![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Lapangan SMA Garuda telah di penuhi oleh beberapa stan makanan dan juga pakaian serta aksesoris yang menjadi bahan bazar The Lion. Anggota geng motor yang di segani seantero sekolah itu tampak menikmati perannya masing-masing.
Alka, Devan, dan Tian berada pada stan kaos oblong yang diobral murah. Di sampingnya ada Ezra dan Bella yang melayani beberapa siswa yang memesan keripik singkong. Tak jauh dari sana ada adik kelas anggota The Lion yang menjaga stan aksesoris, cimol dan cilok.
Di seberang sana ada Dita dan Bagus yang tampak asik melayani beberapa siswa-siswi dan membakar sosis. Beberapa meter dari mereka ada Meira, Arnold dan Malik di stan kue cubit.
Meira begitu gembira melayani mereka yang singgah pada stannya begitupun dengan Arnold dan Malik yang menjadi rekannya. Tapi kegembiraannya itu harus sirna saat matanya tak sengaja menangkap cewek berpakaian ketat lumayan minim dengan rambut coklat kemerah-merahan datang ke dekat Alka.
Kernyitan di dahi Meira tampak jelas saat cewek itu bergelayut di lengan Alka namun cowok itu hanya diam seolah tidak menganggap cewek itu ada.
Melihat Meira yang diam dari biasanya, Malik pun mengikuti arah pandang cewek itu. Berikutnya ia tersenyum geli lalu mendekat ke arah Meira.
"Lo cemburu?"
"Hah?" Meira refleks menoleh ke samping saat mendengar suara Malik. Cewek itu mengerjab dua kali lalu mulai menyibukkan diri kembali.
"Enggak. Siapa bilang aku cemburu?" kilahnya namun Malik tak percaya.
"Kok gue gak percaya yah?"
"Yaudah kalau Kak Malik gak percaya," balasnya cuek.
Malik terkekeh geli.
"Lo gak mau nanya gitu sama gue siapa tuh cewek yang dekatin Alka?" Meira menggeleng, namun terlihat sedikit ragu.
"Yaudah, gue juga gak maksa kok." Malik kembali pada Arnold dengan senyum tertahan.
"Kak Malik?"
Malik tersenyum miring.
"Kena kan lo!" batinnya.
"Kenapa?" Malik berbalik menatap Meira yang tampak gugup.
Cewek itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Di-dia siapa?" tanya Meira gugup hingga membuat Malik tertawa.
"Katanya gak mau tau, kenapa sekarang malah nanya?" Malik menatap Meira dengan alis terangkat satu dan senyum tertahan.
"Ish! Kak Malik aku serius tau!" cewek itu memberenggut kesal.
Malik tertawa.
"Namanya Naila Khansa, dia teman kelas gue, Alka juga. Dia udah suka sama Alka sejak kelas 10." jelas Malik.
Meira mengangguk pelan lalu kembali menatap mereka. Disana cewek bernama Naila sibuk mendekati Alka, tak jarang cewek itu juga terlihat membersihkan keringat Alka menggunakan tissue. Namun yang membuat Meira sakit adalah, Alka sama sekali tidak menolak. Cowok itu hanya diam seolah pasrah dengan keadaan.
"Berarti dia lebih dulu suka sama Kak Alka dari pada aku dong?" Malik mengangguk.
"Kak Alka suka juga sama Kak Naila?" Malik diam sejenak lalu ikut menatap Alka.
"Gue juga gak tau. Awal Naila dekatin Alka, Alka selalu marah-marah bahkan bentak Naila. Tapi lama-kelamaan gak tau kenapa Alka cuma diam pas Naila ganggu dia."
Hati Meira semakin sakit mendengarnya. Cewek itu menghela nafas pelan dengan mata yang tak pernah lepas dari Alka dan Naila.
"Kalo Kak Alka juga suka sama Kak Naila gimana Kak?" Malik menatap Meira dengan bingung.
"Lo suka sama Alka kan?" Meira mengangguk pelan.
