[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 28



"Berapa kali sih, gue harus bilang sama lo?! Jangan deketin Alka lagi! Tapi ini apa? Lo malah dateng bareng ke sekolah!" Naila menyeringai sinis. Menatap dingin pada Meira yang di tahan oleh kedua antek-anteknya.


"A-aku... Aku ga-gak.... Sshhh."


Meira yang hendak angkat suara pun akhirnya meringis saat Naila mencengkeram erat dagunya.


"Gak ada yang nyuruh lo buat bicara! Lo dengerin aja apa yang gue bilang! Paham lo?!" sentak Naila. Dia menatap penuh amarah pada Meira yang sudah menangis.


Meira mengangguk pasrah. Kedua lengannya sudah sangat sakit akibat cengkeraman kedua antek-antek Naila.


"Gue udah pernah bilang ke lo kan, buat jauhin Alka?" desis Naila. Dia beralih melipat tangan didada.


Meira mengangguk dalam tunduknya. Berusaha menyembunyikan airmata yang tak ingin berhenti mengalir.


"TERUS KENAPA LO MASIH DEKETIN DIA, HAH?!"


Emosi Naila sudah membuncah. Dia begitu muak melihat tampang polos Meira yang sangat menjijikkan menurutnya.


Dia kembali mencengkeram dagu Meira. Memaksa wajah cewek itu untuk terangkat menatapnya.


"Lo siapa, sih, sebenarnya? Sejak awal masuk sekolah lo udah dianterin sama Alka. Berikutnya lo deket sama Bagus dan Devan. Dan sekarang semua anak The Lion tau siapa lo." Naila menarik kembali tangannya. Menatap penuh selidik pada Meira.


"Siapa lo? Apa hubungan lo sama The Lion, heh?"


Meira tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan terisak. Demi apapun rahangnya sakit ketika hendak membuka suara.


Plak!


Satu tamparan dari Naila menggema di dalam toilet wanita yang telah mereka kosongkan. Kedua antek-antek Naila hanya tersenyum miring dan tertawa kemenangan saat melihat pipi Meira memerah.


Naila sendiri sudah naik pitam. Matanya menajam menatap Meira yang terisak.


"Cewek sok polos yang langsung tenar karna kenal dengan The Lion. Bahkan deket sama ketuanya." Naila menyeringai mengejek. "Gue penasaran siapa lo sebenarnya. Dan liat aja, gue pasti bakal tau siapa lo dan apa hubungan lo dengan The Lion. Tunggu aja!" lanjutnya dengan nada dingin.


Naila menghembuskan nafas malas lalu merapikan seragamnya. "Urus dia!" perintahnya pada kedua antek-anteknya.


"Siap!" seru salah satu dari dua cewek itu.


Mereka—Jessy dan Sandra—membully Meira habis-habisan. Rambut Meira sudah lepek akibat air yang di siramkan kekepalanya tanpa rasa iba. Tanktop hitamnya terlihat kontras akibat seragamnya yang sudah basah kuyup.


Melihat itu Naila tersenyum penuh kemenangan lalu berjongkok di hadapan Meira yang sudah lemas bersandar pada tembok. Naila menarik rambut Meira dengan keras kebekalang hingga Meira mendongak.


"Lo bebas deket sama siapa aja di skolah ini. Tapi jangan coba-coba lo deketin Alka. Alka itu milik gue!" Naila menyentak rambut Meira dengan kasar hingga kepala Meira membentur tembok.


Naila berdecih lalu keluar dari toilet bersama Jessy dan Sandra meninggalkan Meira yang sudah pingsan.


"Ck, ck, ck. Salut urang, mah, sama Neng."


Suara itu menghentikan langkah Naila dengan kedua antek-anteknya. Mereka menoleh bersamaan pada seorang cowok yang bersandar di samping pintu dengan kedua tangan tenggelam dalam saku.


"Ngapain lo di toilet cewek?!" sentak Naila. Matanya menilai penampilan cowok yang ada di hadapannya.


Kedua kaki bajunya dikeluarkan dan seragamnya yang tidak di kancing hingga memperlihatkan kaos hitam polosnya. Sebuah kalung hitam dengan permata kepala singa terlihat menonjol di leher putih cowok itu.


"Neng teh, gak kenal sama saya?"


Naila memutar matanya malas. Jessy dan Sandra sudah tidak berkedip saat melihat cowok tampan berwajah beby face itu.


