
Steven menunggu di depan sebuah ruangan berpembatas jeruji. Dia menunggu seseorang yang telah mendekam di sana karena kasus penggelapan uang perusahaan dan penyekapan terhadap almarhumah istrinya, Linda Daniswara.
"Waktu bicara hanya tiga puluh menit,"ucap penjaga ruangan. Steven tersadar dari lamunannya. Dia melihat wajah adik iparnya, Danu Soetomo.
"Kamu baik-baik saja,"sapa Steven dengan kasihan melihat kondisi Danu yang semakin kurus saja.
"Tidak usah kemari lagi,"jawab Danu ketus. Dia tidak mau melihat wajah Steven sejak awal dia duduk.
Steven hanya tersenyum sambil menghembuskan napas pelan. "Semalam Nadia datang, dia khawatir padamu."
"Tidak usah membawa-bawa namanya,"ujar Danu semakin kesal karena Steven menyebut nama kakak kandungnya. Danu berdiri hendak meninggalkan Steven.
"Aku rindu dengan pertemanan kita dulu, jujur, aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu,"kata Steven sambil mengenang masa lalu.
Danu berhenti, dia menatap Steven dengan tatapan nanar. "Itu sebelum kamu melukai perasaan Nadia. Dia adalah saudaraku satu-satunya. Namun apa, dengan terang-terangan kamu bercinta dengan wanita murahan itu. Nadia bahkan sudah memberimu kesempatan. Namun apa yang kamu lakukan. Kamu semakin menggila dengan wanita perusak rumah tanggamu itu. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan Nadia. Dia masih menjaga perasaan cintanya padamu. Padahal aku sudah menyuruh dia untuk meninggalkan dirimu. Dia mencintai mu. Sangat mencintaimu. Namun kamu melukai nya begitu dalam. Jika aku tahu seberapa ******** dirimu terhadap seorang wanita, aku tidak akan pernah mengenalkan dirimu kepada Kakak ku. Aku sangat menyesal menyeretnya dalam kematian karena ulahmu. Aku orang yang paling menyesal, kau tahu itu! Tapi kamu malah tidak peduli sama sekali dengan apa yang dia alami. Kamu tidak peduli dia ketagihan meminum obat penenang. Bagaimana bisa aku masih menganggapmu teman? Apa kamu masih bisa kuanggap teman baik dengan sikapmu yang seperti itu terhadap kakak kandungku? "tanya Danu kembali duduk di tempatnya. Dia mengungkapkan kekesalan yang dia rasakan selama ini kepada Steven.
"Aku minta maaf, aku sangat menyesal, aku minta maaf padamu, aku benar-benar menyesal,"ucap Steven menyesali semua perilakunya.
Danu tertawa,"sudah terlambat stev, sudah terlambat. Aku tidak akan memaafkanmu lagi."
Danu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Steven.
Seandainya kamu katakan permohonan maafmu sejak dulu, mungkin aku masih bisa memaafkanmu. Tapi semua sudah terlambat, stev. Semua sudah sangat terlambat.
Steven mengusap kasar wajahnya. Dia sekarang menyadari betapa banyak yang dia korbankan selama ini. Dia sudah benar-benar egois dan melukai banyak orang.
"Tuan, kita akan kemana?"tanya Jack sambil melihat ke arah Steven dari spion di dalam mobil. Jack tahu pasti suasana hati Steven yang sedang tidak enak. Dia bisa melihatnya dari raut wajah steven yang ditekuk sedari tadi.
"Jalan saja, aku tidak ingin ke kantor,"jawab Steven lirih.
"Baik, tuan,"jawab Jack.
**
"Masalah penggelapan uang yang dilakukan oleh tuan Danu Soetomo, semua sudah ditangani oleh tim khusus,"ujar asisten Alvin kepada Kendra Daniswara.
"Baiklah, segera laporkan perkembangannya,"sahut Kendra.
"Baik, tuan. Saya permisi dulu,"pamit asisten alvin.
"Permisi, tuan,"Rani meminta ijin memasuki ruangan Kendra Daniswara.
"Ada apa Ran?"tanya Kendra melihat kedatangan Rania, sekretarisnya.
"Oh, suruh dia masuk,"sahut Kendra.
"Baik, tuan,"Rani beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju meja kerjanya.
Kendra merapikan berkas yang tidak tertata rapi di meja kerjanya. Kendra tidak menyangka Daniel akan mengunjungi dirinya secara mendadak. Biasanya dia akan mengabarinya terlebih dahulu. Ya, hubungan diantara keduanya kini telah jauh membaik. Bahkan tidak ada lagi perasaan dendam diantara mereka. Semua itu karena seseorang telah mengubah suasana diantara mereka menjadi jauh lebih baik.
"Apakah aku mengganggu?"tanya Daniel melihat Kendra masih berberes.
"Tidak, masuklah, Niel,"ajak Kendra dengan senyuman kecilnya.
Kendra berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Daniel. Dia menjabat tangan Daniel setelah itu mempersilakan dia duduk.
"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"tanya Daniel.
"Baik, seperti yang kau lihat,"ujar Kendra dengan senyuman kecilnya.
"Kudengar ada masalah di perusahaan mu. Kalau butuh bantuan, kamu bisa katakan itu padaku,"tawar Daniel. Sementara Kendra hanya tersenyum.
"Seorang Wiraatmadja yang baik. Kamu berbeda dengan Marcell yang saat pelit dan perhitungan sangat detail,"kata Kendra membandingkan antara dua bersaudara itu.
"Jangan membandingkan aku dengan dia. Bagaimana pun dia kakak ku,"bela Daniel terhadap diri saudaranya.
"Baiklah, dasar mudah tersinggung,"sindir kendra dan keduanya pun tertawa.
"Setelah pernikahan Marcell, aku akan berangkat ke Paris,"ujar Daniel dengan serius. Kendra menatap lekat ke arah Daniel. Apakah secepat ini mereka akan pergi? batin Kendra.
"Kamu sudah mempersiapkannya ternyata,"ujar Kendra sambil tersenyum simpul.
"Ya, ini demi kebahagiaan nya juga,"sahut Daniel.
"Baiklah, jaga dirimu, aku tidak bisa mengantar kalian ke bandara,"ujar Kendra dengan raut wajah sedih. Daniel sekilas melihat kesedihan di wajah Kendra meskipun lelaki itu berusaha menutupinya.
"Ya, aku tahu. Tidak apa-apa,"jawab Daniel. Dia tahu tidak mudah bagi Kendra untuk bertemu dengan istrinya, Ella Wiraatmadja.
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