The Wiz

The Wiz
Chapter 11 : Khawatir



Perlahan, kedua kelopak mata Camoline terbuka. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada kedua retinanya. Setelah kesadarannya telah kembali semua, barulah ia sadar bila kini dirinya berada di ruangan yang berbeda dengan kamar asramanya. Aroma obat yang kuat, meyakinkan dirinya bila ia berada di klinik sekolah. Menghela nafas pelan, Camoline berusaha mengingat kembali kejadian sebelum dirinya harus terperangkap di ruangan yang sangat sepi ini. Namun, ingatannya justru berhenti ketika dirinya baru menyadari satu lagi warna di batu itu melebur seperti warna biru pada saat itu. Dan siapa yang sangka, dirinya tidak ingat apapun lagi setelahnya.


Menghela nafas untuk kedua kalinya. Camoline mulai merasa bosan. Suara detak jarum di jam dinding benar-benar sebuah melodi yang membosankan untuk kedua telinganya. Jika saja dirinya tidak merasakan sakit ketika hendak berdiri, dirinya sudah pasti akan berlari ke arah asramanya dan mencoba memastikan kekuatan apa yang ia miliki.


"Kau sudah bangun, nak?"


Camoline menoleh. Mendapati Barcus yang diikuti Zelden menghampiri dirinya. Tidak ada perubahan di raut wajahnya selain kerutan di dahi.


"Berapa lama aku tidak bangun?" Barcus terdiam beberapa saat, sebelum menunjukkan angka dua dengan jari tangannya.


"Dua, kau tidak sadarkan diri selama dua hari. Aku rasa, pertarungan itu membuatmu hampir kehilangan nyawa karena energi yang kau keluarkan hampir habis," jelas Barcus. Camoline menghela nafas lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan ini. Tidak mempedulikan keberadaan Zelden yang hanya menjadi penonton saja.


"Kau juga harusnya terkejut. Tuan muda Chromos itu, dia akhirnya jatuh pingsan setelah aku membawamu ke sini. Aku rasa, kau tidak membiarkan dia baik-baik saja. Aku benar, bukan?"


Camoline mengangguk membenarkan. Kali ini, ia menampilkan senyuman miringnya. "Ya, aku memang melakukannya. Dia juga harus beristirahat setelah pertarungan itu," ujar Camoline. Ketika mengatakan hal itu, ia merasa ada mengganjal. Ah, tentu saja. Ia tidak ingat apa yang terjadi pada akhir pertarungan. Siapa yang menang atau kalah. Namun, ia memilih diam dan membiarkan semuanya menjadi hal yang tidak perlu ia ketahui.


Lagipula, itu memang tidak penting untuknya.


"Nona Camoline. Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan padamu." Camoline yang tengah memejamkan matanya, kembali membuka matanya dan menoleh ke arah Zelden. Kepala sekolah itu menatapnya dengan serius. Itu artinya, Zelden akan memulai percakapan yang serius dengannya. Camoline terdiam beberapa saat, sebelum mendengus. Ia tidak menyangka bila ada lagi orang yang tidak bisa dibaca pikirannya.


"Jika tidak penting, aku akan kembali istirahat," ujar Camoline dengan nada malasnya. Zelden tidak bereaksi buruk. Ia mengetahui bila Camoline memang masih membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya.


"Hanya satu pertanyaan. Dan itu, dari klan mana kau berasal? Tidak ada satupun informasi mengenai siapa dirimu." Camoline menghela nafas panjang. Ia menatap Zelden dengan malas.


"Itu bukan hal yang penting—"


"Akan sangat bahaya bila kau adalah keturunan klan hitam yang hilang di masa lampau. Kau dengan kekuatan anehmu ini, akan menjadi incaran petinggi Istana," ujar Zelden memotong. Dahi Camoline mengerut dalam sebelum ia mendengus keras.


"Sejarah sudah berubah banyak rupanya. Antara aku yang gila, atau kalian yang tidak lebih seperti keledai. Sudahlah, aku masih harus mengistirahatkan tubuhku," ujar Camoline dengan malas. Bila klan itu memang akan mengincarnya, bukankah ini lebih bagus sehingga dirinya tidak perlu bersusah payah untuk menghancurkan mereka?


