![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Bukan warung belakang sekolah namanya jika tidak dipenuhi oleh komplotan anak The Lion.
Di sudut kiri ada Tian, dan Adnan yang bernyanyi dengan alunan gitar dari Tian. Tak jauh dari mereka, ada Bagus dan Devan yang tengah bermain catur dengan sepiring cireng dan teh manis di sampingnya. Di sisi kanan warung ada Dimas dan beberapa anak The Lion lain yang tengah bermain aplikasi joget sesekali mengganggu Malik yang tertidur di kursi panjang.
Alka? Cowok itu tengah bermain game dengan posisi berbaring di ayunan jaring di bawah pohon. Dia tampak tidak terganggu dengan suara nyanyian Adnan dan suara musik joget dari ponsel Dimas. Kegiatan Alka terhenti saat sebuah ponsel tersodor ke hadapannya.
“Apaan?” tanyanya pada Arnold.
Arnold. Cowok berkaos putih tanpa seragam itu meraih kursi tanpa penyanggah di dekat ayunan Alka lalu duduk di sana. “Liat aja,” ucapnya dengan menunjuk ponsel hitam miliknya menggunakan dagu.
Mem-pause game yang dia mainkan, Alka meraih ponsel Arnold. Berikutnya dia menampilkan raut bertanya. “Lo dapat ini dari mana?” tanyanya menatap Arnold yang kini bersedekap.
“Gue liat sendiri kemarin pas mau ngambil motor di warung dekat sekolah.”
Tangan Alka yang bebas terkepal. Hatinya panas saat melihat bagaimana Meira dan Samuel di dalam foto itu. Terlebih saat Samuel dengan bebas memegang tangan Meira dan menjawil hidung pacarnya. Alka tidak terima! Apa yang sudah menjadi miliknya tidak boleh disentuh orang lain tanpa persetujuan darinya.
“Apa lagi yang lo tau?” dia kembali bertanya pada Arnold setelah mengembalikan ponsel pada sang empu.
Arnold mengangkat bahu. “Gak tau juga, yang jelas sampe sana Meira pulang bareng Sam. Gue yang bingung langsung foto aja karna mau nanya sama lo.”
Satu lagi fakta yang membuat Alka ingin membunuh Samuel sekarang juga. Ini memang salahnya karena tidak mengantar Meira pulang kemarin, tapi dia juga tidak mau Samuel yang mengantar Meira pulang. “Thanks,” ucapnya pada Arnold.
Mengangguk, Arnold kembali bertanya, “mereka ada hubungan apa emang? Bukannya Mei gak tau Sam?” raut penasaran tidak bisa terelakkan dari wajah Arnold. Bagaimana tidak? Cewek yang tampak polos itu memang tidak pernah terlibat dengan lelaki lain selain Alka dan Bima. Tapi kenapa tahu dengan Samuel?
Alka menggeleng lalu mengambil ponselnya. “Gue juga gak tau,” ucapnya.
Tidak ingin mengorek privasi orang lain, Arnold memilih bangkit lalu menepuk pundak Alka sekali. “Gue harap lo bisa bicara baik-baik sama Mei,” ucapnya sebelum pergi.
Alka tidak menjawab, cowok berseragam tidak tertib itu memilih membuka room chat-nya bersama Meira.
Alkavero. M :
Kemarin pulang bareng siapa?
Pesannya tidak langsung terbalas walau di sana terlihat centang dua. Lima menit yang lalu bell istirahat telah berbunyi, itu tandanya Meira sedang berada di kantin saat ini. Baru saja Alka akan bangkit untuk mendatangi Meira, suara notifikasi chat dari ponselnya lebih dulu terdengar.
MeiraAnnastasia :
Bareng Dita.
Niat Alka untuk mendatangi Meira, urung. Dia menghela napas lalu beralih mematikan ponselnya tanpa membalas pesan Meira. Dia bangkit lalu menghampiri Devan dan Bagus yang masih bermain catur.
“Gue cabut,” ucapnya, langsung pergi setelah mengambil jaketnya.
