![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
"Nih." Alka menangkap sebuah paperbag yang dilempar oleh Bagus ke pangkuannya.
Malam ini Alka sedang berada di rumah sakit dengan anggota inti The Lion. Tujuannya adalah menjenguk mama Alka yang sakit.
"Ini apa?" tanyanya bingung melihat paperbag itu.
"Itu dari si Bocil, katanya jaket sama kemeja lo yang waktu itu dia pake."
Alka mengangguk menanggapi Bagus.
"Dia juga bilang makasih dan maaf," celetuk Devan yang mendapat tatapan bingung dari Alka.
"Maaf?" beo Alka.
Devan mengangguk lalu duduk di kursi tunggu dekat Alka. Di susul oleh Bagus.
"Katanya maaf karna udah buat lo marah tadi."
Pikiran Alka kembali pada kejadian tadi saat dia membentak Meira. Sebenarnya Alka tidak ada niatan untuk membentak Meira, namun berita keadaan mamanya yang semakin memburuk membuatnya pusing hingga tanpa sadar melampiaskannya ke Meira.
"Mei-Mei udah cerita semuanya tadi. Dan dia merasa bersalah udah buat lo marah sampai akhirnya bentak dia."
Ucapan Devan kembali membuat Alka diam. Bukannya yang harus marah itu Meira? Kenapa justru dia yang meminta maaf?
"Gue gak ada maksud buat bentak dia," Jawab Alka, pelan.
Devan mengangguk mengerti.
"Gue tau gimana perasaan lo saat itu. Bahkan kalo gue ada di posisi lo saat itu pasti gue bakal ngelakuin hal yang sama. Tapi saran gue, jangan lampiasin semuanya ke Meira."
Alka menatap bingung kepada Devan yang juga menatapnya biasa.
"Lampiasan?"
Devan mengangkat bahunya acuh.
"Tanpa lo sadari, Meira jadi pelampiasan emosi lo saat itu," ujar Devan.
Alka menghela nafas pelan. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya. Dia merasa seperti bukan dirinya yang dengan mudah melampiaskan emosinya pada orang lain.
"Maaf, gue ga---"
"Alka!" ucapan Alka terpotong saat suara papanya yang baru saja keluar dari ruang rawat mamanya.
"Malam, Om Hadi," sapa Devan lalu menyalimi tangan Papa Alka–Hadi Mahardika– begitupun dengan Bagus dan yang lain.
Hadi hanya tersenyum menanggapinya lalu kembali fokus pada Alka.
"Mama nyariin kamu di dalam." Alka mengangguk sekilas lalu masuk ke dalam ruang rawat mamanya.
Langsung saja bau obat-obatan menyeruak ke indra penciuman Alka. Langkah kaki Alka terasa berat menuju brankar wanita yang sangat dicintainya. Soraya Mahardika.
"Ma-Mama...." Perlahan mata wanita yang tepejam itu terbuka. Senyum tipis yang lemah terpatri di wajah pucatnya saat melihat anak satu-satunya.
"Sayang?" Alka mengangguk lalu memeluk erat tubuh kurus Soraya.
Wanita itu terkekeh dengan suara lemahnya saat Alka memeluk tubuh kurusnya. Tangannya bergerak membelai surai hitam milik Alka.
"Kamu sehat, Nak?" Alka menggeleng dalam pelukan Mamanya.
"Kenapa? Kamu telat makan lagi, hm?" Alka kembali menggeleng hingga kernyitan tampak di wajah cantik wanita itu.
"Alka sakit liat Mama kayak gini." perlahan airmata turun dari mata wanita setengah baya itu saat mendengar jawaban Alka. Di kecupnya puncak kepala Alka dengan sayang.
"Jaga kesehatan kamu, Nak. Makan yang teratur. Saat ini Mama gak bisa buatin makanan kesukaan kamu." Soraya mengusap lembut rambut Alka. "Dan Mama mohon, jangan berkelahi lagi."
Alka mengeratkan pelukannya pada Soraya.
"Alka pasti makan yang teratur asal dengan masakan Mama."
"Tapi Mama gak bisa sayang, Mama sakit."
Alka melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak airmata yang keluar dari mata indah milik Soraya.
"Maka dari itu, tolong Mama sehat buat Alka." Pintanya dengan sangat, mata cowok itu tampak memerah menahan airmata.
