![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
“Ja, tau gak siapa pemain bola yang beratnya cuma 2 kg?” tanya Adnan pada Ezra yang tengah memakan kue pastel bersama Tian.
Alka sahabatnya saat ini tengah berkumpul di warung belakang sekolah seperti biasa setelah sempat mengikuti ulangan matematika. Mereka semua serempak keluar dari kelas dengan wajah bangga. Tentu saja mereka bangga karena sudah yakin hasil ulangannya akan bagus. Sebab, Alka menjadi server di mana semua jawaban mereka berasal.
Untuk Devan, dia masih ada di London saat ini. Katanya cowok itu akan baru kembali ke Indonesia dua hari lagi, dan tentu bersama Aluna. Pacarnya.
“Emang ada? Siapa, tuh?” dengan penasaran Ezra bertanya.
“Bambang tabung gas.”
“Bambang pamungkas somplak!” jitakan dari Ezra mendarat pada Adnan yang tertawa.
Rumah-rumah persegi yang berada di warung belakang sekolah menjadi tempat perkumpulan inti The Lion kali ini. Ada Alka yang bermain catur dengan Bagus, Dimas yang bermain ludo bersama Malik, dan Arnold. Sedangkan Ezra, Tian dan Adnan sibuk memakan kue pastel seraya bermain tebak-tebakan.
“Sekarang gue yang kasih tebak-tebakan.” Tian berceletuk. “Gajah, apanya yang gede?”
“Badannya?” Tian menggeleng atas jawaban Ezra.
“Kepalanya?” Tian kembali menggeleng. Kali ini untuk Adnan.
“Apa dong?” tanya Adnan dan Ezra bersamaan.
“Yah, kandangnya lah, beg0. Lo mikir aja kalau gajah pake kandang kecil.” Tian menjawab tanpa dosa. Yang mana kelakuannya itu mendapat jitakan dari Adnan dan Ezra.
“Eh, ada Meira, tuh!” suara Tian membuat mereka menoleh pada pintu perbatasan sekolah dengan warung belakang. Di sana, ada cewek dengan bandana merah muda di rambutnya yang terurai. Cewek itu tersenyum manis menghampiri mereka.
“Kenapa bukan gue aja sih yang disuka sama Mei? Senyumnya adem bener, njirr!” kata Ezra tiba-tiba. Kemudian setelah sadar cowok dengan kaos putih tanpa seragam sekolah itu menunjukkan cengiran pada Alka yang menatapnya tajam.
“Aduh, hampura Baginda. Hamba khilaf atuh.”
Alka mengalihkan tatapannya dari Ezra pada Meira. Sementara yang lain hanya menertawakan Ezra.
“Lo, sih. Tau sendiri cowoknya galak.” Adnan mengejek.
“Kenapa ke sini sendirian?” suara lembut Alka yang bertanya pada Meira membuat mereka kembali menyibukkan diri dengan kegiatan awal mereka. Rasanya sedikit canggung mendengar Alka bernada seperti itu pada Meira.
“Mau aja. Bosen di kelas, Dita lagi remed, Bella masih belum mau baikan sama, Mei.” Tubuh cewek itu bergerak saat Alka menariknya pelan untuk duduk di samping cowok itu. Tepat di samping Ezra yang melempar cengiran pada Meira dan dibalas senyum tipis cewek itu.
“Gara-gara Bima lagi?”
Meira mengangguk sembari melihat-lihat kegiatan teman-teman Alka.
“Kan udah dibilangin jangan dekat-dekat Bima.”
Menoleh pada Alka, Meira kemudian mencebik. “Bukan aku yang deket-deket Kak Bima. Lagian juga mau ngejauh gimana pun harus tetap deket. Kan, teman belajar.”
“Aduh, Meira … Lo ini gimana, sih? Cowok lo yang kaku kayak kanebo kering ini juga gak kalah pinter dari si curut Bima. Buat apa punya cowok pinter kalau gak lo pergunain,” celetuk Bagus tiba-tiba. Walaupun tatapan cowok itu fokus pada papan catur di hadapannya, telinganya tetap menangkap percakapan Alka dan Meira.
Alka menyorot tajam pada Bagus, sedangkan Meira menatap Alka sekilas kemudian tertawa. “Yang ada aku gak fokus kalau diajarin sama kak Alka, Kak Bagus.”
“Iya juga, sih. Tapi apa gak ada yang lain selain Bima gitu?”