Devan menghentikan kegiatannya lalu menoleh menatap punggung Alka. “Mau kemana, Al?” teriaknya.
“Pulang!!”
Alka tidak ingin bertemu Meira untuk saat ini. Alka memang tidak suka Meira bersama Samuel, tapi jika saja cewek itu jujur, mungkin Alka masih bisa memaklumi. Tapi sayangnya, Meira telah melakukan hal yang cukup Alka benci.
Berbohong.
####
Meira tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak gelisah. Setelah dia mengatakan pulang bersama Dita pada Alka di chat, hatinya tidak bisa tenang. Apalagi saat pacarnya itu hanya membaca tanpa membalas. Meira takut jika saja Alka tahu bahwa dia berbohong. Mengingat koneksi Alka ada di mana-mana, bisa saja Alka tahu yang sebenarnya.
Pergerakannya yang tidak tenang mengundang kernyitan alis dari Gilang yang tengah menyetir di kursi kemudi mobil. Yah, hari ini dia memang dijemput oleh Gilang karena kata Devan, Alka sudah pulang duluan. Hal tersebut semakin membuat Meira cemas, apalagi saat Alka tidak bilang padanya akan pulang lebih dulu.
“Kenapa? Kakak liat kamu gelisah gitu?” tanya Gilang, sekilas menoleh pada Meira lalu kembali fokus ke hadapan.
Meira memiringkan tubuhnya menatap Gilang. “Kak, anterin Mei ke apartemennya Kak Alka, yah.”
“Mau ngapain? Alka udah pindah ke rumah papanya.” Jawaban Gilang membuat bahu Meira merosot. Jika Alka pindah ke rumah papanya, itu berarti di sana juga ada Samuel. Meira masih tidak ingin bertemu Samuel walau kemarin hubungan mereka mulai membaik.
“Kamu ada masalah sama Alka?”
Meira mengangguk lesu. “Kemarin aku pulang bareng Samuel. Terus bohong ke Kak Alka kalau aku pulang bareng Dita. Pasti dia marah,” lirihnya yang mengundang helaan napas dari Gilang.
Tangan Gilang terangkat mengacak rambut Meira. “Kenapa gak jujur aja, An? Kakak yakin kalau kamu jujur Alka pasti bisa maklumin.”
“Aku takut kalau jujur Kak Alka bakal marah.” Matanya memanas bersamaan suaranya yang semakin melirih. Bagi Meira, Alka lebih baik marah dengan mengomelinya dari pada harus membuatnya gelisah seperti ini dengan berdiam dan tidak menegur Meira.
“Dan sekarang apa?”
Sahutan dari Gilang membuat Meira semakin takut, air yang menggenang di pelupuk matanya mulai mengalir diserta isakan kecil. Bilang saja Meira cengeng, tidak apa, karena dia memang cewek yang cukup cengeng. Apalagi jika orang yang dia sayangi mendiami dirinya.
“Kakak bakal anterin kamu ke apartnya Alka, Devan bilang dia ada di sana.” Gilang menaruh ponselnya yang baru saja mendapat chat dari Devan ke dashboard.
Mendengar ucapan Gilang, Meira—yang awalnya menunduk—mendongak dengan mata berbinar menatap kakaknya. “Beneran?” serunya antusias.
Gilang terkekeh lalu mengacak rambut Meira menggunakan tangan kirinya. “Iya, tapi hapus dulu air matanya. Entar Alka Ilfeel lagi,” kekehnya.
Meira mendesis lalu memukul pelan lengan Gilang. Tidak butuh waktu lama, mobil Porsche putih Gilang berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dia menoleh pada Meira tanpa mematikan mesin mobil. “Kakak tinggal gakpapa, kan?”
Meira mengangguk lalu tersenyum. Tas ransel di punggungnya dia perbaiki lalu turun. Dia menunduk seraya melambaikan tangan pada Gilang sebelum mobil mewah itu melaju pergi. Menghela napas, Meira mulai masuk ke gedung pencakar langit itu, memasuki lift untuk menuju kamar Alka.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Meira sudah berada di depan pintu kamar Alka. Tangannya tarangkat memencet tombol bell berwarna putih di sisi pintu beberapa kali. Tidak mendapat respon, Meira akhirnya memilih memasukkan sandi pada tombol kombinasi hingga pintu itu terbuka.