"Buat apa kenal sama lo. Mending lo pergi dari sini sebelum gue lapor kalau lo masuk ke toilet cewek!" ancam Naila. Dia menatap nyalang pada cowok itu. Mata Naila sejak tadi bergerak gelisah menatap pintu toilet.


"Laporin, aja. Neng kira saya takut?" Cowok itu—Dimas—terkekeh mengejek. "Yang ada Neng, teh, yang saya laporkan."


Dimas berjalan mendekat pada Naila. "Pembully-an, heh?" seringai kecil terulas di bibir Dimas.


Naila menggeram marah mendengar bisikan mengejek Dimas. "LO?!" Jari telunjuknya teracung menunjuk wajah Dimas. "Gak usah ikut campur sama urusan gue, bocah!" lanjutnya membentak.


Setelah itu Naila pergi bersama Jessy dan Sandra yang sempat tersenyum manis pada Dimas.


Dimas berdecak malas lalu menggeleng kepala. "Bocah, bocah. Dimas mah, udah gede gini masih di katain bocah!"


***


"Neng geulis teh, baik-baik aja, kan?" tanya Dimas.


Setelah menggendong Meira dari toliet, dia membawa cewek itu ke UKS. Tak perduli dengan tatapan orang-orang dan lontaran-lontaran yang mengudara.


Meira mengangguk pelan. Mengeratkan seragam putih Dimas yang sudah melekat di badannya.


"Makasih, yah. Kalau gak ada kamu aku gak tau mau gimana keluar dari toilet." Meira memberikan seulas senyum tipisnya.


Dimas ikut tersenyum. "Sudah tugas saya buat menjaga Neng geulis," ujarnya.


Alis Meira terangkat. "Maksudnya?"


"Saya teh, Dimas. Anggota The Lion yang di suruh Bang Alka nyari adeknya Bang Gilang di Bandung," jawab Dimas. "Neng adeknya Bang Gilang, kan?" lanjut Dimas. Menatap Meira yang mengangguk.


"Aku Meira. Kelas----"


"Kenapa lagi lo?" orang yang baru saja masuk itu memotong ucapan Meira. Wajah yang terlihat dingin seperti biasa menatap tajam pada Meira.


"Maaf." Meira menunduk. Dia takut melihat mata tajam Alka.


"Sabar atuh, Bang Al. Neng geulis teh, masih sakit. Kasian kalau Abang marahin," celetuk Dimas. Dia berdiri dari kursi lalu keluar dari Uks setelah menepuk bahu Alka sekali.


Alka hanya menghela nafas pelan. "Pulang," serunya.


Meira mengangguk pelan lalu turun dari brankar UKS. Duduk di kursi yang tadi di tempati Dimas lalu mulai memakai sepatu Converse-nya dengan gerakan lambat akibat lengannya yang masih sakit.


Meira menghembuskan nafas yang sesak didadanya. Matanya mulai memanas akibat lengannya yang sangat perih dan sentakan Alka.


Tanpa sadar setetes airmatanya jatuh membasahi lantai. Dia dengan cepat menyekanya lalu menunduk lebih dalam agar Alka tidak menyadarinya. Tangannya dipaksakan bergerak cepat hingga ringisan pelan lolos dari bibirnya.


Alka memperhatikan Meira dalam diam. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku. Airmata Meira yang sempat lolos sedikit membuatnya merasa bersalah.


Alka perlahan berjalan mendekat pada Meira. Berlutut di hadapan Meira yang duduk di kursi lalu mulai mengikatkan tali sepatu cewek itu.


"K-Kak, aku bi---"


"Diem." Alka tetap dengan kegiatannya. Dia mengikat tali sepatu di kaki kanan Meira dengan baik begitupun dengan sepatu sebelah kiri.


Setelah selesai Alka berdiri. "Gue tunggu di parkiran," ucapanya singkat. Keluar dari UKS meninggalkan Meira yang diam-diam tersenyum.


***


"Kakak gak mau makan?"


Alka menggeleng singkat. Dia lebih memilih fokus pada ponselnya. Perutnya sudah terisi di kantin belakang sekolah tadi.


"Kenapa? Diet, yah?"


Alka berdecak pelan. "Kenyang."


Meira bergumam pelan lalu melanjutkan makannya.


Keduanya kini berada di sebuah warung pinggir jalan yang tak jauh dari sekolah. Warung makan yang menjadi favorit anak sekolahan ketika pulang sekolah.


Meira mengunyah nasi gorengnya dengan pelan sesekali menatap Alka yang tampak begitu serius dengan ponsel.


