
"Kamu mengetahui sesuatu?"
Mungkin, ini adalah kali pertama— selama dirinya berada di Akademi— bertindak tidak sabar serta tenang. Ia begitu penasaran dan terus saja menuntut Silver, teman satu kamarnya, dengan pertanyaan yang serupa semenjak 1 jam yang lalu. Camoline bahkan tidak memikirkan kemungkinan, apakah penyihir pikiran itu merasa tidak nyaman atau bahkan hingga kesal karena tindakannya ini.
Dan beruntung, Silver sama sekali tidak merasa kesal.
Silver memandang jari jemarinya, yang pagi tadi telah dihias dengan warna violet, oleh orang yang bernama serupa dengan warna di kukunya. Berkat kedekatan Camoline dengan kedua gadis dari asrama putih itu, Silver pun ikut terseret dalam lingkaran pertemanan mereka. Cukup aneh, untuk awalnya. Terlebih sejak lama Silver banyak menarik diri dari lingkungan sosial. Namun sekarang, ia sudah cukup nyaman dengan mereka. Mereka, tidak ada satu pun yang terlihat bisa membahayakan dirinya.
"Perihal apa? Aku sama sekali tidak mengerti," ujar Silver. Ia melirik sekilas ke arah Camoline. Ada binar geli dan jahil kala melihat rekan sekamarnya itu. Jarang-jarang dirinya dapat melihat wajah semacam itu dari seorang Camoline. Terlebih perempuan itu memaksanya untuk menjelaskan sesuatu hal yang mengganggu pikirannya.
Camoline mendengus. Ia sangat tidak sabar, tetapi Silver terlihat jelas ingin bermain-main dengan dirinya. Itu mudah ditebak, dari gerakan mata Silver yang terus melirik ke arah dirinya. Dan jangan lupakan juga senyuman menyebalkan yang perempuan itu perlihatkan kepada dirinya. Camoline bisa saja menghajar wajah rekan sekamarnya itu, namun dirinya masih membutuhkan jawaban atas pertanyaannya tadi. Dirinya tidak akan bisa mengorek jawaban itu sendiri dari pikiran Silver. Ingatlah jika Silver memiliki kemampuan mengendalikan pikiran. Bahkan mampu mendeteksi siapa yang hendak membaca informasi dari ingatannya.
"Kau pasti mengerti maksudku, Silver." Sekarang bahkan Camoline sudah berujar dengan geraman. Tidak bisa menahan diri terlalu lama, pada akhirnya Silver tertawa. Tawa yang cukup keras. Apa yang dilakukan perempuan berambut pirang itu langsung saja mendapat hadiah berupa tatapan kesal yang Camoline layangkan kepada dirinya.
"Oh, ya ampun. Ini sangat menggelitik perutku," ucap Silver dengan napas yang sedikit memburu. Ia menoleh ke arah Camoline, memasang senyuman tidak berdosa.
"Sungguh, Camoline. Apa yang ingin kamu ketahui dari diriku? Perihal apa? Aku tidak akan mengerti jika kamu hanya bertanya tanpa konteks pertanyaan yang jelas," lanjutnya. Di hadapannya, Camoline menghela napas panjang. Energinya mendadak hampir lenyap hanya untuk berhadapan dengan seorang Silver. Nasib yang begitu sial karena Camoline— entah sampai kapan— harus berinteraksi dengan Silver.
"Perihal kabar yang beredar di kalangan para murid. Apa maksudmu dengan memberitahu mereka, jika aku adalah mate Pangeran Chromos itu?" Kali ini, raut wajah Camoline jauh lebih serius. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Menatap Camoline dengan penuh rasa penasaran dan menuntut. Ditatap seperti itu, Silver tanpa sadar langsung menegapkan punggungnya. Bahkan, ia berdeham guna menyingkirkan rasa tidak nyaman yang mendadak muncul di kerongkongannya.
"Soal itu, bukankah semua orang sudah mengetahuinya? Maksudku— bahkan sebelum aku mengatakannya—, semua orang sudah menganggap kalian berdua adalah sepasang mate?" ujar Silver. Ia sudah bisa menguasai dirinya, sehingga kini, dirinya mampu sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Sudah berada satu kamar dengan Camoline dalam jangka waktu yang cukup lama, Silver memang beberapa kali merasakan aura penuh intimidasi dari perempuan itu. Namun, sepertinya dirinya tidak akan bisa bersikap biasa saja setiap aura itu muncul.
