jadi nih, yah. Tuh, murid baru katanya pindahan dari Perancis. Nam--- motong sekali lagi gue gibeng lo!" Ezra mengangkat tangannya seolah ingin menjitak pada Devan saat cowok itu terlihat ingin menyela ucapannya lagi.
Devan cengengesan lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'.
"Lanjut, lanjut."
Ezra berdecak menatap Bagus. "Cewek itu pindahan dari Perancis. Namanya Bianca. Bianca Kimberly."
Diam. Hanya itu yang mereka lakukan setelah mendengar ucapan Ezra.
Ezra menatap temannya satu persatu. "Kenapa lo semua diem?" tanya Ezra. Heran dengan respon mereka.
"Terus apa hubungannya sama kita?" Adnan lebih dulu membuka suara setelah lama diam.
"Lo gak tau siapa dia?"
Adnan akhirnya menggeleng. "Kagak kenal gue," jawabnya.
Ezra mengeluarkan nafas kasar. "Dia Bianca, man. Mantannya Alka. Gimana, sih, mantan temen sendiri lupa."
Butuh waktu beberapa detik untuk mereka mencerna ucapan Ezra sebelum raut wajah terkejut mulai tertampil di wajah mereka satu persatu.
"Yang matanya biru, kan?" tanya Tian memastikan. Ezra mengangguk sebagai respon.
"Yang ninggalin Alka gitu aja maksud lo?" Ezra terkekeh menanggapi kalimat sinis Arnold.
"Alka udah tau kalau Bianca sekolah disini?" Bagus akhirnya angkat suara setelah lama diam.
Ezra mengangkat bahu tak tahu.
***
"Oh, jadi kamu balik ke Indonesia karna seseorang?" Meira menoleh sekilas pada Bianca yang berjalan di samping kanannya.
Mereka—Meira, Bianca, Dita dan Bella—berjalan bersama menuju parkiran setelah lima menit yang lalu Bel pertanda pulang berbunyi.
Bianca menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga kanan lalu mengangguk. "Iya, tapi bukan sepenuhnya juga, sih. Ada hal lain juga, pribadi."
Meira mengangguk mengerti.
"Lo asli Perancis, yah?" pertanyaan itu dari Bella yang berdiri di samping kiri Bianca. Di samping Bella paling ujung ada Dita yang tampak tidak tertarik dengan topik pembicaraan.
Bianca menoleh sekilas pada Bella. "Gak, kok. Mama aku asli Indonesia, Papa aku yang keturunan Perancis."
Bella mengangguk mengerti. "Mata lo itu turunan bokap?" tanyanya lagi.
Bianca mengangguk. Hendak berbicara namun teriakan Meira lebih dulu terdengar. Teriakan yang membuat badannya tiba-tiba menegang.
"KAK ALKA!!"
Di depan sana, tampak cowok dengan jaket jeans berpenampilan jauh dari tata tertib sekolah berdiri di pinggir motornya. Tangan kanannya sibuk pada ponsel dan tangan kirinya tenggelam dalam saku.
Bianca menatap Meira yang menunjukkan senyum lebar dan berlari menghampiri cowok yang masih menunduk itu.
"Dia siapanya Meira?" dengan susah payah Bianca memberanikan diri bertanya pada Bella.
Tapi sayangnya bukan Bella yang menjawab, melainkan Dita dengan nada ketusnya. "Gak penting buat lo siapa dia bagi Meira." setelah itu Dita menarik tangan Bella yang kebingungan menuju Meira, diikuti Bianca dengan langkah berat.
"Mei, kita duluan, yah."
Meira mengangguk pada Dita. Saat keduanya telah pergi, Meira dengan cepat menarik tangan Bianca untuk mendekat.
"Kak Alka?"
"Hm?" Cowok itu masih saja sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan Meira.
"Kenalin, ini teman barunya, Mei. Namanya Bianca. Bianca Kimberly."
Saat itu juga jari Alka berhenti di atas layar ponsel. Dia dengan pelan mendongak untuk memastikan pertanyaan-pertanyaan di otaknya setelah Meira menyebut nama itu.
