![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Alka menaruh ponselnya sedikit kasar ke meja kayu yang ada di hadapannya hingga membuat Devan dan Bagus menatapnya bingung.
"Lo kenapa Al?" tanya Bagus.
Alka memandang Bagus dan Devan bergantian dengan tatapan tajam miliknya.
"Siapa yang kasih tuh bocah kontak gue?" tanyanya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Devan meneguk kasar salivanya sedangkan Bagus hanya mengernyit bingung.
"Lo?!" tanya Alka setelah melihat gelagat Devan.
Devan menggaruk jidatnya lalu cengengesan menatap Alka. "Sorry Al, gue kasian aja liat dia ngejar-ngejar lo terus." balas Devan.
Alka mendengus. "Yang ada lo kasi dia harapan!" tuturnya kesal.
"Gak-papa kali Al, lagian si Bocil anaknya baik kok cuma yah gitu, kelakuannya aja kayak bocah." celetuk Bagus lalu terkekeh di akhir kalimatnya.
"Bener tuh yang Bagus bilang. Eh, tapi kok dia nelfon lo sih, kenapa gak nyamperin kita kesini aja kayak biasanya?" tanya Devan menatap Bagus dan Alka bergantian.
Alka mengangkat bahunya acuh.
"Mana gue tau."
"Kata Dita dia gak masuk sekolah hari ini." Devan dan Alka menatap Bagus serempak.
"Kenapa pada liatin gue? Gue salah ngomong?" tanya Bagus sedikit gugup di tatap seperti itu.
Mata Devan memicing menatap Bagus.
"Siapa Dita?" Bagus sontak menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"I-itu... Temennya si Bocil." Jawabnya gugup.
"Sejak kapan lo dekat sama dia?" tanya Devan lagi.
"Baru beberapa hari ini," jawab Bagus santai. "Udahlah gak usah di bahas, mending kita bahas masalah bazar aja gimana?" lanjut Bagus berusaha mengalihkan pembicaraan.
Devan mendelik tak suka pada Bagus. "Yaudahlah. Jadi kita bakal jual apa nih Al buat bazar besok? Biar entar kita persiapin, Arnold sama Malik juga udah bilang sama anggota Osis buat minta bantuan."
Alka meneguk sedikit minuman soda kaleng yang ada dihadapannya lalu berucap.
"Barang bekas yang masih layak pakai mungkin?" Bagus dan Devan tampak menimang.
"Boleh juga tuh, gue punya banyak baju bekas yang masih bagus di rumah gue." balas Devan.
"Gue juga, Bunda juga punya aksesoris bekas yang masih bagus buat cewek-cewek." timpal Bagus.
Alka mengangguk setuju.
"Tapi kayaknya gak terlalu srek deh Al kalau cuma barang bekas aja." tukas Devan.
"Terus?"
"Gimana kalau kita buat makanan juga? Semacam jajanan atau cemilan ringan gitu, gimana?"
Bagus mengangguk setuju sedangkan Alka masih tampak menimang.
"Yang masak?" tanya Alka kemudian.
Devan menggaruk pelipisnya tanda cowok itu sedang berpikir. Tak lama kemudian senyum lebar mengembang di bibir ranum itu.
"Gimana kalo kita panggil Mei-Mei aja buat masak? Secara dia kan jago masak tuh, waktu di hukum masak aja kita pada nambah kan?" tutur Devan semangat.
Bagus juga ikut menyunggingkan senyum lebar. "Gue stuju sama lo! Kan lumayan kalo Meira, gak dibayar juga kan?" Devan mengangguk antusias.
"Gimana Al?" tanya Bagus meminta pendapat.
Alka menimang-nimang.
"Gak ada yang lain?" tanyanya kemudian. Devan dan Bagus serempak menggeleng.
"Kagak!" jawabnya bersamaan.
Alka menghembuskan nafas pasrah. Sepertinya kesabarannya kembali di uji dengan kedatangan cewek itu ke apartementnya.
"Yaudah!"
***
"MASAK?!" pekikan itu Meira tujukan untuk seorang pemuda di seberang sana yang tengah menelfonnya.
"Iya Cil, mau yah? Kan gak lucu kalo gue sama teman-teman gue yang masak terus besoknya anak-anak di sekolah pada muntaber." balas Bagus di seberang sana.
"Tapi kan masakan Mei ga--"
"Gak usah sok rendah diri deh Cil. Masakan lo itu enak tau, jadi mau yah?"
Meira menghela nafas pelan.
"Tapi nanti kalo masakan Meira gak enak jangan marah yah?"
"Iya gak akan kok. Eh, lo jangan lupa manggil temen-temen lo juga yah?"
