![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Kabar bahwa Alka dan Meira berpacaran telah sampai ke telinga Arya. Pria itu marah setelah mengetahuinya hingga Meira harus di sidang selama tiga jam di dalam ruang kerja Arya. Semua jurus membujuk telah Meira keluarkan di hadapan papanya namun pria itu masih saja berkeras hati. Dia tidak merestui Alka dan Meira.
Meira menghela napas lalu menengkurapkan tubuhnya di atas kasur. Malam ini malam minggu. Jika biasanya para pasangan akan keluar untuk menghabiskan waktu bersama malam ini, maka beda dengan Meira. Cewek berdaster pink itu hanya bisa menatap ponselnya yang sejak tadi menampilkan room chat-nya dengan Alka.
Sejak tadi, pacar posesifnya itu belum juga membalas spam chat Meira yang dikirim sore tadi. Sepulang dari sekolah—yang diantar Bima—Alka juga tidak mengangkat telfon darinya. Meira menggigit kukunya. Apa mungkin Alka marah?
Berusaha berpikir positif, Meira menekan ikon telfon di sudut atas. Panggilan pertama hingga ketiga Alka belum menjawab padahal tertulis kata ‘berdering’ di bawah kontaknya. Meira mencoba sekali lagi hingga kali ini panggilan telah di jawab oleh Alka.
“Kenapa?”
Meira mendelikkan bibir menatap ponsel. Alka tidak berubah. Cowok itu masih saja kaku. “Kakak di mana? Kok, telfon aku dari tadi gak diangkat? Nongkrong, yah?”
“Gak.”
Alis Meira berkerut samar. Merasa heran dengan sahutan Alka yang sangat singkat. Cowok itu memang masih kaku, tapi untuk kalimatnya, Alka sudah sering berbicara panjang lebar pada Meira. “Kakak marah, aku pulang sama kak Bima tadi?”
“Gak.”
“Terus? Kok, jawabnya singkat gitu? Marah, kan?”
“Turun, buka pintu. Gue di depan.”
Perlu waktu tiga detik untuk Meira mencerna ucapan Alka. Setelahnya dia membulatkan mata seraya menegakkan badan. “Gak lucu, ih! Seriusan, marah gak?”
“Siapa yang ngelucu? Buruan!”
Berdiri dari kasurnya, Meira memperbaiki dasternya yang sedikit tersingkap. “Serius Kakak di depan?”
“Iya.”
“Gak bohong, kan?”
“Iya, Meira.”
“Gak tipu-tipu?”
“Iya, sayang. Buru!”
Meira mengulum senyum lalu menaruh ponselnya di atas nakas setelah Alka memutuskan panggilan sepihak. Dengan cepat Meira keluar dari kamar dan berlari kecil menuruni tangga untuk mencapai pintu utama.
“Hati-hati, Mei! Entar jatuh, ompong, baru tau rasa!”
Mencengir, Meira beralih berjalan saat mendengar teguran Hanin di ruang tengah yang sedang menonton film. Meira berhenti sejenak. “Papa di mana, Ma?" tanyanya menilik sekitar.
“Ke Bandung tadi buru-buru. Katanya ada temannya yang sakit.”
Meira diam-diam bernafas lega hingga membuat Hanin menatapnya dengan alis terangkat. “Kamu senang papa pergi?” sarkas Hanin.
Meira menunjukkan cengiran sekali lagi. “Untuk malam ini, sih, kayaknya iya. Soalnya ganteng ada di depan.”
“Ganteng siapa?”
“Kak Alka.” Meira tersenyum lebar disambut oh ria dari Hanin.
####
“Tumben ke rumah.”
Meira duduk di samping Alka setelah menaruh piring berisikan martabak special yang di bawah oleh Alka tadi. Hanin sudah masuk ke dalam kamar, katanya tidak ingin mengganggu anak ABG yang lagi kasmaran. Meira benar-benar menyayangi mamanya itu.
“Gue ke sini mau nyari Gilang. Dia di mana?”
Meira mendesis kesal menanggapi cowok ber-hoodie hitam dengan tulisan ‘The Lion’ itu. “Di kamarnya!” jawab Meira sedikit kesal.
Alka menjatuhkan pandangan pada Meira. “Bisa lo panggilin?” tanyanya.