"Mama sayang sama kamu Alka, kamu satu-satunya teman berjuang Mama. Mama bangga punya anak seperti kamu." airmata wanita itu kembali jatuh di sudut matanya.
Tangan Alka bergerak menghapus airmata yang keluar dari sudut mata Soraya.
"Jangan nangis, karna setiap tetes air yang keluar dari mata Mama itu seperti kutukan buat Alka." Alka mengecup sekilas kening Mamanya.
Wanita itu tersenyum lalu kembali memeluk anaknya.
"Makasih udah jagain Mama selama ini, kamu anak terhebat Mama. Tolong jaga kesehatan kamu, cukup Mama aja yang menderita, Nak. Dan tolong... Jangan benci saudara kamu."
"Alka gak punya saudara, Ma!" Wanita itu tersenyum tipis, dia tahu Alka belum bisa berdamai dengan saudaranya.
"Tapi dia tetap adik kandung kamu, Nak."
"Gak. Dia itu anak Megan, aku bukan saudaranya!" Soraya mengeratkan pelukannya lalu mengecup puncak kepala Alka.
"Yaudah. Tapi kamu harus janji, yah, sama Mama, Kalo kamu akan tetap sehat sampai kapan pun." Alka mengangguk sekilas.
"Tolong jaga Papa buat Mama. Cuma kamu harapan Mama satu-satunya, Nak. Kalo suatu saat nanti Mama pergi, kamu jangan sedih, yah? Mama pasti akan tetap ada di sisi kamu."
"Jangan ngomong gitu, Ma. Alka gak suka!" suara cowok itu terdengar sedikit parau.
"Apa boleh buat, Nak? Ini sudah takdir Mama." Soraya menyeka pelan air matanya. "Alka, kamu tau apa yang paling Mama takutin?" Alka menggeleng membuat wanita itu tersenyum.
"Mama paling takut saat kamu menemukan pendamping hidup kamu dan waktu Mama sudah habis," jawab Soraya dengan airmata yang kembali menetes.
Diam-diam Alka ikut menitikkan air matanya di dalam pelukan Mamanya. Siapa yang tidak akan lemah jika berhadapan dengan seorang ibu? Mau sekeras apapun hati Alka, dia tetap punya rasa cinta yang besar untuk seorang wanita pujaannya selama ini. Soraya, Ibu kandungnya.
####
Bocah laki-laki kecil itu terlihat tengah menikmati es krim bersama saudaranya. Keduanya larut dalam manisnya es krim di kursi taman itu.
"Kakak, es klim aku udah habis... Adek masih mau," ujar anak laki-laki kecil yang berusia kisaran 5 tahun.
"Telus kakak halus apa?" balas yang satunya lagi dengan wajah polos. Mereka terlihat seperti anak kembar dengan perbedaan usianya yang hanya terpaut beberapa bulan.
"Beliin aku lagi...."
"Tapi uang kakak tinggal dikit dek."
"Gak mau tau! Pokoknya beliin...." anak laki-laki itu memasang wajah cemberut seperti ingin menangis hingga membuat kakaknya tidak tega.
"Ok, kamu jangan nangis, yah? Aku beliin, deh!"
Anak laki-laki itu bersorak riang lalu memeluk kakaknya.
"Yeaay!! Makasih Kak, aku sayang sama Kak Alka!" Alka kecil hanya mengangguk lalu berlari ke penjual es krim.
Hingga akhirnya tersisa jarak 8 meter dari si penjual es krim, mulutnya tiba-tiba di bekap oleh seseorang. Alka kecil meronta-ronta, tapi sayang detik berikutnya kegelapan melingkupi penglihatannya.
Mobil hitam itu pergi membawa Alka kecil entah kemana. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah gubuk tua pedalaman hutan.
Sinar matahari yang menembus lubang-lubang kecil atap gubuk itu membuat mata Alka kecil perlahan terbuka.
"Aku dimana?" batinnya.
Mata anak itu menyusuri segala penjuru sudut gubuk, hingga akhirnya matanya jatuh pada kakinya yang diikat dengan tali dan latban hitam yang merekat di mulutnya.
"Hmmpptt. Hmmpptt...." Alka kecil meronta dengan harapan ikatan itu akan terlepas dari kaki dan tangannya. Namun sayang, dia hanyalah anak kecil yang tidak bertenaga.
Pintu gubuk itu terbuka, Alka kecil menyipitkan matanya saat siluet tubuh seorang wanita masuk ke dalam gubuk itu.