"Emang kenapa? Kakak mau pdkt sama Dita yah?!" tebak Meira sedikit menggoda Bagus.
"Eh? Sok tau lo Bocil, siapa juga yang mau pdkt sama Dita?!" Meira terkikik geli saat mendengar suara Bagus sedikit gugup.
"Terus kenapa Kak Bagus gugup gitu?" godanya lagi.
"Alaahh... Gak usah goda gue deh Cil, persiapin diri lo sama teman-teman lo. Entar malam gue jemput lo bertiga. Kirim aja alamat rumah lo yah?"
"Oke deh kalo gitu! Nanti aku kabarin Bella sama Dita."
"Yaudah, gue tutup yah?"
"Iya Kak."
Tut... Tut...
Setelah panggilan Bagus terputus, Meira segera mengetik sesuatu pada ponselnya untuk mengabari Dita dan Bella. Selepas itu, ia beranjak memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap.
***
Tin! Tin!
Meira buru-buru menuruni tangga setelah mendengar suara klakson di depan rumahnya. Gadis itu menoleh ke arah Dita dan Bella yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Yuk Bel, Dit, Kak Bagus udah datang." Dita dan Bella mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah Meira keluar.
"Mei pamit yah Ma, teman Mei udah nunggu diluar." pamit Meira saat melihat Mamanya sedang menyiram bunga di halaman depan.
"Iya, hati-hati yah? Jangan genit-genit kamu sama Alka!" Meira mengerucutkan bibirnya lalu mencium tangan Mamanya diikuti oleh Bella dan Dita.
"Kita pamit tan,"
"Hati-hati yah."
Setelah berpamitan, ketiga gadis itu pun keluar dari pagar rumah Meira menghampiri Bagus.
"Lama amat sih Cil," gerutu Bagus dari dalam mobil. "Hai Dita!" sapanya dengan senyum manis saat melihat Dita.
"Lagi pdkt nih sama Kak Bagus?" bisik Bella pada Dita hingga gadis itu merona.
"A-apaansih ah?! Gak!" Bella terkekeh lalu ikut masuk kedalam mobil bersama Meira dan Dita.
Setelah itu, mobil sedan milik Bagus melaju meninggalkan rumah Meira.
"Kita buat makanannya dimana Kak?" tanya Meira.
"Di apartnya Alka, semua bahan-bahannya udah dibeli sama temen-temen gue." jawab Bagus.
Meira mengangguk mengerti dengan sedikit senyum riangnya. "Akhirnya ketemu Kak Alka lagi, jodoh emang gak kemana yah hihi..." batinnya terkikik.
"Kita mau buat makanan apa aja Kak?" celetuk Bella bertanya.
Bagus tampak berpikir lalu melirik sekilas kaca depan.
"Yang gue sama temen-temen gue sepakatin sih ada lima macam, ada cilok, cimol, keripik singkong, kue cubit, sama sosis bakar. Gimana? Kalian bisa kan?"
Ketiga gadis itu saling memandang untuk sekilas. "Sebanyak itu dibuatnya sama kita bertiga doang?" tanya Meira sedikit cengo.
Bagus tertawa kecil. "Yah kagak lah, nanti ada Bunda gue, nyokabnya Devan sama pembantu gue dan Devan, ditambah pembantu Alka juga."
Meira mengangguk mengerti. Tapi detik berikutnya kernyitan tercetak di dahi gadis itu. "Mamanya Kak Alka kemana?"
Bagus bergeming. Cowok itu melirik kaca depan kembali untuk melihat wajah Meira yang bingung. "Nyokab Alka sakit," jawabnya pelan.
Meira tampak terkejut. "Sakit? Sakit apa Kak?" tanyanya lagi penasaran.
"Kanker rahim stadium akhir,"
Deg!
Meira merasakan hatinya seolah di hantam bebatuan besar. Alka yang terlihat tegar dan kuat selama ini menanggung beban yang bahkan tak pernah Meira bayangkan.
"Jangan kasih tau Alka yah kalo gue ngasih tau soal nyokabnya ke lo,"
"Emang kenapa Kak?" tanya Meira setelah menetralkan keterkejutannya.
"Alka itu gak suka masalah pribadinya di tau banyak orang. Terlebih ini tentang nyokabnya yang sakit parah, gue gak mau kalau dia beranggapan orang yang deket sama dia cuma kasihan sama dia."
Meira mengganguk pelan, ada rasa sesak dalam diri gadis itu saat mengetahui keadaan Mama Alka.
"Semoga Kak Alka selalu kuat buat hadapin semua cobaan yang Allah kasih." batinnya.
***
"Tante, biar Mei sama teman-teman aja yah yang bikin kue cubitnya, soalnya ini lebih muda dari yang lain." Hana– Bunda Bagus tersenyum pada Meira.