Kesunyian menyapa Meira sejak pertama kali masuk. Dia lebih dulu menutup pintu sebelum melangkah masuk. Untuk bagaimana Meira bisa tahu kata sandi apartemen Alka, itu pacarnya sendiri yang memberitahu.
Meira terus melangkah masuk dengan kepala yang celingukan mencari keberadaan Alka. Kaki yang menjuntai melewati sofa di depan televisi membuat Meira mengulas senyum. Dia mendekat dan mendapati Alka yang tengah tertidur dengan posisi bersedekap. Pantas saja tidak ada yang membuka pintu tadi.
Meira menaruh ranselnya ke sofa lain lalu berlutut di sofa tempat Alka tertidur. Tangannya terangkat mengelus surai hitam legam Alka dengan lembut.
Cowok yang masih memakai seragam sekolah itu rupanya terganggu dengan pergerakan Meira. Dia kontan membuka mata lantas mengerutkan alis melihat keberadaan Meira.
Meira menghela napas lalu beralih menguncir rambutnya dengan Alka yang masih menatapnya. “Kakak kenapa pulang duluan?” dia mendongak menatap Alka.
“Gakpapa.” Alka menepuk sisi kosong di dekatnya. “Duduk sini,” tambahnya. Dia kurang nyaman jika Meira harus mendongak menatapnya.
Menuruti perintah Alka, Meira beralih duduk di samping pacarnya. “Kakak sendiri yang pernah bilang sama Mei, ‘jangan bilang gakpapa kalau sebenarnya kenapa-napa’, kan?” kedua tangan Meira bertaut di atas pangkuan saat Alka membuang napas kasar lalu bersandar di sandaran sofa.
“Kenapa?”
Alis Meira terangkat. Dia memberanikan diri menatap Alka yang saat ini tengah menatapnya, juga. “Ke-kenapa apa?”
Berdecak, Alka menghadapkan tubuhnya pada Meira lalu menatap dalam pada mata yang bergerak gugup itu. “Kenapa bohong?” tanyanya dengan suara datar, yang mana hal tersebut membuat Meira meneguk ludah susah payah.
“A-aku … Em … i-itu ….”
“Siapa yang ajarin bohong?” Alka mendekatkan dirinya pada Meira. Mencoba membuat ceweknya itu jujur padanya.
Meira menundukkan kepala dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas paha. Mendengar nada datar Alka dan cowok itu yang kian mendekat, membuatnya gugup bukan main.
“A-ku … gak bo-bohong!” Meira masih berkilah membuat Alka menghela napas kasar.
“Dua kali bohong,” ucap Alka. Cowok itu kemudian mengangkat dagu Meira dengan telunjuknya hingga pacarnya itu sepenuhnya menatap dirinya. “Belajar di mana bohongnya?” imbuh Alka mengangkat alis, wajahnya masih datar menatap Meira.
Meira tidak tahu harus apa sekarang, matanya tiba-tiba saja memanas saat tatapan datar Alka seolah menusuk bola matanya.
“Jawab Meira!” suara Alka berubah dingin dan tajam. Dia tidak peduli pada pelupuk mata Meira yang menahan genangan. Alka hanya butuh kejujuran.
Mendengar nada tajam Alka, air mata serta isakan yang sejak tadi ditahannya pun muncul ke permukaan. Meira terisak tanpa berani menatap Alka, cewek itu memejamkan mata.
Alka menarik telunjuknya dari dagu Meira lalu menghela nafas kasar kemudian menarik Meira ke rengkuhannya. “Maaf,” gumamnya seraya mendaratkan kecupan di puncak kepala Meira.
Alka sadar, dia telah bersikap berlebihan hingga gadisnya takut pada dirinya. Alka mengeratkan pelukannya saat Meira tidak membalas pelukan darinya. Kembali, Alka meminta maaf dengan satu tangan yang mengelus punggung Meira.
