You Are My Everything

You Are My Everything
Katakan yang Sebenarnya



"Tuan, tuan besar sedang menuju kemari,"bisikan Alvin membuat Kendra menoleh ke arah datangnya langkah kaki yang semakin mendekat.


Untuk apa dia kemari? Mengkhawatirkan ku?


"Kendra, bagaimana keadaan Santoso?"tanya Steven setelah bertemu langsung dengan putra satu-satunya itu.


"Baik,"jawab Kendra singkat.


"Papa akan membantumu jika ada yang kamu butuhkan,"ujar steven tulus. Dia benar-benar ingin membantu putranya itu.


Namun Kendra hanya tersenyum sinis. "Aku kira justru papa yang merencanakan ini semua?"perkataan Kendra membuat Steven terkejut. Bagaimana bisa putranya menuduh dia bekerja sama dengan Irawan Santoso?


"Apa maksudmu, nak? Papa tidak tahu,"tanya balik Steven.


Apakah ini semua hanya ulah Linda atau kerjaan Danu Soetomo?


"Kita bicara di tempat lain, Alvin, jaga dengan baik Irawan Santoso,"perintah Kendra kepada asisten nya.


"Baik, tuan,"ujar Alvin.


Steven dan Kendra meninggalkan ruang rawat Irawan Santoso diikuti oleh Jack.


**


Steven duduk berhadapan dengan Kendra di sebuah restoran terkenal dan memesan sebuah tempat khusus.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan papa, nak?"ujar steven membuka pembicaraan.


"Menurut papa?"ujar Kendra kembali bertanya. Steven menghela napas panjang. Sikap sinis Kendra kali ini membuat nya bingung, apa salah dia kali ini di mata putranya itu.


"Papa tidak tahu, nak. Apakah papa melakukan kesalahan padamu? Tolong katakan yang sebenarnya kepada papamu ini,"ujar Steven dengan lembut. Dia tidak mau bersitegang dengan putranya. Kendra sedang menghadapi sebuah masalah kali ini. Bukan saat yang tepat untuk mereka berdua bertengkar.


Kendra menatap lelaki yang sedang duduk di hadapannya itu. Dia sudah tidak muda lagi. Sudah banyak yang dia lalui, kenapa dia lagi-lagi dikalahkan oleh seorang wanita. Sebodoh itukah lelaki yang ada di hadapannya ini. Sehingga dengan mudah wanita itu melakukan kejahatan berulang-ulang.


"Baiklah, kali ini aku langsung saja,"ujar Kendra. Steven menatap serius, dia menunggu pernyataan apa yang akan diutarakan oleh Kendra. Steven penasaran dengan apa yang diketahui Kendra dan yang tidak diketahuinya tersebut.


"Maksudmu ini disengaja? Oleh siapa?"


Kendra menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Steven mengerutkan dahinya.


"Di sana ada bukti yang menunjukkan siapa pelaku sebenarnya."


"Jack, tolong cek ini,"perintah Steven kepada orang kepercayaannya.


"Kuharap papa tidak salah bertindak kembali setelah melihat dan mendengar apa yang ada dalam sana,"ujar Kendra sambil menikmati minuman yang telah dipesannya.


**


"Sepertinya malammu menyenangkan,"sindir Marcell melihat adiknya baru bangun saat dia tiba di rumah Daniel.


"Ada apa sepagi ini datang kemari?"tanya Daniel serius. Tanpa kabar berita Marcell tiba di rumahnya. Kalau bukan karena masalah penting untuk apa dia menemuinya.


"Bertemu Shella,"jawab Marcell santai sambil duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa tidak menemuinya sendiri,"Daniel merasa kesal karena sudah bangun padahal tadi dia bisa tidur sambil memeluk Ella yang ketakutan akibat mimpi buruknya semalam. Kini dia harus bangun karena kedatangan Marcell yang tiba-tiba.


"Kamu kesal karena aku menggangu aktivitas kalian, begitu?"Marcell tersenyum sambil merebahkan dirinya di sofa.


"Kamu ingin aku membujuknya?"tanya daniel.


"Bolehkah kalau aku meminta pertolongan adik ipar saja?"tanya Marcell sambil mengedipkan mata sebagai isyarat kepada Daniel.


"Bilang saja kalau kamu ingin sekalian berkenalan dengannya,"jawab Daniel langsung ke inti permasalahannya.


"Kamu selalu tahu apa mauku, Brother,"sahut Marcell sambil tersenyum.


***


...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...