
Ella memarkir mobilnya. Dia melihat mobil Kendra ada juga di sana. Sepertinya malam ini Kendra akan ikut makan malam di rumah. Ella menghembuskan napas panjang.
"Eh..."ella terkejut karena ada yang menarik lengannya. "Kamu..."
"Ya, kenapa kalau aku?"tanya kendra sambil mencengkeram erat lengan ella.
"Bukannya seharusnya kamu di dalam?"tanya ella.
"Kenapa aku tidak boleh di sini?"tanya kendra balik.
"Lepaskan aku,"ujar ella. Dia tidak mau ada orang yang melihat mereka seperti ini.
Kendra melepaskan pegangannya.
"Apa maumu?"tanya ella.
"Aku merindukanmu,"sahut kendra. Ella tersenyum kecut dibuatnya. "Jangan bergurau, aku malas mendengarnya,"ella hendak berlalu tetapi kendra menarik tubuhnya kembali.
"Apa lagi?"tanya ella dengan kesal.
"Sudah merasa ada yang melindungi? Jadi sekarang berani kepadaku?"
"Bukan urusanmu!"
"Kemana kekasihmu itu? Bukannya kalian dekat sekali, kenapa dia tidak mengantarmu?"
"Bukan urusanmu."
"Kalian bertengkar?"selidik kendra. Ella menarik lengannya,"apa maumu?"
"Tinggalkan dia."
Ella tersenyum kecut,"bukan hakmu berbicara seperti itu."
"Kamu milikku!"suara kendra yang tegas dan dingin membuat nyali ella sedikit menciut. Kendra serius dengan ucapannya. Bahkan cengkeraman di lengan ella semakin kuat.
"Kamu..menyakitiku!"ella melepas paksa lengannya. Namun kendra bersikeras tidak melepaskan dirinya.
Akh...mendadak ella merasa pusing. Seharian dia merasa kurang enak badan dan capek. Kini ditambah harus bersitegang dengan kendra membuat tenaganya terkuras.
"El...kamu kenapa?"kendra tampak panik dan memeluk tubuh ella yang hampir saja merosot terjatuh.
Ella memegang kepalanya. Rasa nyeri membuat dia hampir kehilangan keseimbangan. "Kamu sakit?"kendra kembali memapah tubuh ella. Dia melihat wajah pucat ella.
"Tidak...apa..apa..lepaskan aku,"kata ella dengan berusaha berdiri dengan benar.
"Tapi..."
"Aku masuk dulu,"ella berjalan sedikit sempoyongan. Kendra hendak membantu namun ella menolak uluran tangannya.
"Tidak, pa, aku bertemu kakak di depan rumah,"sahut ella.
"Kita makan malam bersama,"kata steven.
"Aku permisi ke dalam dulu, pa,"ujar ella. Steven melihat wajah ella tampak pucat.
"Kamu sakit, nak?"tanya steven. Mendengar hal itu kendra ingin mendekat tetapi dia tidak mungkin melakukan hal itu selama di depan steven.
"Tidak apa-apa, pa, hanya kecapekan,"sahut ella berbohong. "Ella masuk dulu, pa."
Kendra mengamati pergerakan ella sampai dia masuk ke dalam kamar. Dia sebenarnya ingin memastikan kondisi gadia itu, tetapi di depan steven begini itu tidak mungkin dia lakukan.
"Ken, papa ingin bicara denganmu, mari ikut ke ruangan papa."
Kendra mengikuti langkah steven ke ruangan kerja papanya.
"Ada apa?"tanya kendra setibanya mereka di sana.
"Papa langsung ke intinya. Bagaimana pendapatmu tentang pamanmu?"
"Paman danu?"tanya kendra memperjelas.
"Iya, dia pasti tidak akan rela kepemimpinan jatuh ke tanganmu, meskipun kamu keponakannya."
"Aku sudah mempersiapkan semuanya."
"Kamu yakin?"tanya steven.
"Papa meragukanku?"ujar kendra dingin
"Berhati-hatilah,"ujar steven memperingatkan.
"Justru papa yang harus berhati-hati,"kali ini kendra yang balik memperingatkan papanya.
"Apa maksudmu?"tanya steven penuh selidik.
"Papa akan tahu sendiri nanti."
"Apa yang papa tidak ketahui, nak?"tanya steven serius.
"Bau busuk itu pasti akan tercium dengan sendirinya tanpa orang harus mengatakannya."
*S*ilakan cari tahu sendiri seberapa busuk perilaku wanita kesayanganmu itu. Wanita yang membuatmu tergila-gila hingga meninggalkanku dan juga mama. Akan terasa menyakitkan bila tahu kebenaran itu sendiri. Itu yang pernah dialami mama saat tahu papa berselingkuh.
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...