![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
"Aku mau curhat dong Bel, Dita," ujarnya lesu.
Bella dan Dita bertukarpandang dengan alis bertaut. Seolah bertanya ada apa dengan Meira.
"Mau gue panggilin Mama Dedeh?" tawar Dita, sedikit bercanda.
Bella ikut terkekeh, sedangkan Meira mencebikkan bibirnya malas.
"Mei serius Dita," ujar Meira, lemas.
Dita menunjukkan sederetan gigi putihnya yang rapi. "Ya, maaf. Jadi apa, nih, yang buat sahabat gue paling imut galau gini, hm?"
Meira menegakkan badannya kembali. Memajukan kursinya agar lebih dekat dengan kursi Bella dan Dita yang terhalang satu meja. Meira kemudian mengedarkan pandangannya. Sekedar ingin mewanti-wanti agar ucapannya tidak terdengar oleh banyak orang.
"Lo aneh banget, sih, pagi ini Mei." Bella menautkan alisnya. Cewek itu kemudian memutar kursinya menghadap kebelakang diikuti oleh Dita.
"Jadi apa yang buat lo galau merana dan murung tiada tara pagi ini?" tanya Dita. Cewek itu sudah penasaran tingkat akut.
"Aku salah gak kalau marah sama Kak Alka?" tanya Meira, memulai acara curhatannya.
"Hah?" Bella dan Dita serempak tercengang. Saling bertukar pandang lalu menatap Meira yang terlihat menunggu jawaban mereka.
Bella mengucek-ucek telinganya. "Gue gak salah dengar, kan?" tanyanya dengan wajah sedikit tidak percaya.
Meira menggeleng tegas.
"Lo sejak kapan bisa marah sama Kak Alka?" kali ini Dita yang angkat suara.
Meira menggeleng lemah. "Mei gak tau. Mei rasanya marah sama Kak Alka, tapi Mei sendiri yang merasa bersalah." Meira menghela nafas.
"Emang lo sama Kak Alka kenapa? Dia bentak lo lagi, terus lo marah?" Meira menggeleng menanggapi Bella.
"Dia cuekin lo lagi? Kan, dia emang slalu cuek sama lo Mei," Meira berdecak kesal pada Dita.
Cewek itu kembali melipat kedua tangannya di atas meja. Mulai menceritakan tentang kejadian yang membuat dia merasa marah pada Alka. Tapi tidak dengan kebenaran pahit yang ia dengar kala itu.
Bella dan Dita sempat termangu mendengar cerita Meira.
"Lo gak mati, kan, Mei?" tanya Dita dengan tampang bodohnya.
Tak!
Satu jitakan mendarat di kepala Dita dari Bella. "Kalo Mei mati, mana mungkin dia curhat sama kita sekarang bego!"
Deretan gigi Dita kembali terlihat. "Gue refleks nanya gitu, nyet." Dita terkekeh tanpa dosanya.
"Jadi gimana, nih? Aku salah, yah, marah sama Kak Alka?"
Dita menghela nafas. Mengelus lengan Meira dengan pelan. "Meira ku sayang, lo gak salah, kok. Lo emang pantes marah sama Kak Alka."
Bella menoleh pada Dita. Menyorot tak terima pada ucapan cewek itu. "Kan, ini diluar kendali Kak Alka. Mei tadi udah bilang kalo Kak Alka itu berkepribadian ganda. Dan yang nyerang Mei itu, yah, pribadi lain. Bukan Kak Alka!" Cerca Bella tak terima pada Dita.
Dita balas menatap Bella. "Lah, dia sebagai pemilik tubuh harus pinter dong ngendaliin dirinya sendiri. Kalo sampe Mei waktu itu meninggal gimana? Lo masih mau bilang kalau bukan dia yang salah?!" balas Dita dengan sedikit meninggikan suaranya.
Perdebatan keduanya berlanjut hanya seputar, apakah Alka salah atau tidak. Meira menggaruk tengkuknya, menatap seisi kelas yang untungnya belum ramai. Hanya ada 5 orang saja di dalam kelas termasuk mereka. Cewek itu kemudian mengecek arloji di tangan kirinya.
"STOP!!" Meira menatap kesal pada Dita dan Bella yang kini saling membuang muka dengan tangan terlipat di dada.
"Kok, kalian berantem, sih? Aku, kan, cuma minta pendapat kenapa malah berantem?" Cerca Meira kesal.
"Temen lo, nih, Mei. Dibilangin juga Kak Alka yang salah masih aja ngotot kalau bukan dia yang salah." Dita melirik sinis pada Bella.
