You Are My Everything

You Are My Everything
Perasaaan Aneh



(Ella POV)


Suasana di meja makan begitu dingin. Papa steven yang biasanya banyak bicara kini hanya diam dan menikmati makanannya tanpa sepatah katapun. Begitu juga dengan kendra dan ibu. Entah apa yang telah terjadi di sini. Mereka bertiga seolah-olah memiliki bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


"Aku sudah selesai makan,"ujarku. Aku ingin segera beristirahat.


Tidak ada yang bersuara bahkan ketika aku beranjak pergi dari meja makan semuanya hanya diam. Akupun tidak ambil pusing dengan sikap mereka.


Kurebahkan diriku di ranjang. Rasa kantuk mulai melanda dan aku merasa diriku lelah.


**


(Kendra POV)


Malam ini aku menginap di rumah. Steven cukup terkejut mendengar aku akan menginap. Dia tampak senang. Aku tidak peduli. Tujuanku menginap adalah untuk melihat kondisi ella. Aku cukup khawatir dengan melihatnya hampir pingsan di depanku dan juga wajahnya tampak pucat.


Tengah malam aku keluar dari kamar dan menuju kamar ella di sebelah kamarku. Dan beruntung sekali kamarnya tidak terkunci. Mungkin dia tidak mengira aku akan menginap malam ini jadi dia tidak menguncinya. Dia terburu-buru menyudahi makannya tadi, pasti ada sesuatu. Kalau saja dia tahu aku menginap di sini. Pasti dia akan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


Kulihat dia sedang tertidur. Kuambil selimut yang ada di ujung kakinya. Kuselimuti tubuhnya hingga batas dada.


Kulihat wajahnya yang terlelap begitu damai. Entah apa yang mendorongku untuk mengelus perlahan pipinya yang putih mulus. Dia bergerak pelan dan itu membuatku terkejut. Aku menjauhkan diri darinya takut dia terkejut saat melihatku ada di sisinya. Karena dia selalu merasa ketakutan setiap kali melihatku. Aku sungguh benci melihat hal itu. Entah aku juga tidak tahu dengan diriku sendiri. Kenapa aku juga merasa membenci diriku sendiri bila melihat sorot mata ketakutan di wajah ella.


Beruntung dia tertidur kembali. Apa yang menarik dari wanita ini. Kenapa aku tidak bisa benar-benar menyakitinya. Kenapa hatiku juga ikut sakit jika dia menangis. Sekilas dia mengingatkanku kepada lala. Gadis kecil yang pernah kutemui sewaktu aku dibuang oleh steven ke panti asuhan. Namun lala adalah gadis yatim piatu dan dia terjebak dalam kebakaran panti asuhan yang membuatku sampai sekarang belum bisa menemukannya. Apakah lala masih hidup atau sudah meninggal.


Ella tampak gelisah dalam tidurnya. Aku mendekatinya dan melihat kerutan di dahinya. "Apakah dia sedang sakit?"


Kusentuh dahinya. Agak panas. Sepertinya dia demam. Pantas saja dia agak gelisah dalam tidurnya.


Aku turun ke bawah, dan mengambil air hangat di baskom dengan kain untuk mengompres. Mengapa aku melakukan ini untuknya?Aku tidak tahu jawabannya. Aku tergerak sendiri dan ini tidak bisa kulawan. Perasaan ini tidak bisa kuhentikan.


**


Kendra melihat ella mulai terbangun karena merasa haus. Kendra mengambilkan air yanh ada di dekat tempat tidurnya.


ella meminum air yang diberikan kendra. Dia melihat dengan jelas kali ini. Ini bukan halusinasi, kendra memang ada di kamar dia saat ini. Namun kondisi ella yang masih lemah membuatnya hanya diam saja membiarkan kendra membantunya kali ini.


"Kamu ada di sini?"tanya ella dengan pelan.


"Ya, tidurlah, demammu baru saja turun,"ujar kendra dengan nada dingin.


"Terimakasih sudah merawatku, kamu bisa pergi meninggalkan ku sekarang." Ella tidak mau sampai orang di rumah tahu kalau kendra ada satu kamar dengan dirinya. Apalagi sampai diketahui oleh Linda.


"Sudah berani mengusirku, sekarang?" kendra berucap ketus. Ella yang merasa tidak enak dengan sindiran kendra hanya diam. Dia sedang tidak bertenaga untuk berdebat dengan kendra kali ini.


"Aku mau tidur di sini. Aku capek." Ella tidak menyangka kendra akan merebahkan dirinya di samping ella dan mulai memejamkan matanya.


"Ken, jangan bercanda. Ini kamarku..."


"Diamlah! Atau kamu sengaja membuat keributan untuk membangunkan yang lain."


"Tapi..."


"Besok pagi-pagi aku akan pergi." Kendra memalingkan tubuhnya membelakangi ella. Melihat sikap kekeraskepalaan kendra membuat ella diam. Dia juga baru merasa membaik. Tenaganya masih lemah. Sudahlah. Ella malas berdebat. Dia membuat batas agar kendra tidak terlalu dekat dengannya. Ella kembali merebahkan dirinya. Dia baru merasa membaik. Dia tidak ingin menguras tenaganya untuk berdebat dengan kendra.


Selang beberapa waktu kemudian. Kendra mendengar deru napas ella yang teratur. Wanita liar itu sudah tertidur pulas rupanya.


Kendra membalikkan tubuhnya. Dilihatnya ella membuat batas pemisah diantara mereka. Kendra tersenyum. Masih berusaha melawanku meski dalam kondisi sakit parah sekalipun. Sungguh menarik.


***


...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...