![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Suasana di dalam ruang guru sedikit menegangkan bagi Pak Handoko dan wali kelas Alka. Bagaimana tidak, di dalam ruangan tersebut terdapat tiga polisi yang duduk berdampingan membicarakan sesuatu dengan Pak Handoko dan wali kelas Alka.
Jika menurut Pak Handoko dan wali kelas Alka ini adalah situasi yang menegangkan, maka berbeda dengan Alka dan teman-temannya. Cowok-cowok itu malah asik dengan kegiatannya sendiri.
Alka yang menyandarkan bahunya pada sofa seraya bersedekap dan memejamkan mata. Devan, Adnan dan Ezra yang sibuk mengobrol entah apa. Bagus yang sibuk dengan rambut gondrongnya, Malik, Tian dan Arnold yang sibuk menatap satu ponsel yang ada dalam pegangan Malik.
"Mohon maaf, Pak. Tapi sepertinya kami harus menahan Alka terlebih dahulu sampai orang yang menyebabkan kericuhan ini di temukan," ucap pak Polisi paruh baya dengan name tag Adrian.
Semua anggota The Lion yang sibuk dengan kegiatannya sontak menatap tajam pada satu objek.
Pak Handoko menghela nafas. "Apa gak ada cara lain, Pak? Alka ini masih pelajar, dan jika dia di bawah ke kantor polisi citra sekolah kami akan rusak."
Pak Adrian menggeleng pelan. "Maaf, Pak. Tapi itu satu-satunya cara agar dapat memberi efek jera pada Alka. Jadi kami harus menahannya."
Devan berdiri dari kursi. "Gak boleh!" sentaknya. "Bapak gak bisa seenaknya main nahan orang, aja. Di sini Alka dan kami juga korban, Pak. Kami gak tau akan ada penyerangan ke sekolah hari ini!"
Teman-teman Alka mengangguk. "Benar, Pak. Mentang-mentang Bapak ini polisi jangan seenaknya dong main nahan orang, aja." celetuk Ezra menambahi.
Pak Handoko menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Devan, duduk kembali!" perintahnya tegas.
Dengan decakan malas Devan kembali duduk bersedekap dengan kaki di silangkan.
Pak Handoko beralih pada Pak Adrian. "Kalau itu memang satu-satunya cara, maka saya izinkan Bapak untuk menahan Alka sementara waktu."
Brak!
Semua mata tertuju pada Bagus yang menggebrak meja. "Pak Handoko gimana, sih?! Kan, Bapak juga tau bukan Alka yang bersalah!" todongnya dengan mata tajam menatap Pak Handoko dan Pak Adrian bergantian.
"Bagus, kamu tenang dulu. Alka gak akan di tahan bertahun-tahun di sana. Dia bakal bebas kalau orang yang menyebabkan kericuhan ini di temukan."
"Terus kalau orang itu gak ketemu gimana?" Kali ini Tian yang bersuara.
Pak Handoko diam sejenak. Ia beralih menatap Alka yang tenang-tenang saja. Seolah ini bukanlah masalah besar baginya.
"Saya yakin, orang itu pasti ketemu. Karna dia pasti musuh kalian."
"Tapi, Pak---"
"Lo tenang, aja. Gue gak bakal membusuk di balik jeruji besi itu." Alka berdiri dari sofa lalu menepuk dua kali pundak Bagus. "Gue percaya sama, lo." sebuah beban seolah menyangga di bahu Bagus setelah Alka mengucapkan kalimat itu.
Bagus menghela nafas berat. "Gak, Al. Kalau lo di tahan, kita juga harus di tahan. Bukan cuma lo yang terlibat dalam kericuhan ini, tapi kita semua. The Lion!"
Devan, Tian, Arnold, Ezra, Malik dan Adnan berdiri. "Kami siap di tahan bareng sama lo, Al," celetuk Ezra yang di angguki lainnya.
Alka meringis lalu menghela nafas pelan. "Kalau kalian semua di tahan, terus siapa yang bakal temuin pelakunya?" tanya Alka yang berhasil membungkam teman-temannya.
Alka berbalik pada Pak Adrian yang sudah berdiri. Menyodorkan kedua tangannya pada Pak Adrian.
