![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Wanita setengah baya dengan fashion glamour berjalan begitu angkuh namun anggun di lobby apartemen. Tas bermerk mahal menggantung indah di lengan kirinya. Kakinya yang jenjang memasuki lift menuju kamar apartemen seseorang.
Ting!
Wanita itu mengayunkan kakinya keluar dari lift. Kaki itu berhenti di depan sebuah kamar dengan nomor 121.
Tok! Tok!
Beberapa kali wanita itu mengetok pintu tersebut. Tak lama kemudian pintu itu terbuka, menampilkan seorang pemuda tampan dengan ekspresi datarnya.
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi cowok itu. Wanita tersebut mendorong dada cowok itu hingga sedikit terhuyung kebelakang. Tanpa izin, wanita itu masuk lalu menghempaskan tas bermerknya di atas sofa dengan kasar.
Alka, dia hanya menatap datar pada wanita itu.
"Mau apa Anda kesini?" tanya Alka dengan nada dingin. Melihat wanita itu membuat rasa bencinya menyeruak kepermukaan.
Wanita itu berdecih sinis. "Mau apa kamu bilang?" wanita itu berjalan mendekat ke arah Alka.
Plak!
"Apa yang kamu lakuin sama adik kamu sendiri?!" teriak wanita itu murka di hadapan Alka.
Alka tertawa sumbang. Sedikit mengelus pipinya yang tak terasa apapun. "Adik? Sejak kapan saya punya adik? Bukannya Anda sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan kami sejak 4 tahun yang lalu, Nyonya Megan?" tukas Alka dengan senyum miring.
Wanita bernama Megan itu menarik nafas. Megan berbalik mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah map berwarna merah. Map itu di lempar dan mendarat di dada Alka.
Alka menatap datar pada map yang ada di genggamannya saat ini.
"Puas kamu sekarang hah?! Setelah menyakiti Samuel, sekarang kamu mengambil alih 45 persen saham dari Mahardika Group. Apa mau kamu sebenarnya?!" cerca Megan dengan emosi meluap-luap.
Alka dengan tenang membalik setiap lembar dokumen yang ada pada map itu. Disana, terlihat bahwa 45% saham Mahardika Group menjadi atas namanya. Dan Samuel Arion Mahardika, mendapat 55% saham. Alis Alka mengernyit.
Netra hitam itu menyorot bingung pada Megan yang menatapnya penuh kebencian.
"Lalu apa yang harus dipermasalahkan?" tanya Alka tenang.
Megan menggertakkan giginya. Wanita itu merampas map yang ada pada tangan Alka dengan kasar. Map itu terhempas di atas meja.
"Saya gak terima, jika kamu mendapatkan saham Mahardika Group sebanyak itu. Itu tidak adil!" Cercanya geram.
Alka terkekeh sinis. "Anda buta apa gimana? Anak Anda dapat 55 persen dari saham perusahaan. Bukannya itu lebih banyak, bahkan ini jauh dari kata adil."
Megan menatap berang pada Alka. "45 persen saham perusahaan terlalu banyak buat kamu! Memang itu jauh lebih adil, andai saja kamu bukan anak haram!!" Alka menatap tajam pada telunjuk yang mengarah di wajahnya.
Tangan Alka terangkat memegang telunjuk itu. Meremasnya lalu memutarnya hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Jaga omongan Anda!" desis Alka tajam. Wanita itu menyentak kasar tangannya agar terlepas dari Alka.
"Kenapa? Kamu gak terima dengan status kamu sebagai anak haram? Cih!" Megan berdecih sinis. "Lalu mau di sebut apa anak yang lahir dari hasil perselingkuhan wanita murahan?" lanjut Megan.
Alka menggeram, mata cowok itu memerah terbakar amarah. "Mama saya bukan wanita murahan!!" bentak Alka marah.
Megan tertawa lalu bertepuk tangan. Menyorot sinis pada Alka. "Bukan wanita murahan? Terus apa?! Wanita penggoda? Atau pelakor?"
Alka gelap mata. Cowok itu mengerang saat kepalanya tiba-tiba sakit. Tatto kalajengking itu kembali hadir. Sebagai tanda bahwa diri Alka kini dikuasai oleh pribadi lain, tanpa Megan ketahui.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Megan. Ironisnya, sudut bibir wanita itu mengeluarkan darah.
"Sekali lagi lo ngomong sembarangan," Alka menarik tangan Megan lalu meremasnya hingga wanita itu kembali meringis kesakitan. "Gue bakal patahin tangan lo, sama kayak anak lo yang gak becus itu!" Megan sedikit terkejut saat mendengar cara bicara Alka berbeda, di tambah dengan perubahan fisiknya. Namun wanita itu memilih tidak peduli.