Sekarang Meira benar-benar kesal. Dia kira Alka kemari karena ingin bertemu dengannya. Tapi, sekali lagi kenyataan harus menampar Meira. Alka mencari Gilang, bukan Meira.
“Gak. Telfon aja sana! Banyak pulsa, kan?” Meira menyeru tidak santai. Hatinya benar-benar gondok saat ini dengan sikap Alka. Saat Meira berdiri dan hendak pergi, tarikan Alka membuatnya kembali duduk. Anak rambutnya diselipkan ke belakang telinga oleh Alka.
“Marah?” tanya Alka. Padahal ia hanya bercanda hanya untuk melihat wajah kesal Meira yang menggemaskan.
Meira menyampingkan tubuhnya hingga sepenuhnya berhadapan dengan Alka. Dia lalu memajukan wajahnya pada Alka hingga jarak di antara mereka tersisa lima senti. “Emang muka Mei ada raut senangnya, iya?” mata Meira melotot tajam.
Alka terkekeh lalu menangkup wajah Meira. Bibir merah muda alami cewek berdaster rumahan itu maju membuntuk face duck. “Lepwashin, ih!”
Alka semakin melebarkan kekehannya lalu mendekatkan wajahnya pada Meira. Matanya menyorot intens ke dalam mata Meira yang berkedip lucu bersamaan dengan kekehannya yang perlahan hilang. “Boleh?” tanya Alka, menatap bibir Meira sekilas lalu kembali menatap mata pacarnya.
“Woi, mau ngapain kalian?!”
Teriakan yang berasal dari lantai atas membuat keduanya dengan cepat menarik diri. Alka menghembuskan nafas lega dan Meira yang menunduk malu. Bisa-bisanya di saat seperti ini mereka dipergoki oleh Gilang. Untung saja bukan Hanin yang memergoki.
“Kenapa gak dilanjutin?” tanya Gilang yang sudah berdiri pada belakang sofa panjang di depan Alka dan Meira. Cowok berkaos hitam dengan celana pendek hitam itu menatap Alka dan Meira bergantian seraya mengulum senyum.
“Lo datang,” sahut Alka datar. Sebenarnya dia juga malu dipergoki Gilang karena hampir saja mencium Meira. Tapi Alka tetaplah Alka. Si pengendali ekspresi terbaik.
Gilang terkekeh yang perlahan berubah menjadi gelak tawa saat melihat wajah Meira yang memerah namun disembunyikan dengan menunduk. “Lanjutin aja, bray. Gue cuma mau ambil minum, kok.” Gilang mengedipkan mata kanannya pada Meira yang mendongak menatapnya.
Mengabaikan desisan rendah dari Alka, Gilang berjalan menuju dapur dengan masih mempertahankan kekehannya. Belum sepenuhnya sampai, Gilang menyemburkan kepala dari pintu pembatas dapur dan ruang tengah. “Tapi jangan lama-lama, yah. Entar nyokab liat, dinikahin lo berdua.”
“KAK GILAAAANNGG!!!!”
####
Hari ini Meira tidak pulang bersama Alka. Sebab kata Bagus—yang dia temui di tangga lantai satu—The Lion sedang ada tugas Negara hingga Alka tidak bisa absen kali ini. Meira hanya mendengus waktu itu menanggapi Bagus. Meira yakin, tugas negaranya anak The Lion itu tidak pernah jauh-jauh dari perkelahian, balapan atau paling tidak berpesta di kelab malam.
Tungkai Meira berjalan menuju halte bus sekolah. Entah hari ini Meira sial atau tidak, yang jelas Hanin tidak bisa menjemputnya karena ada client penting di butik mamanya itu. Arya? Papanya itu baru akan pulang dari Bandung magrib nanti.
Meira menilik arloji putih di pergelangan kirinya lalu mendudukkan diri di kursi panjang halte. Hari ini halte juga sepi, hanya ada dua, tiga orang yang ikut duduk di dekat Meira. Padahal biasanya saat Meira lewat di sini, dia selalu melihat halte bus ramai.
Menyibukkan diri, Meira beralih memainkan ponselnya menghilangkan kejenuhan. Terlalu sibuk dengan ponselnya, Meira sampai tidak sadar bahwa ada motor sport hitam yang terparkir dengan pengemudinya yang menatap dirinya.
Senggolan di bahu Meira membuat ia menoleh pada sang empu. Cewek yang tadi menyenggol Meira mengendikkan dagu pada si pengemudi motor sport hitam itu.
