
"Selamat ya, la, aku jadi ikut terharu melihat kalian akhirnya bisa bersama,"Shella memeluk sahabat nya itu dengan erat.
"Terimakasih, shel,"sahut Ella.
"Sudah, sudah, biarkan mereka berdua bicara, kamu ikut denganku,"ajak Marcell membawa Shella yang tampak cemberut karena dipaksa pergi dengannya. Melihat mereka membuat Ella dan Daniel tersenyum.
"Kapan mereka menikah?"tanya Ella.
"Entah, Shella selalu saja menghindar."
"Kalau dihindari terus, kak Marcell tentunya akan berbuat nekat." Keduanya pun tertawa.
"La,"panggil Daniel.
"Ya,"jawab Ella.
Daniel menarik tangan Ella dan memeluk tubuh mungil Ella. "Kak, kamu kenapa?"tanya Ella bingung dengan sikap Daniel.
"Kamu tahu apa yang kurasakan sekarang?"tanya Daniel. Ella menggeleng.
"Aku sedih sekaligus senang." Ella melepaskan diri dari pelukan Daniel.
"Kakak kenapa sedih?"tanya Ella sambil memperhatikan wajah daniel dengan seksama.
"Aku sedih karena aku tidak bisa melakukan ini sejak awal. Aku justru meninggalkanmu sendiri di sini dengan berbagai masalah. Aku tidak bisa melindungi mu, itulah kebodohan yang tidak ingin aku ulangi lagi."
"Kak, semua sudah berlalu. Aku tidak apa-apa. Aku justru yang merasa menjadi beban...." Ella terdiam seketika ketika Daniel memberikan isyarat padamu dengan telunjuk yang menempel di bibir Ella.
"Aku sudah bilang, apapun kamu sekarang aku terima, aku terima apapun dirimu kini. Jangan pernah mengatakan bahwa kamu adalah beban. Anak ini akan kita besarkan bersama."
Ella memeluk tubuh Daniel erat. "Tahukah kak, apa yang paling ku syukuri selama ini?"
"Apa?"
"Karena Tuhan telah mempertemukan kita dulu. Kalau aku tidak kakak selamatkan dari kebakaran panti waktu itu mungkin aku tidak bisa melihat ayah untuk terakhir kalinya."
"Tapi...."
"Ada apa?"tanya Daniel sambil menatap wajah calon istrinya yang tampak sedih.
"Aku memikirkan Keluarga Daniswara..." Ella tampak enggan mengatakan semua yang ada di pikirannya. Dia takut daniel akan marah apalagi kalau dia menyinggung masalah Kendra. Dua lelaki ini sedang bersitegang tentu bukan hal yang tepat bila dia menceritakan isi hatinya kepada Daniel saat ini.
"Terimakasih, kak. Bagaimanapun aku masih memiliki ibu, seperti apapun dia, dia adalah orang yang melahirkan ku. Aku tidak bisa menjadi anak yang durhaka. Dan meskipun Steven Daniswara yang membuat rumah tangga ibu dan ayah hancur. Itu semua bukan salah dia. Karena memang rumah tangga ibu dan ayah dari awal sudah salah. Semenjak kematian ayah, dialah yang merawat ku dan menjagaku dengan baik. Aku tidak bisa lupakan kebaikan dia."
"Kamu sudah lebih dewasa sekarang." Ella tersenyum dipuji oleh Daniel.
"Aku hanya tidak ingin merasa bersalah atau menanggung beban berat. Aku hanya ingin pergi dengan tenang nantinya,"ujar Ella sambil tersenyum dengan raut wajah yang damai. Daniel memeluk bahu Ella seakan tidak ingin melepaskan nya.
"Mulai hari ini, kemanapun kamu pergi aku akan mengikuti."
"Janji."
"Janji,"ucap Daniel pasti.
**
Kendra merasakan sekujur tubuhnya sakit dan kepalanya terasa begitu pusing.
"Haisss, kenapa pusing sekali."
Dia mencoba bangun dan merasakan pegal seluruh tubuh. Dia mengingat kembali apa yang semalam dia lakukan.
Drrtttt.....Drrtttt.....
"Ya."
"Angela sudah bisa ditemui."
"Aku akan segera ke sana."
"Apakah aku perlu menjemputmu?"tanya Alvin.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Baiklah. Aku tunggu di rumah sakit."
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...