"Eh! Lo, kok---"
"Udah deh, kalian gak usah berantem lagi. Lima menit lagi Bu Siti bakalan masuk. Kalian mau di hukum?" Bella dan Dita serempak menggeleng.
"Makanya jangan berantem."
***
"Jam delapan pas. Itu artinya kamu terlambat satu jam!"
Alka berdecak malas menatap Pak Handoko—guru wakil kesiswaan—yang tengah mondar-mandir di depannya.
"Apa lagi alasan kamu pagi ini, hm? Macet? Lupa taruh kaos kaki? Atau lupa bacain shalawat sama kucing tetangga, seperti alasan Devan?"
Alka memutar bola matanya malas. "Bapak kalau mau hukum saya langsung aja. Gak usah ngomel," ucap Alka memandang malas Pak Handoko.
Pria itu melotot pada Alka. "Kamu berani memerintah saya? Kamu gak tau siapa saya?!"
Alka memutar bola matanya malas.
"Saya ini Pak Handoko Harahap. Gur---"
"Guru yang di takuti semua siswa dan tidak mempunyai toleransi bagi siswa yang melanggar tata tertib sekolah!"
Pak Handoko menjentikkan jarinya dengan senyum merekah di hadapan Alka.
"Itu kamu tai–eh tau." Pak Handoko memukul pelan mulutnya sendiri.
"Ck. To the point aja kali pak!"
Pak Handoko menggeleng dengan jari yang di gerakkan ke kanan dan Ke kiri lalu ke kanan lagi.
"Siniin dulu kartu siswa kamu!" Ujarnya dengan tangan meminta.
Alis Alka bertaut. Tak mau ambil pusing, ia merogoh kedua saku celananya. "Sial." Alka mengumpat saat tidak merasakan keberadaan kartu itu. Tangannya kemudian naik ke saku bajunya. "Sialan!" umpatnya lagi, saat saku bajunya pun tidak menampilkan keberadaan kartu itu.
Pak Handoko menggerak-gerakkan tangannya yang sejak tadi melayang di udara. "Mana kartu kamu? Saya mau sita, supaya saya punya senjata buat naklukin kamu."
Alka menatap Pak Handoko datar. "Gak ada Pak," jawabnya singkat.
"Apa?! Apa kamu bilang?" Pak Handoko mendekatkan telinganya pada bibir Alka.
Alka sontak mundur beberapa langkah. "Lupa bawa,"
Pak Handoko berdecak beberapa kali dengan kepala menggeleng. Bola mata yang berada di balik kaca mata minus itu meneliti penampilan Alka dari bawah ke atas.
"Udah telat. Lupa bawa kartu siswa, tampilan kayak preman, rambut panjang terus berantakan lagi, di tambah sepatu warna merah maroon. Kurang apa lagi pelanggaran kamu hari ini Alka?" tanya Pak Handoko mendramatis.
Pak Handoko mengambil nafas sejenak. Mengecek arloji hitam di tangan kanannya. "Berhubung satu jam lagi istirahat, maka saya akan hukum kamu dengan hormat pada bendera sampai jam istirahat," perintahnya tegas.
Alka mengangguk malas kemudian berlari kelapangan. Tapi sebelum itu suara Pak Handoko menghentikannya.
"Jangan berpikir buat kabur Alka. Kamera cctv ada di mana-mana. Kalo sampai kamu kabur kam---"
"Kamu akan saya panggilkan orang tua dan di tambah hukumannya. Benar?"
Pak Handoko mengangguk bangga. "Pinter. Kamu murid andalan saya dalam hal ini,"
Alka mendengus malas lalu berlari kelapangan.
***
"Kak Alka."
Alka yanga mendengar lirihan itu sontak menurunkan tangannya yang sejak tadi hormat. Membalikkan tubuh tegapnya kebelakang. Alisnya mengernyit saat seorang gadis menunduk di hadapannya.
Meira, dengan kepala tertunduk cewek itu mencoba mendekat pada Alka. Perlahan kepalanya mendongak menatap Alka yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Mei minta maaf," lirihnya.
Alka masih setia dengan kernyitan. Kedatangan dan permintaan maaf Meira tidak tercerna dengan baik di otaknya.
Hiks!
Tangan Alka refleks memegang lengan cewek itu saat ia mendengar isakan.
"Mei, minta maaf Kak. Mei udah lancang ke apartemen Kakak waktu itu dan dengar semuanya. Hiks–tapi Mei berani sumpah, Mei gak akan kasi tau ini ke siapapun. Tolong maafin Mei, Kak." Meira menangis di hadapan Alka. Dengan kepala tertunduk ia meminta maaf.
