![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Suara wanita setengah baya yang ada di depan papan tulis begitu terdengar dengan jelas di dalam kelas XI IPA 2 yang sunyi itu. Seorang gadis dengan rambut di kuncir satu menatap ke arah guru tersebut dengan mata sayu menahan kantuk, sebelum suara Bella di sampingnya membuat mata itu kian bersemangat lagi.
"Kak Alka lagi dihukum di luar Mei," Meira menolehkan wajahnya ke arah Bella yang fokus menatap ke depan setelah berbisik padanya.
"Kamu serius?"
Bella mengangguk tanpa menoleh ke arah Meira.
"Kok bisa?" tanya Meira penasaran namun dengan suara pelan, takut guru di depan akan mendengar mereka.
"Dia dihukum karna mukulin teman seangkatannya yang sengaja numpahin saos di sepatunya," jawab Bella pelan.
Meira mengangguk mengerti, gadis itu mengusap dagunya seolah memikirkan sesuatu. Senyum miring tercetak dengan jelas saat sebuah ide melintas di otak cantiknya.
"Hoaaamm..." Meira menguap dengan begitu besar hingga membuat semua mata menatap ke arahnya termasuk Guru di depan sana.
"Meira Annastasia kenapa kamu?!" tanya guru itu sedikit menyentak.
"Ngantuk bu!" jawab Meira malas lalu menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya yang berada di atas meja.
Wanita berprofesi Guru itu menghela nafas kasar. "Lebih baik kamu keluar dari kelas saya!" suruhnya tegas.
Dengan malas Meira bangkit lalu keluar dari kelas. Sesampainya di luar kelas, gadis itu merentangkan tangannya seolah mengumpulkan nyawanya. Detik berikutnya senyum lebar tercetak di bibir merah mudanya.
"Akhirnya bisa ketemu Kak Alka lagi!" gadis itu berlari dengan semangat menuruni tangga menuju lantai satu lalu berjalan pelan ke arah lapangan dimana ada Alka yang berlari memutari lapangan tersebut.
Meira mengambil sesuatu dalam saku bajunya.
Sapu tangan!
Cewek itu berlari ke tepi lapangan, menyaksikan bagaimana tampannya Alka yang sedang berlari dengan keringat yang bercucuran di lehernya walaupun wajahnya sedikit lebam.
"KAK ALKA?!" Alka yang berada di tepi lapangan seberang sana menoleh ke arah suara. Cowok itu memutar bola matanya malas saat melihat di seberang sana Meira melambai dengan senyum lebar padanya.
Alka tidak mengubris Meira, cowok itu terus berlari hingga 5 menit kemudian Alka selesai, cowok itu lalu duduk di tengah lapangan dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Melihat itu, Meira dengan cepat menghampiri Alka. Cewek itu berdiri di samping Alka dan menutupi tubuh Alka dari sengatan matahari dengan menggunakan tubuh mungilnya.
"Nih," Meira menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna baby blue ke arah Alka. Cowok itu hanya menatap datar lalu merebahkan dirinya di lantai lapangan.
"Ih Kak Alka itu kotor tau!" Alka diam, cowok itu menaikkan satu lengannya untuk menutup matanya.
Meira menghela nafas pelan lalu duduk di samping Alka, matanya tak henti menatap wajah Alka yang selalu terlihat tampan kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun.
"Kak Alka kapan jeleknya sih?" gumamnya tanpa sadar hingga membuat Alka menatapnya bingung.
"Lo bilang apa tadi?"
Meira gelagapan, cewek itu berusaha mencari objek lain untuk dipandang asal bukan Alka.
"A-aku gak ngomong ap-apa kok."
Alka memicingkan matanya, menatap Meira dengan curiga. Bukannya kesal, Meira semakin dibuat terpesona dengan ekspresi Alka. Sekarang apapun tentang Alka Meira suka!
"Beneran?" Meira mengangguk cepat.
Alka mengangkat bahunya acuh lalu menatap langit yang cerah di atas sana dengan mata memicing silau.
"Kak Alka gak butuh ini?" Alka menoleh kesamping, tepatnya pada sapu tangan berwarna baby blue yang di sodorkan Meira.
