[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 46



"Foto, foto, foto!" Malik dengan cepat memberikan ponselnya pada Tian saat cowok berkaos putih itu menengadahkan tangan padanya dengan tidak sabaran.


Saat ini, inti The Lion datang menjenguk Alka di ruang inap cowok itu. Awalnya mereka ingin memberikan surprise dengan membunyikan terompet ulang tahun dan beberapa kertas mengkilat yang telah di gunting-gunting. Tapi ternyata, malah mereka yang diberi kejutan saat masuk ke ruangan.


Benar-benar mengejutkan melihat posisi tidur mereka yang tidak biasa.


Devan, Bagus dan Arnold terkekeh kecil lantas menggelengkan kepala melihat tingkah jahil Tian. Cowok itu memang memiliki tingkat kejahilan yang sudah akut, terlebih saat dia sudah berkolaborasi dengan Adnan dan Malik.


"Nih, cepetan, nyet! Keburu bangun!" seru Malik bersemangat, dia mengekori Tian yang berjalan mengendap-endap ke sisi brankar Alka yang lain dari tempat Meira duduk.


"Lo semua diem!" Adnan mengangkat telunjuknya dengan tatapan mengancam pada Bagus, Devan, Arnold dan Ezra serta Dimas yang tanpa mereka sadari melahap kue yang harusnya diberikan pada Alka.


Tangan Ezra dan Dimas yang hendak menyuapkan kue ke mulut berhenti di udara saat Adnan mengetahui kelakuan mereka hingga cowok dengan hoodie hitam itu melotot pada mereka.


Ezra dan Dimas hanya cengengesan lalu melanjutkan kegiatan mereka.


"Yang bener, nyet, fotonya! Awas lo kalo sampe blur!"


Tian mendesis kesal lalu mengangkat tangan seperti hendak menjitak Malik yang terus mengekor di belakangnya.


"Lo diem aja, mbing! Ntar mereka bangun gue gibeng lo!" Malik lantas cengengesan dengan kedua tangan menyatu di depan dada.


Tian menarik nafas lalu perlahan mendekatkan kamera ponsel dengan hati-hati pada Meira.


Cekret!


Mereka serentak tepuk jidat saat suara kamera ponsel Malik yang digunakan Tian menggelegar di ruangan yang sepi itu. Di tambah dengan lampu blitz yang menyala tanpa mereka tahu.


Malik dengan cepat berbalik menuju sofa—tempat yang lain duduk— sebelum Tian tahu. Cowok ber-hoodie putih itu mengendap-endap saat melihat alis Alka yang berkerut. Sepertinya Alka akan bangun sebentar lagi.


Tian? Cowok itu malah meringis lalu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


"Ngapain lo?" tanya Alka, saat menyadari keberadaan Tian.


Tian gelabakan, dia menoleh untuk meminta pertolongan pada Malik namun sialnya cowok itu sudah duduk anteng di sisi Adnan. Tian mengumpat dalam diam, terlebih saat melihat teman-temannya menahan tawa.


"Ah, eh, i-itu... Al... Gue... Gu---"


"Hapus tuh, foto!" ujar Alka lalu menepuk puncak kepala Meira.


"Bangun lo!" serunya pada Meira.


Tian dengan cepat mengangguk lalu menghapus foto Alka dan Meira. Setelah memperlihatkan bahwa foto itu telah terhapus pada Alka, Tian akhirnya bisa menghela nafas lega lalu kembali duduk bergabung dengan teman-temannya setelah menjitak kepala Malik dengan tidak santai.


Meira menggeliat lalu menegakkan badan. Cewek itu menguap dan langsung tertawa saat Alka menutup mulutnya yang menguap.


Meira tidak marah, dia hanya cengengesan lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan wajah.


"Enak gak, Al, tidur sambil meluk cewek?" celetuk Ezra, cowok itu sudah selesai dengan kegiatannya, membiarkan Tian dan Dimas yang melanjutkan. Ezra melempar senyum menggoda pada Alka yang memasang wajah datar.


"Enak, lah. Orang pules gitu!" Devan menimpal dengan kekehan.


Alka hanya mendengus malas mendengar semua godaan yang teman-temannya lemparkan padanya. Bahkan Bagus sempat menuduhnya jadian diam-diam dengan Meira. Alka tidak menjawab, Alka yah Alka. Orang yang tidak peduli pada hal yang tidak penting.


Dan menurutnya, setiap pertanyaan dan godaan yang dilemparkan teman-temannya itu tidak penting.


Perhatian mereka teralih pada Meira yang baru saja keluar dari toilet dengan wajah lembab bekas air.


"Lo pulang dianterin salah satu dari mereka."


Meira duduk di kursi tempatnya tadi lalu mengikuti arah mata Alka.


"Kak Ezra anterin, yah!" ujarnya, mengundang delikan dari Ezra. Meira hanya tertawa lalu kembali menatap Alka.


"Mei pulangnya entaran aja, yah. Masih mau nemenin Kakak."


Alka menggeleng tanpa berpikir lagi. "Gak. Lo pulang sekarang," titahnya mutlak.


"Tap---"


"Pulang!"


Meira akhirnya memilih pasrah saja. Dia meraih tas ranselnya yang dia taruh di lantai lalu memakainya dan mengikuti Ezra yang keluar ruangan setelah mendapat kode dari Alka.


Setelah Ezra dan Meira pergi, Bagus beralih duduk di kursi putar bekas Meira.


"Lo udah suka sama Meira?" sembur Bagus. Mata cowok gondrong terikat itu memicing pada Alka dengan kedua tangannya menumpuh di tepi kasur.


Alka hanya berdecak. Tidak membenarkan ataupun menyangkal. Wajahnya pun tetap datar seperti biasa.


Alka tetaplah Alka. Tidak ada yang bisa menebak pikiran cowok berbaju khas rumah sakit itu.


.


.


.


KOMEN DI BAWAH TENTANG DUA PART INI!!!