The Wiz

The Wiz
Chapter 5 : Theory



Hari pertama menjadi murid di akademi Topaz bukanlah hal yang harus dibanggakan. Terpaksa bangun lebih pagi untuk mengikuti jam pelajaran pertama, benar-benar membutuhkan banyak pengorbanan. Kelas akan berhenti menerima murid terlambat jika matahari terlihat mulai muncul. Ya, pelajaran pertama menjadi murid di akademi ini adalah harus lebih cepat dibanding terbitnya matahari. Ah, intinya, para murid baru benar-benar disiksa untuk tahun pertama mereka belajar.


Di kelas Mr. Hollous, terlihat jelas jika banyak murid yang menguap karena mengantuk beberapa kali. Mereka tidak bisa langsung memilih untuk tidur di dalam kelas meskipun Mr. Hollous belum datang. Padahal, sudah setengah jam mereka menunggu di ruangan itu.


Camoline menghela nafas panjang. Ia menatap sekali lagi ke arah pintu sebelum membuka buku tebal yang menjadi bahan ajar hari ini. Buku tebal tentang banyak teori sihir yang sebenarnya tidak begitu penting untuk dirinya. Karena bagaimanapun, ia bisa dikatakan bagian dari sejarah yang tahu sebagian besar dari teori-teori di buku ini.


"Semuanya, mohon maaf atas keterlambatan diriku," ujar Mr. Hollous begitu masuk ke dalam kelas. Ia menatap para murid baru sebentar sebelum mengabaikan mereka dan memfokuskan diri pada buku tebal yang ia bawa. Kacamata sudah bertengger hidungnya begitu ia mengangkat kepalanya kembali. Ia akan memulai pembelajarannya.


"Baiklah, para murid baru. Aku akan menjelaskan dulu tingkatan level penyihir kepada kalian. Mungkin sebagian dari kalian sudah mengetahui sekilas tentang hal ini." Mr. Hollous membalikkan tubuhnya menghadap ke arah papan tulis. Ia mulai menulis beberapa kata dan angka di sana. Meskipun ia bisa menulisnya dengan kekuatan sihir, namun tampaknya ia tidak ingin melakukan hal itu.


Lagipula, kelas ini seperti diberi mantra agar tidak ada sihir yang dapat bekerja. Itu yang Camoline rasakan ketika ia hendak mencoba menggerakkan pena bulu di atas mejanya.


"Pembagian tingkat untuk saat ini ada 9. Yakni Arentice, Teksis, Mage, Magi, Magus, Sage, Witch, Sorcery, dan Conjuration. Meskipun kesembilan tingkat ini sangat umum ditemui, namun ada satu tingkat tambahan dimana hanya beberapa orang yang dipilih oleh Dewa saja yang bisa mencapainya. Nama tingkatnya adalah Wiz. Dalam tingkat terakhir ini, seseorang akan memiliki kekuatan tanpa batas."


Camoline mengedipkan matanya beberapa kali. Ia mengetahui tentang tingkat Wiz itu. Karena kematiannya juga karena tidak mampu mengalahkan salah satu penyihir bertingkat Wiz. Kepalan tangan Camoline menguat ketika mengingatnya. Ia menghela nafas panjang. Tujuannya sudah ditentukan semenjak ia kembali terbangun setelah ratusan tahun tiada. Ia harus bisa membalaskan dendam klannya. Bukan karena kejadian masa lalu ia ingin mengalahkan klan hitam, namun ada hal lain yang hanya diketahui oleh dua klan.


Menatap buku tebal di hadapannya, Camoline memandang sebuah lambang dua belas warna yang menjadi simbol batu Opal yang suci. Siapa yang menyangka, bila batu itu memang akan memilih sendiri pemiliknya. Dan mungkin memang sudah takdirnya untuk memiliki batu itu. Meski menelan bulat-bulat batu itu bukanlah tindakan yang bagus.


Fokus Camoline menjadi teralih sepenuhnya pada halaman yang menjelaskan tentang batu Opal itu. Ia menjadi tahu beberapa hal baru tentang batu suci yang saat ini di dalam tubuhnya. Ia tahu, tanpa menelannya sekalipun batu itu akan menyatu dengan tubuh sang pemilik ketika selesai diserap. Namun saat ini, Camoline tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyerap batu Opal itu. Di buku yang ia baca saat ini saja, tidak ada penjelasan bagaimana menyerap batu suci itu. Mungkin, karena keberadaan batu itu tidak bisa diprediksi kehadirannya serta kemungkinan besar yang terpilih harus bisa melakukannya sendiri. Itu artinya, Camoline harus mencari cara sendiri untuk menyerap batu itu perlahan yang kini berada di dalam tubuhnya.


