
"Katakan!"
Bug!
Bug!
Bug!
Bug!
Bug!
"Cukup, Ken.....cukup,"Alvin menahan tubuh bos nya agar tidak sampai membunuh informan yang mereka tangkap. Sepertinya hari ini Kendra sedang bad mood. Dia benar-benar kehilangan kendalinya.
"Lanjutkan!"perintah Kendra kepada anak buahnya yang lain agar melanjutkan introgasinya.
"Am....pun, tu......an......"
Kendra menyalakan rokoknya, dia melihat tanpa belas kasih kepada lelaki itu.
"Sa....y....ya....ka....ta....ka....ka.....kan...."
Kendra menahan pergerakan anak buahnya. Dia mendekati lelaki itu dan berjongkok menatap lelaki yang penuh luka lebam di seluruh tubuh dan wajahnya.
Kendra menghembuskan asap rokok tepat diwajah lelaki itu. "Siapa?"tanyanya.
**
"Selamat datang di rumah kami,"ujar Steven menyambut kedatangan Marcell Wiraatmadja dan Daniel Wiraatmadja di kediamannya.
Ella menggunakan gaun sederhana berwarna biru muda, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Daniel Wiraatmadja. Dengan dibantu oleh penata rias yang tak lain adalah sahabat baik Ella, Shella. Tentu semakin menambah kecantikan Ella.
Steven menjamu tamu-tamunya di ruang utama keluarga. Mereka berbincang-bincang sebelum kedatangan Ella. Dan ketika Ella turun dari tangga ditemani Shella, semua mata tertuju kepadanya. Terutama Daniel yang tidak mampu menutupi kekagumannya melihat kecantikan calon istrinya.
"Tahan dirimu, jangan membuatku malu,"bisik Marcell setelah melihat adiknya yang tampak sangat terpesona saat Ella datang. Daniel tidak memperdulikan apa kata kakaknya. Pandangan matanya hanya terkunci pada Ella.
"Ella, duduklah di sini, nak,"panggil Steven. Ella mengambil tempat duduk di samping Steven, sedangkan Shella duduk di sebelah Ella. Tatapan matanya sempat beradu pandang dengan Marcell. Shella sedikit mencebik melihat kedipan nakal yang diberikan Marcell kepadanya.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul di sini, langsung saja kita mulai acara ini. Saya Steven Daniswara, selaku ayah bagi putri ku bernama Cinderella Daniswara akan bertanya sekali lagi, tolong dijawab dengan jelas dan matang. Apakah kamu bersedia menjadi tunangan dari putra keluarga Wiraatmadja, Daniel Wiraatmadja?"
Ella menarik napas dan menatap Daniel dengan tersenyum manis. "Saya bersedia, pa." Daniel tersenyum bahagia mendengar jawaban Ella.
"Dan engkau Daniel Wiraatmadja, apakah engkau dengan setulus hati mencintai dan menyayangi putriku, Cinderella Daniswara dan bersedia menjaganya sampai pernikahan nanti?"
"Ya, saya sangat mencintainya, dan akan menjaganya sampai kami resmi menjadi suami istri,"jawab Daniel tegas. Ella tampak tersipu malu mendengar pernyataan Daniel di depan semua orang.
Steven tampak lega mendengar jawaban kedua nya. "Baiklah, nak Daniel, sekarang pakaikan cincin pertunangan di jari Ella, mulai hari ini dia resmi menjadi tunanganmu,"kata Steven.
Daniel berdiri dan berjalan mendekati Ella. Dia meminta ijin Steven terlebih dahulu dan menarik Ella berdiri di tengah-tengah ruangan. Mereka saling bertukar cincin. Senyum bahagia tampak diwajah keduanya. Sebuah tepuk tangan bergema melihat mereka telah saling mengikatkan diri satu sama lain. Bahkan Shella tak kuasa menahan air matanya melihat sahabatnya kini telah bersama dengan orang yang tepat. Daniel Daniswara adalah lelaki yang tepat untuk Ella. Dia ingin sahabat nya segera keluar dari keluarga Daniswara dan juga dari kehidupan Linda Daniswara.
Kebahagiaan yang ada di dalam rumah mewah keluarga Daniswara justru berbanding terbalik dengan salah seorang anggota keluarganya, Kendra Daniswara. Sedari tadi dia ada di dalam mobil tak jauh dari kediaman keluarga Daniswara. Alvin yang sedari tadi ikut mengamati apa yang bosnya lakukan juga tidak berani berbicara. Dia tahu suasana hati Kendra saat ini.
"Kita balik ke apartemen,"perintah Kendra kepada sang sopir.
"Baik, tuan."
Alvin menemani Kendra yang mabuk karena banyak minum. Mungkin penyebabnya juga karena pertunangan Cinderella Daniswara.
"Ken, sudah, kamu sudah mabuk."
"Lepaskan! Siapa bilang aku mabuk! Aku ini kuat minum berapapun! Lepas!"Kendra melepaskan tangan Alvin yang menahannya untuk menuangkan minuman.
Kendra melangkah menuju kamarnya dan langsung jatuh terjerembab di depan pintu kamar. Alvin bergegas mengangkat tubuh Kendra dan memapahnya ke tempat tidur.
"Lala......Lala......"Alvin tampak kasian melihat Kendra yang begitu merindukan Lala, teman masa kecilnya.
Kenyataan ini memang begitu menyakitkan buatku.
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...