
"Majukan jadwal pertemuannya, aku ingin semua masalah selesai ketika aku berangkat ke Paris,"ujar Daniel kepada asisten pribadinya.
"Baik, tuan."
"Aku tidak mau Marcell mengomel di saat dia bulan madu,"lanjut Daniel Wiraatmadja kembali.
"Baik tuan,"jawab asisten pribadinya.
"Sungguh merepotkan saja. Dia yang menikah, aku yang kelabakan mengurus banyak hal," gerutu Daniel. Menjelang pernikahan Marcell dan juga Shella, Banyak pekerjaan yang dibebankan kepada Daniel. Bukankah itu sangat membosankan bagi Daniel.
"Astaga,"Daniel baru teringat bahwa dia meninggalkan sesuatu di rumah.
"Dio, kembali ke rumah, handphone ku tertinggal,"ujar Daniel kepada asisten pribadinya.
"Baik, tuan."
Dio segera memutar balik kemudinya. Dia menancap gas kembali ke rumah mewah Daniel Wiraatmadja.
**
"Ada apa ini calon pengantin malah keluyuran kemari? Tidak takut apa kalau kakak ipar nanti marah?"tanya Ella melihat kedatangan Shella di rumahnya. Untung saja daniel sudah berangkat kerja. Kalau belum pasti akan terjadi keributan. Daniel pastinya tidak akan membuat masalah dengan kehadiran Shella di rumahnya. Daniel malas berurusan dengan kakak kandungnya, Marcell Wiraatmadja.
"Aku ingin berbicara denganmu,"ujar Shella dengan tatapan datar. Ella merasa ada yang aneh dengan diri Shella. Sepertinya ada hal serius yang ingin shella katakan kepada dirinya.
"Ada apa sebenarnya?"tanya Ella merasa ada sesuatu yang salah dengan Shella dari nada bicaranya.
"Aku ingin kita bicara berdua, bisakah?"pinta Shella dengan lembut. Ella mengangguk dan mengajak Shella ke ruang kerja daniel. Hanya di sana lebih terasa privasi jika ingin berbicara berdua saja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"tanya Ella kembali setibanya mereka di ruangan kerja Daniel.
Shella mencoba menenangkan diri sebelum memulai pembicaraan.
"La, apakah kamu sudah ingat kembali?" tanya Shella dengan nada terburu. Ella seketika terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya itu yang langsung ke inti permasalahannya. Memang seperti itu gaya berbicara Shella sejak dulu.
"Maksudmu?"Ella berpura-pura tidak mengerti kemana arah pembicaraan Shella. Dia tidak mau semudah itu akan mengakui apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya.
"Aku tahu ingatan kamu sudah kembali,"ujar Shella. "Perkataan ku benar bukan?"lanjut Shella dengan nada memaksa.
"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?"ucap Ella dengan tenang. Ella berusaha menahan emosinya agar tetap stabil.
"Aku tahu la, aku tahu dirimu sejak kita sama-sama masih kecil. Aku mengerti kamu. Apa yang kukatakan benar bukan?"tanya shella kembali semakin memojokkan diri Ella.
Ella menatap Shella yang menatapnya juga dengan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Melihat Shela yang sudah seperti ini membuat perasaan Ella luluh juga. Dia tidak akan sanggup melukai orang sebaik Shella yang selama ini selalu ada untuknya.
Ella hanya bisa menghela napas panjang. Sudah cukup baginya menutupi ini semua dari Shella. Ella menjawab keresahan Shella dengan sebuah mengangguk. Shella membelalakkan matanya. Shella tidak menyangka bahwa apa yang dia yakini ternyata benar adanya.
"Ya, aku memang sudah ingat,"kata Ella sambil menundukkan kepalanya.
Shella pun tidak bisa menahan lagi air matanya untuk tidak tumpah. Shella menghambur ke arah Ella dan memeluknya erat. Dia sudah sangat lama merindukan sosok sahabatnya itu. Shella bersyukur Ella ternyata masih mengingatnya. Shella sempat merasa takut kalau dia akan dilupakan oleh Ella yang selama ini didiagnosis mengalami hilang ingatan. Akibat kecelakaan yang menimpa dirinya itu. Shella menangis sesenggukan sambil mengucapkan syukur dengan kembalinya ingatan Ella. Mereka berdua sama-sama menumpahkan perasan dan beban yang mereka tanggung selama ini. Ella juga ikut merasa lega dengan pengakuan yang telah dia berikan kepada Shella.
