![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Meira kembali sendiri di kelas walaupun Dita dan Bella terus saja membujuknya untuk ikut ke kantin beberapa menit yang lalu. Meira bukannya tidak ingin pergi bersama Bella dan Dita, melainkan mood-nya akhir-akhir tidak dapat dikondisikan.
Meira menghela nafas kecil lalu menidurkan kepalanya di meja. Sudah tiga hari berlalu dan Alka belum juga sadar dari kepulasannya. Pikiran Meira tiba-tiba jatuh pada tiga hari lalu saat berada di ruang inap Alka bersama Bagus dan Devan serta Aluna.
Saat itu, Meira memikik karena matanya tidak sengaja melihat jari telunjuk Alka bergerak. Bagus yang mendengarnya langsung berdiri lalu memanggil Dokter setelah mencerna pekikan Meira.
Devan dan Aluna mendekat lalu menepuk-nepuk lengan Alka dengan memanggil-manggil nama cowok itu. Meira, Bagus, Devan dan Aluna sudah sangat senang waktu itu karena mengira Alka akan sadar.
Tapi, ucapan Dokter yang mengatakan bahwa itu hanyalah gerakan refleks yang biasa terjadi pada pasien seperti Alka, membuat mereka menelan kekecewaan dan kesedihan.
Deringan dari ponsel Meira menyadarkan cewek itu dari pikirannya. Dia menegakkan badan lalu menggeser ikon hijau.
"Kenapa, Kak Devan?"
"Alka udah sadar."
####
"Gue keluar, yah, Al. Mau nyari makan." Tanpa menunggu respons dari Alka, Devan keluar dari pintu setelah sempat menepuk puncak kepala Meira yang berdiri di sana. Mungkin cowok dengan seragam sekolah yang baru saja keluar itu mengerti keadaan.
Meira melangkah masuk dibarengi dengan tatapan bingung Alka.
"Lo bolos?" tanya Alka, dahinya berkerut dalam.
Meira tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat lalu duduk di kursi putar bekas Devan dan menatap Alka. Matanya memerah, hingga membuat Alka menaikkan alis menatapnya.
"Lo nangis?" tanya Alka.
Meira menggeleng lalu menunduk. Dia tidak ingin Alka memarahinya karena bersikap cengeng lagi.
Melihat setetes air yang keluar dari mata Meira, Alka menghela nafas.
"Lo tau, kan, gue gak suka lo nangis."
Meira dengan cepat menyeka air matanya lalu mendongak menatap Alka.
"A-aku gak nangis!" sergah Meira. Namun, tetesan air itu tidak bisa berbohong saat beberapa bulir kembali membasahi pipinya.
Alka diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia tidak bisa memarahi Meira kali ini, entah kenapa. Mata yang menunjukkan raut khawatir padanya itu membuat hati Alka menghangat.
"Lo mau gak peluk gue?"
Meira yang tadinya kembali menunduk, sekarang kembali menatap Alka dengan terkejut. "K-kakak bi-bilang apa?"
Sungguh, Meira ingin berteriak jika saja keadaannya tidak seperti ini. Alka menawarkan diri untuk di peluk? Apakah cowok itu mengalami sedikit gangguan setelah operasi? Sepertinya tidak, karena ucapan Alka yang selanjutnya membuat dia lebih terkejut.
"Kata nyokab gue, perempuan kalau nangis biasanya suka dipeluk. Berhubung gue gak bisa meluk lo, jadi lo aja yang meluk gue." Alka mengatakannya dengan santai, seolah kalimatnya itu bukanlah hal yang berpengaruh pada Meira. Apalagi saat dia berbicara panjang lebar.
Meira belum bereaksi apapun selain diam. Dia masih mencerna setiap kalimat yang baru saja Alka lontarkan.
Alka tidak lagi melanjutkan ucapannya. Sebab, Meira sudah berhambur kepelukannya lalu menangis. Tangan Alka yang bebas infus bergerak untuk mengelus punggung cewek itu. Alka tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini benar atau salah, dia hanya menuruti apa yang dikatakan hatinya.
Lagi pula, beberapa hari lalu saat Meira pulang bersama Bima, Bagus sempat mengatakan sesuatu padanya.
"Coba buka hati lo buat Meira, Al. Jangan kaku sama dia, jangan dingin-dingin lagi kalau sebenarnya lo peduli. Gue yakin, hati lo gak bakal butuh waktu lama buat nerima Meira."
Itu yang Bagus katakan pada Alka di parkiran saat itu. Dan mungkin juga, perkataan Bagus ikut andil dalam tingkah Alka saat ini.
"Aku takut, Kak. Mei takut Kakak senasib sama Kak Gilang, hiks."
Senyum tipis Alka terulas. Baru sekarang ini, hatinya benar-benar berdesir dikhawatirkan oleh seseorang. Dan seseorang itu adalah cewek yang selalu dia abaikan keberadaannya.
"Aku gak mau kehilangan lagi, Kak."
Alka tidak membalas sedikitpun dari semua kalimat-kalimat cemas Meira yang lirih. Dia hanya terus mengelus punggung yang terlapisi seragam SMA itu.
"Kakak, kok, gak nyahut? Balas, kek, apa gitu."
Terdengar kekehan kecil dari Alka hingga sekarang benar-benar membuat Meira seraya berada di awan-awan. Meira tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi antara dia dan Alka, tapi tetap saja Meira bersyukur. Niatnya untuk menyerah telah dia buang jauh-jauh.
"Gue boleh elus rambut lo?" Meira mendongak menatap Alka dari bawah setelah mendengar pertanyaan dari cowok itu. Lagi-lagi dia meminta pendapat atau lebih tepatnya izin dari Meira.
Tersenyum senang, Meira mengangguk lalu kembali memeluk Alka. Tangan kanannya melilit perut cowok itu hati-hati agar luka bekas operasi Alka tidak terkena.
Tangan Alka perlahan berganti mengelus rambut Meira. Aroma Sakura Cherry Blossom yang menguar dari Meira membuat Alka sempat terpejam sebelum telinganya mendengar deru nafas teratur dari Meira.
Alka menurunkan pandangannya pada cewek itu, namun matanya hanya bisa menatap rambut hitam Meira. Senyum tipis kembali hadir. Alka bingung dengan bibirnya yang terus mengukir senyum, tidak seperti biasanya.
Sejenak, dia berpikir.
Apakah ini ada hubungannya dengan operasi yang dia jalani hingga organ tubuhnya bekerja di luar kendali?
Bahkan tangannya sejak tadi gatal untuk mengelus rambut hitam Meira hingga dia akhirnya meminta izin sang empu.
Persetan dengan itu, Alka nyaman dengan apa yang terjadi sekarang. Terlebih aroma Meira yang membuatnya ingin tertidur sekarang. Cowok itu akhirnya memilih menyudahi aktivitas mengelus rambut Meira lalu memindahkan tangannya ke punggung Meira.
Alka memeluk Meira dan tertidur.
Bersama.
.
.
.
SAYA SANGAT SANGAT MENGHARAPKAN VOTE DAN LIKE KALIAN!!!