Megan menggertakkan giginya, lalu menyentakkan tangannya.
"Ingat, saya akan mendapatkan saham itu kembali. Kamu, jangan harap akan bisa mendapatkan semuanya. Kamu dan mama kamu hanya benalu dalam keluarga Mahardika!"
"Pergi sebelum gue ngelakuin hal yang gak mau lo rasain!" Alka menunjuk tepat di depan mata Megan. "Gue masih punya dendam sama lo, kalau lo lupa!"
Dengan senang hati, Megan pergi dari sana. Namun wanita itu sempat terhenti sejenak saat melihat seorang gadis di pintu apartemen Alka yang mematung. Megan menatap datar gadis itu, sementara gadis tersebut hanya memandang lurus pada Alka. Setelahnya Megan pergi dari sana.
***
Meira mematung di pintu apartemen Alka. Kata-kata wanita itu terngiang-ngiang di telinganya. Anak haram? Anak hasil perselingkuhan? Wanita murahan? Penggoda? Pelakor? Semuanya berputar di kepala Meira.
Gadis itu tersentak kaget saat Alka menarik tangannya dengan kasar ke dalam apartemen.
"Lo siapa?!" Mata Meira membulat menatap Alka yang terlihat menyeramkan. Mata itu—mata Alka yang semakin hitam—menatapnya tajam.
"JAWAB!!"
Meira meringis mendengar bentakan Alka. Bahunya juga ngilu akibat remasan kasar tangan Alka yang begitu kuat.
"K-kak, ini a-aku Me-aw!" Pekikan itu terdengar lantang saat Alka semakin meremas bahunya. Mata Meira memanas. Matanya lurus menyorot mata Alka yang memerah.
"Apa yang lo dengar? Hm?" desis Alka, ah ralat, Azka maksudnya. Sebab, tubuh Alka telah dikuasai oleh Azka—pribadi ganda miliknya—yang kini memandang nyalang pada Meira.
Meira menggeleng pelan. Remasan itu semakin keras dibahunya. Meira berani bertaruh, jika sekarang bahunya sudah memerah dan akan sangat sakit setelahnya.
Air mata Meira berhasil lolos. Sosok di depannya ini bukanlah Alka, melainkan seorang monster.
Tangan Meira perlahan terangkat, mencoba untuk meraih rahang Alka. Dengan hati yang berharap dapat mengelus rahang itu agar sang empu tenang. Semua sirna, saat Alka dengan kasar menyentak tangannya.
"Jawab gue! APA YANG LO DENGAR?!" Meira memejamkan matanya. Hatinya tertohok saat Alka berteriak penuh amarah tepat di depan wajahnya.
"A-aku gak deng-"
Meira bergerak ketakutan saat Alka mendekat. Mata cowok itu masih sama. Terdapat amarah yang menggebu-gebu.
Meira memekik menahan nafas saat Alka tiba-tiba mencekiknya. Nafasnya memburu. Tangan mungilnya memukul-mukul tangan Alka yang berada pada lehernya.
Alka gelap mata. Seringai tajam bak iblis tercetak sempurna di wajah tampan itu.
"Kalo sampai lo berani buka mulut," ada sedikit jeda pada kalimat Alka. "...lo akan mati di tangan gue! Ngerti lo?!"
Dengan cepat Meira mengangguk, gadis itu sudah kekurangan pasokan oksigen.
Bugh!
"APA YANG LO LAKUIN BEGO?!" Alka terhuyung ke samping saat mendapat tendangan dari Bagus.
Bagus dengan cepat berlari ke arah Meira. Sayangnya, Meira sudah terkulai lemas diatas sofa dengan mata terpejam.
***
"Apa lagi ini Sam?"
Samuel berdecak malas saat Papanya masuk kedalam ruang inap. Yah, cowok itu masuk ke rumah sakit akibat serangan Alka yang menggila.
"Kenapa? Papa mau salahin Sam lagi?" Samuel berdecih sinis.
Hadi Mahardika—Papa dari Samuel Arion Mahardika—berjalan menghampiri brankar anaknya. Matanya menatap tubuh Samuel yang terlihat miris. Luka dan memar diwajah, serta tangan kanannya yang patah. Benar-benar miris!
"Kamu selalu berburuk sangka sama Papa," balas Hadi tenang.
Samuel terkekeh. "Sam, berburuk sangka sama Papa? Bukan sebaliknya?" cibirnya.