"...sehingga butuh sekitar 2 tahun lebih untuk naik satu tingkat bagi seorang penyihir. Dan umumnya, para penyihir baru bisa mencapai tingkat Magus diusia 40 tahun atau lebih. Karena semakin tinggi level yang dimiliki, maka untuk menaikkan tingkatnya akan semakin susah." Penjelasan Mr. Hollous membuat Camoline tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati bahwa papan tulis sudah dipenuhi berbagai macam coretan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jam pasir yang ada di meja guru. Bagian atasnya sudah habis. Selama itukah ia memikirkan cara menyerap batu Opal?


"Baiklah, kelas sudah selesai untuk hari ini. Untuk pertemuan kita selanjutnya, aku harap kalian tidak banyak melamun di dalam kelasku." Perkataan Mr. Hollous seolah menampar kelas Camoline. Ia meringis mendengar kalimat itu. Perlahan, ia bangun dan berjalan keluar dari dalam kelas mengikuti murid lainnya. Ia berjalan paling belakang dari yang lain dengan buku tebal yang ia peluk.


"Kelas berikutnya, adalah teknik sihir, bukan?"


Camoline menoleh ke arah Lily yang mulai menghampiri dirinya dengan dua gadis lain. Ia menaikkan sebelah alis. Pagi tadi, ia memang tidak berangkat bersama dengan teman sekamarnya. Kepalanya masih menoleh ke arah mereka hingga berhenti tepat di hadapannya.


"Kurasa, kelas ini akan sangat menyebalkan mengingat tuan Barcus yang akan menjadi gurunya," ujar Violetta.


"Tidak masalah, bukan? Teknik sihir kali ini pasti yang dasar," ujar Camoline. Ketiga gadis di depannya mengangguk membenarkan. Namun tetap saja, bagi murid baru penghuni asrama putih, Barcus cukup menyebalkan. Atau bahkan sangat menyebalkan.


"Ya, dan akan sangat berguna bagi kita yang masih berada di tingkat pemula," ujar Violetta. Camoline menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya ia tidak suka bila diingatkan akan hal ini. Begitu juga dengan Lily.


"Jangan ingatkan lagi akan hal itu, Vio. Mengetahui bila kita butuh sekitar 2 tahun untuk naik tingkatan, itu membuatku merasa gila," ujar Lily yang dibenarkan oleh Rashi. Ngomong-ngomong, gadis paling muda itu tengah sibuk dengan makanan yang ada di dalam mulutnya sejak keluar dari kelas Mr. Hollous.


"Kau benar. Itu membuatku semakin kesal pada kenyataan ini," ujar Camoline. Ia menoleh ke sekitar di mana koridor mulai sepi.


"Sebaiknya kita segera ke kelas tuan Barcus atau mendapat hukuman karena terlambat masuk," ujarnya lalu berjalan cepat diikuti tiga gadis itu. Meskipun secara teori, butuh 2 tahun untuk mereka naik tingkatan sihir, namun Camoline sangat yakin ada cara lain agar ia bisa naik tingkatan dengan cepat. Itu pastinya akan sangat beresiko. Namun setidaknya, ia tidak akan terlalu menyedihkan bila bisa naik satu peringkat saja.


Ketika berjalan, Camoline tidak sengaja berpapasan dengan seorang gadis yang kemungkinan sama-sama murid baru. Namun, ada aura aneh yang menyelimuti gadis itu. Membuat langkah Camoline terhenti seketika. Kepalanya bergerak mengikuti gadis itu yang menghilang di belokan.


"Camoline, ada apa?" tanya Lily penasaran. Camoline menggeleng pelan. Ia kembali berjalan dengan pertanyaan yang langsung muncul di kepalanya. Mempertanyakan gadis itu. Karena kurang dari satu jam, gadis itu sudah naik sebanyak 2 level ketika berpapasan dengan dirinya. Tidak mungkin bila gadis itu adalah jelmaan seorang Dewi.


'Itu mustahil,' batin Camoline.