[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 66



3 Bulan Kemudian


Di kelas XII IPS 4 anggota inti The Lion berada dengan masing-masing monitor di depan mereka. Dalam ujian, pasti ada saja suatu kejadian menyebalkan.


Sama seperti ini, Devan, Bagus, Adnan, Tian, Malik, Arnold dan Ezra sudah sejak tadi mengumpati pengawas ujian dikarenakan memindahkan Alka ke barisan paling depan. Tepat di depan meja pengawas.


“Sial! Ngapain juga si Alka dipindahin? Tuh, guru kayaknya suka banget liat kita sengsara,” gerutu Tian seraya mengetuk-etukkan pulpen ke atas kertas ujiannya. Cowok yang berseragam rapi itu belum mengisi satu pun jawaban di kertasnya.


Berseragam rapi dan beratribut lengkap adalah bukan ciri khas anak The Lion sekali. Namun, karena ujian nasional akan berlangsung selama tiga hari ke depan, maka dengan amat sangat terpaksa mereka keluar dari zona nyaman.


“Tau, tuh! Liat aja nanti kalau gue jadi guru terus ngajarin anaknya, gue kasih soal yang paling susah buat anaknya!” timpal Adnan dengan menatap tajam pada guru pengawas gendut di depan sana.


“Emang lo mau jadi guru, Nan?” tanya Devan di samping Bagus yang menggaruk rambutnya yang sudah pendek. Lagi, Bagus harus dua kali keluar dari zona nyaman, butuh waktu berminggu-minggu untuk dia berpikir mengenai pemotongan rambutnya.


Adnan menunjukkan cengiran. “Kagak, lah. Gue mau jadi TNI biar bisa lindungin Negara gue yang tercinta ini.”


“Ini soal apa cewek, sih. Susah banget dipahaminnya, anjirr!” mereka terkekeh menanggapi Ezra. “Nih, kayaknya si pembuat soal gak bismillah dulu pas buatnya, nih,” imbuh Bagus.


“Hitung kancing baju aja. Daripada ngomel terus gak selesai-selesai, nih!” mereka mendengusi ucapan Arnold. Di samping Arnold ada Malik yang sudah berkali-kali menguap. Salah sendiri dia bermain Play Station hingga larut malam bersama papanya.


“Ngantuk bat gue, njirr. Malah semalam kalah lagi sama bokap!” Ezra yang kebetulan didekat Malik menoyor kepala cowok itu. “Bukannya belajar malah main lo, nyet!”


“Kayak lo belajar aja, Ja,” balas Malik yang membuat Ezra cengengesan.


“KALIAN KENAPA RIBUT-RIBUT?! MAU SAYA KELUARIN, HAH?!”


Mendengar bentakan yang ditujukan untuk mereka itu, semuanya langsung ciut dengan berpura-pura mengerjakan soal. Alka yang sempat menoleh hanya terkekeh dalam hati melihat raut putus asa teman-temannya.


Sementara itu, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Meira dan Dita hanya bisa duduk diam di kursi Cafe menatap Bella yang duduk menunduk di depan mereka. Tidak ada angin tidak ada hujan Bella tiba-tiba saja mengajak mereka untuk bertemu di Cafe.


Untung saja tiga hari ke depan kelas 10 dan 11 diliburkan karena ujian nasional kelas 12.


“Lo mau ngomong apa, Bel? Udah lima belas menit kita di sini cuma diem,” ucap Dita membuka suara.


Bella. Cewek ber-jeans putih dengan atasan baju rajut pink soft itu mengangkat pandangan menatap Dita dan Meira yang menunggunya. “Gu-gue mau minta maaf. Maaf karna gue udah diemin kalian cuma karna gue yang egois gak mau dengerin penjelasan kalian.” Bella kembali tertunduk.


Meira. Cewek berdress peach dengan bandana hitam itu tersenyum lalu mengelus lengan Bella. “Bella gak salah, kok. Mei juga kalau di posisi Bella pasti bakal ngelakuin itu,” ujarnya yang disambut gelengan oleh Bella.


“Gak, Mei. Gue emang salah. Harusnya gue sadar kalau Kak Bima emang gak suka sama gue dan perasaan gak bisa dipaksa. Kak Bima sukanya sama lo doang.”


Meira dan Dita saling pandang untuk beberapa saat sebelum menghela napas. “Rasa suka sama lawan jenis itu wajar, Bel. Kita juga gak bisa paksain diri kita buat suka sama siapa, kan? Lo gak salah, begitupun Meira.” Dita ikut menimpali.


