[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 54



“Mulai hari ini Alka akan tinggal bersama kita di sini.”


Bagai sebuah petir di siang bolong, pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut Hadi membuat Samuel terkejut dan Megan yang sontak menampakkan raut tidak terima.


Alka yang duduk di samping Hadi pun tidak kalah terkejut. Cowok dengan hoodie bertuliskan TheLion di bagian dada itu menatap Hadi dengan raut meminta penjelasan.


“Apaan, sih, Pa. Dia, kan, punya apartemen sendiri, kenapa harus tinggal di sini?!” sergah Samuel tidak terima. Cowok berkaos hitam tanpa lengan itu menatap tajam pada Alka setelahnya.


“Benar, Pa. Dia punya apartemen sendiri, kenapa harus tinggal bersama kita?” imbuh Megan. Wanita ber-dress selutut itu menatap Hadi dengan tatapan protes.


Hadi mengela nafas pelan. Di sampingnya, Alka hanya diam dengan semua drama yang baru saja terjadi ini. Dia tidak tahu apa motif Papanya hingga mengambil keputusan—yang bahkan tidak pernah Alka inginkan setelah kejadian yang membuatnya trauma itu.


“Papa gak suka penolakan. Alka anak Papa juga, dan dia punya hak atas rumah ini, sama seperti Samuel.” Hadi memperbaiki letak kerah tuxedo hitamnya lalu berdiri. “Papa akan ke kantor, masih ada urusan. Dan Papa mau, setelah Papa pulang semua barang-barang Alka sudah ada di rumah ini.”


Setelahnya, Hadi melangkah keluar dari rumah bersamaan dengan decakan kesal Samuel dan helaan nafas kasar dari Megan.


Alka? Dia hanya memasang tampang datar lalu berdiri dari sofa. Mulai melangkahkan tungkainya menuju pintu utama.


“Hasutan apa yang lo gunain ke Papa?”


Alka berhenti melangkah lantas berbalik menatap Samuel yang juga berdiri di dekat sofa. Megan sudah pergi entah kemana.


“Bahkan gue gak butuh hasutan buat Papa nurutin apa yang gue mau, dan ini bukan kemauan gue!” ujar Alka.


Samuel berdecih lantas terkekeh sarkas. Kedua tangannya dia masukkan ke saku celana selutut hitamnya. “Anak haram kayak lo gak pantes tinggal di sini. Gak ada yang bakal nerima lo!”


Alka mengangguk mengerti. “Seenggaknya gue masih diperlakuin selayaknya anak sah, walaupun gue nyatanya anak haram. Gak kayak lo.” Alka sempat mengukir seringai kecil di bibirnya lalu berbalik meninggalkan Samuel yang sudah menggeram kesal.


####


“Seriusan?!” pekikan kedelapan inti The Lion membahana di rooftop sekolah menyambut ucapan Alka mengenai Hadi yang menyuruhnya tinggal serumah.


Devan menghembuskan asap dari benda berbentuk silinder yang terapit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. “Emang bener-bener Om Hadi jelmaan si Alka. Gak bisa dibantah kalau udah buat keputusan,” ujarnya.


Bagus, cowok yang baru saja menaruh Vape di lantai rooftop itu mengangguk membenarkan. “Mungkin Om Hadi udah bosen liat lo bareng Sam gak pernah akur,” ucapnya pada Alka.


“Kalau masalah tinggal sebareng sama si bangs4t itu gue, sih, yakin kalau Alka gak keberatan. Tapi traumanya?” celetuk Arnold. Cowok dengan dasi yang diikat melingkar di kepala itu juga tengah melakukan hal yang sama dengan Devan.


Merokok.


Alka mengangguk membenarkan. Arnold memang benar, Alka tidak pernah keberatan mau tinggal bersama Samuel atau tidak, dia hanya takut Azka—pribadi lain dalam dirinya—merasa tidak terima hingga berbuat kekacauan.