Menghela nafas panjang, kepala Camoline bergerak diikuti tubuhnya hingga membelakangi dua orang itu. Kedua matanya terpejam, namun telinganya masih bisa mendengar jelas sekitarnya. Melihat hal itu, Zelden menghela nafas panjang. Kepalanya menoleh ke arah Barcus. Namun, pria itu hanya mengangkat kedua bahunya lalu berjalan keluar ruangan. Menghiraukan dirinya seperti biasa.


Dua hal yang menjadi kemungkinan Barcus meninggalkan dirinya. Antara Barcus yang telah tahu sesuatu hal tentang Camoline, atau pria itu yang memang tidak tahu apapun serta tidak ingin tahu apapun. Zelden menghela nafas sekali lagi sebelum berjalan menyusul Barcus. Sembari memikirkan opsi kedua yang memang paling tepat. Karena sejak kapan, pria itu menjadi sangat peduli pada apapun?


Suara pintu kayu yang berdecit karena ditutup membuat Camoline sedikit menoleh ke arah belakangnya. Ia mendengus pelan kala mengingat bagaimana Zelden begitu memaksanya untuk menjawab. Bila ia menjawab dari klan putih yang sebenarnya, pria itu sudah pasti tidak akan percaya. Tentu saja, ia bahkan belum mengetahui apapun perihal klan putih saat ini.


Memposisikan tubuhnya untuk kembali terlentang, Camoline meletakkan tangan kirinya di atas dahinya. Sebenarnya, tubuhnya sudah benar-benar pulih. Namun, mendengar bila Londer juga tidak sadarkan diri setelah pertarungan yang mereka berdua lakukan, membuat Camoline mengurungkan niatnya untuk ke kamarnya.


"Kenapa aku memikirkan pemuda itu? Ck, menyebalkan," gumam Camoline dengan decakan keras di akhir kalimatnya.


"Itu bukan masalah. Kau sedang memikirkan pangeranmu." Kedua mata Camoline terbuka lebar sebelum menoleh ke arah seseorang yang sudah masuk ke dalam klinik tanpa disadari olehnya. Silver yang menjadi pelakunya, terkekeh pelan melihat raut terkejut yang Camoline tunjukkan.


"Kalian itu. Sama-sama saling mengkhawatirkan, namun enggan jujur. Tapi tenang saja, aku sudah memberitahu Londer bila kau dirawat di sini. Ia kelimpungan mencari dirimu yang disembunyikan tuan Barcus," jelas Silver dengan senyuman yang terus terpatri di wajahnya. Sebenarnya, Camoline sangat tidak membutuhkan informasi dari Silver. Namun, ada beberapa kata yang membuatnya mengerutkan dahinya.


"Disembunyikan tuan Barcus? Jadi, kalian tidak bisa menemukan diriku sebelumnya?" tanya Camoline dengan ragu. Silver mengangguk membenarkan. Membuat Camoline terdiam. Ia tidak menyadari hal ini. Atau mungkin, karena dirinya tidak sadarkan diri. Membuat tingkat kewaspadaannya menurun.


"Kau tahu? Sebentar lagi, pangeran itu akan datang ke sini." Camoline kembali menoleh ke arah Silver. Dahi mengerut tipis, namun raut wajah kesal begitu mendominasi.


"Silver, kuharap kau tidak berbo—hong." Ucapan Londer terhenti ketika matanya bertemu tatap dengan Camoline yang menatap dirinya datar. Mengusap belakang telinganya, tangan Londer ditarik Silver dengan kuat ketika dirinya hendak kembali berjalan keluar klinik.


"Sebelum kembali, kau harus menjelaskan kedatanganmu pada Camoline. Kau sudah membuatnya terjaga, tuan muda Londer," ujar Silver. Ia mendorong pelan Londer hingga pria itu berada tepat di sebelah Camoline sebelum dirinya berjalan meninggalkan sepasang anak Adam itu.


"Jadi, kau bisa jelaskan kedatanganmu, tuan muda Chromos?" Kepala Londer terangkat setelah mendengar hal itu. Ia tidak langsung menjawabnya. Menatap kedua iris mata Camoline dengan begitu lekat.


"Karena aku, mengkhawatirkan dirimu."