"Kenapa?"tanya Shella. Ella menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin mereka tahu bahwa aku masih amnesia. Aku tidak ingin mengungkit masa lalu yang akan menyakiti banyak orang,"ujar Ella menjelaskan alasan dia tidak ingin orang tahu bahwa dia sebenarnya sudah tidak mengalami amnesia.
"Apakah dengan begini akan jauh lebih baik untuk mereka semua?"tanya Shella kembali.
"Ini jauh lebih baik untuk semua. Baik untuk Kendra, kak Daniel dan juga diriku sendiri,"jawab Ella yakin akan pilihan yang telah dia putuskan.
"Apakah karena ini juga kamu memaksa ingin pergi ke Paris? kamu ingin pergi meninggalkan semua masa lalu disini?"tanya Shella.
Ella mengangguk,"aku ingin hidup dengan lembaran baru di sana. Dengan kak daniel yang mendampingi ku. Aku akan merasa lebih tenang berada di sana."
"Bagaimana dengan Kendra?"tanya shella. Ella hanya menarik sudut bibirnya sedikit mendengar pertanyaan ini dari Shella.
"Dia harus menjalani hidup tanpa bayang-bayang diriku. Meskipun dia mengetahui semuanya tetapi Tuhan telah berkehendak lain. Itu sebuah pertanda bahwa Tuhan pun tidak merestui hubungan diantara kita. Lagipula aku sudah resmi menjadi istri kak Daniel sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku sudah tidak berhak memikirkan lelaki lain selain kak Daniel Wiraatmadja, suamiku,"jelas Ella.
"Apakah kamu pernah mencintai Kendra Daniswara?"tanya Shella kembali.
Ella menoleh ke arah Shella. Pertanyaan Shella ini membuat perasaan Ella menjadi tergetar mendengarnya. Ella tahu kemana arah pertanyaan Shella itu selanjutnya. Ella menghela napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Shella tersebut.
"Kendra merasa bersalah kepadaku karena aku adalah Lala. Namun untuk bersamanya, itu tidak mungkin terjadi, shel. Kisah diantara aku dan dia hanya sampai di sini saja. Tuhan sudah berkata lain. Sejak aku terbangun dari koma dan melihat ada dia di sampingku. Aku ingin menangis rasanya. Karena aku tahu, aku telah kehilangan anak kami. Namun, aku tidak bisa mengatakan hal itu. Aku tidak mau dia harus menanggung semuanya karena rasa bersalah. Tidak semuanya adalah kesalahan dia. Hanya takdir yang mempertemukan kami seperti ini,"jelas Ella dengan maksud tersirat. Shella mencoba mengerti maksud dari perkataan Ella barusan.
"Aku ingin semuanya membaik dengan kondisiku ini. Tidak akan ada lagi yang terluka maupun merasa bersalah. Aku akan hidup berbahagia dengan kak Daniel. Dan itu akan membuat banyak orang lebih berbahagia. Juga diriku akan lebih bahagia lagi,"ujar Ella menambahkan. Dia ingin semua orang bisa berbahagia disini. Termasuk diri Ella sendiri. Kalau dia berada di sisi Kendra Daniswara maka bayang-bayang masa lalu dan juga dendam masih akan teringat kembali. Itu yang tidak diinginkan oleh Ella terjadi.
"Kalau memang inilah jalan yang terbaik, aku akan menjaga rahasia ini,"janji Shella dengan yakin. Ella tersenyum mendengar janji sahabat baiknya.
"Terimakasih, shel. Dan lagipula sebentar lagi kamu akan memiliki keponakan,"ujar Ella bahagia. Shella membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka akan secepat ini prosesnya.
"Jadi, kamu dan Daniel?"Shella tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Ya, aku ingin membuka lembaran hidup yang baru bersama dengan kak Daniel,"kata Ella.
"Jangan pernah sakiti Daniel, la. Dia sudah banyak menderita untukmu. Dan kamu lah satu-satunya kebahagiaan untuknya,"ujar shella mengingatkan sahabatnya.
"Ya, aku tahu itu. Aku akan menjaga hatinya dengan baik seperti dia selalu menjagaku selama ini,"jawab Ella meyakinkan Shella.
Daniel bersandar di balik pintu. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam saat mendengar pembicaraan Shella dan juga istrinya.
Aku tahu bahwa kamu sudah mengingat semuanya. Sejak awal aku sudah tahu, Ella. Jadi inikah alasanmu melakukan semua itu. Aku akan menjaga hatimu lebih dari yang kamu lakukan untukku, sayangku.
***
Iklan Author
Sambil membaca, klik like dan kirim komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 😁