
Barcus mengembuskan napas panjangnya secara perlahan. Saat ini, dirinya tengah berada di depan ruangan Zelden. Tidak menghadap ke arah pintu untuk masuk ke dalam ruangan sang Kakak dan mengganggunya seperti biasa. Tetapi Barcus baru saja keluar dari ruangan itu. Tentunya akhir-akhir ini dirinya tidak bisa melakukan kebiasaan lamanya. Mengganggu konsentrasi Zelden dengan menanyakan hal-hal yang memaksa pria itu untuk berpikir. Justru akhir-akhir ini, Zelden menjadikan Barcus tempat untuk berdiskusi. Kedatangannya seolah ditunggu, karena Zelden akan langsung menanyakan hal-hal membingungkan di kepalanya. Padahal, sudah banyak orang yang tahu jika kepala Zelden jauh lebih pintar dibanding dirinya. Tetapi Zelden memperlakukan dirinya seperti Barcus mengetahui segala hal.
Itu cukup membuat dirinya kesal, karena Barcus tidak langsung menyadarinya. Awalnya Barcus hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan Zelden itu dengan santai. Tetapi sekarang, ia menjadi kesal karena dipaksa untuk ikut berpikir bersama pria itu. Padahal Barcus datang karena malas berpikir.
Dan topik yang belum lama ini dibahas oleh Zelden hanya berputar pada hal yang sama. Tentang batu Opal dan Camoline. Dua hal itu sering ditanyakan oleh Zelden kepada dirinya. Mungkin akan ada perbincangan tentang para petinggi Istana sesekali, tetapi itu jika ada Delwana juga di ruangan tersebut. Namun jika hanya mereka berdua, Zelden akan fokus membahas dua hal itu saja. Seolah Zelden tengah memiliki rencana tersendiri terhadap dua hal itu.
Tetapi memang benar. Zelden memang memiliki sebuah rencana dan pernah mengatakannya sekilas kepada Barcus tempo lalu.
Sekarang, Barcus tidak tahu harus melakukan apa. Ia sudah sangat bosan untuk berdiam lebih lama di ruangan Zelden. Dan berkeliling untuk memutari gedung Akademi sudah sangat membosankan. Ia sudah hapal tiap sudut bahkan ruangan-ruangan rahasia yang entah dibuat oleh siapa. Ia sudah mengetahuinya semua. Sekarang ia menjadi bingung harus melakukan apa untuk menghapus rasa bosannya.
Sebenarnya, ada tugas yang harus Barcus lakukan, sekali pun ia merupakan guru tidak resmi di Akademi. Bagaimana pun, ia harus menyerahkan laporan tes bulanan yang telah diikuti beberapa siswa. Namun hingga saat ini, ia belum melakukannya. Tentu saja orang seperti Barcus tidak akan pernah mau repot-repot sibuk di depan meja dengan lembaran-lembaran kertas yang menumpuk seperti yang sering Zelden lakukan. Walau mungkin nantinya, ia akan melakukan hal itu secara terpaksa jika Zelden sudah memaksa dirinya.
Kaki Barcus mulai melangkah. Ia hanya melangkah tanpa tahu tujuannya akan kemana. Melatih Camoline pun sekarang sudah bukan lagi tugasnya. Elemen yang ia kuasai sudah menghilang di batu Opal itu. Sebenarnya bisa saja, ia membuat Camoline melawan dirinya lagi seperti beberapa hari yang lalu. Karena buktinya, Camoline dapat meningkatkan kekuatan levelnya lagi. Tapi, Barcus tentu tahu jika Camoline harus dilatih untuk mengeluarkan dan mengendalikan elemennya terlebih dahulu. Dan Delwana cukup berguna untuk saat ini dibanding dirinya.
Tidak apa. Lagipula dengan begitu Barcus dapat berleha-leha lebih sering dibanding ketika masih melatih Camoline.
"Tuan Barcus. Selamat siang."
Barcus hanya mengangguk pelan. Di depannya saat ini berdiri salah satu guru. Namanya Larch. Guru yang berelemen api. Dibanding guru lainnya, bisa dikatakan jika hanya Larch saja yang begitu santai dengan keberadaan Barcus. Gerak-gerik guru ini begitu santai dan tidak mencurigakan sama sekali, sehingga baik Barcus maupun Zelden mengeluarkannya dari daftar guru yang harus dicurigai.
"Anda akan pergi kemana?" Larch kembali berbicara. Barcus mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri tidak tahu.
"Entahlah. Hari ini sangat membosankan karena aku tidak tahu harus kemana," ujar Barcus. Ia kembali berjalan dengan Larch yang juga berjalan di sampingnya.
