The Wiz

The Wiz
Chapter 12 : Fakta Baru



Membuka satu per satu halaman buku, Camoline tengah mencari halaman yang membahas kejadian dua ratus tahun sebelumnya. Ia harus bisa mendapatkan informasi lain selama hidup di sini. Siapa yang menyangka, bila dirinya langsung terlahir kembali pada tubuh seorang gadis berusia 16 tahun.


Menyibak rambutnya ke belakang. Kali ini,  ia tengah fokus pada halaman yang menceritakan peperangan pada 200 tahun yang lalu. Sudah sangat lama, namun kejadian itu masih membekas pada semua orang. Mungkin, ini karena perang antara klan-klan lain. Berbeda dengan perang yang dirinya alami dahulu. Di mana, hanya ada perang antara dua klan besar saja. Camoline menghela nafas pelan. Ia mulai merasa bosan. Namun, bacaan ini harus segera diselesaikan sebelum jam makan siang berakhir.


"Hei, setelah pindah asrama, kami kesulitan untuk mengobrol denganmu."


Kepala Camoline menoleh, mendapati Lily beserta tiga kawannya yang lain. Camoline hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Lily dan memilih kembali menatap buku sejarah yang tengah ia baca.


"Memang sangat disayangkan. Namun, mau bagaimana lagi? Banyak hal yang harus aku kuasai dengan cepat agar bisa setara dengan penghuni asrama biru," ujar Camoline.


"Memang benar. Namun, kau akan terlihat cepat tua bila terlalu banyak berpikir," ujar Violetta yang mengambil duduk di sebelah Camoline. Gadis berambut ungu itu menyentuh dahi Camoline yang mengerut.


"Kemampuan istimewaku adalah membuat orang yang aku sentuh menjadi tenang. Mirip seperti bunga lavender," ujarnya lagi.  Camoline memejamkan matanya sebentar. Ia mulai merasakan ketenangan dengan sentuhan tangan Violetta. Memang akan terdengar aneh, bila dipikir secara logika tentang kemampuan para penyihir tingkat awal. Namun, inilah dunia sihir. Semua yang tidak mungkin adalah mungkin.


"Kau menjadi populer hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Sayangnya, para murid lain mencibir dirimu sepanjang koridor," ujar Rashi. Mendengar itu, Camoline membuka kedua matanya perlahan. Ia menatap Risha dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.


"Aku sudah tahu tentang cibiran mereka. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap diriku hanya mencari perhatian anak Chromos." Rashi mengangguk mengerti. Violetta yang menarik buku bacaannya hingga diambil alih oleh gadis itu. Sedangkan Lily, gadis itu membuka kedua matanya dengan lebar.


"Sungguh!? Jadi, kabar angin itu adalah nyata!? Kau memili—"


"Tidak," potong Camoline. Lily mendengus pelan. Ia terlihat kesal dengan kalimat Camoline barusan. Kalimat fakta yang justru membuatnya tidak senang.


"Padahal, aku berharap sungguhan. Cerita tentang kalian berdua, benar-benar seperti legenda." Camoline memutar kedua bola matanya malas. Tidak Silver, tidak Lily, kedua gadis itu sama saja selalu membuatnya kesal. Entah kenapa, mereka seolah ingin dirinya memiliki hubungan khusus dengan calon pemimpin klan Chromos itu.


"Kalian sama-sama cocok. Pertarungan kalian berdua saja, baru bisa berhenti dibahas setelah satu bulan berlalu," ujar Rashi. Camoline menyandarkan tubuhnya. Memijat pangkal hidungnya dengan kedua jari tangannya. Ia sebenarnya malas mengingat pertarungan itu. Bukan perihal pertarungan yang katanya dimenangkan oleh dirinya, namun sikap Londer yang membuatnya kesal setelah pertarungan itu. Pria itu membuat dirinya bergidik ketakutan.


"Apalagi, kabar Londer yang tidak akan pernah berada jauh darimu," imbuh Violetta. Camoline menghela nafas dengan kasar. Mendengar hal ini, membuatnya teringat pada fakta yang memalukan. Itu bukan kejadian yang telah lalu. Namun, kejadian yang hingga saat ini masih terjadi.


Menoleh ke arah kanan, di mana terdapat beberapa meja dan kursi lainnya. Lagi dan lagi, Camoline bisa menemukan Londer yang tengah duduk tenang sembari membaca buku. Meskipun pemuda itu berada di jarak 150 sentimeter dari dirinya, namun Camoline sangat yakin bila Londer akan langsung sadar bila dirinya tiba-tiba menghilang.