Alka menatap sapu tangan itu dan Meira secara bergantian. "Gak ada obat biusnya kan?"
Meira tertawa kecil.
"Yah gak adalah Kak Alka, gimana sih!"
Tanpa berkata lebih banyak lagi Alka mengambil sapu tangan itu lalu membersihkan keringat yang ada di wajah dan lehernya.
Pemandangan itu membuat Meira meneguk kasar salivanya. Alka benar-benar luar biasa, cowok itu bisa terlihat tampan dan seksi diwaktu yang bersamaan.
"Entar gue balikin," Meira mengangguk begitu saja.
Keheningan datang menemani mereka. Keduanya asik dengan fikiran masing-masing sebelum akhirnya Alka angkat suara.
"Kenapa di sini?" tanya Alka tanpa menatap Meira.
Meira menoleh sekilas ke arah Alka yang masih berbaring di sampingnya. "Disuruh keluar sama bu Rita karna ngantuk, padahal mah aku cuma pura-pura." Meira terkekeh di akhir kalimatnya.
"Pura-pura?" Meira mengangguk cepat lalu memutar badannya agar sepenuhnya menatap Alka.
"Aku pura-pura ngantuk biar bisa keluar kelas terus temenin Kak Alka yang di hukum hehe..." cewek itu menunjukkan cengirannya di akhir kalimat.
Alka bangun lalu ikut duduk di dekat Meira.
"Lo suka sama gue?" dengan polosnya Meira mengangguk hingga membuat Alka mendelik.
"Soal rasa suka aku sama Kak Alka gak usah di tanya lagi. Aku udah suka sama Kakak pas nolongin aku terus minjemin aku jaket waktu itu."
"Secepat itu?" Meira mengangguk cepat.
"Bolos bareng yuk Kak?" Alka sedikit terkejut dengan permintaan Meira.
"Lo gila?" tanya Alka tak percaya.
"Aku gila karna Kak Alka," Alka memutar bola matanya malas lalu berdiri dan meninggalkan Meira.
Meira ikut berdiri lalu berteriak saat Alka sudah sedikit jauh di hadapannya. "KAK ALKA MAU KEMANA?!"
"KATA LO MAU BOLOS?!"
***
"Kak Devan sini..." Meira memanggil Devan dengan suara pelan lalu melambaikan tangannya seperti orang memanggil.
Devan menoleh ke arah Meira. "Paan?" sahutnya.
"Sini dulu! Urgent, urgent!" Devan yang asik bermain kartu Uno dengan teman-temannya pun terpaksa menghampiri Meira yang berjarak 5 meter darinya.
"Paan sih Mei?" Meira menunjukkan senyum manisnya lalu menyelipkan anak rambutnya kebelakang kedua telinganya.
"Boleh minta kontaknya Kak Alka?" Devan menatap Meira dengan alis mengernyit lalu beralih memandang Alka yang tertidur disebuah kursi kayu.
"Mau lo apain kontaknya?" Meira memutar bola matanya malas.
"Buat PDKT lah Kak Devan..." jawab Meira gemas.
"Gak ah! Entar Alka marah lagi sama gue," Meira menatap Devan dengan cemberut, selanjutnya gadis itu menunjukkan puppy eyesnya.
Meira bertepuk kegirangan.
"Nih," ucap Devan sambil menyodorkan ponselnya yang diterima baik oleh Meira.
Meira yang awalnya tersenyum kini berubah bingung. "Kok kulkas sih? Kan aku minta kontaknya Kak Alka bukan kontak kulkas!" protesnya saat nama kontak itu tertulis 'Kulkas'.
Devan mendengus jengah. "Si kulkas ini tuh Alka, bukan kulkas buat nyimpan makanan."
"Kok Kak Devan namain Kak Alka kulkas sih?! Gak elit banget tau gak?!"
"Suka-suka gue dong, hp-hp gue juga!"
Meira memberenggut kesal lalu menyalin kontak Alka dengan raut wajah cemberut . "Kalo gitu nanti aku namain kontak Kak Devan jadi dispenser di hp aku!"
Devan melotot tak terima, "kok dispenser?!"
"Suka-suka aku dong, hp-hp aku juga!" ucap Meira menirukan ucapan Devan tadi.