"Mami?" batinnya terkejut.
"Hmmpptt...."
Wanita itu terkekeh lalu jongkok di depan Alka kecil. Membuka latban hitam yang menutup mulut anak kecil itu dengan kasar hingga Alka berteriak kesakitan.
"Mami?" gumamnya terkejut. Wanita itu tertawa bak iblis lalu mencengkram dagu Alka kecil.
"Kenapa, hm? Kaget sayang?"
"Lepasin aku! Mami jahat!"
Alka kecil memejamkan matanya saat tamparan kasar itu mendarat di pipinya. Cairan merah kental menetes di sudut bibir mungilnya. Kemudian tangisnya terdengar saat itu juga.
"Saya bukan mami kamu!" bentak wanita itu marah.
"Saya Megan Mahardika hanya punya satu anak dan itu bukan kamu!!"
Megan menjambak rambut hitam Alka kecil yang sedikit panjang lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Ke-kenapa Mami jahat sama Alka?"
Megan tertawa lalu berdiri memandang rendah pada Alka.
"Kamu itu pembawa sial! Papa kamu bersikap tidak adil sejak kehadiran kamu! Dia lebih mementingkan kamu dari pada anak saya!"
"Tapi Al-"
Plak!
"JANGAN BICARA BOCAH!!"
Sudut bibir Alka kecil kembali mengeluarkan darah, cairan bening pun sudah lolos di sudut matanya. Tangisnya kian menjadi. Wanita yang selama ini sudah dia anggap ibu ternyata tidak lebih dari seorang iblis.
"MAMI JAHAT! ALKA BENCI SAMA MAMI!!"
Megan tidak segan-segan menggoreskan pisau lipat di lengan Alka lalu menampar anak itu ketika berteriak di hadapannya.
Alka kecil berteriak kesakitan di tengah-tengah tangisnya. Di lengan kanannya mengucur darah segar yang membasahi lantai. Sedangkan Megan tertawa penuh kemenangan saat melihat Alka kecil meraung kesakitan.
"Selamat bersenang-senang Alka, nikmati malam-malam kamu di sini, sayang."
Megan tersenyum miring lalu keluar dari gubuk itu, menyisakan Alka yang histeris dengan darah yang terus mengalir dari lengannya.
Hari demi hari Alka kecil lewati dengan berdiam diri di dalam gubuk yang gelap itu. Setiap hari ia hanya diberi makan sebungkus roti tanpa air minum. Suara hewan buas sudah menjadi pengantar tidurnya. Luka sayatan di lengan kanannya di liliti kain dengan tidak higienis.
"Mama... Alka kangen mama...." Alka kecil kembali menangis. Tidak berselang lama telinganya mendengar suara auman hewan buas. Alka kecil mulai gemetar, matanya bergerak waspada.
Sedikit demi sedikit suara itu semakin mendekat hingga Alka merasa hewan pemilik suara itu ada di depan gubuk.
"Mama, Alka takut...." air mata itu semakin deras membentuk aliran sungai kecil di wajahnya.
Brak!
Mata Alka membelalak saat melihat hewan berwarna orange dengan belang hitam mendobrak pintu gubuk dan memandangnya tajam. Alka semakin gemetar, diam-diam tangannya mengepal dalam ikatan tali besar itu.
"PELGI!!" teriaknya pada harimau tersebut. Bukannya pergi, harimau itu semakin mendekat ke arah Alka dengan taring tajam di giginya.
"PELGI!!" harimau itu semakin mendekat ke arah Alka hingga akhirnya harimau itu melompat siap menerkam Alka.
"Aaakkhh!"
"Aaakkhh!" Bagus dan Devan yang tidur di sofa besar kamar Alka terlonjak dari tidurnya saat mendengar Alka berteriak seperti orang ketakutan.
Keduanya berlari mendekati Alka yang bergerak gelisah ditidurnya.
"Al? Hey, Alka sadar!" Bagus menepuk pelan pipi Alka namun cowok itu tetap bergerak gelisah.
Devan yang melihat ada air di nakas langsung mencipratkannya ke wajah Alka, dan berhasil.
"PERGI!" Alka berteriak ke arah Bagus dan Devan hingga keduanya terlonjak kaget.
"Lo kenapa, Al? Lo marah karna gue cipratin air? Sorry, gue gak mak-"
"PERGI!!" ucapan Devan terpotong saat Alka kembali berteriak.