“Tapi kalau menurut gue gak apalah. Bunda Bagus pernah bilang, kan, kalau ketakutan itu harus dilawan biar gak menjadi-jadi.” Cowok berkaos hitam dengan lambang singa mengaum itu ikut menimpali bersamaan dengan asap Vape yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Tian.


“Bener kata Tian! Nyokab gue juga pernah ngomong gitu.” Itu suara Adnan yang duduk di samping Bagus seraya memainkan ponselnya dalam posisi miring.


“Urang, mah, nyimak aja, deh. Kagak tau mau ngomong apa.”


Malik menoyor kepala Dimas ke samping. “Lo ngangguk-ngangguk aja kalau gak paham,” sembur Malik.


Mereka tertawa kecil sebelum seseorang datang dan langsung merebut Vape yang ada di dekat Bagus dan di tangan Tian. Serta mengambil rokok di tangan Devan dan Arnold lalu menginjaknya hingga berakhir di tempat sampah besi yang tersembunyi.


“Apaan, sih, Mei?” protes Arnold.


Meira menaruh jari telunjuknya di bibir sebagai tanda untuk diam lalu menyuruh mereka semua berdiri. Setelahnya, Meira mengeluarkan pewangi dari saku bajunya lalu di semprotkan ke seluruh tubuh Alka dan sahabatnya serta menyemprot ke udara juga permen untuk semuanya


“Kenapa, sih, Cil?” Bagus ikut keheranan saat Meira tiba-tiba saja datang membuang Vape dan rokok mereka.


Baru saja Devan akan ikut protes, pintu rooftop terdengar terbuka. Atensi mereka teralih pada dua pria berbeda umur yang baru saja tiba.


Pak Handoko dan Bima.


Sekarang mereka paham apa tujuan dari Meira. Bagus mengedipkan mata kanannya pada Meira saat mata mereka bertubrukan. Meira mengulas senyum diam-diam.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Dan, Meira. Sedang apa kamu di tengah-tengah The Lion?” cerca Pak Handoko menatap kesembilan The Lion dan Meira secara bergantian.


“Kami lagi diskusi, Pak.” Dimas berceletuk asal sebagai perwakilan dari jawaban semuanya.


Pak Handoko mendengus. “Kamu yang kelas sepuluh, kan?” mata Pak Handoko melotot tajam.


Dimas cengengesan lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Memutar mata malas, Pak Handoko kembali berujar. “Kalian semua kecuali Meira ikut saya turun ke lapangan! Sahabat kalian nunggu di bawah.”


Sebagian dari anggota The Lion ada yang mendengus dan mendelik. Mereka tentu saja tahu siapa ‘Sahabat’ yang dimaksud Pak Handoko.


Hukuman!


Pak Handoko mulai melangkah menuju pintu rooftop diikuti kedelapan anggota The Lion karena Alka yang tidak ikut dengan Pak Handoko.


Pak Handoko berbalik. “Kamu juga, Alka!” seru Pak Handoko.


Alka mendengus malas lalu menyusul Pak Handoko setelah memberikan tatapan tidak bersahabat pada Bima.


Setelah beberapa menit kepergian Pak Handoko bersama Alka dan antek-anteknya, Bima menarik pelan tangan Meira menuju pembatas rooftop. Menyaksikan bagaimana The Lion dihukum dengan jalan jongkok mengelilingi lapangan di bawah sana.


Kedua tangan Bima terlipat menumpuh di pembatas rooftop. “Lo liat, mereka itu bisanya cuma buat ulah dan berakhir dihukum.” Bima menggelengkan kepalanya miris.


Meira menatap Bima sekilas lalu mengikuti posisi Bima seraya menatap kebawah pada The Lion. Meira tersenyum tipis saat melihat Pak Handoko menjewer telinga Dimas yang tidak bergerak.