"Saya siap menanggung konsekuensi perbuatan saya," ujar Alka, bersamaan dengan borgol yang menyatukan pergelangan tangannya.
Pak Handoko berdiri, begitupun dengan wali kelas Alka yang sejak tadi hanya diam menatap Alka. Ia merasa tersentuh melihat Alka. Alka memang brandal tapi anak itu punya rasa tanggung jawab yang besar, itulah sebabnya ia tak pernah membenci Alka seperti guru-guru lainnya.
Wanita itu—wali kelas Alka—ia maju mengelus pundak Alka. "Saya percaya sama kamu, Alka." ia memberi seulas senyum tulus. Alka membalasnya dengan senyuman tipis, seolah berterima kasih tanpa suara.
***
Koridor SMA Garuda di penuhi dengan siswa-siswi yang berdiri menatap kepergian Alka dengan dua polisi di sampingnya yang memegang lengan cowok itu. Bisikan demi bisikan sempat terlintas di pendengaran Alka, namun sekali lagi, ia tetap tenang dan tidak peduli.
Di lantai dua, Meira menatap punggung kokoh itu dengan nanar. Ada sentilan dalam hatinya saat melihat Alka di giring oleh dua pria berseragam.
Usapan di bahu Meira membuat cewek itu menoleh ke samping. Di sana, ada Dita yang tersenyum padanya. "Lo gak mau nyamperin dia? Buat ucapin apa gitu?" tanya Dita.
Meira menggeleng lemah, ia kembali menatap Alka yang mulai masuk ke dalam mobil polisi. "Aku gak mau buat Kak Alka marah lagi," ucap Meira, suara cewek itu sangat pelan hingga hampir menyerupai bisikan.
Dita menepuk pundak Meira lalu merangkulnya. "Jangan sedih gitu, ah, Mei. Gak cocok sama muka lo yang ceria." Dita memutar badannya menatap Meira. Kedua tangannya terangkat melengkungkan sudut bibir Meira ke atas. "Senyum, dong. Biar cantiknya gak ilang."
Mau tidak mau akhirnya Meira tersenyum. Walaupun terlihat di paksakan, setidaknya ia tidak ingin membuat sahabatnya tahu mengenai kesedihannya. Kata-kata Alka yang begitu menyakitkan masih terngiang-ngiang di telinganya. Namun apa daya, cinta Meira jauh lebih besar daripada kalimat pedas milik Alka.
***
Alka menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan. Lututnya ia lengkungkan agar bisa menjadi penopang tangannya. Cowok itu menghela nafas, ia cukup pengap berada di balik jeruji besi itu. Polisi yang sibuk berlalu lalang tak lagi ia pedulikan. Jarum di arlojinya sudah menunjukkan pukul 18:45 dan sampai sekarang belum ada kabar dari teman-temannya.
Di seperkian detiknya, polisi wanita yang berdiri di depan sel Alka menarik perhatiannya.
"Kamu Alka?" tanya Polwan itu. Alka mengangguk menatap polwan tersebut.
"Ada yang ingin bertemu dengan kamu."
Alka dengan cepat berdiri lalu mengampiri polwan itu. "Siapa?"
Bukannya menjawab, polwan tersebut malah membuka pintu sel lalu mempersilahkan Alka keluar. "Dia menunggu kamu di ruang jenguk." Polwan itu berlalu begitu saja.
***
Sebuah rantang makanan yang ada di atas meja, di dorong pelan ke hadapan Alka. Rantang berwarna putih itu mengeluarkan bau yang berhasil membuat cacing-cacing di dalam perut Alka memberontak.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Alka. Menatap cewek yang sejak tadi duduk menunduk di hadapannya.
"A-aku cuma mau jenguk K-kak Alka," jawab cewek itu gugup.
Alka menaikkan satu alisnya. "Terus? Sekarang lo udah jenguk gue."
Cewek itu menghela nafas berat lalu memberanikan menatap mata hitam Alka. "Mei mau minta maaf sama Kak Alka," ucap cewek itu lagi. Matanya sedikit memerah.
"Buat?"
