![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Menangis adalah cara yang dapat dilakukan saat kita tidak tahu harus mengekspresikan bagaimana rindu yang telah membuncah selama ini. Dan itu yang Meira lakukan sejak sampai di ruangan Gilang. Bahkan seragam sekolah masih melekat di tubuhnya.
Dia menyembunyikan wajahnya di lengan Gilang. Dia menangis, bukan karena cengeng. Melainkan dua hal, menangis bahagia karena Gilang sadar dan juga, kesempatannya bersama Alka mungkin tidak akan ada lagi.
“Kamu nangisnya udah setengah jam lo, An. Gak perih, tuh, mata?”
Meira menggeleng menanggapi Gilang di lengan cowok itu. “Aku kangen sama Kakak, hiks.”
Pintu yang terbuka mengalihkan atensi Gilang dari Meira yang masih terisak kecil di lengannya. Sembilan cowok berperawakan jangkung dengan jaket denim kebanggan The Lion masuk dengan sebuah parcel buah di tangan Dimas.
“Welcome back, Abang Gilaaaaa!!” teriakan riang Dimas menggema saat memasuki ruangan, bertepatan dengan Meira yang mendongak lantas berbalik.
“Kurang ‘NG’ manusia laknat!” protes Gilang menyahuti Dimas.
Dimas. Cowok dengan rambut undercut yang cukup rapi itu cengengesan lalu mendekat pada nakas untuk menyimpan parcel-nya. “Minggir dong, Neng. Sekarang giliran Dimas yang lepas kangen sama A’a.”
Alka dan tujuh inti The Lion yang tersisa hanya menggelengkan kepala melihat sikap Dimas.
“Apasih, Dim.” Walaupun kesal, Meira tetap berdiri dari kursi di dekat brankar Gilang. Membiarkan Dimas mengambil alih tempatnya.
“Selain Dimas gak ada yang kangen sama gue? Kayaknya cuma, nih, bocah yang paling antusias,” ujar Gilang dengan milirik sekilas pada Dimas yang sudah bertumpuh dagu menatapnya dengan senyuman. Senyum yang demi apapun menjijikkan di mata Gilang.
Bagus dan Devan tertawa kecil lalu menghampiri Gilang. “Welcome back, sahabat,” ucap Devan memeluk Gilang sekilas.
“Jangan tidur lagi lo! Tugas skripsi nungguin.” Bagus ikut memeluk Gilang lalu disusul oleh Ezra, Arnold, Adnan, Malik, dan Tian.
"Welcome back, Mamen!"
"Cepet pulih biar bisa adu jotos lagi."
"Kita pesta, yah, abis ini. Gak mau tau!"
"Barbeku pokoknya!"
Gilang terkekeh menanggapi ucapan teman-temannya sebelum pandangannya jatuh pada Alka yang menatapnya dengan pandangan tidak terbaca. Gilang tersenyum. “Boleh gue minta waktu buat ngomong sama Alka?” tanya Gilang.
Mereka menatap Alka sekilas lalu mengangguk. Sebelum keluar, mereka masih sempat mengucapkan selamat pada Gilang. Tidak lupa dengan Arnold yang menarik Meira untuk ikut walau cewek itu menolak pada awalnya.
“Gak mau ngomong apa gitu, Al?” tanya Gilang setelah ruang inapnya hanya berisi dia dengan Alka.
Alka mengambil nafas lirih lalu duduk di kursi tempat Dimas tadi. Dia menunduk, wajahnya tampak seperti orang bersalah. “Maaf,” lirihnya yang disambut kernyitan alis oleh Gilang.
“Ngapain minta maaf? Lo gak ada salah sama gue.”
Alka menggeleng. “Gak, Bang. Gue yang udah buat lo kayak gini. Gu---“
“Kalau masalah itu lo anggap diri lo bersalah. Maka lo salah, Al. Gue gak pernah nyalahin siapapun, entah itu lo atau bahkan Sam sekalipun.”
Mengulas senyum tipis, Alka mendongak menatap Gilang. Kemudian berdiri—memeluk cowok yang masih terbaring itu—ala pria. “Lo emang yang terbaik.”
Gilang tergelak dengan tawanya. “Ayolah, bro. Gak usah lebay gitu.”
