
"Silakan tuan Pratama, tuan Daniswara sudah menunggu di dalam,"ujar Alvin.
"Terimakasih,"Kevin berjalan menuju ruangan Kendra. Hari ini dia datang untuk penandatanganan kerjasama dan juga undangan pernikahan adiknya.
"Apakah sudah menunggu lama?"tanya Kendra.
"Tidak juga."
"Silakan duduk,"Kendra mempersilakan Kevin untuk duduk dan dia memilih tempat duduk yang berhadapan dengan Kevin.
"Silakan baca terlebih dahulu."
Kevin menerima perjanjian kerjasama yang mereka sepakati. "Dimana aku tandatangan?" Kendra menunjukkan tempatnya.
Kemudian bergantian Kendra menandatangani perjanjian itu. Kevin menerima dokumen yang sudah ditandatangani.
"Aku ingin menyerahkan undangan ini. Kuharap kamu datang."
"Ku usahakan,"jawab Kendra.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"tanya Kevin.
"Soal apa?"Kendra menyuruh kedua asisten mereka untuk keluar. Sepertinya ini pertanyaan pribadi.
"Siapa lelaki yang bersama Ella malam itu dekat butik Ella. Aku melihatmu dan beberapa anak buahnya ada di sana."
Kendra tidak menyangka ada Kevin di sana. "Ouh, kamu melihatnya?"
"Ya, aku tidak sengaja, sebenarnya aku ingin menemui Ella malam itu terkait gosip yang beredar."
"Dia bukan siapa-siapa."
"Ella menangis dalam pelukan nya."
"Lalu? Sudahlah, jangan dipikirkan,"potong Kendra.
"Aku bertanya padamu karena kita teman dan kamu saudara Ella."
"Dia hanya kakak angkat Ella. Mereka dibesarkan bersama oleh ayah kandung Ella."
"Benarkah?"
"Itu yang kutahu."
"Syukurlah,"kevin menghela napas lega.
"Tampaknya kamu senang dengan kabar ini,"ujar Kendra.
"Aku sempat mengira mereka sepasang kekasih, aku hampir menyerah karena nya,"ujar Kevin.
"Kamu sekarang akan berjuang mendapat kannya?"Tanya Kendra.
"Tentu saja, Ella adalah wanita yang pantas diperjuangkan,"kata Kevin semangat.
**
Shella berjalan ke arah cafe tempat tongkrongannya dengan tergesa-gesa. Dia berjanji bertemu dengan seseorang.
"Astaga, maaf, ya,"shella mengambil barang orang yang ditabraknya.
"Kamu?"shella mendongak melihat siapa yang ditabraknya.
"Eh, Kita pernah bertemu ya?"shella mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu orang tersebut. "Ah, aku ingat! Orang yang tertabrak waktu itu,"ucap shella semangat.
"Iya, Hai, kenalkan namaku A..azka,"ujar Alvin sambil menjabat tangan shella.
"Namaku, shella. Panggil saja shella,"sahut shella dengan senyum merekah.
"Kita selalu bertemu dengan bertabrakan,"mereka berdua pun tertawa.
"Boleh ku traktir minum?"Tanya Alvin.
"Boleh,"sahut shella.
"Baiklah, silakan duduk tuan putri,"kata Alvin mempersilakan shella duduk.
"Apakah kamu tipe pria perayu seperti ini?"Tanya shella yang ditanggapi Alvin dengan tertawa.
"Tidak, maaf bila membuatmu tersinggung."
"Lupakanlah. Aku hanya bercanda,"jawab shella dengan tersenyum.
Mereka berdua pun duduk Dan mengobrol bersama di kafe sore itu.
**
"Aku ingin bicara padamu."
"Maaf, saya sudah memperingatkan untuk tidak masuk,"ucap sekretaris Kendra dengan tergopoh-gopoh.
"Pergilah,"balas Kendra. Sekretarisnya pun undur diri.
"Sepertinya paman terburu-buru kesini, Ada apa?"Tanya kendra dengan nada dinginnya. Mereka memang tidak memiliki hubungan yang baik.
"Apa yang kamu lakukan dengan perusahaan Pratama Grup?"Tanya Danu dengan tatapan tajam. Dasar anak tidak tahu diri. Kalau tahu seperti ini jadinya, aku matikan saja dia dari dulu.
"Kami bekerjasama. Apa ada yang salah?"Tanya Kendra santai. Hal ini membuat Danu Soetomo geram. Bagaimana dia bisa bersikap setenang ini menghadapi ku.
"Kau, sudah menikung apa yang sudah dilakukan paman mu!!! Kau tahu itu!"bentak Danu.
"Lalu? Kenapa?"Tanya Kendra singkat. Namun pertanyaan Kendra ini justru membuat Danu semakin marah.
"Jangan suka bermain-main API, kau bisa terbakar sendiri,"Danu berlalu dari ruangan Kendra Dia tidak ingin berlama-lama disana.
"Jangan terlalu keras, paman. Paman sudah berumur, jagalah kesehatan,"ujar Kendra kepada Danu.
Perang ini akan segera dimulai.
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...