"Nah, kalo lo suka atau bahkan cinta sama Alka perjuangin dong. Jangan langsung patah semangat cuma karna ada Naila." Meira menoleh kesamping menatap Malik, berikutnya cewek itu tersenyum.
"Makasih udah dukung Mei Kak Malik."
Malik tersenyum lalu mengangguk.
***
"Van, ini kaosnya tinggal 20 lembar lagi." Devan mengangguk lalu mengambil alih kardus yang berisikan kaos jualan mereka.
Devan mengambil hanger lalu memajangnya agar terlihat oleh siswa-siswa lain. Setelah itu Devan kembali menghampiri Alka yang menata beberapa kaos dengan Naila yang terus menempelinya. Devan menghela nafas, ia muak melihat cewek berpakaian kurang bahan itu ada disini.
"Heh! Mak lampir, mending lo pergi aja deh dari sini! Enek gue liat muka lo yang banyak tepung itu tau gak?!" sentak Devan dengan kesal.
Cewek bernama Naila itu mendelik tak suka pada Devan sementara Alka hanya diam.
"Kenapa lo yang sewot sih?! Alka aja gak marah ada gue disini!" balasnya dengan nada yang amat sangat menjengkelkan di telinga Devan.
"Al, lo gimana sih hah? Lo gak risih apa di tempelin cabe gitu?"
Alka menghela nafas lalu menurunkan tangan Naila yang bergelayut di dengannya dengan cara tak santai.
"Pergi!" suruhnya pada Naila dengan suara datar.
Namun bukan Naila namanya jika dengan mudah takut pada nada suara Alka. Bisa dibilang dia sebelas dua belas dengan Meira.
"Ih Alka kok kamu gitu sih? Aku disini kan cuma mau nemanin kamu." ujarnya dengan bibir dikerucutkan.
Melihat itu Devan tiba-tiba saja mual. Cowok itu menoleh kesamping dengan ekspresi ingin muntah.
"Gue bilang pergi!" Alka sedikit menyentak pada Naila, namun cewek itu masih keukeuh pada pendiriannya. Bahkan dia kembali bergelayut dengan kepala di sandarkan pada lengan Alka.
"PERGI SIALAN!!" bentak Alka hingga mengundang beberapa tatapan bingung oleh siswa-siswa lain.
Naila refleks melepaskan tangannya pada lengan Alka, cewek itu perlahan mundur dari hadapan Alka dengan wajah sedihnya. Ia menatap Alka sekilas lalu pergi dari sana.
Melihat itu Devan tersenyum miring. Ia sangat muak dengan cewek yang namanya Naila itu. Devan berjalan mendekat ke arah Alka lalu menepuk pundak sahabatnya.
"Mendingan Mei kemana-mana kan?"
Alka memutar bola matanya jengah.
"Jangan buat gue emosi!" Devan terkekeh melihat raut wajah kesal Alka. Cowok itu kembali melayani siswa-siswa yang mendatangi stannya.
***
"Hai?"
Meira yang tadinya sibuk menata kue cubit kini mendongak saat mendengar suara khas laki-laki di hadapannya. Lengkungan manis tercetak dibibir merah muda itu saat melihat siapa laki-laki tersebut.
"Kak Bima kan?" tanyanya.
Cowok yang dia panggil Bima itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Lo tau gue?" tanya Bima.
Meira terkekeh lalu kembali ke kegiatannya.
"Siapa sih yang gak tau Kak Bima? Ketua osis berotak encer kebanggaan Garuda kan?"
Kini Bima yang terkekeh. Cowok itu menggaruk tengkuknya sedikit salah tingkah.
"Ternyata gue seterkenal itu yah?" gumamnya namun Meira masih bisa mendengarnya hingga dia tertawa kecil.
"Dimana-mana ketua osis itu pasti terkenal lah Kak di sekolahnya."
Bima mengangguk membenarkan.
"Iya sih..."
Meira terkekeh pelan. "Eh btw Kakak mau beli kue cubit?"
Bima melirik kue cubit itu sekilas.
"Boleh deh! 20 ribu yah?" Meira dengan semangat membungkus pesanan Bima.
"Nih kak!"
Bima menatap kantung kresek putih itu dengan Meira bergantian.