Alka mengurai pelukannya lalu kembali duduk. Dia ikut terkekeh. Jika ada yang bertanya Alka senang atau tidak, maka dengan tegas Alka akan menjawab bahwa dia sangat senang kali ini. Seseorang yang selalu menyelamatkannya kembali melengkapi ke ganjilan The Lion.
Walaupun Gilang sudah tidak bersekolah karena sudah menjadi mahasiswa di UGM, tapi kehadiran cowok itu selalu dinantikan.
“Btw, gue denger lo, Al, apa yang lo omongin ke gue malam itu.”
Gilang mengulas senyum geli. Dia kira Alka akan terkejut, tapi nyatanya cowok pelit ekspresi itu hanya mengangguk dengan kekehannya.
“Gue tau lo denger, karna gue juga pernah koma beberapa hari.”
Gilang terkejut. Ternyata, koma berlama-lama membuatnya banyak ketinggalan. Termasuk alasan mengapa Alka berucap demikian malam itu saat menjenguknya bersama Meira.
“Kenapa?” tanya Gilang, raut terkejut belum hilang dari wajah tampannya.
“Ditembak sama Petra.”
Gilang menggeram. Kedua tangannya mengepal di atas kasur yang dia tempati. Amarahnya seketika meluap. Dia hanya merasa kesal dengan geng Serigala yang tidak pernah berhenti mencari masalah dengan anak The Lion.
“Jangan pikirin dulu. Tunggu lo baik baru bales. Jangan ngebanta, sekarang masa jabatan gue. Lo udah turun tahta 3 tahun lalu."
####
Meira tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Antara senang dan sedih tidak ada yang mendominasi. Keduanya rata, dia senang Gilang kembali dan dia sedih karena setelah Gilang, Alka-lah yang pergi dari kehidupannya.
Mengemban amanah yang hanya berlaku selama Gilang belum sadar tentu akan membuat Alka menjauh setelah Gilang sadar. Layaknya prajurit yang ditugaskan rajanya untuk menjaga ratu ketika sedang bepergian. Begitu juga dengan Alka, dia hanya menjaganya ketika sang raja belum kembali dari bepergiannya.
Tanpa sadar, buliran air mata kembali mengalir di pipi mulus Meira. Matanya sudah benar-benar sembab akibat menangis.
Suara berat yang baru saja terdengar di telinganya membuat Meira cepat-cepat menyeka air matanya. Dia kemudian beringsut menjauh ke ujung kursi taman saat orang itu duduk di dekatnya.
Alka. Cowok dengan jaket kebanggan The Lion itu menaikkan alis saat Meira menjauh darinya. Seperti bukan Meira. Meira yang dia kenal adalah Meira yang selalu mendekat padanya mau sejauh apapun Alka.
“Kenapa ngejauh?” tanya Alka. Wajahnya sedikit dimiringkan untuk melihat wajah Meira yang tidak terlihat jelas karena menunduk disertai rambut cewek itu yang menjuntai di masing-masing sisi wajahnya.
Meira menggeleng. “Gak-papa,” jawabnya.
Berdecak, Alka bergerak mendekat. Namun respons yang dia dapat masih seperti tadi. Meira kembali beringsut menjauh hingga cewek itu benar-benar berada di ujung kursi taman.
“Gue, kan, udah bilang. Jangan ngomong gak-papa, kalau sebenarnya lo kenapa-napa. Gue bukan Bundanya Bagus yang bisa nebak ekspresi.”
Menghembuskan napas sesak yang menggerogoti rongga pernapasannya, Meira mengangkat wajah lantas menoleh pada Alka.
“Kakak sebenarnya kenapa, sih? Kenapa akhir-akhir ini Kakak selalu bersikap seolah peduli sama aku? Kalau Kakak emang gak ada rasa apapun sama aku, mending Kakak bersikap kayak biasa aja. Gak usah bersikap seolah Kakak punya rasa padahal aslinya gak sama sekali!"
Alka bungkam. Rentetan kalimat yang mengandung emosi sedih dan kesal itu membuat jantungnya entah kenapa berdetak cepat. Buliran air mata yang kembali membasahi pipi cewek itu seolah seperti jarum yang menusuk hatinya.
“Udah?”
“Hah?” Meira menatap Alka tidak habis pikir. Dari sekian banyak kata yang dia ucapkan, hanya dibalas dengan satu kata oleh cowok itu. Apakah Alka tidak memiliki kamus bahasa Indonesia untuk mempelajari banyak kosa kata?
