
"Kamu melakukan hal yang benar, shel,"ella menatap shella dan tersenyum lembut.
"Apakah kamu sudah yakin?"tanya shella khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa,"jawab ella tenang.
"Aku menjadi merasa bersalah, apalagi kamu sedang..."shella tidak meneruskan ucapannya. Shella sudah merasa sesak mendengar kabar bahwa ella hamil. Itu anak kendra. Shella tahu kalau kendra pernah memperkosa ella.
"El...lalu bagaimana denganmu?"tanya shella bingung. Dia ingin menangis rasanya. Dia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah. Shella sungguh merasa tidak enak hati memisahkan seoranga anak dengan ayah kandungnya.
"Tenang saja, aku akan membesarkannya sendiri,"jawab ella yakin.
"Lalu, daniel?" Shella berharap ella mau bersama dengan daniel demi keselamatan ella.
"Aku tidak mau membebaninya,"tolak ella tegas.
"Jadi? Kamu akan membesarkan sendiri?" Ella mengangguk pasti.
"Tidak!" Cegah shella, dia tidak mau anak ella nanti akan seperti dirinya.
"Kenapa tidak? Aku bisa membesarkan dia sendirian. Aku sanggup, shel,"yakin ella..
"Tidak, la, bukan masalah sanggup atau tidak. Dia juga butuh kasih sayang seorang ayah. Kamu tidak bisa membiarkan anak mu hidup tanpa figur seorang ayah. Aku pernah ada di posisi itu, la, dan itu menyakitkan."
Ella terdiam. Perkataan shella benar adanya.
"Tapi aku tidak mau membuat beban orang lain jika dia harus menjadi ayah dari anakku."
"Kenapa? Kamu berharap kendra menikahimu?"
"Tidak mungkin, shel, apa kata orang nantinya. Keluarga daniswara akan tercemar."
"Daniel menerimamu, la. Seperti apa adanya dirimu. Aku jelas melihat cinta yang tulus di matanya."
"Aku sudah banyak merepotkannya. Dia juga menghadapi banyak masalah karena diriku. Karena ingin membantuku." Shella menghela napas, dia menggenggam jemari tangan ella.
"Kita bertiga besar bersama. Sejak dari kecil sampai sekarang. Aku tahu siapa yang bisa melindungimu. Sebagai sahabatmu dan juga saudaramu, aku sarankan terimalah daniel. Dia adalah lelaki yang bisa melindungi dan juga menjagamu untuk ke depannya nanti. Memang diantara kalian bertiga ada kisah yang tidak bisa terlupakan. Tetapi pilihan terbaik hanyalah daniel. Pikirkanlah."
Ella menatap mata shella dan ada keyakinan di sana. Ella mengangguk,"aku akan memikirkannya."
"Daniel yang sekarang akan sanggup melindungimu dari siapa pun."
"Apa maksudmu, shel?"tanya ella tidak mengerti.
"Sebenarnya hal ini biarlah daniel sendiri yang bercerita kepadamu, aku tidak berhak mengatakannya."
**
"Nyonya cinderella."
Ella ditemani shella masuk ke ruangan dokter kandungan.
"Silakan bu,"ujar perawat.
Ella dan shella merasa canggung karena baru pertama kali bertemu dokter kandungan.
Ella pun melakukan beberapa pengecekan.
"Selamat ya nyonya cinderella, usia kandungan anda telah memasuki 4 minggu. Masih rentan di usia kandungan itu. Tolong kurangi aktifitas yang berlebih dan jangan sampai kecapekan."
"Baik, dokter."
"Ink saya berikan vitamin, diminum sehari 1 kali."
Setelah menebus resep obat di apotik yang ada di rumah sakit. Kedua wanita itu berjalan ke arah parkiran rumah sakit.
"Selamat ya, el, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu,"ujar shella.
Ella masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Kini di dalam perutnya telah ada satu nyawa yang harus dia jaga dengan baik.
"Ella."
Panggilan itu sontak membuat ella terkejut sekaligus tidak menyangka akan bertemu di rumah sakit.
Ella berpaling dan melihat sosok yang dia takut untuk temui. Daniel.
Dia berjalan mendekati ella dan seketika ella maupun shella terdiam karena tidak menyangka ada daniel di sana.
Ella yang masih memegang foto usg kehamilannya tidak menyadari kalau daniel ikut tertarik dengan apa yang dipegangnya.
"Ini apa, el?" Daniel menarik lembar kecil foto itu. Ella terlambat menyadari dan seketika dia melihat wajah daniel mengerutkan dahinya dan menatapnya tajam.
Ella sudah merasakan ketakutan hanya dengan tatapam daniel. Shella melihat hal tersebut segera maju di depan ella. "Dan, aku bisa jelaskan ini kepadamu, sebenarnya...."
Daniel memotong ucapan shella. "Aku bawa ella ya, shel,"pinta daniel dengan sopan. Shella menatap ella dan dia pun mengangguk.
Daniel mengulurkan tangannya kepada ella. Namun ella hanya menatapnya saja.
"El...,"daniel menatap ella dengan tersenyum hangat. Entah mengapa sikap manis daniel justru membuat ella ingin menangis saja.
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...