“Me-Mei takut …,” lirih Meira. Ini memang bukan pertama kalinya Alka marah padanya, namun Meira merasa lebih baik Alka memarahinya seperti dulu daripada sekarang ini.
“Maaf, gue berlebihan.” Alka melerai pelukannya lalu menghapus jejak air mata di pipi Meira. “Gak usah nangis,” sambungnya.
Meira tidak menyahut, dia lebih memilih menunduk dengan sesekali menyeka asal air matanya yang masih keluar. Saat sebuah kepala mendarat di bahunya, barulah Meira mengangkat wajah untuk menatap sang empu yang bertempuh kepala di bahunya.
“Gue cuma gak mau kehilangan lagi, Mei. Apalagi harus kehilangan karna orang yang sama.” air mata Meira kembali hadir, bukan karena dia masih takut pada Alka, hanya saja suara lirih dari pacarnya ini membuat hati Meira seolah teriris.
“Gue udah pernah ngerasain rasanya dikhianatin, gak dianggap dan ditinggalin. Dan gue gak mau ngerasain itu lagi dari lo.” Alka masih berlirih di bahu Meira.
Tangan Meira terangkat mengelus rambut hitam Alka setelah dia menghapus jejak air mata di pipinya. Dia tidak seharusnya cengeng, karena yang benar-benar terluka saat ini bukanlah dirinya, melainkan Alka.
“Aku gak bakal ninggalin, Kakak, kok.”
Mendengar itu, Alka terkekeh lalu mengangkat wajahnya kembali menatap Meira. “Kok, gue gak percaya, yah?” Alka mengulum senyum, berharap suasana mellow ini akan segera menghilang di antara mereka berdua.
Meira memberengut lalu mencebikkan bibir. “Bodo amat kalau gak percaya!” Meira berdiri hendak menuju dapur, tapi suara Alka yang terdengar membuatnya berhenti lantas menoleh.
“Mau kemana?” tanya Alka.
“Ke dapur, ambil minum. Haus abis nangis,” jawab Meira cengengesan.
“Tadi gue liat ada tikus di dapur, soalnya gak pernah dibersihin.”
Meira dengan cepat kembali duduk di samping Alka dengan mata yang sedikit melebar. “Seriusan?” tanyanya yang disambut anggukan singkat Alka.
“Lo bisa geser ke ujung sofa?”
“Hah?” alis Meira terangkat mendengar kalimat Alka. Cewek itu menoleh sekilas pada ujung sofa lalu kembali menatap Alka.
“Buat apa?” tanyanya.
“Geseran aja.” Alka mengibaskan tangan yang kontan dituruti Meira setelah cewek itu mengeluarkan dengusan. Baru saja Meira sampai pada ujung sofa, kepala Alka sudah mendarat di pahanya. Si Ketua Geng itu menjadikan paha Meira sebagai bantalannya.
Mata Meira membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Kembali, Alka membuat ritme jantungnya tidak terkendali. Dengan berani, Meira menunduk menatap Alka yang kini sudah memejamkan mata dengan posisi tangan bersedekap.
“K-Kak, a-ku ….”
“Diem. Ini balasan karna udah ganggu tidur gue,” gumam Alka dengan mata yang masih terpejam.
Menetralkan ekspresi serta degupan jantungnya, Meira mendelik. “Jangan lama tidurnya, pegel entar gak ada yang pijetin,” serunya.
“Nanti gue kirim tukang pijit ke rumah lo.” Dengan mata yang masih memejam, Alka meraih salah satu tangan Meira lalu dia taruh ke kepalanya. “Elus, yah. Gak usak banyak omong,” tambahnya.
Meira mendesis pelan namun tetap menuruti Alka. Cewek itu dengan lembut mengelus surai hitam legam Alka. “Manja banget!” gerutunya.
“Biarin. Sekalian latihan buat nanti.”
“Latihan apa?”
“Nanti juga tau.”
.
.
.
CIE YANG SALAH NEBAK😂
SPAM KOMEN DAN VOTE BUAT SI KETUA GENG YANG LAGI MANJA MODE-ON!1!1!