Alka kembali bergerak mendekat hingga dirinya berada dalam jarak satu meter dengan Meira. “Apa arti kalimat lo itu, lo baru aja nyerah? Lo kalah sama sikap gue?” tanyanya.
Mata hitamnya tidak pernah lepas menatap lekat pada mata sembab Meira.
Meira mengerjap untuk beberapa saat. “Iya. Mei nyerah. Mei ngaku kalah karna gak bisa sabar lagi sama sikap Kakak yang gak jelas. Entar nerbangin, gak cukup beberapa detik dijatuhin lagi.” Dia cemberut, dirinya masih kesal dengan Alka.
Mengangguk singkat, Alka mengulas senyum tipis. Sangat tipis hingga Meira tidak menyadarinya. Walaupun sebenarnya Alka mengulas senyum lebar, Alka jamin Meira pasti tidak akan melihatnya. Karena sejak tadi cewek itu terus menghindari tatapan Alka.
“Jadi itu alasan lo ngejauh dari gue? Gak mau deket-deket gue?”
Meira menoleh sekilas pada Alka lalu kembali melarikan tatapannya saat cowok itu masih menatap dirinya. Meira menggeleng. “Gak. Aku cuma latihan aja buat ngejauhin Kakak. Kan, Kak Gilang udah sadar.”
Alka mengulum senyum. Jika saja boleh, dia ingin mengacak rambut cewek itu. Hanya saja Alka masih harus memastikan sesuatu.
“Jangan jauh-jauh!”
“Emang kenapa kalau aku jauh-jauh?”
“Gak. Tapi sinian aja.” Alka menepuk area kosong pada kursi taman yang menjadi jaraknya dengan Meira saat ini.
Berdecak, Alka sontak menarik lengan Meira saat cewek itu hanya menatap sekilas pada tempat tepukannya. "Lama!"
Meira mencebikkan bibir. Lantas menarik lengannya dari Alka. Tapi bukannya terlepas, tangan Alka malah turun pada jemarinya. Menyelipkan jari-jari besarnya di antara jemari mungil Meira.
Meira membulatkan mata menatap tangannya yang sudah digenggam erat oleh Alka. Setelahnya, dia kembali menatap Alka. Lagi-lagi Meira dibuat terkejut saat mendapati Alka yang tengah tersenyum dengan tatapan mata yang jatuh pada tangan mereka yang saling menggenggam.
“Lo mau bantu gue buat mastiin sesuatu?” tanya Alka. Tatapannya dia alihkan pada wajah terkejut Meira.
Tidak ada lagi yang bisa Meira lakukan selain mengangguk walau dia tidak paham apa arti kalimat Alka. Meira masih berada dalam dunia keterkejutannya dengan sikap Alka yang tiba-tiba seperti ini.
“Gue udah bilang ini ke Gilang. Dan sekarang gue cuma butuh bantuan lo buat kuatin ucapan gue.”
“A-apa?” Meira tergugup. Dengan susah dia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Jangan tanyakan apa kabar dengan jantungnya. Karena kalian pasti sudah tahu apa jawabannya.
“Boleh, gue cium kening lo?”
Bagai petir di siang bolong, Meira kembali dibuat terkejut. Jika saja dia punya penyakit jantung, mungkin saat ini dia sudah dilarikan ke rumah sakit. Memang terdengar lebay, namun percayalah, Meira benar-benar terkejut dan tidak habis pikir.
Mengabaikan keterkejutannya, Meira mengangguk disambut dengan wajah Alka yang perlahan tapi pasti mendekat ke wajahnya. Genggaman Meira di tangan Alka yang belum terlepas semakin erat saat napas cowok itu menerpah wajahnya. Dia kembali meneguk ludah dengan napas yang tertahan.
Saat keningnya merasakan dinginnya benda kenyal yang baru saja menempel, Meira memejamkan mata. Menikmati degupan jantungnya yang menggila dan hatinya yang berbunga-bunga. Dalam hati dia berdoa, semoga saja Alka tidak menjatuhkannya ke dasar lautan setelah menerbangkannya ke langit saat ini.
“Terima kasih,” ucap Alka di depan wajah Meira saat kecupannya terlepas. Ia tersenyum tipis, keraguannya hilang.
.
.
.
UDAH LEPAS KAN KANGENNYA?
SEKARANG VOTE, LIKE DAN KOMEN!!!