You Are My Everything

You Are My Everything
Bangunlah, aku menunggumu...



"Tuan besar, cepat kemari, tuan muda siuman,"kata asisten Alvin lewat sambungan teleponnya.


Steven segera berlari ke ruangan dimana Kendra dirawat. Dia sedang sarapan di kantin rumah sakit ketika asisten Alvin meneleponnya dan mengabari kalau Kendra sudah siuman.


"Bagaimana kondisi putra saya, dok?"tanya Steven setelah sampai di ruangan dan melihat beberapa perawat dan juga dokter telah berada di sana memeriksa kondisi Kendra.


"Kondisi pasien sudah stabil. Dia sudah melewati masa kritisnya,"jawab sang dokter yang menangani kondisi Kendra Daniswara.


Steven bernapas lega mendengar jawaban dari dokter.


"Terimakasih, dok,"ujar Steven sambil terus bersyukur, akhirnya Kendra siuman setelah hampir seminggu tidak sadarkan diri setelah terkena ledakan dari mobil yang ditumpangi Linda dan juga Ella


"Tuan, tadi sewaktu terbangun tuan muda memanggil nama nona Ella,"ujar asisten Alvin.


Steven menghela napas panjang. "Itulah yang dia khawatir kan. Kasian mereka."


"Vin, tolong beritahu Daniel Wiraatmadja kalau Kendra sudah sadar,"ujar Steven memerintah asisten Alvin.


"Baik, tuan besar,"jawab asisten Alvin.


Sementara asisten Alvin menelepon Daniel Wiraatmadja di luar kamar. Steven mendekati ranjang Kendra. Putranya itu masih tergolek karena pengaruh obat penenang.


"Terimakasih, Tuhan. Akhirnya dia bisa sadar kembali. Terimakasih telah mengabulkan doa-doaku,"ucap Steven lirih.


Steven mengusap air matanya yang mengalir begitu saja. Dia sangat bahagia karena mendengar Kendra telah tersadar dari koma.


**


"Asisten pribadinya telah menghubungiku dan mengatakan kalau Kendra Daniswara telah tersadar,"ujar Daniel setelah menerima sebuah pesan di handphone nya.


"Tenanglah, dia juga pasti akan terbangun. Kita hanya bisa berdoa,"kata Marcell menenangkan sang adik.


"Aku merasa gagal selama ini tidak pernah ada saat dia membutuhkan diriku,"ucap Daniel dengan nada sedih.


Marcell mendekati adiknya tersebut. Dia tahu Daniel pasti terpukul melihat apa yang telah terjadi dengan istrinya, Ella.


Kecelakaan itu telah membuatnya kehilangan bayinya. Dan juga kehilangan ibunya untuk selamanya.


Sementara hingga saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa Ella akan sadar dari komanya dan itu membuat Daniel menjadi stres. Sempat dia ingin membawa Ella ke luar negeri tetapi demi keselamatan Ella hal itu pun diurungkan. Sehingga daniel pun mendatangkan dokter terbaik ke Indonesia hanya untuk menyelamatkan Ella.


"Dia akan bangun, aku yakin itu,"ujar Marcell memberi semangat kepada Daniel.


"Kuharap juga seperti itu,"sahut Daniel.


**


Kendra berjalan menggunakan tongkat penyangga. Dia berjalan berlahan-lahan sambil berpegangan dengan tembok di sampingnya.


"Jangan nekat tuan, tuan besar bisa memarahi saya nantinya,"ujar asisten Alvin sambil berusaha mengajak kendra kembali ke kamarnya.


"Tidak, aku mau melihat kondisinya,"ujar Kendra sambil nekat berjalan ke tempat Ella di rawat.


"Tuan, tolong..."pinta asisten Alvin meminta agar tuan mudanya itu tidak keras kepala.


"Diam kamu!"bentak Kendra melihat sikap Alvin yang mencoba mengajaknya kembali ke rumah sakit tempat dia di rawat. Ya, Kendra melarikan diri saat dia mengetahui dimana tempat Ella di rawat.


"Pasti Daniel Wiraatmadja menempatkan penjagaan yang ketat di tempat itu,"ujar asisten Alvin sambil memapah tuannya.


"Maaf, anda dilarang masuk!"dua orang penjaga yang berjaga di depan kamar Ella menghadang langkah Kendra dan Alvin.


"Aku Kendra Daniswara, bilang pada daniel, aku mau bertemu Ella,"ujar Kendra tanpa takut. Dua penjaga itu saling memandang.


"Tunggu, di sini, kami akan tanyakan lebih dulu,"salah seorang penjaga kemudian dia menelepon Daniel.


"Baik, tuan,"penjaga itu mematikan teleponnya.


"Masuklah, tapi hanya satu orang saja,"ujar si penjaga itu kepada Kendra.


"Aku yang masuk,"jawab Kendra kemudian.


Penjaga itu membuka pintu kamar ruang rawat inap Ella. Kendra masuk ke dalam ruangan sedangkan asisten Alvin menunggu di depan bersama dua bodyguard milik keluarga Daniswara.


Kendra berjalan dengan menggunakan tongkat penyangga. Kakinya cedera saat mobil itu meledak. Dia harus menggunakan alat itu untuk berjalan selama proses penyembuhan.


Dia mendengar bunyi alat pendeteksi jantung. Kendra hampir saja tidak kuasa melihat kondisi Ella yang juga terluka parah.


"Kau ke sini juga,"Daniel menyambut kedatangan Kendra. Dia bangkit dari tempat duduknya yang berada di samping ranjang tidur Ella.


"Bagaimana kondisinya?"tanya Kendra yang hanya fokus menatap lekat ke arah Ella.


"Seperti yang kau lihat,"Daniel mendesah pelan. Dia menatap Ella yang tidak bergerak setelah hampir dua Minggu lamanya.


"Ajaklah dia bicara, mungkin dia mau mendengarkanmu,"Daniel mempersilakan Kendra duduk di tempat duduknya tadi.


Kendra menatap Daniel.


"Jaga dia sebentar," ujar Daniel kepada Kendra dengan tersenyum. Daniel berpikir mungkin saja dengan kehadiran Kendra bisa membuat Ella lekas siuman. Kendra mengangguk mengiyakan permintaan Daniel barusan kepadanya.


"Aku akan di sini sampai kamu kembali,"kata Kendra.


Daniel tersenyum,"terimakasih."


Daniel melangkah ke arah Ella terbaring,"sayang, aku tinggal sebentar. Ada Kendra di sini. Dia akan menjagamu sementara aku pergi. Cepatlah bangun, sayang."


Daniel mengecup kening Ella dan menahan tangisnya yang selalu saja ingin tumpah setiap kali dia mengingat bagaiamana Ella sekarang hanya terdiam di tempat tidur.


"Aku pergi dulu,"Daniel menepuk bahu Kendra. Dan melangkah keluar dari kamar Ella.


Kendra mendekati ranjang Ella dan duduk di samping tempat tidurnya. Dia melihat kondisi Ella yang begitu memprihatinkan. Dia pun tidak kuasa menangis melihat apa yang telah terjadi pada diri Ella.



"Maafkan aku, la.....maaf....."ucap Kendra dengan lirik sambil terisak.


***


Iklan Author


Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.


Terimakasih 😄