The Wiz

The Wiz
Chapter 8 : Klan Chromos



Untuk saat ini, tinggal 7 klan yang masih bertahan sejak ratusan tahun lalu. Klan lain, kebanyakan menghilang seiring berjalannya waktu karena hal yang tidak bisa dipastikan dengan jelas. Hanya ada tersiar kabar bila klan lainnya menghilang tekanan kasta dari 7 klan besar. Salah satu klan besar itu sendiri adalah Chromos. Klan yang identik dengan elemen api itu menjadi salah satu klan penguasa dunia. Karena di tempat ini, siapa saja yang paling kuat, akan menjadi penguasa.


Klan Chromos beserta 6 klan lainnya, bersatu untuk menyingkirkan klan-klan lain yang menolak untuk tunduk pada mereka dalam pertempuran 300 tahun yang lalu. Pertempuran besar yang terjadi sekali lagi setelah dua klan yang menjadi  penyangga keseimbangan dunia bertarung hingga memusnahkan salah satu dari klan.


Menjadi penerus tunggal pemimpin klan Chromos bukanlah hal yang mudah. Semua tahu tentang hal ini. Namun, hanya segelintir orang yang mau mencari tahu bagaimana seorang penerus klan ini bisa disebut pantas menjadi seorang pemimpin nanti. Berbagai macam ujian yang sangat mengerikan harus bisa dilewati dengan sangat baik.


Londer menghela nafas panjangnya. Ia menatap langit yang kali ini bertabur bintang. Walau biasanya memang seperti ini, namun baru malam ini, dirinya bisa menikmati langit malam Topaz dengan tenang. Setidaknya, ia bisa mengatur waktu agar sampai di ruang makan tanpa takut terlambat satu detik.


"Hei, pangeran. Kau melamun perihal apa?"


Londer menoleh ke arah Deus, lalu menggeleng. Ia dan Deus memiliki takdir yang sama. Sama-sama menjadi penerus pemimpin klan, namun berbeda. Bila Deus cukup dibebaskan oleh klan Airden, maka dirinya sangat dikekang oleh Klan Chromos yang penuh aturan itu.


"Hei, kudengar kau sudah menemukan pendampingmu, ya? Dia, orang yang berhasil naik peringkat dalam waktu cepat itu, bukan?"


Dahi Londer mengerut. Sedang mencerna kalimat yang keluar dari mulut Deus itu. Lalu, ia mendengus keras setelah mengetahui maksud dari ucapan Deus barusan. Ia tahu siapa yang dimaksud si pria berambut perak ini.


"Jangan asal bicara. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali," ujar Londer tenang. Deus hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti, meskipun raut wajahnya terlihat menyebalkan di mata Londer. Sudah dipastikan, bila Deus masih ingin menggoda penerus klan Chromos itu.


"Sungguh? Tapi, aku menangkap hal yang berbeda dari interaksi kalian tadi. Kalian memiliki hubungan khusus secara diam-diam, bukan?"


Kali ini, Londer memilih untuk mengabaikannya. Ia bergerak menjauh dari Deus lalu meninggalkan pria itu keluar kamar. Melihat hal tersebut, Deus terkekeh pelan dibanding berdecak kesal. Dengan langkah cepat, ia berjalan menyusul Londer yang sudah dipastikan tidak akan menunggu dirinya.


Setidaknya, itu yang ia pikirkan sebelum melihat adegan yang sama seperti sebelumnya. Pertemuan antara Londer dan seorang gadis berambut hitam legam yang saat ini banyak dibicarakan orang.


Tidak berniat untuk menghampiri Londer, Deus memilih memperhatikan interaksi itu sekali lagi. Kedua orang itu hanya saling menatap sebelum si gadis berbalik dan meninggalkan Londer tanpa sepatah katapun.


Deus tersenyum.


Melihat adegan tadi, itu seperti drama sepasang kekasih yang dilanda sebuah pertengkaran kecil yang manis.


Barulah, setelah beberapa detik menunggu, Deus melangkahkan kakinya untuk mendekati Londer.


"Sudahlah. Kau hanya perlu mengatakan bila yang aku ucapkan tadi adalah benar," ujar Deus sembari merangkul bahu Londer. Londer melirik ke arahnya sebentar, sebelum keduanya mulai melangkah menuju ruang makan.


"Kau tahu sendiri, tidak ada aturan yang memperbolehkan orang seperti kita memilih pasangan sendiri—"


"Tetua hanya ingin, agar kemurnian klan Chromos tetap terjaga."


