
Perkataan Camoline itu sangat mengejutkan Barcus, bahkan Zelden pun sama terkejutnya walau sebelumnya sudah lebih dahulu mengetahuinya. Reinkarnasi merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dipercaya sepenuhnya, namun juga tidak bisa dianggap tidak ada. Barcus adalah salah satu orang yang menganggap suatu reinkarnasi adalah hal yang cukup tidak masuk akal. Terlebih jika jiwa itu mampu menceritakan dengan begitu jelas apa yang terjadi di kehidupannya yang lalu. Namun kini, ia dapat menyaksikan seseorang mengaku sebagai jiwa reinkarnasi dari 500 tahun yang lalu. Walau tidak bercerita dengan begitu rinci, tetapi ia dapat menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Ketika peperangan mengerikan yang terjadi. Kepala Barcus menoleh ke arah Zelden. Kakaknya itu sudah terlihat tenang, dan justru terlihat sudah tahu dengan perkataan murid khususnya ini.
"Pengkhianatan satu klan terhadap Dewa, dan perseteruan antara klan hitam dan klan putih yang membuat kengerian itu terjadi," ujar Camoline dengan wajah tanpa eskpresinya itu. Ekspresi Barcus masih sama. Ia masih sulit mempercayai apa yang ia ketahui hari ini.
"Karena Nona sudah membahas hal ini, bisakah kamu menceritakannya. Tentang kejadian sebenarnya pada 500 tahun yang lalu?" Camoline menoleh ke arah Zelden. Raut wajahnya terlihat tengah berpikir. Untuk beberapa saat ia diam, sebelum akhirnya Camoline menghela napas perlahan lalu berjalan untuk kembali duduk di kursinya.
"Bukankah di buku sejarah sudah tertulis dengan jelas?" Camoline balik bertanya. Hal tersebut membuat Zelden langsung menghela napas kasar. Sedangkan Barcus langsung menegapkan punggungnya.
"Kejadian yang sebenarnya tentu saja berbeda dengan apa yang ada di dalam buku," ujar Zelden. Camoline mengangkat kedua bahunya. Zelden benar-benar pantas menjadi Kepala Sekolah di Akademi ini. Pria tua itu begitu cepat menyadari keanehan dalam buku sejarah yang selama ini sudah ada dibandingkan orang lain. Sepertinya, hubungan Zelden dan petinggi Istana memang tidak baik sejak dulu.
"Memangnya, hal apa yang ingin kalian ketahui dari kejadian saat itu? Aku mati saat perang masih berlangsung," ujar Camoline. Kali ini Zelden terdiam. Ia kehilangan rangkaian kata yang sejak tadi menggunung di kepalanya. Lalu matanya melirik ke arah Barcus, tetapi adiknya itu justru memilih untuk bungkam sejak tadi. Tidak bisa diharapkan untuk saat ini.
"Aku ke sini hanya ingin membicarakan tentang batu suci itu saja. Untuk peperangan saat itu, bukan hal penting yang harus kalian ketahui," ujar Camoline akhirnya. Dirinya merupakan anggota terakhir klan putih yang masih ada. Ia bisa menjaminnya, karena saat itu dengan sangat jelas Camoline melihat bagaimana seluruh anggota klan dibantai. Dan juga, klan putih tidak akan bisa bereinkarnasi seperti klan lain. Entah itu bisa disebut sebagai kutukan atau bukan. Sehingga sejak dahulu, klan putih selalu melindungi satu sama lain agar tidak terjadi kepunahan klan. Namun sayangnya, peperangan yang berdasarkan keserakahan sebuah klan menyebabkan klan putih terbantai habis. Walau kini, tersisa Camoline seorang diri.
Jika Camoline memberitahu siapa dirinya dan klannya di kehidupan pertama, maka hal yang mungkin terjadi adalah Barcus dan Zelden tidak akan mempercayai perkataannya. Itu bukan hal yang mengejutkan jika terjadi. Karena saat ini, semua orang hanya tahu jika klan putih adalah para petinggi Istana. Camoline belum menemukan alasan kenapa Asdus menganggap dirinya sebagai bagian dari klan putih dan mengisahkan jika klan hitamlah yang telah lenyap.