"Kak Alka suka nge-game, yah?" tanya Meira lagi. Suasana akward antara dia dan Alka cukup membuatnya tidak nyaman.


"Hm." Alka hanya bergumam pelan. Cukup malas untuk menyahuti pertanyaan Meira yang tidak penting.


"Kalau sama Mei, suka gak?"


Tanpa ragu sedikit pun Alka langsung menggeleng.


"Ish! Bisa gak sih, Kak Alka itu nyenengin Meira dikit?"


Alka kembali menggeleng hingga membuat Meira benar-benar gemas dengan cowok itu.


Meira meneguk air mineralnya tiga kali lalu melipat tangan di atas meja sembari menatap Alka yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Selain makan, fungsi mulut itu juga buat berbicara. Buat mengeluarkan kata-kata. Bukan cuma diem. Selain natap hp, fungsi mata itu juga buat natap lawan bicara." Meira berhenti sejenak lalu memukul pelan pada meja. "Nah, sekarang Kak Alka liat Mei, dong. Masa game lebih menarik daripada Mei yang imut ini!"


Alka menatap sekilas pada Meira lalu kembali menatap ponselnya. Benar-benar tidak peduli dengan ucapan panjang kali lebar dari Meira.


Saat Meira hendak berbicara, Alka lebih dulu berdiri ke sudut warung saat ponsel cowok itu berdering. Mata Meira tetap menatap Alka. Di teguknya air mineral yang tersedia lalu membersihkan mulutnya dengan tissue. Setelah itu Meira kembali melipat tangan dengan pandangan tak lepas dari Alka.


Ekspresi datar dan terkejut tak luput dari penglihatan Meira.


Saat Alka berbalik, Meira buru-buru memalingkan wajahnya, lalu mulai bersikap biasa-biasa saja.


Mata Meira membulat sempurna saat Alka menyambar jaket dan kunci motor lalu pergi begitu saja dengan wajah yang tak terbaca.


Dengan cepat Meira memakai tas sekolahnya lalu menyimpan uang biru di atas meja. Namun belum banyak Meira melangkah, Alka kembali datang dan langsung menariknya ke parkiran.


"Kak, ada apa, sih? Kok, Kakak panik gitu?" tanya Meira. Langkahnya sempoyongan untuk menyamai langkah lebar Alka.


Alka melepas tangannya dari tangan Meira saat sampai di parkiran. Dia menatap cukup lama pada Meira sebelum akhirnya kalimat yang mampu menggetarkan hati Meira terucap dari bibir Alka.


"Nyokap gue bakal operasi pengangkatan rahim."


***


Suara deruman kendaraan yang berlalu lalang mengiri Alka dan Meira yang berada di atas motor yang sama.


Tangan Meira dengan erat mencengkeram jaket Alka. Rambutnya yang di gerai beterbangan tanpa arah akibat angin malam.


Keduanya sama-sama bungkam dengan pikiran yang berkelana.


Saat di pertengahan jalan, Meira merasakan keganjalan. Dia merasa seperti sedang di ikuti. Untuk memastikan, Meira menoleh kebelakang.


Dan benar saja, di belakang mereka ada sekitar lima motor yang sama dengan Alka sedang mengikutinya. Mata Meira membulat, otaknya mulai berpikir negatif.


Dia menepuk bahu Alka berkali-kali. "Kak, cepet! Ada yang ikutin kita!" teriak Meira.


Mendengar teriakan nyaring itu Alka melirik spion. Benar, ada yang sedang mengikuti mereka. Diam-diam Alka mengumpat kesal.


"Pegangan yang kuat!" teriaknya pada Meira.


Dengan cepat, Meira melingkarkan kedua tangannya pada perut Alka. Memejamkan erat-erat matanya saat di rasa motor Alka melaju kencang menyalip pengendara lain.


Kepala Meira sesekali menoleh kebelakang. Dan saat itu juga, perasaan takut mulai menyergap hati Meira. Kelima orang itu semakin melajukan motornya seiring dengan bertambahnya laju motor Alka.


"Kak, cepet! Mereka makin deket!"


Alka mengeraskan rahang lalu menambah laju motornya. Di balik helm fullface yang dia gunakan, Alka menajamkan matanya pada kegelapan malam yang hanya di sinari lampu-lampu kendaraan.


Salah satu dari lima pemilik motor itu melambung Alka lalu mengambil posisi melintang tak jauh di hadapan Alka.


Mata Alka membulat saat baru menyadarinya. Laju motornya yang sudah di atas rata-rata menyulitkannya untuk berhenti tiba-tiba.


CIIITTT!!