You Are My Everything

You Are My Everything
Pertemuan Dua Keluarga



Steven datang ke sebuah pemakaman yang sudah lama tidak dia kunjungi. Dia meletakkan sebuah bunga mawar putih kesukaan mendiang Nadia Soetomo.


"Maaf. Maafkan aku." Steven memegang batu nisan bertuliskan nama Nadia Soetomo.


"Ini semua salahku. Aku yang salah. Aku telah menerima karmaku, aku menerima akibat semua dosa-dosaku. Aku bersalah kepadamu, kepada putra kita." Steven tak kuasa menahan air matanya. Telah banyak yang dia lalui dan semua karena keegoisannya.


Kenyataan bahwa Linda telah menyelingkuhi dirinya dengan adik iparnya, Danu Soetomo, telah membuatnya merasa sakit hati. Inikah yang dulu dirasakan oleh Nadia saat dirinya mengkhianati rumah tangga mereka dahulu. Apakah ini balasan untuknya karena menyia-nyiakan istri dan putranya yang tidak tahu apa-apa.


"Nadia, mungkin kamu sangat jijik melihatku, aku memang tidak pantas menjadi suamimu. Aku tidak pantas menerima cintamu yang tulus itu. Maaf...aku sungguh meminta maaf padamu. Aku yang hina ini telah banyak berdosa kepada kalian. Maaf....."


"Aku berjanji, aku akan membantu putra kita, aku akan menyelesaikan permasalahan dengan Danu, adikmu."


Steven berjalan dengan langkah gontai. Dia telah sampai di mobil pribadi nya. Jack menghampirinya menyampaikan sebuah kabar. "Tuan, saya sudah terhubung dengan perusahaan Wiraatmadja, mereka mengajak bertemu hari ini juga."


"Baiklah, ayo segera berangkat."


"Baik, tuan."


Steven langsung menuju sebuah tempat yang telah ditentukan untuk diadakan pertemuan pribadi. Kali ini Steven tidak ingin Kendra kalah dalam rapat pimpinan pemegang saham. Mengalahkan Danu Soetomo harus dengan cara mencari dukungan penuh untuk Kendra. Semoga saja Wiraatmadja mau membantunya kali ini.


"Tuan Daniswara, tolong ikut saya,"seorang pelayan mengantarkan Steven dan juga Jack ke sebuah tempat yan rupanya telah dipesan secara khusus oleh Wiraatmadja.


"Maaf, tapi sesuai perintah tuan Wiraatmadja, hanya tuan Daniswara saja yang diijinkan masuk,"ujar si pelayan dengan sopan.


"Jack, tunggulah disini,"perintah Steven.


"Baik, tuan,"ucap Jack. Tetapi dia juga berjaga-jaga dengan keadaan sekitarnya. Dia melihat beberapa bodyguard selama perjalanan menuju ruangan ini. Sepertinya Wiraatmadja bukan hanya seorang pengusaha tetapi juga mafia melihat gaya nya yang dijaga sedemikian ketatnya.


Steven masuk ke ruangan tersebut dan melihat seorang pemuda tampan yang menyambutnya dengan senyum yang menawan. Sebuah tato tampak di leher bawah telinganya.


"Selamat datang tuan Daniswara,"sambut pemuda itu masih dengan senyum ramahnya.


"Terimakasih telah menerima undangan saya, tuan Wiraatmadja."


"Panggil saya Marcell, silakan duduk."


"Terimakasih, tuan Marcell Wiraatmadja."


Dua orang pelayan datang menyajikan minuman dan beberapa makanan. Steven melihat pemuda yang ada dihadapannya ini memiliki pembawaan yang sangat tenang. Tetapi Steven tahu orang dihadapannya ini sangat berbahaya. Sikap tenang nya biasanya justru menakutkan. Steven harus bisa membujuknya untuk membantu putranya.


"Saya baru kali ini bertemu dengan Pemiliki saham dari keluarga Wiraatmadja. Selama ini hanya perwakilan keluarga saja yang datang,"ujar Steven membuka pembicaraan.


"Ya, dia adalah orang kepercayaan keluarga."


"Saya tidak menyangka hari ini bisa bertemu langsung dengan tuan Marcell Wiraatmadja."


"Ya, mungkin ini takdir. Saya juga berencana ingin bertemu dengan anda dalam waktu dekat ini."


"Oya, apa ada sesuatu yang terjadi?"tanya Steven.


"Ya, tetapi sebelum itu, apa yang ingin tuan Steven bicarakan dengan saya terlebih dahulu."


"Baiklah. Maksud kedatangan saya disini adalah untuk meminta dukungan dari keluarga Wiraatmadja untuk mendukung putra saya, Kendra Daniswara dalam rapat saham nanti."


Marcell tersenyum mendengar permintaan Steven,"masalah ini tidak hanya anda yang meminta, saudara ipar anda juga sudah pernah mendatangi saya beberapa waktu yang lalu."


Steven tersenyum getir, ternyata adik iparnya itu sudah bertindak lebih cepat daripada dirinya.


"Saya berharap tuan Marcell Wiraatmadja bisa mempertimbangkan permintaan saya ini,"ujar Steven.


"Baiklah. Saya juga memiliki sebuah kabar yang ingin saya sampaikan di sini,"ujar Marcell.


"Kabar apa?"


Marcell menyodorkan sebuah foto. Steven terkejut melihat foto Ella dan seorang lelaki sedang berpelukan mesra sambil tertawa. Mereka tampak bahagia di foto tersebut.


"Lelaki di foto itu adalah adik kandung saya Daniel Wiraatmadja."


"Jadi maksud anda, adik anda dan putri saya memiliki sebuah hubungan?"tanya Steven. Selama ini Ella tidak pernah bercerita apapun kepadanya. Apakah selama ini Ella menyembunyikan hubungannya dari siapapun.


"Ya, dan saya berencana melamar ella, putri anda untuk adik saya, Daniel Wiraatmadja."


***


...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...