Meira menggeleng menanggapi Bagus. Cewek itu kemudian mencelingukkan kepala mencari seseorang yang tidak tampak batang hidungnya. “Kak Devan belum balik, yah?” tanyanya.
“Belom. Tuh, bocah masih setia di London bareng ceweknya. Lagi honeymoon kali.” Mereka tertawa menanggapi Bagus, hanya Alka yang terkekeh kecil.
“Heran gue, semua udah pada bucin. Si bos sama Meira kalau udah nempel buat jiwa jomblo gue meronta-ronta. Devan kalau udah ngajak jalan Aluna pake lambor keluaran terbarunya buat jiwa matre gue bergetar. Dimas kalau udah ngegombalin Freya buat semua isi perut gue pengen keluar!” cerca Ezra panjang lebar setelah meneguk air mineral.
“Giliran aing aja jatohnya ke yang jelek-jelek!” sahut Dimas bersungut tidak terima.
Ezra terkekeh. “Apalah dayaku yang cuma anak kuli bangunan.” Wajah Ezra mendramatis hingga kembali mendapat jitakan dari Tian.
“Kuli bangunan, kuli bangunan! Bokap lo arsitek terkenal, anjirr! Hampir semua gedung di sini rancangan bokap lo!” tukas Tian mendelik.
Ezra tertawa kecil. “Aing lupa,” cengirnya.
Mereka yang awalnya saling bercanda ria mendadak berhenti saat Alka tiba-tiba turun dari rumah-rumah persegi itu setelah mendapat pesan entah dari siapa. “Gus, entar anterin Meira pulang. Gue ada urusan.” Setelah mendapat acungan jempol dari Bagus, Alka menatap Meira yang juga menatapnya penasaran.
“Ada urusan apa emang?” tanya cewek itu.
####
Meira berjalan lesuh keluar dari perpustakaan. Cewek beransel biru muda itu baru saja menyelesaikan hukuman yang di berikan bu Ratna kepadanya. Kecerobohannya yang tertidur saat jam pelajaran bu Ratna membuat dia harus membersihkan kelas seorang diri lalu mengembalikan tumpukan buku paket ke perpustakaan.
Awan di luar sana terlihat menghitam. Tanda akan turun hujan sebentar lagi. Meira menghela napasnya seraya memegang kedua tali ranselnya. Tungkai jenjangnya berjalan menyusuri koridor yang sudah sangat sepi. Mengingat dia akan pulang bersama Bagus hari ini entah kenapa membuatnya sedih. Terlebih saat dia merasakan ada yang berbeda dari Alka, cowok itu tampak menghindari pertanyaan Meira.
Bersamaan dengan tetesan air yang perlahan turun membasahi bumi, langkah Meira terhenti. Lututnya tiba-tiba lemas dengan hatinya yang sesak. Pemandangan di depannya sangat tidak mengenakkan untuk dilihat. Dari sini dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana Alka dan Bianca saling berpelukan dengan Bianca yang menangis.
Kedua tangan Meira yang awalnya memegang tali ransel perlahan jatuh di masing-masing sisi pahanya. Kedua tangan mungil itu terkepal dengan mata yang mulai memanas. Apalagi saat tangan kekar Alka mengelus lembut surai coklat milik Bianca. Keduanya tidak terpaut jarak sama sekali jika dilihat dari samping di mana Meira berdiri saat ini.
“Aku sayang kamu, Al. Jangan tinggalin aku.”
“Gue juga sayang sama lo, Bianca. Gue gak mungkin tinggalin lo.”
Satu detik setelah Alka mengatakan itu dengan suara berat khasnya, air mata Meira luruh pada pipi cewek itu.
Matanya menyorot tidak percaya pada Alka. Dengan kasar dia menyeka air matanya, berharap ini hanya halusinasi atau paling tidak penglihatannya yang sedang terganggu. Tapi saat mendengar isakan Bianca, Meira yakin ini benar-benar nyata.
Ketika mata Alka tidak sengaja tertuju padanya, mata cowok itu membulat. Meira menggeleng tidak percaya lalu berbalik menuju lapangan agar tidak lewat di koridor di mana dua orang itu berpelukan. Meira tidak peduli seragamnya dan buku-bukunya akan basah dengan pilihan ini.
Melihat itu Alka dengan cepat mendorong pelan tubuh Bianca lalu berlari menyusul Meira. Cewek itu pasti sudah salah paham dengan apa yang dilihatnya.