Deus mendengus pelan. Ungkapan seperti itu pernah ia dengar dari sekumpulan para orang tua sebelumnya. Beruntung, bila Ayahnya sangat membela dirinya. Ya, setidaknya Deus memiliki suara tertinggi dibanding disebut suara terbanyak. Masih ingat di kepalanya saat para tetua itu menatap Ayahnya dengan terkejut. Untuk hal seperti ini, Deus sangat bangga dengan Ayahnya itu.


"Seharusnya, hal ini tidak akan mempengaruhi apapun. Maksudku, dengan membiarkan para generasi muda dari klan memilih pasangannya sendiri, itu adalah langkah paling bagus, bukan?"


"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu itu. Sebaiknya, kita harus cepat agar tidak mendapat hukuman dari para guru," ujar Londer. Pria itu melangkah lebih cepat, meninggalkan Deus yang memandangnya geli. Masih teringat kejadian sebelumnya.


"Ah, kau hanya perlu mengatakan bila tidak sabar bertemu dengan gadis itu lagi, bukan? Apalagi, sekarang kau akan satu meja dengannya."


Londer menghentikan langkahnya. Seolah baru teringat sesuatu. Namun, itu hanya sebentar, sebelum ia menggeleng pelan dan kembali berjalan yang lagi-lagi meninggalkan Deus. Setiap langkah yang ia ambil pasti akan menarik perhatian banyak orang. Setiap saat, termasuk saat ini. Di saat dirinya tengah mencari tempat duduk yang kosong, ia mendapati beberapa siswi yang memandanginya dengan tatapan yang serupa. Kagum serta tertarik. Hal yang sebenarnya cukup menyebalkan.


Meskipun, Londer harus membiasakan diri. Mengingat ada sebuah kabar aneh yang entah berasal dari siapa. Kabar itu mengatakan bila semua orang di klan Chromos, klan-nya memiliki rupa yang sangat sempurna. Mungkin karena berita ini pula, kehadiran dirinya di akademi Topaz langsung menarik banyak perhatian orang-orang.


"Ayo, Pangeran api. Adikku sudah menyiapkan tempat untuk kita berdua." Meski harus Londer akui, hanya Deus yang mau mendekati dirinya tanpa ada niat terselubung—untuk saat ini seperti itu—, namun pria itu tetaplah menyebalkan seperti biasanya. Mungkin, Deus dan adiknya adalah dua orang paling menyebalkan yang pernah Londer temui. Karena kedua orang itu, seolah sengaja membuatnya kembali berhadapan dengan Camoline.


Memang, kali ini Camoline akan mulai makan di meja yang sama dengan dirinya. Hanya saja, dirinya tidak pernah menyangka akan duduk tepat di sebrang Camoline. Menatap kembali satu-satunya gadis yang memperlihatkan raut wajah angkuh padanya.


"Ini seperti takdir. Kau bertemu dengan kekasihmu, Lo—aww. Kau gadis yang kasar, ya?" Camoline hanya menaikkan sebelah alisnya dengan memasang raut wajah tidak bersalah pada Deus setelah melempari pria itu dengan sebuah anggur yang beku.


"Itu caraku untuk berkenalan, ngomong-ngomong," ujar Camoline. Ia mulai memakan hidangan yang tersaji untuknya. Tidak mempedulikan sekitar, yang mana Deus tengah menatapnya kesal.


"Padahal, penampilan dan auramu seperti leluhur klan putih. Tapi, itu langsung patah dengan sikap kasarmu ini."


Uhukk..


Londer masih memperhatikan Camoline. Yang dikatakan Deus memang benar. Sejak awal ia melihat Camoline, ia merasa ada aura lain yang melingkupi tubuh gadis itu. Aura suci yang hanya dimiliki oleh para klan putih. Klan yang saat ini menjadi penguasa alam dunia.


"Aku bukan dari klan manapun, bila kau ingin tahu," Camoline menatap tajam Deus yang hendak menyela ucapannya, "makan saja dengan cepat. Sebelum aku membuat kolam kecil di makananmu," ujar Camoline mengancam. Deus menurut, diikuti kekehan dari Silver yang duduk di sebelah Camoline. Sedangkan Londer, pria itu semakin mengerutkan dahinya.


"Bukan dari klan manapun? Lalu, dari mana kekuatanmu berasal?"