"Emm... Boleh gue titip dulu? Gue masih mau liat-liat ke stan yang lain." ucapnya kikuk.
Meira tersenyum maklum. "Yaudah aku simpan sini dulu yah?" Bima mengangguk.
"Mei, lo sibuk gak?" Meira menatap Bima bingung.
"Kak Bima tau nama aku?" tanyanya sedikit kaget.
Bima mengangguk. "Iya, lo jadi viral di sekolah ini gara-gara kedekatan lo sama geng The Lion."
"Jadi gimana, lo sibuk gak?" ulang Bima.
Meira menatap ke arah Arnold dan Malik yang tampak sedikit santai dengan pelanggannya.
"Gak kok Kak, emang kenapa?"
Bima memasang wajah kikuknya.
"Boleh gue minta bantuan lo buat ngunjungin stan-stan yang lain?" tanya Bima sedikit ragu.
Alis Meira sedikit mengernyit. "Kok Kakak minta di temenin?"
"Emm... Gimana yah? Anak The Lion itu pada gak suka sama gue. Yah lo tau kan apa sebabnya?
Meira mengangguk mengerti lalu tertawa kecil.
"Karna Kakak ketua osis terus mereka tim pemberontak aturan sekolah?" Bima ikut terkekeh lalu mengangguk.
"Jadi boleh?"
Meira mengangguk mengiyakan.
"Kak Arnold, Kak Malik, aku temenin Kak Bima keliling dulu yah?" Arnold dan Malik sontak menghampiri Meira. Tatapan kedua cowok itu menajam ke arah Bima.
"Kenapa harus lo temanin?" tanya Arnold.
"Katanya kalian gak suka sama dia, makanya minta aku buat temanin keliling ke stan lain." Jawab Meira.
"Kan bisa sama yang lain." celetuk Malik.
Meira menampilkan senyum manisnya lalu menepuk kedua pundak cowok itu.
"Aku izin!"
Arnold dan Malik hanya mendengus saat Meira lebih dulu pergi disusul Bima.
"Gue tau itu modus lo!" Bima menghentikan langkahnya tanpa berbalik saat mendengar suara Malik.
***
"Kak Bima mau cobain cimol gak? Rasanya enak tau!"
"Oh yah?" Meira mengangguk antusias.
"Boleh deh." Meira dan Bima mendatangi stan cimol lalu membeli beberapa di sana.
"Dari tadi aku perhatiin Kak Bima beli banyak terus, emang Kak Bima sanggup habisin semuanya?" Bima terkekeh lalu mengacak rambut Meira.
"Semua itu bukan buat gue. Nyokab gue punya panti asuhan, dan gue berniat buat ngasih ke mereka semua ini." Meira mengangguk dengan mulut bulat.
"Temanin gue ke stan kaos yuk? Gue mau beliin mereka beberapa kaos, lumayan kan harganya murah tapi kainnya bagus." Meira tertawa lalu menarik tangan Bima ke stan kaos oblong, dimana penjanganya adalah Devan dan Alka.
"Hai Kak Devan!" sapanya saat telah sampai disana.
"Hai Mei! Ngapain ke sini, lo gak sibuk?" tanya Devan tanpa mendongak menatap Meira, Devan sudah tahu betul suara milik cewek itu. Devan masih sibuk merapikan beberapa pakaian dengan Alka di sampingnya dengan kegiatan yang sama.
"Masih ada Kak Arnold sama Kak Malik yang jaga."
"Terus ngapain lo ke sini?"
"Aku temanin Kak Bima keliling stan."
Sontak kegiatan Devan dan Alka terhenti saat mendengar nama itu. Alka dan Devan serempak mendongak dan mendapati Bima dengan wajah datarnya yang ada di samping Meira.
"Lo ngapain bawa dia kesini?" tanya Devan terdengar malas.
"Kak Devan jangan gitu dong, Kak Bima ini mau beli kaos banyak loh buat anak-anak di panti asuhan Mamanya."
Devan hanya memutar bola matanya malas, sementara Alka mencoba untuk tidak peduli.