Alka masih diam. Menunggu kelanjutan cewek di hadapannya ini.
"Awalnya Mei emang marah sama Kakak. Tapi, malam itu Mama udah kasi tau semuanya ke Mei, kalo itu bukan Kak Alka. Melainkan pribadi Kakak yang lain." Meira kemudian mendongak lagi. Menatap Alka dengan raut bersalah dan air mata yang mengalir. Tangan Alka masih setia pada lengannya.
"Kakak, kok, diem aja? Kak Alka gak mau maafin Mei?" tanya Meira.
Alka menatap Meira dengan tatapan yang sulit di definisikan. "Gue yang salah," jawabnya setelah diam beberapa saat.
Meira menggeleng. "Gak! Bukan Kak Alka yang salah. Aku memang pantas dapetin itu, aku udah lancang ke apartemen Kak Alka dan tanpa sengaja nguping pembicaraan Kakak sama tante itu." Meira kemudian menyeka air matanya.
Alka menghela nafas. "Gak. Gue yang berlebihan. Harusnya gue gak---"
"Pokoknya Mei yang salah. Bukan Kak Alka!" tegas Mei.
Alka melepaskan tangannya dari lengan Meira lalu memandang bingung cewek itu.
"Yaudah, lo aja yang salah." jawabnya lalu meninggalkan Meira di lapangan.
Hati Meira tertohok. Melihat Alka meninggalkannya tanpa kembali menyangkal ucapannya. Meira kemudian berdecak, dengan cepat ia mengejar Alka.
"Kak Alka berhenti dong!"
"Kak Alka!!"
Langkah Alka terhenti. Badan tegap itu perlahan berbalik menatap datar pada Meira.
"Apa?" tanyanya datar.
Meira menunjukkan senyum lebarnya lalu berdiri tepat di hadapan Alka.
"Aku mau ubah kata-kata aku yang tadi," ucapnya kembali riang.
"Apa?"
"Itu, loh, yang waktu Mei bilang yang salah itu Mei bukan Kak Alka. Nah, sekarang Mei ubah jadi Kak Alka yang salah, bukan Mei." Meira menaik turunkan alisnya di depan Alka. "Gimana, setuju gak?"
Alka mencebik malas. Tangannya terangkat menoyor jidat Meira kebelakang. "Gak Waras." Kemudian cowok itu kembali melangkah.
Meira mendesis lalu mengejar Alka. Menyamai langkahnya dengan cowok itu. "Kak Alka gak mau gitu nebus kesalahan Kak Alka sama Mei?"
"Gak." Alka terus berjalan meskipun ada Meira di sampingnya.
"Ck. Kak Alka, sebagai manusia yang memanusiakan manusia. Harusnya Kak Alka, tuh, ajak Mei jalan sebagai permintaan maaf." Mereka kemudian berbelok menuju kantin belakang sekolah.
"Kak Alka, mau, yah?" pinta Meira sekali lagi.
"Gak."
Meira ikut duduk di kursi samping Alka. Memakan sedikit cireng yang tersedia di atas meja. "Mbak, nanti Mei bayar, yah?" Mbak penjaga kantin itu mangangguk.
"Kak, mau yah? Yah, yah, yah?" kini Meira beralih menunjukkan puppy eyesnya.
"Oke."
Balasan Alka tersebut sontak membuat Meira kegirangan, bahkan cewek itu sampai memekik.
"Beneran? Kak Alka mau jalan sama Mei?" tanyanya antusias.
"Hm," Alka berdehem malas. Cowok itu kemudian mendekatkan wajahnya pada Meira.
"Dengan satu syarat," ujarnya tepat di hadapan Meira.
Meira, cewek itu menahan nafasnya. Tindakan Alka terlalu tiba-tiba hingga ia membatu. Sungguh, tingkah Alka yang seperti ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Lo mau nurutin syarat gue?" tanya Alka dengan posisi yang sama.
Meira mengangguk dengan kaku. Matanya mengerjab lucu di hadapan Alka.
"Setelah ini, lo harus janji buat gak deket-deket gue lagi. Gimana?" alis Alka terangkat satu menunggu jawaban Meira.
Meira kembali mengangguk kaku. Wajah Alka yang berada tepat di hadapannya membuat ia seperti terhipnotis dan tanpa sadar mengikuti permintaan cowok itu.
"Lo yakin?" Meira kembali mengangguk kaku.
Alka tersenyum miring. "Oke, gue pegang janji lo." Alka menepuk puncak kepala Meira dua kali.
"Nafas yang bener!"