
"Makanlah. Aku tidak meracunimu,"Danu menunjukkan kepada Linda dengan memakan sedikit makanan yang dibawanya dihadapan Linda. Namun, Linda tidak bergeming.
"Sampai kapan kamu akan diam?"
Linda hanya menatap Danu dengan tatapan tajam. Meskipun dirinya sendiri sangat lapar, dia tidak akan menyentuh makanan yang diberikan Danu Soetomo kepadanya. Karena lelaki ini yang telah mengirimkan foto-foto nya kepada Steven sehingga Steven mengirimkannya kepada seorang dokter kejiwaan. Steven bahkan sudah menganggapnya gila.
"Sudahlah, Lin, aku sudah menyelamatkan mu dari pengasingan yang diberikan Steven kepadamu, apakah aku kurang baik?" Linda masih kukuh untuk tidak bersuara.
"Meskipun kamu mengirim Marco untuk mencoba melukaiku, aku masih sabar, aku tahu kamu hanya salah paham. Orang yang memberi tahukan semua kelakuanmu kepada Steven adalah Kendra, putra tirimu."
Linda masih saja diam tidak tertarik menanggapi perkataan Danu.
"Baiklah, kalau kamu tidak percaya, aku akan bawakan buktinya."
Danu Soetomo keluar dari kamar yang ditempati oleh Linda.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?"gerutu Linda pelan. Dia berjalan menuju ke arah pintu dan mencoba mendengar suara Danu dari balik pintu.
"Sepertinya dia sudah pergi,"Linda mengusap perutnya yang sudah sangat lapar.
"Aku sebaiknya makan sedikit, daripada aku mati kelaparan di sini." Linda pun menuju ke meja yang berisi nampan makanan.
Sungguh masakan yang ada di hadapannya menggugah selera makannya.
"Dasar wanita, di depanku kamu berlagak cuek. Di belakangku kamu makan juga makanan itu,"ujar Danu memperhatikan gerak gerik Linda dari monitor di ruangannya. Ternyata di kamar yang ditempati Linda ada sebuah kamera rahasia yang terhubung dengan monitor di ruang pribadi Danu.
"Awasi terus gerak geriknya, laporkan bila ada sesuatu yang mencurigakan,"perintah Danu kepada beberapa anak buahnya.
"Baik, tuan."
"Aku akan mempersiapkan mu sebagai senjata pamungkas yang akan menghancurkan Steven."
**
"Apa kiranya yang membuat tuan Wiraatmadja datang kesini?"ujar Kendra dengan tatapannya yang tajam.
Daniel tersenyum mendengar ucapan pembuka dari Kendra Daniswara. Lelaki yang telah merusak kehormatan calon istrinya.
"Kedatanganku kemari memenuhi permintaan perusahaan anda."
"Mungkin anda kurang update info. Bahwa sekarang pemimpin perusahaan Atmadja corporation adalah saya, Daniel Wiraatmadja."
"Sungguh tidak disangka."
"Sebenarnya kedatanganku kemari adalah untuk ini,"Daniel menyodorkan sebuah amplop coklat. Kendra menatap Daniel sejenak lalu mengambil amplop itu dan membukanya. Kendra tersenyum melihatnya.
"Apakah dia yang memberikannya kepadamu? Oh ya, sekarang dia adalah tunanganmu, pantas saja,"sindir Kendra.
"Lepaskan dia."
"Apa?"Kendra tidak mendengar apa maksud ucapan Daniel.
"Lepaskan dia. Dan cukup menyakiti dia. Dia memang putri wanita yang kamu benci, tetapi dia berbeda dengan ibunya. Jangan buat dirimu menyesal."
"Apa maksudmu?"Kendra tidak mengerti dengan kalimat terakhir dari Daniel.
"Kamu akan tahu jawabannya nanti, masalah perjanjian diantara kalian. Aku yang akan mengurus nya. Jangan mengganggu nya lagi."Daniel berdiri dari duduknya.
"Tunggu,"Kendra ikut berdiri dari tempat duduknya. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa?"tanya Daniel dengan tenang. Apakah ini tentang dia?
"Lala." Betul sekali seperti apa yang kupikirkan.
"Kamu mengenal Lala, bukan? Dimana dia? Aku sudah tahu bahwa kamu adalah orang yang telah menyelamatkan anak panti yang bernama Lala."tanya kendra dengan wajah seriusnya. Sedangkan Daniel hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang selama ini dia tunggu ini.
"Kamu ingin tahu?"Daniel bertanya ulang. Kendra justru mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Daniel. Dia menunggu jawaban Daniel.
"Aku akan melepaskan Ella kalau kamu mau mengatakan dimana Lala berada,"tawar Kendra. Daniel melihat mata Kendra dan tampak kesungguhan di sana.
"Baiklah, aku akan beritahu kamu dimana Lala."
***
...Terimakasih sudah mampir membaca. Tinggalkan like, vote, dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Salam cinta dari author ❤️...