You Are My Everything

You Are My Everything
Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya



"Mbak, Ada seorang pria tampan yang ingin bertemu,"kata Ira, asisten Ella.


"Siapa?" Ella sedang tidak merasa mempunyai janji dengan siapapun.


"Orangnya tinggi, putih, tampan pokoknya Mbak,"ujar Ira dengan semangat. Tidak mungkin Daniel atau Kendra Kan? Ira pasti mengenali mereka.


"Baiklah, suruh tunggu sebentar,"kata Ella sambil merapikan catatan nya.


Siapa yang datang ya? Ah, lebih baik aku segera menemuinya.


Kevin duduk bersandar di ruang tunggu butik milik Ella. Dia melihat-lihat dekorasi ruangan yang Ada di Sana. Sungguh nyaman. Pantas saja adiknya pernah bilang kalau dia betah di Sana. Dirinya saja juga mulai merasa betah di sini.


"Tuan Pratama?"sapaan seseorang membuat Kevin menoleh Dan tersenyum kala melihat Ella sudah berdiri di hadapannya.


"Hai, Ella, apa kabar? Apakah aku mengganggu mu?"Kevin berdiri menyambut Ella.


"Ouh, tidak tuan, maaf saya hanya terkejut karena tuan ada di sini, silakan duduk,"ujar Ella dengan sopan.


"Emm..bisakah jangan memanggilku dengan kata tuan? Aku merasa sepuluh tahun lebih tua dari usiaku,"keluh Kevin dengan nada sedih.


"Ouh, maaf, saya takut tidak sopan langsung memanggil nama,"kata Ella dengan bahasa yang formal.


"Kamu adalah teman keyla, Dan keyla adalah adikku. Kita juga pernah bertemu sekali. Tidak bisakah kamu bersikap layaknya seorang teman kepadaku?"Tanya Kevin.


Ella hanya terdiam. Dia tidak menyangka lelaki di hadapannya ini bisa berbicara panjang seperti itu.


"Boleh saja, tuan...eh maksud saya Kevin,"kata Ella. Kevin tersenyum mendengar Ella mau memanggilnya langsung dengan nama depannya.


"Oya, maksud kedatangan ku kemari adalah ingin meluruskan masalah pemberitaan yang akhir-akhir beredar. Aku tahu tentu kamu merasa Ada gangguan atas pemberitaan itu. Aku sudah berupaya untuk mengatasinya. Tetapi bila kamu merasa Ada gangguan, tolong segera beritahu aku."


"Terimakasih atas perhatiannya. Tetapi sampai saat ini belum ada gangguan apapun."


"Syukurlah kalu begitu, aku minta maaf kalau Hal ini tidak membuatmu nyaman,"kata Kevin tulus.


Ella tersenyum,"tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang salah, wajar mereka selalu ingin tahu kehidupan pria lajang yang hebat di kota ini. Para wartawan itu tentu berlomba-lomba ingin tahu kehidupannya."


"Aku tidak seterkenal itu dibandingkan dengan Kendra,"ujar Kevin.


"Kalian sama-sama terkenal di kalangan para wanita."


"Haha, kamu bisa saja. Apakah malam ini ada acara lain?"tanya Kevin.


"Aku ingin mengajak mu makan malam, apakah aku boleh melakukan nya?"tanya Kevin.


"Apakah nanti tidak menjadi berita utama kembali bila kita jalan berdua?"tanya Ella.


Kevin tersenyum,"biarlah, lagipula kita berteman, apakah aku tidak boleh mentraktir temanku sendiri hanya karena takut dengan pembicaraan mereka?"


"Baiklah,"ujar Ella.


**


"Tuan, sudah sampai,"ujar sopir pribadi Kendra. Sedari tadi tuan mudanya itu hanya melamun dan menghela napas panjang. Seperti nya ada sesuatu yang di pikirkannya.


Kendra melihat ke luar jendela. Butik Ella. Kenapa dia selalu memikirkan wanita itu. "Tunggu di..."


Kendra menghentikan ucapannya saat melihat Ella sedang berjalan keluar dengan Kevin menuju sebuah mobil. Ternyata Kevin melakukan apa yang dikatakannya tadi di kantor. Dia benar-benar menyukai Ella.


"Sialan, apa yang kulakukan di sini,"Kendra merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri.


"Kembali ke apartemen,"perintahnya.


"Baik, tuan."


Dia mudah sekali jatuh ke pelukan pria. Haruskah aku masih berbelas kasihan padanya. Buah jatuh memang tidak pernah jauh dari pohonnya.


"Nona Ella baru saja pergi dengan putra sulung keluarga Pratama."


"Ikuti terus kemana mereka pergi."


"Baik. Saya juga melihat mobil dari Kendra Daniswara di sekitar butik nona Ella."


"Awasi jangan sampai terjadi sesuatu dengan Ella."


"Baik, tuan."


***


...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...