“Meira tunggu!”
Meira tetap berlari tidak menghiraukan Alka yang berteriak agak suaranya mengalahkan suara hujan. Untuk pertama kali ini, Meira mengutuk lapangan sekolahnya yang begitu luas hingga rasanya untuk mencapai parkiran pun butuh waktu berjam-jam.
Tarikan di tangannya membuat Meira berhenti. Tubuhnya dipaksa berbalik dengan kedua tangan Alka yang berpindah memegang bahunya. “Lo salah paham, Mei.”
Dengan kasar, Meira menurunkan tangan Alka dari bahunya. Airmatanya yang mengalir tidak perlu susah payah lagi dia hapus, sebab semuanya telah bersatu dengan hujan. Bagus, bagus sekali, momen di mana hujan turun saat ini sangatlah pas.
“Berengsek!”
Satu kata yang keluar dari mulut Meira membuat Alka terpaku menatap cewek di depannya ini. Alka tahu Meira menangis, hidung cewek itu yang memerah tidak bisa berbohong ketika Meira sedang menangis.
“Kalau Kakak masih sayang sama Bianca, kenapa pacaran sama aku? Cuma mau jadiin aku pelampiasan biar bisa lupain dia? Iya?!” suara Meira menyentak Alka, cowok itu hendak mengangkat tangan untuk menghapus air mata Meira namun cewek itu lebih dulu menghempaskan tangannya.
“Lo salah paham, Mei. Apa yang lo liat dan lo denger gak seperti yang lo pikirin.” Suara lembut itu hampir saja membuat Meira luluh jika dia tidak cepat menguatkan hati. Kali ini Meira tidak boleh luluh. Dia sudah banyak mengalah dengan Alka, dia sudah banyak luluh dengan semua perilaku cowok itu. Meira harus membuktikan, bahwa dia juga punya harga diri.
Meira terkekeh sumbang. “Gak seperti yang aku pikirin? Emang Kakak tau apa yang aku pikirin?” ujarnya dengan sarkas. Sungguh, ini untuk pertama kalinya Meira berkata dengan nada seperti itu pada Alka.
Melihat sorot kecewa dari mata yang memerah itu membuat hati Alka tersentil. “Gue bisa jelasin, Mei. Tadi Bianca itu---”
“Alaah …, udahlah! Dari dulu aku emang gak ada artinya buat Kakak, kan? Selama ini cuma aku yang berjuang buat dapetin Kakak. Cuma aku yang tau gimana rasanya ditolak berkali-kali dan diacuhin ribuan kali! Orang kayak Kakak mana tau yang gituan!” kelakarnya sebelum berbalik hendak pergi.
“Dengerin dulu, Meira! Lo jangan kekanak-kanakan gini, jangan potong ucapan gue!” Alka kembali menahan cewek itu untuk tidak pergi. Hujan yang menjadi saksi pertengkaran mereka pun sepertinya mendukung hingga lebih deras menghantam bumi.
Mendengar kata kekanak-kanakan dari mulut Alka membuat Meira lagi-lagi terkekeh kemudian menarik tangannya dari Alka.
“Iya! Aku emang kekanak-kanakan, itu sebabnya perasaan aku gak pernah dihargai, kan? Aku kekanak-kanakan sampai Kakak gak pernah peduli gimana perasaan aku selama ini. Aku dekat sama cowok lain Kakak marah. Giliran yang lakuin itu Kakak sendiri, Kakak malah gak nyadar kalau ada hati yang harusnya Kakak jaga!”
Mengela napas, Alka mengusap wajahnya frustasi. “Lo diam aja bisa? Biar gue jelasin dulu! Ini gak ada habisnya kalau masalah kecil aja lo besar-besarin, Mei!”
Meira menatap cowok jangkung berseragam putih di hadapannya ini tidak habis pikir. Bukannya Alka juga sering membesar-besarkan masalah?
“Kakak gak perlu jelasin, aku sadar diri, kok. Kakak balik aja sama Bianca. Dia emang lebih pantas buat Kakak dari pada Ak---”
Ucapan Meira tidak lagi berlanjut saat tangan kiri Alka merangkul pinggangnya lalu tangan kanan cowok itu mendorong tengkuknya untuk maju. Sapuan napas hangat dan sesuatu yang dingin menyapu permukaan wajah dan bibir Meira.
Alka mencium bibirnya.
“Sorry, tapi itu satu-satunya cara buat hentiin lo.”
.
.
.