"Tetapi tetap saja, Silver. Aku bukanlah mate dari pria itu. Kamu pastinya dapat membayangkan, bagaimana rasanya ketika pasanganmu malah semakin menempel dengan orang lain, bukan?" Camoline mulai melunak. Persoalan tentang hubungannya dengan Londer memang harus diselesaikan dengan cepat, agar kesalahpahaman ini bisa segera diatasi. Namun sayangnya, ia seolah dipaksa untuk tetap di samping pemuda Chromos itu. Karena pria itu, secara tidak langsung berkaitan dengan tujuan pembalasan dendamnya.
Silver sendiri langsung membuang muka. Ia menatap ke arah luar jendela, yang tengah menampilkan langit berwarna kelabu. Badai akan tiba sebentar lagi.
"Aku tidak akan pernah memiliki mate, Camoline."
Kerutan di dahi Camoline langsung muncul. Ada raut terkejut dan tidak percaya di wajahnya itu. Tentu saja. Rasanya sangatlah mustahil, ada seseorang yang ditakdirkan untuk tidak memiliki mate.
"Sayangnya benar," potong Silver. Ia kembali menatap Camoline dengan raut wajahnya yang rumit. Helaan napas keluar dari mulutnya. Ini hal yang tidak begitu disukai oleh Silver untuk dibahas. Itu pikir Camoline.
"Aku— lebih tepatnya klan-ku —, dikutuk tidak akan memiliki mate. Itu terjadi sekitar 100 tahun yang lalu. Sehingga untuk mendapatkan keturunan, kami akan menikah bersama seseorang yang kehilangan pasangannya, atau dari klan yang sama, guna menjaga keberadaan klan agar tidak punah," ujar Silver. Camoline benar-benar menutup rapat mulutnya. Hal semacam ini tidak pernah ia jumpai atau dengar sebelumnya. Di kehidupan pertamanya, rasanya tidak ada satu pun klan yang mendapatkan kutukan semengerikan ini.
"Tetapi..., kenapa?" tanya Camoline. Suaranya terdengar lirih. Fakta ini tentu saja membuatnya tercekat. Mate adalah ikatan yang sangat penting. Dengan tidak adanya mate, hidup seseorang akan sangat terancan. Kemampuan sihir yang melemah, serta sisa hidup yang semakin menipis. Dan hidup dengan kutukan tidak memiliki mate sejak lahir, itu menjadi hal paling menakutkan untuk siapa pun.
"Salah satu anggota klan, saat itu melawan kepada petinggi Istana. Karena perilakunya memunculkan amarah, maka klan kami mendapat kutukan itu. Siapa sangka, seseorang yang bukan Dewa benar-benar bisa mendatangkan sebuah kutukan. Rasanya..., bukankah kekuatan dia telah melampaui Dewa itu sendiri?" Silver berujar dengan lirih. Akibat dari kutukan itu, klannya, hingga sekarang selalu tersiar kabar kericuhan. Ikatan istimewa yang mendadak dipaksa untuk hilang, membuat orang-orang sangat sulit bersikap manusiawi. Beberapa orang bahkan menjadi gila setelah mencoba mencari cara untuk mematahkan kutukan itu.
Camoline langsung berdiri. Raut wajahnya tersirat emosi besar yang sayangnya begitu pandai ia tutupi.
"Mustahil! Mustahil seseorang mampu melakukan kutukan semacam itu! Hanya Dewa yang bisa melakukannya. Aku yakin, aku sangat yakin apabila dia melakukan salah satu sihir terlarang!" ujar Camoline menggebu. Silver mengangkat kepalanya. Ia tersenyum tipis. Baru Camoline, yang tidak menghina atas kutukan yang menimpa klannya itu.
"Tetapi tidak ada satu pun mantra sihir terlarang yang berkaitan dengan kutukan itu. Sayangnya begitu."
"Apa maksudmu?"
"Kami sudah berupaya keras mencari. Hingga nekat mencuri buku sihir terlarang dari klan putih. Tetapi, sebanyak apa pun kami membacanya, tidak ada satu pun mantra sihir tentang kutukan itu," ujar Silver lagi. Camoline menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya, mencoba mencari ingatannya di kehidupan pertamanya. Setelahnya, kedua kelopak mata itu terbuka, namun kerutan di dahinya tidak juga menghilang.
"Lalu, apakah kalian sudah mencari dari buku sihir terlarang klan hitam?" tanya Camoline. Namun, Silver menggeleng lemah.
"Klan itu sudah menghilang sekitar 500 tahun yang lalu. Semua hal yang berkaitan dengan klan itu sudah dibumihanguskan sejak lama. Jadi mustahil untuk mendapatkan buku itu."
Camoline kembali terdiam. Ada perasaan mengganjal dari perkataan Silver tersebut. Fakta jika semua barang dari klan hitam telah dilenyapkan semuanya, terasa sangat mustahil.
Asdus tidak akan mungkin melenyapkan peninggalan dari keluarganya. Itu yang Camoline pikirkan.