Hadi tersenyum tipis. "Papa gak pernah berburuk sangka sama kamu. Papa cuma mencoba menebak, dan tanpa sadar itu benar."
Samuel menatap nyalang pada Papanya. "Jadi Papa sekarang mau salahin aku lagi? Mau bilang kalo semua ini salah Sam, bukan salah dia?!"
Hadi masih menampilkan raut wajah tenang. "Papa gak bilang gitu."
Samuel menghela nafas. "Papa kenapa, sih, selalu aja belain dia? Dia itu cuma anak har--"
"Jaga bicara kamu Sam!!" Hadi membentak pada Samuel.
Samuel bergerak memposisikan dirinya untuk duduk walaupun sedikit susah. Matanya menyorot dingin pada Hadi.
"See, bahkan sekarang Papa masih belain dia! Apa yang sudah dia kasi sama Papa?! Selama ini dia dan Mamanya hanya benalu dalam keluarga kita Pa. Mamanya sakit parah dan gak lama lagi akan mati. Lalu ap--"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Samuel dari Hadi. Samuel berdecih sinis lalu memandang Papanya dengan sorot permusuhan.
"Keluar!" Ujarnya dengan suara rendah, namun tajam.
Hadi menatap tangannya dengan wajah bersalah. Selama ini ia tak pernah bermain kasar pada anak-anaknya. Tapi, perkataan Samuel tadi sudah melampaui batas. Hadi berfikir untuk memberi sedikit pelajaran pada Samuel. Namun, entah kenapa dia yang merasa bersalah.
Hadi maju satu langkah. Samuel sontak mengangkat tangannya.
"Sam mohon, Papa keluar."
Dengan sedikit tak rela, Hadi mengangguk lalu keluar dan hilang dibalik pintu.
***
Bagus, dan Hanin—Mama Meira—menatap nanar pada Alka yang duduk di lantai dengan kepala bersandar pada tembok rumah sakit. Tampilan cowok itu sudah tidak bisa dikatakan baik. Bagus berdiri, menghampiri lalu menepuk dua kali pada bahu cowok itu.
Alka hanya menatap datar pada Bagus. Namun, dibalik tatapan datar itu terdapat rasa bersalah. Alka bodoh. Bodoh karena tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri jika sedang emosi. Cerita Bagus yang mengatakan bahwa dia mencekik Meira hingga pingsan, sukses membuat dirinya di penuhi rasa bersalah.
"Nak," Alka menoleh ke samping pada Hanin yang jongkok lalu mengelus bahunya. Alka tersenyum tipis melihat wanita itu. Dia tetap baik walaupun Alka hampir mencelakai anaknya.
Alka lalu menunduk. Tak berani menatap mata yang penuh kasih sayang itu. "Maafin Alka tante. Alka gak ta---"
"Sstt," Hanin mengelus rambut Alka yang hitam. "Bagus sudah cerita semuanya sama tante tentang kamu. Tante paham, kok, ini di luar kendali kamu."
Bagus ikut duduk di samping Alka. "Jangan salahin diri lo lagi Al. Selama ini lo selalu ngerasa bersalah atas apapun, sampai akhirnya lo selalu ngerasa frustasi sama diri lo sendiri." tutur Bagus dengan mata lurus memandang tembok.
Alka tersenyum tipis. "Mungkin ini jalan gue,"
Bagus menggeleng tegas. "Apapun kejadiannya, lo gak boleh ngerasa bersalah! Gue, Devan, dan semuanya selalu ada buat lo," Bagus menepuk bahu Alka. "Kapan pun itu!"
Alka terkekeh lalu merangkul bahu Bagus ala pria.
"Bagus, Al, Mei sudah sadar." kedua cowok itu menoleh pada Hanin yang ada di pintu. Bagus dan Alka serempak berdiri lalu menghampiri Hanin.
"Gimana keadaan Mei tante?" tanya Bagus.
"Kita masuk aja yuk," Bagus dan Alka mengangguk.
Ketiganya masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan itu. Di brankar, Meira duduk bersandar.
Hanin datang lalu mengelus rambut anaknya. "Kamu udah gak-papa sayang?" tanyanya, lembut.
Meira menggeleng dengan senyum tipisnya. "Mei udah baik kok,"
Meira beralih menatap dua cowok di belakang Mamanya. Kedua cowok itu—Bagus dan Alka—juga menatap Meira.
"Lo gak-papa kan Cil?" Meira mengangguk pelan. Matanya lalu tertuju pada Alka yang hanya menatapnya dalam diam.
Meira menatap Alka dan Hanin secara bergantian. "Mei gak mau ketemu Kak Alka, Ma."