“Mungkin menurut orang seperti Kak Bima dan para guru-guru apa yang mereka perbuat itu kesalahan.” Meira lantas menoleh pada Bima yang masih menatap ke bawah. “Tapi apa Kak Bima pernah mikir, kalau apa yang mereka lakuin itu adalah moment yang berusaha mereka ciptain?” lanjut, Meira.


Bima menoleh lantas menyeringai kecil. “Ada banyak cara buat ngeciptain moment, Mei. Gak harus, kan, jadi brandalan di sekolah doang?”


Meira mengangguk. Dia kembali menatap ke bawah. Bibirnya kembali mengulas senyum saat melihat Alka mengulurkan tangan pada Devan yang berjongkok karena kelelahan.


“Bener kata Kakak. Ada banyak cara buat ngeciptain moment. Dan dengan membuat ulah itu cara mereka,” ujarnya.


Bima tidak bisa berkata-kata lagi. Penjelasan Meira memang cukup masuk akal. Tapi, yang tidak masuk akal adalah, saat hatinya terasa tidak terima ketika Meira membela mereka. Apalagi mata cewek berambut urai itu tidak pernah lepas dari Alka.


Bima menghela nafas. “Lo kayaknya suka banget sama Alka. Sampai-sampai ngeliatin mulu dari tadi.”


Meira terkekeh tanpa menatap Bima. Cewek itu beralih bertumpuh dagu pada pembatas rooftop.


“Iya, suka banget,” sahutnya. Mengabaikan Bima yang tersenyum kecil di sampingnya seraya menatap ke bawah.


Terjadi keheningan beberapa menit sebelum Meira kembali menatap Bima dari samping.


“Kak Bima, aku boleh nanya, gak?” serunya.


Bima menoleh lalu mengangguk.


“Kakak lagi suka sama seseorang? Atau mungkin punya gebetan gitu?”


tanya Meira dengan sedikit kikuk. Meira sebenarnya merasa sungkan menanyakan hal pribadi ini pada Bima. Tapi demi Bella, Meira akan melakukan ini.


Bima mengerutkan alis selama beberapa detik sebelum mengangguk. “Gue suka sama seseorang. Sayangnya, dia suka sama orang lain,” jawabnya dengan menatap Meira penuh arti.


Entah perasaannya yang salah atau Meira yang kegeeran, dia merasa aneh dengan tatapan Bima pada dirinya, seperti ada makna tersirat yang berusaha cowok itu sampaikan padanya. Berusaha berpikir positif, Meira menggeleng samar.


“Kakak suka sama siapa?” tanyanya, lagi.


“Harus banget gue jawab?”


Meira menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Cukup paham dengan kalimat Bima yang seolah tidak ingin memberitahukannya.


Bima terkekeh lalu mengacak rambut Meira. “Lo gak usah tau. Nanti kalau waktunya udah tepat, lo tau sendiri, kok.”


Meira tersenyum kecut. Gagal rencananya untuk mengetahui siapa cewek yang disukai Bima hingga Bella yang jelas-jelas sangat cantik tidak pernah terlirik olehnya. Bahkan saat Bella rela masuk menjadi anggota osis pun tidak bisa membuat Bima menaruh perhatian padanya.


Cewek itu sering curhat kepada Meira bahwa Bima tidak penah bersikap lebih padanya. Berbicara pada Bella saja masih bisa dihitung jari. Itupun hanya membahas tentang osis saja.


Saat Bima kembali ingin bersuara, ponsel Meira yang berada di saku lebih dulu terdengar hingga mengurungkan niatnya.


Mama Is Calling…


Meira mengerutkan alis, tidak biasanya Hanin menelfonnya saat masih berada di sekolah. Apa mamanya itu tahu bahwa kelas Meira sedang free?


Tidak banyak pikir lagi, Meira menggeser ikon hijau pada ponselnya lantas menempelkan ke telinga kanan.


“Halo, kenapa, Ma?”


“Kakak kamu sudah sadar, Mei.”


.


.


.


LIKE, KOMENT DAN VOTE GAK MAU TAU!!