"Ah, seperti itu," ujar Larch pelan. Larch kembali menatap ke arah Barcus dengan wajah cerahnya. Sangat berbanding jauh dengan ciri khas para pengguna elemen api yang lebih sering memasang wajah penuh intimidasi.
"Bagaimana jika Anda mengikuti Saya ke ruangan bola kristal berada?" tawar Larch. Barcus melirik sebentar ke arah pria yang sedikit pendek darinya itu. Dahinya mengerut.
"Untuk apa kau ke sana?" Larch tersenyum. Ia tidak terpengaruh dengan tatapan penuh intimidasi dari Barcus itu.
"Tidak kusangka pria tua itu menyuruh seseorang untuk menjaga bola aneh itu," ujar Barcus pelan. Namun, Larch masih bisa mendengarnya cukup jelas. Ia terkekeh pelan.
"Bagaimana pun, Tuan Zelden adalah Kakak Anda, Tuan Barcus." Dan Barcus mendengus mendengar hal itu.
Tidak lama kemudian, keduanya sampai di ruangan yang Larch maksud. Ini bukan kali pertama Barcus masuk ke ruangan ini. Hanya saja, ia tidak bisa untuk tidak berkomentar pedas ketika masuk ke dalam ruangan itu. Memang tidak ada penampakan sarang laba-laba atau debu menempel di tembok dan dinding. Karena sepertinya Larch sangat merawat ruangan ini dengan sangat teliti. Hanya saja melihat barang-barang berharga dari Istana yang diberikan ke Akademi sebagai bentuk penghargaan berada di sini, membuat Barcus berkomentar.
"Ini sama saja menganggap penghargaan ini tidak berarti apa-apa di mata Zelden," ujar Barcus. Larch yang baru mengambil sebuah kain putih bersih dari saku bajunya menoleh. Ia tersenyum.
"Memang seperti itu, bukan? Lagipula, tidak akan ada yang protes karena semua barang itu berada di tempat yang sama dengan bola kristal berada," ujar Larch. Sekali lagi, Barcus mendengus mendengarnya.
Setelahnya, baik Barcus maupun Larch sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Larch yang melanjutkan kegiatannya dengan menyapu ruangan itu setelah berhasil mengelap kotak kaca pelindung bola kristal, dan Barcus yang memperhatikan barang-barang dari Istana satu per satu dengan wajah datar. Hanya ada suara yang dihasilkan dari sapu di tangan Larch, sebelum akhirnya sebuah suara seperti gemuruh petir yang samar. Kedua pria itu mengangkat kepala dan langsung menatap ke arah satu-satunya jendela yang ada di ruangan itu. Di luar, tidak terlihat satu pun awan mendung. Langit pun masih berwarna biru cerah. Hal itu memunculkan kerutan di dahi keduanya.
"Petir di panas terik?" Larch berujar pelan dengan penuh keheranan. Hal semacam itu memang bukan hal baru, namun kali ini ia merasa ada yang berbeda.
Barcus sendiri tidak mengatakan apa pun. Ia hendak kembali fokus pada barang di tangannya. Namun, matanya justru menatap hal aneh di bola kristal itu. Bola yang seharusnya terus terlihat bening seperti air, kini mulai menampilkan asap. Asap itu awalnya hanya terlihat sedikit, hingga akhirnya mulai menyebar memenuhi isi dari bola kristal itu.
"Apakah bola aneh itu selalu seperti itu?"
Pertanyaan dari Barcus membuat Larch menoleh. Ia menatap pria itu, lalu ke arah bola kristal yang tengah diperhatikan dengan seksama oleh Barcus. Butuh beberapa saat bagi Larch untuk mencerna apa yang terjadi, sebelum akhirnya kedua mata pria itu terbuka lebar. Saat ini, terdapat asap berwarna abu-abu di dalam bola kristal. Larch tentu saja menjadi sangat panik.
"Apa yang harus aku lakukan?! Ini belum pernah terjadi," ujar Larch. Suaranya benar-benar panik. Barcus menoleh ke arah Larch. Dahinya mengerut sebelum ia mengembuskan napasnya pelan.
"Diam, jangan lakukan apa pun. Jika kita gegabah, bola itu justru akan hancur," ujar Barcus. Larch yang masih terkejut hanya bisa mengangguk dan menurut. Keduanya diam hingga akhirnya asal di dalam bola kristal itu menghilang. Digantikan dengan penampakan langit malam yang sangat gelap. Benar-benar seperti langit pada malam hari dengan satu titik cahaya seperti bintang.
"Jangan katakan kepada siapa pun. Aku akan memberitahu Zelden dan menanyakan tentang hal ini."
Larch mengangguk. Tentu saja ia tidak akan mengatakannya kepada siapa pun. Karena justru, nanti dirinya yang akan dituduh melakukam hal-hal buruk kepada bola kristal itu.