![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
“Heh! Lo mending pulang, deh. Mau lo ngebusuk di sini juga Alka gak bakal peduliin lo.”
Kalimat pedas itu baru saja meluncur dari mulut Arnold pada cewek berseragam dengan rambut coklat terkuncir yang duduk di kursi putar sisi brankar Alka.
Bianca.
Cewek itu menatap Arnold tidak suka. Di antara semua teman-teman Alka yang hadir saat ini, hanya cowok berkaos putih itu yang terus melontarkan kalimat usiran padanya. Sedangkan yang lain hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Kecuali Devan, karena cowok itu tidak hadir menjenguk Alka hari ini. Yang Bianca tahu, cowok itu sedang mengantar pacarnya ke bandara saat ini.
“Kamu, kok, sibuk banget, sih? Liat, teman-teman kamu aja gak peduli.”
Arnold berdecih mendengar gaya bicara Bianca. Jujur, seumur-umur Arnold menjadi teman Alka, baru kali ini cowok itu berbicara dengan Bianca. Bahkan saat Alka masih menjadi pacar Bianca sekalipun.
“Temen-temen gue bukannya gak peduli. Mereka cuma muak liat medusa kayak lo. Jadi mending sekarang lo pergi dari sini dengan cara baik-baik, atau gue tendang.”
Itu memang gaya bicara Arnold. Dia tidak pernah peduli dengan perasaan lawan bicaranya. Yah, terkecuali The Lion tentunya.
“Bener banget Bang Arnold! Dimas juga, teh, muak liat cewek macam dia lama-lama di sini. Bikin jelek pemandangan.” Celetukan Dimas yang bermain game di belakang sofa mengundang tawa untuk mereka dan renggutan kesal dari Bianca.
Alka? Cowok itu sejak tadi diam dengan ponselnya. Cukup malas menyahuti ataupun melirik Bianca.
Bianca membuang pandangan dari mereka dan lebih memilih menatap Alka.
“Al, kamu gak mau ngomong sama aku? Atau mungkin natap aku sedikit aja?” tanya Bianca. Wajahnya memelas pada Alka hingga Arnold benar-benar muak. Arnold tidak suka dengan ekspresi cewek yang memelas. Karena menurutnya, itu hanyalah tipuan kaum betina.
Alka menyimpan ponselnya di tepi kasur lalu menatap Bianca. Cewek itu kontan menunjukkan raut wajah senang saat Alka menatapnya.
“Pergi dengan cara baik-baik, atau pergi dengan kaki Arnold yang nendang lo keluar dari sini?” seru Alka. Nadanya dingin hingga membuat hati Bianca benar-benar teriris. Dulu, sekalipun Alka tidak pernah berbicara dengan nada seperti ini padanya.
“Kamu benar-benar udah benci sama aku, Al? Gak mau kasih aku kesempatan buat yang kedua kalinya?” lirih Bianca. Matanya berkaca-kaca menahan airmata yang terus mendorong ingin dikeluarkan.
Alka masih menatap Bianca. Tidak sedetikpun mengalihkan tatapannya dari iris biru laut yang berkaca-kaca itu. Alka ingin memastikan sesuatu dari mata tersebut.
“Pilihan ada di tangan lo, Bi,” kata Alka.
“Fine!” Bianca menyentak kursi putar yang dia duduki lalu keluar dari ruangan setelah sempat melempar tatapan tajam pada Arnold yang tersenyum kemenangan.
Hari senin ini, Alka kembali bersekolah setelah Hadi—yang baru saja pulang dari perjalanan bisnis di Hongkong—mengurus kepulangannya dengan cepat karena Alka muak berlama-lama di rumah sakit.
Cowok dengan kaki baju yang dikeluarkan serta dasi yang tidak terpasang benar itu menghentikan langkahnya di ujung tangga lantai dua. Telinganya menajam saat mendengar suara tidak asing baginya.
“Aku gak mau ikut upacara, Ta. Alasan sakit aja, yah. Aku lupa bawa dasi.” Itu suara Meira, dan Alka tahu. Terlebih saat cewek itu lewat di depannya bersama Dita—yang menarik tangannya—tanpa menyadari keberadaan Alka.
Cowok dengan tangan kanan yang tenggelam dalam saku itu menatap dasinya dan Meira secara bergantian. Cukup lama, hingga senyum tipis kembali terbit. Dia kembali melangkah menuju tangga untuk mencapai lantai satu, berlari kecil mengejar Meira dan Dita yang sudah hampir memasuki area lapangan yang sudah dipenuhi dengan siswa-siswi untuk berbaris.
“Meira!”
Langkah Meira dan Dita berhenti tepat setelah suara berat khas itu meneriaki nama Meira. Kaki Meira terpaku di atas tempatnya berpijak dengan jantung yang sudah menggila. Demi Upin dan Ipin yang tidak pernah lulus TK, Meira benar-benar belum siap bertemu dengan pemilik suara itu.
“Gue duluan, yah, Mei.” suara dan langkah Dita yang bergabung ke barisan kelasnya menyadarkan Meira. Dia ingin menyusul Dita namun tarikan di tangannya lebih dulu menguasai tubuhnya hingga Meira tidak bisa bergerak.
Alka maju ke hadapan Meira. “Kenapa lo malah mau pergi?” tanya Alka dengan alis terngkat.
Meira gelabakan. Matanya bergerak gelisah untuk menghindari kontak mata dengan Alka. Kedua tangannya saling meremas gugup di depan rok abunya.
“Gue paling gak suka ngomong, terus gak diliatin.”
“Hah? Eh, a-anu… a-ku….” Meira menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat ini.
“Lo kenapa?” tanya Alka. Suaranya rendah hingga hampir menyerupai bisikan.
"Gakpapa."
"Oh, nih dasi gue buat lo. Pinjem."
.
.
.