![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Petra turun dari kursi bar lalu menghampiri Samuel yang sudah dikerumuni wanita-wanita penghibur berpakaian kurang bahan dengan warna mencolok.
"Hai, Petra." cewek dengan dress merah menyalah setengah paha serta kerah berbentuk V yang memperlihatkan belahannya, mengalungkan lengan ke leher Petra.
Petra menyeringai kecil lalu bermain sebentar dengan cewek itu. Setelah cewek tersebut pergi atas usiran halusnya, dia beralih duduk di samping Samuel yang sudah sendirian.
"Gimana?" tanya Samuel. Cowok itu menaruh gelas kecil yang baru saja menyentuh bibirnya ke meja.
"Alka sama kacungnya jagain tuh rumah. Bahkan sampai sekarang mereka masih jaga."
Samuel menatap jam sport di pergelangan kirinya. 01:25, dia berdecak. "Tuh, anak emang slalu aja ngehalangin gue!" geram Samuel. Mata cowok itu menajam dengan gigi gemerlutuk.
"Lo suruh anggota Srigala yang kesana buat balik. Gue tau gimana Alka," titah Samuel.
Petra mengangguk lalu mengetikkan pesan pada anggota Srigala suruhannya. Setelah itu dia kembali menatap Samuel yang terlihat menahan kesal.
"Lo udah tau siapa cewek itu, Sam?" tanya Petra. Dia menyimpan ponselnya ke saku jeans lalu mengangkat tangan memanggil bartender.
"Gak. Gak penting juga," sahut Samuel. Dia kembali meneguk wine-nya.
"Dua botol wine," ucap Petra saat bartender yang dia panggil datang lalu pergi setelah mendengar pesanan Petra.
"Yakin gak mau tau?" Petra mengangkat alis menantang Samuel. Ditambah dengan senyum miring penuh teka-tekinya.
Melirik Petra sekilas, Samuel menghisap vape-nya lalu dihembuskan dengan asap berpola lingkaran.
"Nyesel lo, Sam, gak mau tau tuh cewek." Petra masih ingin membuat Samuel penasaran. Matanya menyorot pada Samuel yang bersandar di sofa dengan kaki terangkat satu.
Tidak lupa pula kepulan asap vape berbagai pola keluar dari bibir dan hidung cowok berkaos hitam dengan tulisan itu.
"Gak tertarik," sahut Samuel, datar.
Petra terkekeh lalu menggelengkan kepala. "Setelah gue nunjukin lo fotonya, yakin masih gak tertarik?"
Samuel menghembuskan asap terakhir vape-nya lalu berdecak. "Lo kayaknya pengen banget gue tau siapa cewek itu. Emang dia siapa, sih?" Samuel pada akhirnya menyerah. Dia cukup tahu sifat Petra yang keukeuh.
Petra menyeringai lalu mengambil ponsel dalam saku. Dia membuka room chat dari salah satu anggota Srigala yang pernah mengirim foto Meira kepadanya.
Setelah menemukannya, Petra mensejajarkan ponselnya dengan wajah Samuel. "Nih, Meira Annastasia."
Petra memperlebar seringainya ketika menangkap raut wajah tegang Samuel saat melihat foto Meira.
####
Setelah jam olahraga yang cukup menyita tenaga. Sebagian siswa XII IPS 4—kelas The Lion—memilih beristirahat di kantin, dan ada pula yang memilih mushalla untuk menyejukkan diri.
Berbeda dengan mereka, The Lion malah duduk di ujung lapangan tepat di samping tiang ring basket.
"Woi! Kagak ada yang mau nemenin gue main, nih?" teriakan Bagus mengundang decakan dan dengusan malas inti The Lion lain.
Bisa mereka lihat, Bagus memutar mata malas lalu men-drible bola orange-nya dan bermain sendiri. Cowok dengan rambut gondrong terikat serta baju olahraga berwarna biru tua paduan hitam itu memang gila akan permainan basket.
Alka memilih menyandarkan punggungnya pada tiang ring basket agar tubuhnya tidak terlalu terpapar matahari yang terik. Cowok itu memejamkan mata, dia benar-benar mengantuk karena terjaga di rumah Meira hingga pukul tiga dinihari walaupun teman-temannya sudah tertidur.
Arnold, Tian dan Adnan menselonjorkan kaki dengan kedua tangan menumpuh kebelakang. Malik, Ezra dan Devan memilih menidurkan dirinya di bawah bayangan pohon. Tidak peduli seragam olahraga mereka yang akan kotor.
Beberapa menit memejamkan mata, mata Alka tiba-tiba terbuka saat mendengar pekikan seseorang. Malik, Ezra dan Devan sontak bangun. Tian, Adnan dan Arnold menampilkan wajah terkejut.
Di depan sana, ada seorang cewek pingsan di depan Bagus yang saat ini menepuk-nepuk pipi cewek itu. Bisa dipastikan, bahwa cewek tersebut adalah korban pendaratan bola basket Bagus yang sudah menggelinding ke sembarang arah.
Saat samar-samar Alka melihat wajah cewek itu, dengan cepat dia berlari lalu menggeser Bagus yang kini sudah terkejut melihat tingkah Alka. Belum lagi saat Alka menggendong cewek tersebut ala brydal ke UKS tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
The Lion yang lain pun sama dengan respons yang diberikan Bagus. Dan lebih terkejut lagi saat suara seseorang terdengar dari arah belakang mereka.
"O'ow...."
Mereka kontan menoleh, begitupun Bagus yang menghampiri mereka.
"Meira?" seru mereka, bersamaan.
"Lo-lo sejak kapan disini?" tanya Devan, gugup. Dia menatap punggung Alka yang semakin jauh dengan Bianca dalam gendongannya.
Yah, cewek itu Bianca.
Meira tersenyum kikuk. "Tadi Mei mau nyamperin Kak Alka ngasih ini." Meira memperlihatkan sebotol air mineral kepada mereka. "Tapi yaudah, deh. Gak jadi. Jadi ini buat Kak Devan aja," sambungnya dengan memberikan botol berisi air itu pada Devan.
The Lion yang lain kecuali Adnan pamit undur diri, mereka tahu bahwa Devan bisa mengatasi hal seperti ini.
Devan merimanya dengan ragu. "Lo gak cemburu, Mei?" celetuk Adnan.
Menatap Adnan, Meira tersenyum. "Aku gak punya hak buat cemburu, Kak Adnan. Lagian juga gak ada yang perlu dicemburuin. Bukannya menolong sesama manusia itu baik?"
Walaupun tidak yakin dengan jawaban cewek itu, Adnan tetap saja mengangguk. Berbeda dengan Devan yang menatap sendu pada Meira. Dia tahu dengan hati cewek yang sudah dia anggap adik itu sedang dipenuhi pertanyaan.
"Yah, udah. Mei ke kantin, yah. Laper." tanpa menunggu balasan Devan dan Adnan, dia pergi meninggalkan lapangan.
"Tadinya aku pengen kagetin kamu. Tapi nyatanya, malah aku yang kaget," batin Meira. Cewek itu tersenyum simpul dengan wajah sedikit menunduk.
🦁
🦁
🦁
110 MENUJU PART BERIKUTNYA!!
SELAMAT MENEBAK-NEBAK!!!