"Kak Bima silahkan pilih-pilih aja yah?" Bima mengangguk lalu mulai memilih kaos yang menurutnya bagus.
Sementara itu Meira berjalan mendekati Alka. Senyum manis terbit dibibir cewek itu saat melihat Alka begitu serius.
"Serius amat Bang," candanya. Alka menatap sekilas pada Meira lalu kembali tak peduli.
"Kakak mau aku bantuin bungkusin kaosnya?"
"..." Alka hanya diam dan fokus pada kegiatannya.
Merasa diabaikan pun akhirnya Meira memilih membantu Alka tanpa banyak bertanya lagi.
"Ngapain lo?" tanya Alka datar.
"Bantuin calon pacar!" jawab Meira girang.
Alka mendengus malas lalu kembali mengabaikan Meira.
"Kak Alka udah cinta sama Mei hari ini?" gerakan tangan Alka berhenti. Cowok itu menghela nafas lalu memandang datar pada Meira.
"Kenapa? Kak Alka belum cinta yah?" Alka mengangkat bahunya acuh.
"Kalo suka?" Alka kembali mengangkat bahunya. Sama sekali tidak peduli pada pertanyaan gila Meira.
Meira mengerucutkan bibirnya. "Aku kira Kak Alka udah suka atau cinta sama aku. Mei udah nunggu sampai sore loh waktu itu Kak, bahkan sampai pagi lagi kemudian malam lagi. Tapi kok Kakak belum cinta sama Mei?" cewek itu menatap sendu pada Alka yang hanya diam.
"Meira kurang cantik yah Kak? Atau kurang imut?" Alka mendengus lalu menatap tepat pada mata Meira.
Cukup lama mereka saling memandang hingga Meira terlebih dahulu memalingkan wajah. Wajahnya memerah hanya karena di tatap seintens itu oleh Alka. Apalagi jantungnya yang berdetak di luar kendali.
"Lo terlalu baik buat gue."
***
Kepulan asap rokok dan bau alkohol memenuhi ruangan mewah di apartement milik seorang pemuda yang duduk di sofa.
"Gue dapat informasi baru Sam,"
Samuel, cowok berambut coklat gelap itu menoleh pada Petra yang duduk di sofa sampingnya.
"Informasi apa?" tanyanya setelah menyemburkan asap rokok dari mulutnya.
"Beberapa hari lagi bakal diadain balapan di sircuit."
"Terus?"
"Gue liat di daftar pesertanya ada nama Devan disana, itu artinya dia ikut dalam lomba ini."
"Dalam motif apa?"
Petra menganggak bahunya tidak tahu. "Gue gak tau pasti apa motif mereka ikut acara ini. Tapi gue yakin pasti mereka punya alasan."
Samuel mengangguk membenarkan. "Daftarin diri gue juga."
Petra sedikit terkejut mendengar itu.
"Buat apa lo ikutan? Ini kan gak ada hubungannya sama kita."
Samuel mendelik pada Petra. "Lo mikir gak sih? Gak mungkin The Lion percayain Devan buat ikut ke lomba ini kalau buka hal penting. Lo tau sendiri kan gimana skil Devan dalam dunia balap?"
Petra mengangguk. "Iya juga sih, tapi apa rencana mereka?"
Samuel menginjak puntung rokoknya ke lantai lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Hanya ada dua opsi. Opsi pertama mereka cuma mau bersenang-senang, dan Opsi kedua... Mereka mau bantuin Adnan."
"Bantuin Adnan?" beo Petra terkejut.
"Mereka tau tentang alasan Adnan berkhianat?" Samuel mengangkat bahunya acuh.
"Entah. Tapi gue yakin, Alka gak bakal tinggal diam mengenai masalah Adnan. Cepat atau lambat dia pasti bakal tau, lo taukan dia punya banyak koneksi?" Petra bergumam membenarkan. Dia tahu betul seberapa banyak koneksi Alka diluar sana.
"Jadi kita harus ngapain buat gagalin mereka?" tanya Petra.
Samuel menyeringai tajam menatap langit-langit apartementnya.
"Target utama kita adalah, Devan!"