"Buat yang tadi di sekolah. Maaf karna Mei udah lancang. Maaf karna Mei udah buat Kak Alka marah. Maaf karna udah bu-hiks."
Isakan itu keluar dari bibir mungil Meira. Ia kembali menunduk, menyembunyikan airmatanya dari Alka. Ia tidak ingin Alka menganggapnya cengeng.
Tak ada respon dari Alka. Cowok itu hanya diam menatap Meira yang terisak dalam tunduknya. Cukup lama ia dengan posisi seperti itu, hingga akhirnya ia berdecak pelan lalu menepuk puncak kepala Meira dua kali.
"Udah berapa kali, sih, gue bilang. Lo jangan nangis," ujar Alka, datar.
Meira kemudian mengusap pipinya yang basah lalu kembali menatap Alka. "Kakak masih marah sama Mei?" tanyanya, dengan nada yang terdengar merengek.
Alka hanya menggeleng. "Gue gak marah. Gue cuma gak suka lo bahayain diri lo sendiri."
Ada desiran aneh dalam hati Meira mendengarnya. Walaupun terdengar datar, tapi kalimat itu berhasil menghangatkan hati Meira. Ia mengulum senyum. "Maaf sekali lagi. Untuk kedepannya, Mei gak bakal bahayain diri Mei lagi. Janji!" Meira mengangkat tangannya, menyorot Alka dengan tatapan pasti. Seolah ia ingin memberi tahu Alka bahwa ia bersungguh-sungguh.
"Itu aku bawain makanan buat Kakak." Meira menunjuk rantang tersebut dengan tatapan matanya. "Aku tau, Kakak pasti belum makan, kan, dari tadi?" Alka hanya mengangkat bahu acuh.
"Yaudah, aku pamit pulang, yah, Kak." Alka mengangguk lalu ikut berdiri saat Meira berdiri.
Belum sempat Meira pergi, seorang polisi datang menghampiri Alka dengan sebuah ponsel. "Ini dari teman kamu. Katanya dia mau bicara hal penting sama kamu," ucap polisi itu seraya menyodorkan ponsel pada Alka.
Alka menerimanya lalu mulai menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya. "Halo?" sapanya.
"Halo, Al. Ini gue Devan."
"Kenapa, Van?"
"Alka gawat, nih. Nyokab lo kondisinya drop, beliau tau kalau lo masuk penjara."
"Apa?!" Alka membulatkan matanya. Rahangnya tiba-tiba mengeras. Meira yang melihat itu menautkan alisnya.
"Iya, Al. Gue gak tau harus gimana, nyokab lo pingsan sejak tadi. Kata dokter dia manggil-manggil nama lo sebelum pingsan."
"Sialan. Siapa yang ngasih tau nyokab gue tentang ini?"
"Gue juga kurang tau, sih. Tapi kalau boleh, gue curiga sama Tante Megan. Tadi Pak Handoko nelfon ke telfon rumah, lo. Dan gue takutin Tante Megan yang angkat."
Alka menggeram dengan tangan kiri yang mengepal. "Van, tolong jagain nyokab, gue. Kalau dia nanya tentang gue, lo bilang aja kalau gue baik-baik, aja. Oke?"
"Oke."
Alka memutuskan sambungan telfon lalu menyerahkannya pada polisi tadi. Setelah kepergian polisi itu, Alka merosotkan badannya ke kursi. Menghela nafas berkali-kali untuk meredakan emosinya.
"Kak Alka kenapa?" tanya Meira, hati-hati.
Alka menatap Meira yang juga menatapnya dengan tatapan bingung. "Lo ada kegiatan setelah ini?" tanya Alka.
Alis Meira bertaut. Meskipun bingung ia tetap menjawab dengan gelengan. "Mei gak punya kegiatan apa-apa lagi, kok." jawab Meira.
Alka berdiri lalu berjalan mendekat pada Meira. Ia menatap mata Meira cukup lama hingga sang empu sedikit salah tingkah.
"K-kak Alka kenapa natap aku kayak gitu?" tanya Meira, kikuk.
Alka mengalihkan pandangannya lalu berdehem singkat. "Lo bisa bantu gue, gak?"
