
Daniel berdiri disebuah area pemakaman. Semalam dia bermimpi di datangi oleh sang ayah angkatnya, Andri.
Daniel melihat ayahnya datang bersama seorang anak kecil berusia empat tahunan. Daniel bersujud di bawah kaki ayahnya dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga Ella dengan baik. Daniel sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ella sesuai dengan amanat dari sang ayah.
Andri hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Daniel. Andri justru memaafkan Daniel dan berterimakasih karena selama ini telah menjaga Ella untuk dirinya.
Daniel seketika terbangun dari alam mimpinya. Daniel melihat ke sekitarnya dan mendapati dirinya masih di ruangan rawat inap Ella. Daniel masih melihat istrinya itu terbaring di ranjang rumah sakit. Ternyata pertemuan dengan Andri hanyalah mimpi dari Daniel semata.
Daniel meletakkan bunga mawar putih di atas batu nisan Andri. Bunga mawar putih adalah bunga kesayangan Ella. Dan Ella selalu membawakan bunga itu setiap kali mengunjungi makam ayahnya.
"Ayah, aku datang," ujar Daniel sambil mengelus ukiran di batu nisan yang bertuliskan nama Andri Alamsyah.
"Ayah, maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga amanat ayah dengan baik. Dia menderita sebegitu banyak dan tidak ada yang bisa aku lakukan. Dia mengeluarkan banyak air mata dan aku tidak ada di sisinya. Aku sungguh tidak berguna, yah...,"ucap Daniel penuh penyesalan.
Daniel meneteskan air mata menyesali apa yang telah terjadi dengan diri Ella selama ini.
"Apa yang kulakukan sebagai suaminya, menjaganya saja bahkan aku tidak mampu. Dan sekarang dia justru sedang terbaring koma di atas ranjang. Maafkan aku, yah....ini hukumanku, aku tahu yah, aku tahu...."ucap Daniel dengan berlinang air mata.
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak sanggup kehilangan dia, yah. Aku tidak sanggup...."kata Daniel kembali dengan menahan kesakitan dirinya.
Daniel memukul dadanya yang terasa sakit saat membayangkan dia akan kehilangan ella nantinya. Daniel tidak bisa kehilangan Ella dalam hidupnya. Daniel selama ini bertahan hidup karena dia memiliki seorang yang ingin dia jaga selamanya, yaitu Ella.
"Jangan bawa dia pergi, yah....jangan.... aku mohon, ijinkan aku sekali lagi menjaganya. Aku janji...."ujar Daniel dengan bersujud dihadapan makam sang ayah angkatnya. Daniel tidak tahu harus kepada siapa lagi dia bercerita. Dia sungguh tidak sanggup melihat penderitaan yang dialami oleh Ella. Andai penderitaan itu bisa dibagi, dia ingin sekali menanggung penderitaan Ella itu seorang diri. Daniel hanya ingin Ella bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.
**
Kendra melihat Ella yang diam terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa alat penunjang kehidupan pada tubuhnya. Kendra menguatkan dirinya untuk melihat kondisi Ella.
Kendra menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes melihat bagaimana kondisi Ella saat itu. Lala nya yang hilang ketika peristiwa kebakaran yang terjadi di panti asuhan. Lala yang dia cari selama ini dengan susah payah. Ternyata dia justru berada sangat dekat dengan diri Kendra.
Kendra juga sudah tahu kalau Ella mengalami keguguran. Kendra tidak bisa tidak bersedih mengetahuia kabar tentang kehilangan anak tersebut. Kendra juga menyadari mungkin ini adalah rencana Tuhan karena anak itu akan kasihan jika dia terlahir ke dunia. Ayahnya melakukan perbuatan itu karena sebuah dendam yang dilampiaskan kepada ibunya.
Kendra memegang tangan Ella yang tampak lemah. Kendra mencium tangan Ella berkali-kali. Kendra ingin berusaha membangunkan Ella dari tidur lamanya.
"Aku datang, la." Kendra menatap wajah cantik Ella yang tampak pucat tersebut.
Kendra tidak kuat hati sebenarnya berbicara di hadapan Ella yang seperti ini. Ella yang tergolek lemah tidak berdaya membuat perasaannya sangat hancur.
"Aku meminta maaf padamu, aku sudah banyak berbuat salah, dendam itu telah membuatku buta. Aku hanya dipenuhi nafsu amarah. Aku selalu membohongi hatiku. Itu yang kulakukan setiap kali aku merasa kamu mirip dengan Lala,"Kendra menarik napas sejenak menjeda ucapannya tersebut.
"Aku lelaki yang bodoh dan tidak berperasaan. Aku tidak mau menyimpan dendam lagi. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, la,"kata Kendra sambil memegang tangan Ella.
Kendra mengelus-elus tangan Ella dan juga menciumnya.
"Cepatlah sadar, la. Marahlah padaku. Berteriaklah kepadaku kalau kamu membenciku. Tetapi jangan tertidur seperti ini terus. Kamu harus segera bangun. Jangan tertidur begini," ucap Kendra dengan menghapus air matanya kembali.
"Aku tidak akan menyimpan dendam lagi. Aku berjanji padamu aku akan hidup bahagia. Aku akan melepaskan semua dendam ini, la. Aku berjanji padamu,"janji Kendra dengan bersungguh-sungguh.
"Cepatlah bangun, la...." Kendra mencium punggung tangan ella.
"Aku rela kau bahagia dengan siapa pun itu. Asalkan kamu hidup, aku rela la, aku rela....."ucap Kendra berharap Ella akan merespon perkataannya.
"Bangunlah.....jangan memejamkan matamu terlalu lama. Aku mohon...."Kendra menangis sambil menggenggam tangan Ella. Tanpa Kendra sadari, Ella yang sedang koma juga ikut meneteskan air mata.
"Bangunlah, la. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Jangan hukum aku seperti ini, la. Bangunlah.... aku ingin kamu hidup bahagia, bangunlah, la....."kata Kendra penuh harap.
Tiba-tiba alat pemacu denyut jantung Ella berbunyi. Kendra terkejut melihat angka nya yang semakin menurun. Kendra tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Bergegas Kendra berpikir untuk segera memberitahu kepada perawat yang sedang berjaga di depan.
"Tidak! Tidak....la jangan tinggalkan aku!"Kendra segera menekan tombol darurat panggilan ke pihak perawat yang sedang berjaga di depan ruangan.
Beberapa perawat dan dokter masuk ke ruangan itu. Asisten Alvin tampak panik melihat orang berlarian ke ruangan Ella.
"Astaga, tuan muda Kendra,"pekik asisten Alvin lalu dia pun ikut berlari ke arah kamar tempat merawat Ella.
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