
Ella duduk di sebuah taman penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran. Dia melihat ayunan di tengah-tengah taman itu. Dia berlari ke arah ayunan itu, dan duduk di bangku ayunan itu.
Dia ingat saat kecil dulu dia suka bermain ayunan bersama dengan ayahnya, Andri. Saat kecil Andri selalu mengajak Ella pergi ke taman bermain ayunan.
Bahkan dia pernah bertengkar dengan Daniel karena dia memaksa naik ayunan padahal sedang sakit. Dan lagi-lagi Daniel yang mengalah karena Ella menangis terus ingin naik ayunan.
Ella tersenyum mengingat semua itu. Masa kecil yang begitu lucu dan selalu membuatnya ingin kembali lagi ke sana. Ella selalu ingin kembali ke masa itu. Dia ingin kembali bersama-sama ayahnya dan juga daniel dalam kebahagiaan.
Tiba-tiba sebuah tepukan lembut di bahunya membuat Ella menoleh. Seorang anak laki-laki sekitar berusia 4 tahun tersenyum manis padanya.
"Hai,"sapa Ella.
"Hai, juga,"balas anak kecil itu masih dengan senyum manisnya.
"Kamu ingin bermain juga?"tanya Ella karena anak itu melihat ke arah ayunan itu. Anak kecil itu mengangguk dan tersenyum,"Bolehkah?"tanyaya kepada Ella.
"Boleh, sini kubantu,"Ella mengangkat tubuh anak kecil itu lalu mendudukkannya di bangku ayunan dan Ella mulai menggoyangkan ayunan tersebut. Ella dan anak laki-laki itu tampak bahagia bermain bersama-sama. Mereka tertawa bahagia bersama.
Ella juga merasa bahagia melihat anak itu tertawa bahagia. Mereka sama-sama bahagia dan saling bercanda tawa.
"Aku mau kelinci itu,"tunjuk anak kecil itu kepada Ella. Dia menunjuk seekor kelinci berwarna putih.
Ella mengangkat anak kecil itu dan menggendongnya. "Kamu mau itu?"tanya Ella.
"Iya, ayo tangkap dia?"ajak anak itu. Ella berpikir sejenak, sedangkan si anak menunggu jawaban Ella dengan wajah memelas.
"Boleh, tapi tidak boleh dibawa pulang ya, kita ajak saja dia bermain, oke?"
"Oke,"ujar anak itu sambil tersenyum sangat manis. Pipinya yang chubby membuat Ella menoelnya dan menciumnya karena gemas.
Mereka berdua pun bermain kejar-kejaran dengan si kelinci putih itu. Ella tampak sangat bahagia. Begitu juga si anak kecil itu.
"Kalian sudah selesai bermainnya,"suara sapaan itu seketika membuat ella menoleh. Dia sangat merindukan suara itu.
"Ayaahh,"Ella berlari ke arah sosok Andri yang berjalan dengan langkah tegap dan sebuah senyuman yang hangat membuat air mata Ella tumpah seketika. Dia sangat merindukan Andri. Sangat ingin bertemu ayahnya tersebut.
"Jangan tinggalkan aku lagi, yah, aku rindu padamu,"rengek ella membuat Andri merasa lucu karena sikap Ella yang seperti anak kecil.
"Bukakan kamu sudah memiliki Daniel?"tanya Andri sambil mengusap air mata yang tersisa di pipi putrinya itu.
"Aku maunya bersama-sama dengan ayah juga,"ujar Ella kesal karena ayahnya seolah-olah tidak menginginkan kebersamaan mereka.
"Tempatmu bukan di sini, nak. Pulanglah,"ujar andri seolah mengusir Ella dari tempat tersebut.
"Tapi aku betah di sini, yah, ada ayah dan juga anak kecil ini,"Ella menarik lengan mungil si anak kecil yang bermain bersama nya barusan.
"Aku betah di sini, yah, ijinin aku tinggal di sini ya,"pinta Ella sambil merengek-rengek seperti anak kecil. Melihat sikap putrinya tersebut, Andri hanya tersenyum sambil membelai lembut kepala Ella.
"Tempatmu bukan di sini, nak. Mereka menunggumu di sana,"kata Andri.
"Aku tidak butuh ditunggu, yah, aku hanya butuh ayah saja. Bawa aku ikut ayah ya...,"rengek Ella sambil mulai menangis kembali.
Andri menggeleng pelan. "Belum, nak. Belum saat nya kamu ikut ayah."
"Aku kesepian di sana, yah. Aku ingin punya teman seperti dia di sini,"ucap Ella sambil memeluk anak kecil tersebut.
"Nanti, nanti kamu akan mendapatnya kembali, nak. Tunggulah....."kata Andri.
"Tidak, yah....tolong bawa aku dengan kalian...."ujar Ella sambil menangis sesenggukan.
Andri mendekat dan memeluk putrinya tersebut. "Kembalilah, nak. Mereka semua menunggumu."
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