Tepat saat mata hitam Alka bertubrukan dengan mata biru itu, Alka menegang. Salivanya terasa berat untuk di telan. Mereka tetap saling tatap sebelum suara Meira mengintrupsi.
"Kenalin, Bi. Dia Kak Alka, senior paling ganteng di Garuda." Meira terkekeh di akhir kalimatnya.
Bianca terkesiap mendengar suara Meira yang membawanya ke dunia nyata. Dia tersenyum canggung lalu mengulurkan tangan pada Alka.
"Bianca," serunya.
Alka bergeming. Dia hanya menatap sekilas pada tangan Bianca sebelum mengambil tangan Meira untuk dia genggam.
"Alka," sahutnya datar. Dia beralih memakaikan helm bogo berwarna biru langit pada Meira yang di sambut senang oleh cewek itu.
Bianca tersenyum kecut manatap tangannya dan menariknya kembali. Matanya tak pernah berpaling dari Alka dan Meira.
"Ini helm punya siapa, Kak?" tanya Meira saat tanpa di suruh Alka membungkuk memasangkan pengait helm pada dirinya.
"Punya lo," jawab Alka dengan nada datar khasnya.
"Kakak yang beli?"
"Hm."
Meira tersenyum lebar. Menatap punggung Alka yang kini berbalik menaiki kuda besinya.
"Makasih, Kak."
Alka hanya mengangguk singkat lalu memakai helm fullfacenya.
"Naik," serunya setelah memutar kunci pada motornya.
"Aku duluan, yah, Bi." Meira mulai naik ke jok belakang motor Alka setelah Bianca mengangguk tanpa suara. Dia memegang erat jaket jeans Alka sebelum motor itu melaju meninggalkan sekolah.
Serta Bianca yang hanya bisa menatap mereka dalam diam.
***
"Makasih yah, Kak." Meira memberikan helmnya pada Alka setelah turun dari motor.
"Pegang. Nih, buat lo," ujar Alka seraya mengembalikan helm biru itu ke Meira.
Meira tersenyum senang. "Kakak gak mau mampir dulu?"
"Gak." Alka mulai menyalakan mesin motornya.
"Yaudah, hati-hati. Jangan pikirin Meira terus, entar kenapa-napa lagi." Meira terkekeh.
Alka mengangguk singkat setelah matanya menangkap mobil marcedez hitam yang cukup tidak asing baginya di depan rumah Meira. Motor sport merah hitam itu mulai meninggalkan Meira setelah memberikan klakson tanda pamit.
Meira berbalik badan memasuki pagar rumahnya yang entah kenapa terbuka lebar. Dengan senyum mengembang dia membuka knop pintu rumahnya.
Perubahan Alka cukup drastis. Cowok itu membelikannya helm, menggenggam tangannya, mengaitkan pengait helm tanpa di minta, dan membunyikan klakson sebelum pergi. Hal-hal yang belum pernah Alka lakukan pada Meira sebelumnya cukup membuat cewek itu senang.
"Kenapa senyum-senyum?" suara berat itu menyentak Meira ke dunia nyata. Papanya kini berdiri seraya bersedekap dada menatapnya.
Meira melebarkan senyumnya lalu menyalam pada Arya. "Tumben cepet pulang, Pa."
"Kenapa? Gak suka Papa pulang cepet?"
Meira mendesis lalu melepas sepatu dan menaruhnya ke rak sepatu yang tak jauh dari pintu. "Papa, Ish! Suka banget so'udzon sama anaknya sendiri."
Arya terkekeh lalu menyambut Meira dengan rangkulan saat cewek itu mendekat. "Papa udah bawain guru privat buat kamu, dia ada di ruang tengah."
Meira memutar mata malas. Mengikuti langkah Arya ke ruang tengah.
"Tuh," seru Arya setelah keduanya sampai ke ruang tengah. Pria itu menunjuk orang tersebut dengan dagunya.
Mata Meira membulat menatap orang yang katanya adalah guru privatnya.
"Kak Bima?!" pekiknya tertahan.