"Lo kenapa, sih, Al?"
Alka bangun dari kasurnya lalu mencekik Bagus yang ada di dekatnya.
Bagus yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya bisa menepuk tangan Alka yang mencekik lehernya.
"Lo gila, Al? Dia Bagus woy!" Alka beralih menatap tajam Devan yang berusaha melepaskan tangannya dari leher Bagus.
Devan tertegun, mata Alka yang memang hitam berubah menjadi lebih hitam.
"A-al mata lo-"
Bugh!
Devan terpental saat tendangan melayang di perutnya. Dengan cepat dia bangun lalu kembali menarik tangan Alka dari Bagus yang mulai memucat.
"DIA TEMEN KITA ALKA!!" bentakan Devan menggema.
Emosi Alka semakin tersulut, dia melepaskan cekikannya dari Bagus lalu menghampiri Devan.
Bagus sendiri langsung meraup oksigen dengan rakus. Rasanya dia hampir saja mati gara-gara Alka.
Bugh!
Bugh!
Dua bogeman mendarat di pipi dan ulu hati Devan. Cowok itu meludah kesamping saat darah keluar dari mulutnya, pukulan Alka memang tidak pernah main-main.
Setelah merasa cukup dengan oksigen yang dia hirup, Bagus menghampiri Alka yang membabi buta pada Devan.
Namun baru beberapa langkah Bagus berhenti saat matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di punggung tangan kiri Alka.
"Tatto kalajengking? Sejak kapan Alka pake tatto?" batin Bagus heran. Bagus menggelengkan kepalanya, sekarang dia harus menyelamatkan Devan terlebih dahulu.
Bagus menangkap kedua lengan Alka lalu membawanya kebelakang punggung cowok itu.
"Lepasin gue!!" alis Bagus menyatu saat mendengar suara Alka terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.
"Sebenarnya Alka kenapa, sih?" batinnya penasaran.
"Alka sadar! Kita ini teman lo, gue Bagus dan dia Devan!" kata Bagus sambil menunjuk dirinya dan Devan bergantian.
"Lepasin! Gue mau bunuh dia!"
"Alka sadar! Lo kenapa, sih, aneh gini?!" Bagus berusaha sabar menyikapi Alka. Jika api dibalas dengan api, maka semuanya akan meledak. Bagus tidak ingin itu terjadi antara dia dan Alka.
Mata Bagus jatuh pada rambut Alka.
"Coklat? Bukannya dari dulu rambut Alka selalu hitam?" batin Bagus kembali bertanya.
Bagus merasa Alka tiba-tiba melemah dalam kungkungannya. Cowok itu terlihat menggelengkan kepalanya seperti menghalau sakit.
Bagus menuntun Alka duduk di kasur, setelah itu dia menghampiri Devan yang babak belur.
"Alka kenapa, sih, Gus?" Bagus menggeleng tidak tahu, dia menuntun Devan duduk di sofa lalu memberikan kotak P3K yang mereka siapkan di laci Alka.
"Obatin luka lo." Devan mengangguk. Lalu mulai membuka kotak obat dan mengobati lebamnya.
"Van, lo liat sesuatu gak di tubuh Alka?" Devan mengernyit bingung di sela-sela kegiatannya.
"Maksud lo?"
"Gue tadi gak sengaja liat ada tatto kalajengking di punggung tangan kiri Alka pas dia hajar lo." Mata Bagus setia menyorot lurus pada Alka yang kembali tertidur.
"Tatto kalajengking?" Bagus mengangguk.
"Gue gak liat itu. Yang gue liat mata Alka semakin hitam."
Bagus berbalik menatap Alka yang mulai bangun setelah beberapa menit. Cowok itu terlihat memijat kepalanya.
"Lo baik-baik aja, Al?" Alka menatap Bagus yang ada di sofa dengan mata menyipit.
"Emang gue kenapa?"
Bagus menatap tidak percaya pada Alka. Terlebih Devan yang menghentikan kegiatannya lalu ikut menatap Alka dengan raut wajah tidak habis pikir.
"Lo bilang lo kenapa? Lo lupa apa yang udah lo lakuin ke gue dan Devan?" Bagus menunjuk Devan sekilas.
Alka beralih menatap Devan yang mengobati lukanya di sofa.
"Kenapa Devan babak belur?"
Selanjutnya mulut Bagus terbuka dengan raut wajah tidak percaya.