Zelden menghela napas panjang. Sejak Camoline diam melamun, ia memperhatikan riak wajah gadis itu. Ada kesedihan dan dendam di tatapannya. Menandakan jika peperangan saat itu membawa trauma cukup dalam bagi Camoline. Dan mungkin, memang bukan waktu yang tepat baginya untuk memaksa Camoline agar menceritakan kejadian waktu itu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi." Barcus langsung menoleh ke arah Kakaknya. Raut wajahnya terkejut. Ini termasuk hal yang cukup langka, Kakaknya memilih untuk mengalah padahal ia sudah sangat penasaran seperti ini.
Zelden mengambil salah satu kertas di atas mejanya. Kertas itu tidak sepenuhnya kosong. Hanya ada cipratan tinta yang tidak sengaja terbentuk ketika ia menulis balasan untuk surat-surat yang datang ke Akademi.
"Kelas akan dimulai lusa. Sebaiknya kamu segera kembali ke asramamu, Nona." Ini adalah bentuk pengusiran halus. Tanpa menunggu lama, Camoline segera berdiri dari duduknya. Ia sedikit membungkuk sebelum berjalan keluar dari ruangan tersebut. Tidak lupa, Camoline juga menutup rapat pintu Kepala Akademi itu.
Begitu Camoline pergi, Zelden langsung menghela napas panjang. Ia meremat kertas yang tadi dipegangnya hingga membentuk seperti bola. "Kau membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Barcus. Raut wajahnya sudah kembali seperti biasa. Penuh dengan ejekan.
"Ya. Aku tidak bisa memaksanya," ujar Zelden. Sebelah alis Barcus terangkat. Benar-benar merasa aneh dengan perilaku Kakaknya yang terasa aneh untuknya.
"Tidak seperti biasanya." Zelden mengangkat pandangan. Ia tersenyum tipis menanggapi perkataan adiknya tersebut. Memang benar, ini bukan seperti dirinya. Tetapi, Zelden memang tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Camoline pergi tanpa memberikan jawaban yang ia inginkan.
"Yanh harus kita lakukan hanya memastikan jika batu itu tidak jatuh ke tangan para petinggi Istana, atau bahkan Tuan Asdus," ujar Zelden. Barcus langsung mendengus. Ia sangat malas untuk mendengar tentang orang-orang yang merasa paling tinggi dan sederajat dengan para Dewa itu. Baginya mereka adalah manusia-manusia memuakkan di muka bumi.
"Maka kamu bisa membuat aturan agar mereka tidak perlu datang ke sini lagi. Gunakan kekuasaanmu itu sesekali, payah." Zelden diam. Perkataan Barcus memang ada benarnya. Dengan posisinya sebagai Kepala Sekolah, bukan hal yang sulit untuk dirinya membuat aturan seperti itu. Tapi Zelden langsung menggeleng. Semudah apa pun dirinya membuat aturan semacam itu, tentu saja itu hanya akan memunculkan pertikaian yang tidak diharapkan antara Akademi dan Istana. Petinggi Istana tentu saja tidak akan suka dengan aturan yang ia buat itu.
"Aku bukan orang yang seperti itu," ujar Zelden dengan nada sedikit kesal. Adiknya itu memang selalu berpikir dengan cukup jahat jika berhubungan dengan orang-orang yang tidak disukainya.
"Terserah saja. Aku hanya berdoa agar gadis bodoh itu bukan mate pria aneh yang menjadi Raja itu," ujar Barcus. Ia berbicara secara asal, namun Zelden memberikan reaksi yang tidak terduga. Kedua mata pria itu terbuka lebar dengan wajah yang mulai memucat. Barcus melihat itu. Ia memperhatikan bagaimana Kakaknya bereaksi dengan sangat berlebihan seperti ini. Membuat dahinya mengerut dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari perkataan asalnya barusan.
Karena sepertinya, Zelden sudah lebih dulu berpikir tentang hal yang sama dengan yang ia ucapkan itu.