Meira mengangguk tanpa ragu. "Mei akan siap bantuin Kak Alka. Apapun itu!" semangatnya.
Alka menyunggingkan senyum yang sangat tipis hingga Meira tidak menyadarinya. "Jagain nyokab gue, yah. Dia drop, tolong tenangin dia."
Meira tersenyum tulus lalu memberanikan diri mengelus lengan Alka yang masih terbalut seragam SMA Garuda. "Mei janji bakal jagain Mamanya Kak Alka." Meira menarik tangannya. "Kalau gitu Mei pamit, yah, Kak."
Alka mengangguk. Ia menatap Meira yang perlahan berbalik hendak meninggalkannya.
"Meira."
Meira membeku di kakinya. Untuk pertama kali Alka menyebut namanya dengan suara lembut. Tidak ada nada sinis, dingin, tajam, ataupun datar. Meira berbalik dengan kaku.
"K-kenapa Kak?"
Alka tersenyum tipis. Kedua tangannya tenggelam dalam saku celana abu-abunya. "Makasih," ucapnya kemudian.
***
Suara tawa di dalam apartemen yang cukup mewah itu menggema. Beberapa botol minuman beralkohol berjejer di atas meja. Bungkusan rokok dan puntung rokok sudah tidak terelakkan lagi.
Cowok dengan celana jeans hitam yang robek pada lututnya duduk di sofa dengan kaki kanan terangkat ke atas kaki kiri. Di sela-sela jari tengah dan telunjuknya terselip sebatang rokok yang menyala. Kepulan asap dari mulut dan hidungnya merambat ke langit-langit apartemen.
Seorang cowok berjaket kulit hitam masuk ke dalam apartemen. "Gimana?" ucap cowok yang duduk di sofa itu.
"Alka masuk ke penjara, dan mamanya yang sakit keadaannya drop," lapor cowok yang baru masuk tadi.
Cowok yang duduk di sofa itu membuang puntung rokoknya ke lantai lalu menginjaknya dengan sepatu Nike yang ia kenakan. Tawa kemenangan keluar dari mulut cowok itu tanpa peduli temannya yang tertidur karena mabuk, dan juga temannya yang sibuk bercumbu dengan wanita bayaran.
"Bagus," gumamnya dengan senyum miring. "Sebentar lagi dia bakal hancur!" tawa cowok itu kembali terdengar.
"Lo boleh pergi!" perintahnya pada cowok yang memberinya laporan. Setelah cowok itu pergi, ia kembali meneguk Wine di hadapannya.
"ARKAN KELUAR, LO!"
Sayup-sayup cowok itu—Arkan—mendengar suara teriakan dari balik pintu apartemennya.
Dengan gontai Arkan berjalan membuka pintu apartemennya. Ia terlebih dahulu menekan beberapa kombinasi angka sebelum membuka pintu.
Cklek!
Bugh!
Bersamaan dengan terbukanya pintu apartemen Arkan, satu tendangan di perut cowok itu dapatkan dari cowok berambut gondrong yang tak lain adalah Bagus.
"Sialan!" Arkan mendesis lalu bangkit. Melayangkan satu bogeman di pipi Bagus.
Bagus sedikit terhuyung ke samping. Ia menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan kekarnya lalu menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
Bugh!
Bugh!
Pipi dan dada Arkan kembali mendapat serangan dari Bagus. Arkan tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya. Keadaannya yang sedang mabuk menjadi keberuntungan untuk Bagus.
Bagus maju selangkah.
Bugh!
Bugh!
Tinjuan di pipi dan dagu Arkan menjadi sebab cowok itu tidak sadarkan diri. Bagus tersenyum miring lalu merapikan bajunya yang sedikit kusut.
Ia mengeluarkan tali dari saku jaketnya lalu mengikat kedua tangan Arkan kebelakang. Dengan kasar, ia menyeret Arkan keluar dari apartemen. Tak peduli dengan baju Arkan yang mungkin akan kotor menyapu lantai apartemen. Bagus hanya ingin membalaskan dendamnya.
Gara-gara Arkan, Alka masuk penjara.
"Selamat datang di neraka, Arkan." Bagus menyeringai kejam.