"Yaudah, kalo gitu tante ke Mamanya Devan aja yah? Kalian bisa kan buatnya?" Meira mengangguk semangat.
"Oh kalau ini mah gampang tan, Mama Mei sering bikin ini kalo mau ke rumah orang tua Papa." Hana terkekeh lalu berdiri menghampiri Naya– Mama Devan.
Meira dan kedua temannya mulai mempersiapkan bahan-bahan dan alat untuk membuat kue cubit. Beberapa butir telur, terigu, vanila bubuk, gula pasir dan lain-lainnya sudah tertata di hadapan mereka.
"Dit, kamu pecahin beberapa telur ke dalam wadah ini yah, abis itu campur sama gula pasir secukupnya, nanti biar aku yang aduk pakai mixer." Dita mengangguk lalu mulai melakukan intruksi dari Meira.
"Lah gue ngapain Mei?" celetuk Bella.
Meira terkekeh lalu berpikir sejenak.
"Emm... Nanti tugas Bella buat masukin ke oven abis itu kasi toping oke?" Bella mengangguk semangat lalu mulai melihat Dita yang mencampurkan beberapa bahan.
"Udah nih Mei," Meira tersenyum lalu mulai menyalakan mixer dan mengaduk hingga membentuk adonan.
Dita terus menambahkan bahan kue ke dalam wadah tersebut sesuai dengan intruksi Meira. Selang beberapa menit campuran bahan tersebut telah selesai di aduk rata.
"Bel, tolong panasin cetakannya yah, jangan lupa kasi mentega biar gak lengket terus pake api kecil aja." Bella mengangguk lalu melakukan yang Meira katakan.
"Udah nih Mei," serunya setelah beberapa menit.
Meira mulai menuangkan adonan tersebut ke cetakan hingga selesai.
"Tungguin sampai matang yah Bel, abis itu kasi toping terus tunggu lagi sampai beberapa menit." Bella hanya mengangguk.
***
"Mei emang calon istri idaman yah Al?" celoteh Devan saat melihat Meira dari arah dapur dengan celemek putih yang melekat pada tubuhnya, rambut gadis itu juga di cepol asal dengan anak rambut yang sedikit tak terikat sehingga menampilkan kesan imutnya.
Alka mengikuti arah pandang Devan sebentar lalu kembali fokus merapikan pakaian bekas yang akan mereka jual buat bazar nanti.
"Ngaco lo!" sahutnya sehingga Devan terkekeh.
"Lo gak ada niatan gitu Al buat biarin Meira masuk ke hati lo?"
"Gak." jawab Alka datar.
"Ah elah Al, gak usah sok jual mahal lah kayak cewek. Katanya gak mau tapi mau, katanya gak suka tapi suka. Hadehh!" balas Devan mendramatis.
Alka mendelik tak suka pada cowok itu.
"Udah! Lo fokus aja rapiin nih baju!" ujar Alka hingga Devan mendengus.
Tak lama kemudian Bagus datang dengan piring kecil di tangannya yang berisikan kue cubit buatan Meira dan kedua temannya tadi.
"Buat lo berdua." ujarnya lalu memberikan kue cubit itu kepada Alka dan Devan.
"Enak gak?" tanya Bagus menatap Alka dan Devan bergantian. Cowok itu mengambil posisi duduk di antara Alka dan Devan.
"Enak." gumam Alka pelan namun Bagus dapat mendengarnya.
Senyum jahil terbit di bibir Bagus.
"Itu si Bocil lo yang buat."
Uhhuk! Uhhuk!
Bagus dan Devan tertawa melihat keterkejutan Alka.
"Bener kan gue bilang? Meira itu bener-bener calon istri idaman Al, masakannya aja enak bener sekarang pinter bikin kue lagi." tutur Devan tertawa.
"Kalo gue jadi lo yah Al, udah gue embat tuh si Bocil, apalagi ngeliat tingkah dia kayaknya emang suka sama lo." timpal Bagus menambahi yang diangguki Devan.
Alka menatap datar kedua sahabatnya itu.
"Kalo gitu kalian aja sama dia!" ujarnya santai dengan ekspresi datar.
Bagus memutar bola matanya malas sedangkan Devan geleng-geleng kepala.
"Gue mah lebih suka temennya itu." balas Bagus lebih santai.
Devan menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
"Kalo gitu gue aja yang sama Mei-Mei, kan enak tuh perut gue sejahtera lahir batin kalo sama dia." ujar Devan sengaja menggoda Alka.
Alka menatap datar pada Devan lalu memilih meninggalkan kedua cowok gila itu.
Sepeninggal Alka, Devan dan Bagus saling memandang heran lalu tertawa bersama.