Mengangkat alis, Meira mengikuti arah tunjuk cewek tadi. Selanjutnya, dia terkejut. Si pengendara motor itu tidak lain adalah Samuel yang saat ini menatap Meira seraya mengangkat kaca helm lalu tersenyum manis.
Tersadar dari keterkejutannya, Meira menyimpan ponselnya ke saku lalu melangkah pergi dengan berlari kecil. Demi Upin yang rambutnya cuma satu, Meira tidak mau ketemu Samuel hari ini, esok, lusa atau mungkin selamanya.
Kaki Meira yang awalnya berlari kecil perlahan cepat saat mengetahui bahwa Samuel mengikutinya dari belakang. Suara klakson dari motor Samuel Meira tidak pedulikan hingga akhirnya motor sport hitam itu mengambil posisi melintang di hadapannya. Meira hendak berputar arah namun tangan Samuel lebih dulu menahannya.
“Lepasin, Sam!”
Samuel bergeming. Dia melepaskan helm dengan satu tangan lalu turun dari motor dan berdiri di hadapan Meira. “Aku gak akan apa-apain kamu, Ra,” ucapnya pelan.
Meira tidak percaya. Ketakutannya selalu bertambah jika berdekatan dengan Samuel. Dengan sekuat tenaga Meira memutar-mutarkan tangannya dari Samuel. Namun bukannya terlepas, cekalan Samuel semakin kuat hingga Meira menyerah.
“Mau kamu apasih?!” lokasi Meira saat ini sudah terbilang jauh dari sekolah hingga dia bebas berteriak. Matanya yang biasa berbinar ceria kini menatap tajam pada Samuel. Meira tidak membenci Samuel, hanya saja dia selalu takut dengan Samuel.
“Pulang bareng aku, ya? Kamu gak dijemput, kan?” Samuel mengajak tanpa beban. Dia sepertinya tidak peduli pada wajah ketakutan Meira saat ini.
Meira menggeleng dengan cepat. “Gak! Aku bisa pulang sendiri! Kamu mending pergi dari sini sebelum aku teriak kalau kamu mau macam-macam!”
Mendengar ancaman Meira, Samuel malah terkekeh. Menurutnya, ancaman yang dilontarkan Meira itu tidak menakutkan, namun menggemaskan. Samuel gila? Mungkin iya, karena orang bilang, cinta bisa membuat siapa saja kehilangan akal sehatnya.
“Gak usah ngancem, Ra. Gak bakal ada yang percaya, kok.”
Meira merutuki dirinya dalam hati. Menghela napas kasar, Meira juga berdecak lalu membuang tatapan.
“Mau, kan? Sekali ini aja.” Samuel masih meminta. Dia memasang wajah sepelas mungkin agar Meira menerima ajakannya.
Meira memberanikan diri menatap mata Samuel. “Gimana caranya aku bisa percaya kalau kamu gak akan macam-macam nanti?” tanyanya was-was. Bisa saja, kan, Samuel hanya modus ingin pulang bersamanya padahan ada niat terselubung?
Samuel diam beberapa detik sebelum terkekeh dan mengacak rambut Meira yang langsung ditepis oleh sang empu. “Segitu gak percayanya kamu sama aku?”
“Emang kamu bisa dipercaya?”
Samuel menggaruk alisnya dengan tangannya yang bebas. Tangannya yang lain masih setia memegang tangan Meira agar cewek berambut urai di depannya ini tidak kabur. “Aku bakal nyerahin diri sendiri ke polisi kalau berniat macam-macam sama kamu.”
Mata Meira memicing masih mencurigai Samuel hingga membuat cowok berseragam acak di depannya menyentil hidungnya dengan pelan. “Gak usah curiga. Janji gak bakal macam-macam!” Samuel mengangkat jarinya membentuk V di depan Meira dengan senyumnya.
“Yaudah.”
Tidak bisa berbohong bahwa hati Samuel saat ini benar-benar senang hingga senyumnya melebar. Sungguh, jika kalian berpikir yang macam-macam pada Samuel maka kalian salah. Karena dia benar-benar hanya ingin mengantar Meira pulang.
Tanpa mereka tahu, seseorang yang berdiri di balik pohon mangga telah berhasil mengambil beberapa gambar saat Samuel berlaku manis pada Meira.
.
.
.