
Daniel minum beberapa gelas minuman keras. Dia sedang menumpahkan isi hatinya yang tidak bisa dia ceritakan ke orang lain. Bahkan dia juga tidak bisa menceritakan nya kepada Ella sekalipun.
"Aku melakukan ini karena aku menyayangimu, la. Biarlah Kendra tahu siapa dirimu sebenarnya. Dia harus tahu agar dia tidak melukaimu semakin parah." Daniel meneguk kembali gelas ketiganya.
"Aku ingin bertemu dengan Lala." Daniel menatap Kendra seperti ingin meyakinkan apakah dirinya sudah siap.
"Jangan membohongiku lagi, atau aku tidak akan melepaskan Ella,"ujar Kendra dengan sungguh-sungguh. Meskipun dalam hati kecilnya merasa tidak rela melepaskan Ella. Tetapi sudah sejak lama dia mencari Lala dan hanya Daniel lah yang tahu. Orang terakhir yang menyelamatkan hidup Lala saat kebakaran di panti asuhan.
"Baiklah. Aku akan mengajakmu menemuinya,"ujar Daniel.
"Tetapi kamu tepati ucapanmu. Lepaskan Ella dan jauhi dia selamanya,"kata Daniel tegas. Sorot mata Daniel yang tajam membuat Kendra merasa yakin bahwa kali ini Daniel tidak sedang bermain-main dengan nya.
"Oke, pegang janjiku,"ucap kendra.
**
"Mama....."lirih Kendra dalam tidurnya.
"Ma....jangan....jangan tinggalkan aku...,"kendra masih mengigau dalam tidurnya.
Seorang gadis kecil berkepang dua merawat Kendra yang sedang sakit dengan telaten. Dia mengusap keringat Kendra yang terus mengalir karena mimpi buruk yang sedang dia alami.
"La,"seorang anak lelaki masuk ke dalam kamar Kendra. Lelaki itu tampak tidak menyukai anak lelaki yang sedang terbaring di tempat tidur. Dia anak yang sombong. Karena kesombongan nya itulah dia dibuang ke panti asuhan oleh keluarganya. Tidak ada anak panti yang mau menjadi temannya. Hanya Lala saja yang bandel tetap mengajaknya berteman.
"Istirahatlah, ini sudah malam."
"Tidak apa-apa, kak. Aku baik-baik saja,"ujar Lala sambil tersenyum menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Heh, kamu selalu memikirkan orang lain, pikirkan dirimu juga, la."
"Kakak tenang saja."
"Ya, sudah aku akan menemanimu di sini."
Lala terkejut mendengarnya,"jangan kak, lagian yang menyuruhku adalah suster Maria, biarlah aku disini sendiri saja. Kakak istirahat lah."
"Tidak apa-apa, justru aku semakin tidak bisa tidur jika ada dikamar sedangkan otakku terus memikirkan mu di sini."
"Kenapa kamu rela melakukan ini?"
"Hah? memang harus ada alasan untuk itu?"tanya Lala.
"Ya, kan mana ada yang mau dekat dengan anak ini selain kamu, la."
lala menghembuskan napas dan menatap anak laki-laki yang sedang terbaring di hadapannya itu. "Itu karena dia pernah menolong aku, kak. Dia sebenarnya baik entah kenapa ya sikanya judes banget sama kita. Kenapa kita tidak ajak dia berteman dulu. Kita tidak boleh menjauhi dia."
"Kamu terlalu baik, la."
"Akh...."mendengar suara tersebut Lala segera menuangkan air minum. Dia memberikannya. kepada anak laki-laki yang baru bangun dari tidurnya.
"Minumlah dulu,"ujar lala.
"Keluar kalian dari kamarku!"usir Kendra. Mendengar perkataan Kendra membuat lala terkejut.
"Sudahlah, la, ayo kita pergi."
"Tunggu, kak. Tapi ....."
"Kamu tidak dengar dia mengusir kita?"
"Tapi dia sakit, kak,"lala masih bersikeras untuk tinggal.
"Aku tidak butuh dirawat kalian, pergilah,"usir kendra kedua kalinya.
"Tuh, dengar sendiri kan?"anak lelaki ini cukup jengkel dengan perkataan Kendra. Namun Lala masih merasa kasian dengan kondisi Kendra. "Tunggu, kak, aku mau bilang sesuatu padanya."
Lala pun berjalan mendekati Kendra. Dia menyodorkan semangkok bubur ayam yang masih hangat. "Ini makanlah, masih hangat,"Lala memberikan nya kepada Kendra. Bau makanan begitu menyengat membuat cacing yang ada diperut Kendra bernyanyi minta di isi.
"Kami pergi dulu,"ucap Lala sebelum dia pergi meninggalkan Kendra sendirian.
***
Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️