![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Inti The Lion kembali berkumpul di sebuah tempat permainan billiard milik keluarga Malik. Ruangan mewah berisikan tiga meja billiard dan beberapa sofa serta meja itu, telah dikuasai oleh The Lion.
Di meja tengah, ada Alka, Bagus dan Ezra yang bermain secara bergantian mendorong tongkat pada bola billiard. Di meja sudut ada Adnan, Arnold dan Tian yang juga melakukan hal yang sama.
Di sofa berwarna hitam dengan motif dadu putih, ada Dimas dan seorang perempuan di sisinya. Cewek berdress selutut dengan rambut terurai itu tidak lain adalah pacar Dimas yang baru saja resmi kemarin. Namanya Freya, kata Dimas saat memperkenalkan pacarnya beberapa menit yang lalu.
Malik? Cowok mageran itu lebih memilih menidurkan diri di sofa panjang yang jauh dari jangkauan teman-temannya.
"Devan mana, nih?" celetuk Ezra. Dia mendorong tongkatnya pada bola bersusun membentuk pola segitiga hingga semuanya berhambur ke dalam lubang meja.
Bagus berdecak. "Dia lagi jemput Aluna di bandara," jawabnya.
Ezra menyandarkan tongkatnya di sisi meja lalu melihat Alka yang bermain sekarang.
"Kak Aluna sepupu lo, bukan? Yang kuliah di oxford?" tanya Ezra, melirik Bagus sekilas.
Bagus mengangguk. "Dia pacaran sama Aluna dua hari lalu. Dan parahnya, tuh, kambing baru ngasih tau gue kemarin." Bagus mendorong tongkat, lalu berdecak saat tidak semua bolanya berhambur ke lubang meja.
Ezra sedikit terkejut. Alka hanya menatap sekilas pada Bagus lalu kembali bermain walau dia juga cukup terkejut.
"Perasaan sekarang anak The Lion hampir punya cewek semua. Lo ada Dita, Dimas baru aja dapat gandengan, Devan sama Kak Aluna. Lah, gue?" Ezra menampakkan raut wajah dramatis.
Bagus terkekeh lalu kembali mendorong tongkat. Kali ini semua bolanya jatuh ke lubang meja.
"Takdir lo kali."
Ezra berdecak. Mengambil tongkat lalu kembali bermain. Saat di pertengahan permainan mereka, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Menampakkan cowok berkaos putih dan cewek berdress peach dengan sebuah jaket kulit hitam menutupi pundaknya. Jaket yang mereka yakini milik cowok itu.
Devan dan Aluna.
Semua mata tertuju pada kedua pasangan itu, terkecuali Malik yang masih tidur. Bagus yang melihat sahabat dan sepupunya datang bersamaan, hendak membuka suara namun pekikan Tian lebih dulu terdengar.
"Srigala sialan!" pekik cowok bertopi hitam dengan posisi terbalik itu. Matanya berang menatap ponsel.
Perhatian anak The Lion serta Aluna dan pacar Dimas beralih pada Tian. Malik yang tertidur pun sontak bangun tegak lalu mengumpat.
"Kenapa sih, lo?!" sentak Malik. Merasa tidak terima dengan pekikan Tian yang mengganggu tidurnya.
"Nih, liat!" Tian melempar ponselnya pada Malik. Namun sialnya, Malik tidak langsung menangkap. Cowok berambut acak itu menunggu ponsel Tian mendarat di lantai lalu mengambilnya, membuat Tian mengumpat dengan segala jenis binatang.
Untungnya, ponsel Tian bukan ponsel dengan harga jutaan saja. Melainkan puluhan juta.
"Srigala nuduh kita yang kroyokin salah satu anggotanya." kesimpulan Malik yang dia ucapkan setelah membaca pesan di ponsel Tian sukses membuat sisi liar The Lion memberontak.
