
"Steven lebih memilih putranya dibandingkan dirimu, apa kamu kira dia akan mencintaimu selamanya?"Danu menatap Linda yang tampak terpancing emosinya melihat video yang dia berikan.
"Steven hanya menjadikanmu tak lebih sekedar penghangat ranjangnya. Dia kehilangan kakakku, karena itu menikahi mu. Bahkan dia sendiri lebih memilih menikahi kakakku daripada dirimu. Apakah kamu sudah melupakan hal itu."
"Diam kamu, Danu!"Linda mulai geram dengan perkataan Danu.
"Itu kenyataan, sayang, dia hanya memperhatikan putra kesayangannya, daripada dirimu. Untuk itula dia menyingkirkan dirimu sebelum rapat pemegang saham."
"Diaaaaammm!!!!"
"Keluar! Keluar!!!"Linda berteriak histeris kemudian muncul beberapa orang kepercayaan Danu sambil membawa suntikan penenang untuk Linda.
Linda akhirnya terdiam dan mulai mengantuk setelah diberikan obat penenang.
"Berikan dosis yang lebih besar. Sebelum rapat sebaiknya dia sudah bisa kita kuasai,"ujar Danu kepada salah satu dokter yang menjadi anak buahnya.
"Steven, kamu akan kelabakan menghadapi dia yang menentangmu."
**
"Tuan, rapat sebentar lagi akan dimulai,"ujar Jack kepada Steven. Mendengar apa yang dikatakan anak buahnya, Steven menghela napas panjang karena sebentar lagi akan melihat pertarungan antara anak dengan adik iparnya. Sungguh berat siapapun pemenangnya.
"Lima menit lagi aku akan kesana,"ujar Steven.
Jack meliha ketegangan di wajah atasannya tersebut. Ini bukan hal mudah menghadapi pertarunga antara putra sendiri dengan adik ipar. Steven harus menjadi penengah diantara mereka berdua.
"Tuan, semua sudah siap,"lapor Alvin.
"Ayo, berangkat,"ujar Kendra sambil berjalan mendahului Alvin dan sekretarisnya, Rani.
Kendra melihat pamannya dari ujung jalan. Sang paman hanya tersenyum sekilas melihat Kendra sedang memperhatikan nya. Kendra hanya bersikap dingin dan segera berlalu ke dalam ruangan.
Kendra dan Danu duduk berseberangan dengan dibatasi oleh sebuah meja besar dan panjang di dalam ruangan tersebut. Tak lama kemudian datanglah Steven dengan Jack yang mengikutinya dengan langkah pasti melangkah ke kursi utama ruang rapat.
Jack mengambil alih sebagai moderator dalam rapat. Mereka masih menunggu kehadiran beberapa anggota yang belum hadir.
"Untuk kehadiran nyonya Daniswara, beliau absen karena sakit, jadi untuk itu kami..."
"Maaf, membuat kalian semua menunggu,"suara itu membuat Steven tak percaya. Karena Linda kini berjalan mendekat ke arahnya. Dengan sorot mata yang tajam langsung mengarah ke tempat Steven berada. Linda menyorotkan kekecewaan kepada Steven.
"Maaf membuat menunggu,"ucap Linda dengan senyum manisnya. Dia mengambil tempat duduk di samping Danu Soetomo. Melihat hal itu membuat Steven merasa geram. Namun dia hanya menahan perasaan itu karena kini mereka berada di tempat umum.
Kendra merasa jijik dengan kehadiran ibu tirinya tersebut. Dia menatap Linda dengan dingin. Dia tahu, wanita itu pasti akan melawannya.
Tak lama datanglah Ella dan juga Daniel Wiraatmadja. Mereka datang bersama-sama. Mereka tampak serasi. Steven tersenyum menyambut kehadiran keduanya.
Sedangkan Kendra hanya tersenyum kecut melihat kebersamaan mereka. Apalagi sempat melihat cara Daniel menggenggam tangan Ella. Meskipun dia sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ella lagi. Dia merasa tidak suka melihat Ella bersama lelaki lain.
"Baiklah, karena semua sudah hadir, mari kita melakukan voting untuk calon pemimpin perusahaan yang baru. Dengan kandidat adalah tuan Danu Soetomo dan tuan Kendra Daniswara. Silakan menuliskan nama di selembar kertas yang telah kami sediakan. Kertas akan dikumpulkan dan hasil akan dibacakan hari ini langsung di depan para anggota."
Ella cukup terkejut melihat kehadiran ibunya yang duduk di sebelah Danu Soetomo. Begitu juga Linda yang merasa terkejut dengan kehadiran Daniel di ruangan tersebut. Dia tidak menyangka daniel akan mewakili nama keluarga yang misterius dalam anggota rapat, keluarga Wiraatmadja.
***
Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️