"Terserah lo deh."
Meira mengembalikan ponsel Devan setelah mengambil kontak Alka.
"Makasih Kak dispenser, aku mau ke calon masa depan aku dulu!" ujar Meira lalu berlari ke arah Alka meninggalkan Devan yang menggerutu.
"Kak dispenser? Masa depan? Gila emang tuh anak!" gumamnya memggerutu lalu kembali bergabung dengan teman-temannya.
***
Meira duduk dengan bertopang dagu menatap Alka yang tidur di kursi kayu itu. Mata tajam itu tertutup dengan polosnya dihadapan Meira, bulu matanya yang lumayan lentik membuat Meira sedikit iri dengan keindahan bulu mata yang Alka punya.
"Kak Alka emang gak pernah jelek yah? Mau gimana pun posisinya, keadaannya, dia selalu aja ganteng." gumam Meira memuja.
"Kak Alka polos banget kalo tidur," Meira mengangkat tangannya berniat menyingkirkan anak rambut Alka yang turun ke alis cowok itu, namun...
"Mau ngapain lo?" mata Meira membulat kaget saat Alka tiba-tiba membuka matanya. Tangan gadis itu menggantung di udara diikuti dengan senyum kikuknya.
"Eh? Hehe... Kak Alka udah bangun?" Meira menarik kembali tangannya lalu merapikan rambutnya sebagai bentuk tanda kegugupannya.
Alka memperbaiki posisi duduknya dengan baik lalu sedikit mengucek matanya.
"Ngucek mata aja ganteng banget ya Allah," batin Meira memuja dengan mata lurus menatap Alka.
"Lo ngapain di sini?" tanya Alka.
"Liatin Kak Alka tidur, kek anak bayi tau gak?" jawab Meira dengan polosnya.
Alka menatap datar pada Meira lalu menyandarkan punggungnya di kursi kayu itu.
"Kak Alka kenapa?" tanya Meira saat melihat ekspresi Alka yang seperti banyak pikiran.
"Kenapa?"
"Kak Alka kayak orang yang banyak pikiran, Kak Alka ada masalah? Kalo kakak ada masalah ngomong aja sama Mei, siapa tau aja Mei bisa bantu."
Alka bangkit dari sandarannya lalu menatap Meira. "Lo mau bantu gue?"
Meira mengangguk semangat. "Meira mau banget bantu Kak Alka!"
"Serius?"
"Iya!"
"Kalo gitu lo diem!"
"Hah?" mata Meira menatap bingung pada Alka.
"Kok aku disuruh diem? Katanya mau dibantuin," tanya Meira.
"Itu udah membantu banget,"
Meira mengerucutkan bibirnya. "Kak Alka ih gak bisa liat aku seneng dikit!"
Meira kembali menunjukkan wajah ceria lalu menggeser kursinya hingga tepat berhadapan dengan Alka.
"Aku boleh nanya gak Kak?"
"Gak."
"Tapi aku tetep mau nanya gimana dong?" Alka memutar bola matanya malas lalu memilih menyibukkan diri dengan game di ponselnya.
"Serah!"
Meira tertawa kecil lalu menyelipkan anak rambutnya kebelakang. Hal itu menjadi kebiasaan Meira akhir-akhir ini.
"Kakak udah suka sama aku hari ini?"
"Gak."
"Kalo sayang?"
"Nggak."
"Kalo cinta?"
"Eng-gak!"
Meira kembali mengerucut lalu bersedekap dada. "Gimana sih caranya buat Kak Alka cinta sama aku?" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Alka.
"Segitu berharapnya lo sama gue?" Meira mengangguk dengan polosnya, wajah gadis itu masih cemberut.
"Mending lo buang perasaan lo." Meira menatap Alka tak percaya.
"Ih Kak Alka kok gitu sih?! Mei itu udah suka sama Kak Alka sejak pertama kita ketemu, masa aku buang gitu aja, gak elit banget deh!"
Alka mengangkat bahunya acuh.
"Emang kenapa coba Kak kalau aku suka sama Kakak? Kak Alka kan baik, gak suka makan orang."
"Bukan itu."
"Lah terus kenapa?"
"Gue suka bunuh orang."