Senyum terulas di bibir Bella ketika memandang Meira dan Dita. Betapa bodohnya dia dulu karena telah berburuk sangka pada sahabatnya yang begitu baik padanya.


“Gue sekarang nyerah, Mei, Ta. Akhir-akhir ini gue sering nyoba buat deketin Kak Bima, tapi respons-nya gak pernah berubah. Bahkan kemarin pas gue jujur tentang perasaan gue ke dia, dia bilang gak bisa. Dia nyuruh gue buat buang perasaan gue jauh-jauh.”


Mata memerah dan suara yang bergetar cukup menjadi bukti bahwa Bella benar-benar terluka akan penolakan Bima. “Sabar, yah, Bel. Mei yakin kok kalau suatu saat nanti bakal ada cowok yang benar-benar tulus sama Bella.”


Bella tersenyum haru lalu berdiri dari dudukannya untuk memeluk Meira kemudian disusul pelukan dari Dita hingga ketiganya berpelukan. “Jangan marah-marah lagi yah, Bel. Kita kangen sama Bella yang cerewet,” ujar Meira.


####


“Sialan! Kalau gue tau lo bakal dipindahin ke depan, gue lebih baik belajar aja semalem!” tukas Devan mendaratkan bokongnya pada kursi tanpa penyanggah di dekat Alka begitupun dengan yang lain.


“Hooh. Semalem juga emak gue udah ngomel-ngomel nyuruh gue buat belajar tapi gue malah milih main catur sama Satpam gue. Anjirr emang godaan setan, manjur!” timpal Ezra yang baru saja datang dengan semangkuk mie siram. Cowok yang sudah tidak memakai seragam putih hingga menyisakan kaos hitam itu duduk di sebelah Devan.


“Itu namanya lo kena karma gak turutin apa kata emak, lo!” celetuk Arnold yang tengah meminum sebuah minuman bersoda.


Kali ini, setelah menyelesaikan ujian nasioan hari pertama, mereka memilih untuk tinggal beberapa jam dulu di warung belakang sekolah daripada pulang dan berhadapan dengan buku-buku. Meja panjang menjadi tempat mereka untuk berkumpul saat ini.


“Gue heran deh sama lo, Al. IQ lo berapa sih sampai gak belajar aja lo pinter?” tanya Tian dengan wajah putus asanya.


“Gue belajar semalem,” jawab Alka sekenanya. Dia tidak bohong, sebab semalam cowok yang telah dikeluarkan seragamnya itu mati-matian melawan keinginannya untuk bertemu pacarnya hanya untuk belajar semalaman.


“Gak percaya gue. Lo jarang gue liat belajar,” ujar Adnan di sebelah Tian yang entah sejak kapan memangku gitar kesayangannya.


“Gue gak butuh lo percaya.” Jawaban Alka membuat mereka menertawakan Adnan yang kini sudah misuh-misuh.


“Eh, eh, Mei tuh, Al.” Alka kontan menolehkan kepalanya pada pintu lain yang bisa menembus warung belakang sekolah tanpa harus masuk ke dalam sekolah terlebih dahulu.


Di sana ada Meira, Gilang dan Dimas yang datang bersamaan. Di tangan kanan Gilang ada sebuah kantung kresek putih dengan logo sebuah supermarket yang mereka yakini adalah makanan.


“Nah, gini, nih, temen yang patut dilestarikan. Tau aja kita butuh asupan!” ujar Malik dengan heboh ketika kantung kresek itu Gilang taruh di tengah-tengah.


Gilang terkekeh kemudian mengambil kursi untuk duduk di paling ujung. “Kasian sekali kalian ini,” ucapnya melebih-lebihkan.


Alka tidak menimpali mereka. Fokusnya hanya pada cewek yang baru saja duduk di samping Gilang. Dimas sudah ikut berebutan dengan yang lain.


“Eh, Dim setan! Gue yang duluan ngambil nih cemilan! Cari yang lain sono!” ujar Ezra merebut sebuah cemilan ubi berukuran besar dari Dimas.


“Enak aja! Gak ada yah istilah muda atau tua, gue duluan pokoknya! Sini!” Dimas sontak berlari menghindar saat Ezra hendak merebut lagi. Alhasil, kedua cowok berbeda umur itu berkejaran dengan mulut yang saling beradu.


“Dasar bocah!” cibir Bagus yang lebih memilih minuman kaleng.