"Berhenti mengatakan semua hal memalukan itu. Aku tidak ingin mendengarnya lagi," ujar Camoline. Ia meletakkan kepalanya di atas lipatan kedua tangan yang ada di meja. Lily terkekeh melihat reaksi Camoline. Kepalanya menoleh ke arah Londer berada, karena ia melihat pria itu sebelum hendak menghampiri Camoline.


"Itu yang aku pikirkan. Aku belum menguasai hal baru dalam kekuatanku. Terkadang, aku hampir kehilangan kontrol atas diriku bila terlalu lelah," ujar Camoline, menjawab pertanyaan dari Rashi. Gadis itu mengangguk mengerti. Karena, bukan hanya Camoline yang saat ini cukup pusing dengan kabar kedatangan petinggi Istana itu. Meskipun begitu, Rashi memilih tidak ambil pusing. Dirinya terlalu sadar diri pada kekuatan yang ia miliki.


"Ngomong-ngomong," Rashi mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arah Camoline, "aku belum pernah melihatmu mengeluarkan kekuatan apapun, Rashi," ujar Camoline.


"Benar. Kita satu kamar, tapi aku tidak pernah melihat kekuatanmu," ungkap Lily dengan mata memicing. Rashi menoleh ke arah Violetta. Gadis itu juga terlihat penasaran.


"Kekuatanku tidak ada yang istimewa—"


"Bohong," potong Violetta. Tiba-tiba, gadis berambut ungu itu mengeluarkan sebuah seruling. Mengulurkan tangannya agar seruling itu mendekat pada Rashi.


"Kau berelemen angin. Namun, Barcus mengatakan bila kamu bisa membuat suara angin menjadi sebuah kekuatan lain dengan alat musik ini," ujar Violetta. Rashi menghela nafas panjang. Ia mengambil seruling dari atas telapak tangan Violetta dengan malas.


"Begitulah. Namun, aku belum menguasai sepenuhnya. Bisa-bisa, kalian ataupun aku, mati karena tidak kesengajaan. Itu sangat konyol menurutku." Rashi memperhatikan seruling di tangannya. Dari yang ia lihat, seruling ini adalah alat musik dari klan Kair atau klan berelemen angin. Mengangkat kepalanya, Rashi menatap Violetta penuh selidik. Bagaimana mungkin, seorang gadis dari klan Lavio, bisa mendapatkan benda dari klan Kair?


"Aku mendapatkannya dari pelelangan. Sudahlah, kau bisa menggunakannya untuk berlatih," ujar Violetta setelah sadar dengan tatapan mata Rashi. Ia sangat tidak nyaman dengan tatapan mata gadis berkacamata bulat itu.


Brakk.


Ketiga gadis itu langsung menoleh ke arah Camoline yang tiba-tiba berdiri. Memperhatikannya yang kini harus menahan sakit karena kebodohannya sendiri. "Aku baru ingat sesuatu. Rashi, bisakah kita berlatih bersama?" tanya Camoline setelah rasa sakitnya sedikit berkurang.


Dahi Rashi mengerut, begitupun dua gadis lainnya. Meskipun mereka sudah berbeda asrama dengan Camoline, namun kabar yang berhembus tentang gadis itu tetaplah sampai ke telinga mereka. Dan yang mereka dengar, Camoline memiliki dua elemen yakni Air dan Tumbuhan. Karenanya, mereka merasa aneh ketika Camoline meminta Rashi untuk berlatih bersama.


"Meskipun aku tahu maksudmu adalah bertarung, seperti yang kau dan Londer lakukan sebelumnya. Namun, kekuatan kita saling mendukung. Kau dan aku, bisa kalah secara bersamaan, Camoline," ujar Risha panjang lebar. Lily membuka mulutnya lebar. Tidak menyangka, Risha akan bicara sepanjang ini. Bahkan, dengan nada yang khawatir. Gadis itu selalu bernada dingin biasanya.


Camoline memutar kedua bola matanya malas. Ia melupakan sesuatu hal yang penting. "Elemenku angin. Aku ingin meningkatkannya bersama denganmu."


Dan Risha. Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tetap menjaga raut wajahnya datar. Rasanya sangat mustahil, bila seseorang memiliki lebih dari dua elemen dalam tubuhnya.


"Ini gila," gumam Risha.