####
Di gudang persenjataan tua itu, The Lion kembali bertarung dengan Geng Srigala. Kejadian di mana Geng Srigala menuduh The Lion telah mengkroyok salah satu anggotanya, membuat pertarungan itu kembali terjadi setelah beberapa lama terjeda.
The Lion tentu saja tidak menolak serangan Srigala ataupun mengelak bahwa bukan mereka pelaku pengkroyokan. Mereka tahu, bahwa tuduhan itu tidak lain hanya untuk mengadu domba The Lion dan Srigala.
Seperti slogannya, 'Usik kami, lo setengah mati'. Dan dengan melayangkan tuduhan yang tidak-tidak, itu berarti sudah mengusik ketenangan The Lion. Jadi bersiap saja untuk dibuat setengah mati atau mungkin mati sekalipun.
Di sudut kanan gudang, ada Devan dan Bagus yang menghadapi sekitaran lima anggota Srigala. Di sisi lain, Arnold dan Ezra juga menghadapi musuh dengan jumlah yang sama.
Semua anggota inti bahkan biasa, bersatu melawan Geng Srigala yang jumlahnya lebih banyak dari The Lion. Di tengah keramaian itu, Alka berhadapan dengan Samuel. Cowok yang menatap Alka penuh benci.
Samuel mendekat, tidak melayangkan pukulan ataupun cibiran, melainkan sebuah pertanyaan yang membuat Alka bingung.
"Ada hubungan apa lo sama Meira?" tanya Samuel, dingin. Rahang cowok itu mengeras seiring matanya yang kian menajam pada Alka.
Alka diam berpikir. Sibuk mencari tahu darimana Samuel tahu Meira dan untuk apa Samuel menanyakan hubungannya dengan Meira.
"Hubungan gue sama dia gak ada pentingnya buat lo. Jadi buat apa lo tau?" tantang Alka. Mengundang geraman marah dari Samuel hingga sebuah tinju mendarat di pipi Alka.
Alka menyeringai sinis. Kembali melayangkan pukulan pada Samuel hingga pertikaian itu semakin tidak terkendali. Semuanya saling memukul, menendang dan menerjang lawan tanpa ampun.
Kebrutalitasan yang menjadi nama belakang The Lion sekarang benar-benar terlihat. Mereka membalas, menghancurkan dan meratakan lawan mainnya.
Tapi, sebuah suara senjata api yang menggelegar memenuhi gudang itu, membuat mereka—baik The Lion maupun Srigala—berhenti untuk melihat keadaan.
The Lion terkejut, menatap Alka yang berdiri kaku dengan darah segar mengalir dari perut cowok itu.
"AL!!"
Devan dan Bagus dengan cepat membawa Alka keluar.
Ezra dan Tian menggantikan posisi Alka menyerang Samuel. Sedangkan Adnan, Malik dan Arnold serta Dimas, menyerang tanpa ampun pada Petra yang entah muncul dari mana. Keempat cowok itu membabi buta pada Petra. Apalagi mengingat bahwa dialah yang menembakkan peluru pada perut Alka.
"Lo harus dapat ganjaran yang sama!" Malik berdesis penuh amarah di telinga Petra.
Mereka gelap mata, hingga tidak memberi celah untuk Petra menyerang. Memukul wajah, perut, dagu serta menendang ulu hati cowok itu berkali-kali, hingga membuat Petra akhirnya tumbang dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Ini buat lo anj1ng!!" Arnold menendang wajah Petra yang sudah terkapar di lantai lalu keluar bersama teman-temannya yang telah meratakan Srigala.
Samuel pun tumbang tidak jauh dari Petra.
Itulah The Lion. Balas, hancurkan, ratakan! Geng yang menjunjung tinggi kesolidaritasan dan kebrutalitasan yang kapan saja bisa membuat lawannya mati. Namun, The Lion tidak sekejam itu, dia hanya akan membuat lawannya setengah mati.
Jika memang lawannya meninggal, bagi mereka itu adalah takdir, bukan karena serangannya.
.
.
.