Mereka tidak memperdulikan Ezra dan Dimas, semuanya sibuk menghabiskan makanan yang dibawah Gilang begitupun si pembawa yang ikut menikmati.


“Kenapa ke sini?” tanya  Alka yang mendekatkan kursinya pada Meira.


“Kenapa? Emang gak boleh, yah?”


Alka diam untuk beberapa saat sebelum menarik pelan tangan Meira untuk menjauhi teman-temannya yang rusuh. Meja bundar dengan dua kursi kayu yang tidak jauh dari ayunan jaring menjadi tujuan Alka membawa Meira ke sana.


“Kok, kita ke sini?” tanya Meira setelah mendaratkan dirinya pada kursi.


“Mereka rusuh,” jawab Alka seraya memindahkan kursi ke samping Meira lalu duduk di sana. Kemudian, mata hitamnya menatap dalam pada Meira yang tampak cantik saat ini. Ah, bukan. Bukan cuma saat ini karena pacarnya ini memang selalu cantik kapan saja.


“Kenapa liatin aku kayak gitu? Kangen, yah?” tuding Meira dengan memicingkan mata menatap Alka.


Tangan kanan Alka terangkat mengelus pipi mulus cewek berkaos rajut putih dengan jepitan hitam di rambutnya yang tergerai. “Iya,” jawabnya singkat namun berpengaruh besar pada kinerja jantung Meira yang tiba-tiba berdetak hebat.


Meira terkekeh sebagai pengalihan dari kegugupannya. Sorot mata Alka yang teduh membuat dia enggan menatap mata hitam itu. Bukannya tidak suka, hanya saja Meira lemah jika menatap mata itu berlama-lama, apalagi saat tangan Alka bergerak menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


Meira meneguk ludah susah payah. Sudah berbulan-bulan dia berpacaran dengan Alka namun respons tubuhnya masih sama.


“Udah dua hari gak ketemu,” ujar Alka. Memang, dua hari terakhir ini mereka tidak bertemu dikarenakan Alka yang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian nasional.


Terkekeh, Meira menatap cowok itu. “Kasiaaannn …,” ejeknya dengan wajah yang ditekuk membuat Alka ikut terkekeh.


“Lo gak kangen sama gue?”


“Gak, tuh.”


“Masa?” Meira mengangguk mantap kemudian tertawa saat Alka menatapnya datar. Tanpa aba-aba, cewek itu memeluk Alka dengan erat.


“Kangen tauuu …,” ucapnya dengan nada hampir merengek.


“Katanya, enggak.” Tangan Alka beralih mengelus rambut pacarnya dengan lembut.


“Cewek itu kalau bilang enggak berarti iya. Kalau bilang iya berarti enggak.”


“Ribet!”


Meira mendongak menatap Alka dari bawah dengan tajam. “Bukan ribet. Cowok aja yang gak peka. Apalagi cowok macam Kakak yang tingkat kepekaannya bikin miris banget.”


“Oh, yah?” tanyanya kemudian mendaratkan kecupan di kening Meira hingga cewek itu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Alka. “Ih, malu tau! Kalau diliat sama Kak Gilang dan yang lain gimana?” gumam Meira.


“Biarin. Biar Kakak lo panas buat punya cewek.”


“PACARAN TEROSS!! INGAT YANG JOMBLO, WOY!!” teriak Gilang disusul kehebohan yang lain.


“Ah, kayaknya gue harus suruh Aluna ke sini, deh. Panas gue liat mereka!”


“BUCIN KRONIS YAH PAK BOS!!”


“Diem. Cari cewek sana!” balasan Alka membuat mereka berseru heboh.


“MENTANG-MENTANG PUNYA PACAR! KATAIN KITA SEMBARANGAN!” heboh Tian dengan nada yang persis seperti iklan milkita.


“Mereka heboh banget, sih!” Meira yang awalnya kesal pun berniat menarik diri dari Alka namun, cowoknya itu tidak membiarkanya. Alhasil, Meira tetap berada di pelukan Alka.


“Gini aja dulu. Ada yang mau gue omongin.”


“Apa?” Meira mendongak sekilas kemudian memainkan kancing seragam Alka.


Alka tidak langsung menjawab. Dia menarik napas terlebih dahulu dengan tatapan yang menyorot tak terbaca pada Meira. Namun, keraguan tampak jelas di wajah datar cowok itu.


“Kenapa diem?” tanya Meira.


Menghela napas lagi, Alka mengelus kembali rambut Meira. “Gue dapat beasiswa ke Amerika.”


.


.


.